Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
10. Marchioness Menginginkan Perkamen Kembali



"Ibu dengar Grand Duke of Brighton baru saja kembali dari medan perang."


Mendengar ucapan ibunya barusan, sontak membuat Athene melepaskan rajutan berbentuk bunga anggrek miliknya yang setengah jadi. "Biar aku tebak, Grand Duke pasti memenangkan perangnya lagi, kan?"


"Tidak perlu ditanya, dia ahlinya."


"Dia memang tipe suami idamanku, bu. Berbakat, cerdas, berkuasa, dan lebih-lebih lagi tampan dan muda. Tidakkah ibu mau menjodohkan putrimu ini dengannya?" tanya Athene penuh harap.


"Semua nyonya bangsawan bersaing untuk itu, anakku. Posisinya sebagai pewaris takhta urutan kedua juga sangat menggiurkan, ibu tidak akan melewatkan kesempatan malam ini untuk menjodohkan kalian," tandasnya senang.


"Apa nanti malam kerajaan akan mengadakan pesta?"


Ia mengangguk, "Pasukan Grand Duke memenangkan perang, raja tentu saja sangat senang." Marchioness lanjut merajut sebuah kaus kaki berwarna miliknya yang sempat terhenti. "Pakai pakaian terbaikmu, kau harus menonjol diantara nona-nona lainnya jika ingin Grand Duke melirik mu."


Sementara itu Luz kembali ke manor house Thompsville dengan wajah kusut. Perhiasannya ... satu-satunya barang berharga yang bisa ia harapkan kini lenyap digantikan oleh lima keping perak tidak berguna. Luz salah mengenali orang. Orang yang menabraknya bukanlah kaya, dia hanyalah seorang pria miskin yang ingin terlihat gagah berani tanpa cela.


Cih, andai di New York mungkin orang sejenis itu sudah dihujat massa.


"Lihat sampah mana yang terdampar di sini," sinis Athene lalu membuang muka.


Luz hanya mengacuhkannya dan terus berjalan menuju lantai lantai tertinggi di manor house.


"Malam ini raja mengadakan pesta. Jika kau ingin ikut lekas lah bersiap-siap," ucap Marchioness.


"Ibu!"


Luz menoleh lalu tersenyum miring, "Tentu saja aku akan ikut," ucapnya sebentar lalu kembali berbalik dan menapaki tangga menuju kamarnya di lantai empat.


"Kenapa ibu mengajaknya!" serbu Athene kesal bukan main.


"Dia tidak memiliki apa-apa, dear. Tidak ada. Justru dengan mengajaknya ke pesta kita bisa mempermalukannya di depan banyak orang sekaligus membuktikan bahwa gosip dari Baroness Lanscouth itu salah," ungkap Marchioness dingin.


"Gosip bahwa sebenarnya Odyssey berbeda dari yang de Cera bicarakan?"


Marchioness mengangguk yakin.


Athene sempat terdiam untuk berpikir lalu menghela napas. "Ibu benar, aku berpikir terlalu jauh. Aku hanya tidak ingin Grand Duke meliriknya barang sekali maka dari itu aku tidak ingin dia ikut."


"Wanita tidak jelas seperti dia bukanlah tipe wanita kesukaan Grand Duke. Ibu yakin kau sudah memenuhi kriteria Grand Duke sebagai calon istri," puji Marchioness kepada si sulung.


Athene bersemu. "Ucapan ibu membuatku sangat semangat untuk pesta nanti malam."


Athene melupakan rajutannya dan berdiri. "Aku ingin menemui Madam Khloe untuk membeli baju baru dan beberapa aksesori lainnya."


"Belilah gaun sebanyak yang kau inginkan," izin Marchioness bersuka cita.


Athene mengangguk semangat. "Aku pergi dulu!"


Marchioness mengantarkan Athene dengan senyuman lebarnya sampai sang lady tertua de Cera itu keluar dari ambang pintu. Teringat pada sesuatu dan memiliki kesempatan selagi Athene pergi, Marchioness kembali memanggil pelayan kemarin yang ia perintahkan.


"Ya, milady?"


"Sudah kau dapatkan perkamen kuning yang ku pinta?"


"Maaf sekali, my lady, tapi saya menemukan satupun perkamen di kamar Lady Odyssey," ucap pelayan itu menyesal.


"Apa maksudmu!"


"M-mohon ampuni saya!" Pelayan tersebut langsung bersujud takut.


"Mencari selembar perkamen saja tidak becus, apa saja yang kau pikirkan saat bekerja di sini? Kemudahan, belas kasih, atau mengharapkan pengampunan?"


Marchioness meluapkan kemarahannya. "Sayangnya aku tidak memiliki sifat yang seperti itu, kau tahu. Sekarang angkat kaki kotor mu itu dari manor-ku, kau ku pecat!"


"Milady, t-tolong beri saya satu kesempatan lagi!" raungnya putus asa.


"Meminta kesempatan, eh? Manor house tidak menerima pelayan tak berotak sepertimu yang bisanya hanya memelas pada orang lain, dasar tidak tahu diri!" hardik sang Marchioness tanpa ampun.


Marchioness mencoba memutar otak. Salah jika ia berani mengambil resiko sebesar itu kemarin dan kini ia telah menyesalinya. Odyssey tidak lagi gadis sederhana yang lugu dan polos seperti yang dia kenal, gadis itu telah menjelma menjadi seorang wanita cerdik yang mengetahui tindakan yang akan diambil Marchioness. Dia termasuk orang yang berbahaya.


Posisi sebagai Crystal Lady tidaklah sesederhana yang dipikirkan oleh masyarakat awam. Gelar yang hanya diperuntukkan bagi wanita klan de Cera ini memiliki banyak keistimewaan tersendiri yang sudah diterapkan sejak beratus-ratus tahun yang lalu.


Di dalam manor house, seorang Crystal Lady memiliki hak yang setara dengan Marchioness dalam hal pengaturan pelayan dan *****-bengeknya. Dia akan dilayani sebagai anak utama, pendapatnya tidak boleh diganggu gugat jika ada saudaranya yang lain tidak setuju atau berbeda pemahaman dengan dirinya.


Crystal Lady memiliki pendidikan yang jauh lebih tinggi. Sejak beberapa tahun silam, kerajaan telah melegalkan seorang wanita bergelar Crystal Lady untuk membahas politik kerajaan bersama bangsawan pria lain, tidak terkungkung dalam masalah mode sehari-hari atau sebatas kecantikan. Crystal Lady tidak akan iya-iya saja saat kaum pria meminta opininya. Karena bisa jadi wanita pilihan inilah yang akan membuka pikiran para pria yang terkadang terlalu fokus dengan ambisi.


Hal mudah lainnya, Crystal Lady memiliki hak yang setara dengan pria. Hal ini berdasarkan penghargaan wanita de Cera menurut sejarah ratusan tahun yang lalu saat Sormenia hampir di ambang kehancuran. Raja sudah pasrah, begitu juga anggota keluarga kerajaan lainnya.


Tapi hal yang mengejutkan masyarakat terjadi. Banyak pertentangan di sana-sini saat Lady Vlaire dari klan de Cera mengusulkan strategi baru yang jauh lebih cemerlang dan efisien mengingat jumlah pasukan semakin menipis. Tidak ada salahnya mencoba dan Raja —yang saat itu dinilai gila karena mendengarkan ucapan wanita mengenai politik— langsung mengerahkan sisa pasukannya sesuai pos-pos yang dikelola langsung oleh Lady Vlaire.


Keajaiban terjadi, Sormenia menang karena strateginya. Satu negeri berhutang banyak pada bangsawan tertinggi di daerah Thompsville tersebut. Raja sangat berterima kasih dan sejak saat itu gelar Crystal Lady dibuat dan menjadi abadi di garis keturunan de Cera mengingat warna rambut mereka juga persis seperti kristal yang terang saat terpapar cahaya.


Diam-diam Luz mengintip kemarahan Marchioness di tangga teratas. Gadis itu tersenyum miring lalu kembali ke kamarnya dengan perasaan menang telak.


"Marchioness, kau mungkin memiliki kekuasaan yang lebih dari aku, tapi cara berpikir kita jelas berbeda. Orang yang cepat berubah pikiran sepertimu itu sangat mudah untuk ditebak!"


Maka dari itu Luz meletakkan perkamen kuning yang Marchioness cari di kaki kuda bangsawan sialan itu kemarin. Sejak awal, Luz sudah tahu bahwa Marchioness sendiri ragu-ragu akan keputusannya mempertaruhkan gelar Crystal Lady.


Tapi nasi sudah menjadi bubur, gelar itu akan jatuh ke tangan Luz sebentar lagi dan Marchioness tidak bisa menghindar jika bukti masih ada.


"Aku tidak mau tahu. Siapapun, cari perkamen yang aku pinta sekarang juga!" sambung Marchioness kalut.


See, siapa yang lebih hebat di sini. Aku atau kau, Marchioness.