Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
71. Memutuskan Untuk Melupakan



Ochonner menarik napas. Berusaha meredam amarahnya yang sudah berada di ambang batas. "Aku berusaha bijak untuk menyikapi suami Odyssey. Sekarang ceritakan semuanya tanpa terlewat sedikitpun."


"Sebelum itu, apakah kau tahu sesuatu, Lord de Cera?" Alastair mendongak, menatap saudara iparnya itu tak kalah tajam. "Bahwa Permaisuri ... dia bukan saudarimu yang sesungguhnya."


Ochonner menahan napas. "Your Majesty, tolong jangan berkata omong kosong."


"Aku tahu, sulit untuk mempercayainya." Alastair menghela napas berat. Menatap ke luar jendela yang menyajikan pemandangan langit yang masih cerah. "Sebelumnya Love pernah berkata padaku bahwa dia berniat untuk memberitahukan hal ini kepadamu. Tapi dia takut jika reaksimu ternyata melebihi ekspektasinya. Semuanya tidak akan berakhir baik, Chonner."


Ochonner menahan napas. Dadanya terasa sesak, realita apalagi yang harus ditelannya setelah melewati kurang lebih dari satu tahun tinggal bersama orang asing yang —ternyata— menempati tubuh kakaknya. "Katakan semuanya. Saya ingin tahu."


Dan setelah itu, cerita tentang Luz mengalir begitu saja dari Bibir Alastair. Dari pengakuan gadis itu sendiri, surat-surat, dan bukti yang sepintas terlihat biasa saja. Dan yang terakhir ... Alastair juga menceritakan bagaimana kematian Odyssey yang asli sebelum Luz tinggal di jasadnya.


"Aku memang saudara yang bodoh, meninggalkan Odyssey di manor house yang isinya mayoritas membenci kembaranku. Dia melakukan bunuh diri pasti karena dorongan mereka, keluarga yang gila takhayul itu, aku harus membalasnya untuk Odyssey." Ochonner tak segan meneteskan air mata. Perasaannya berada di dua jalur, antara perasaan berduka atas kepergian Odyssey dan perasaan tidak rela akan kehilangan Luz yang selama ini sangat menghiburnya.


"Jangan gegabah, gunakan otakmu sebelum bertindak. Menyingkirkan orang-orang yang kau benci memang mudah, namun konsekuensinya jangan dilupakan," nasihat Alastair yang diangguki Sean. "Sesuai peraturan kekaisaran, jika aku mendapatkan bukti atas pembunuhan mu. Aku tentu tidak akan segan-segan menjebloskan dirimu ke dalam penjara, kakak ipar."


Ochonner tersenyum miring, "Tapi jika tidak ada bukti, kau tidak bisa berbuat apapun padaku, kan?" ucapnya yang disambut tatapan setuju dari Alastair.


Di sebuah mansion elit di jalan besar New York, sebuah mobil Bugatti La Voiture Noire keluaran tahun 1934 itu melesat masuk ke dalam basement dengan mulus. Mobil yang hanya ada empat di dunia itu didapat oleh Ken Anderson dengan susah payah saat berada di pameran mobil mewah di Amerika Utara yang bernama Pebble Beach Concours D’Elegance di California beberapa tahun silam. Dan sekarang, mobil tersebut sudah menjadi mobil kesayangannya dan hanya akan dipakai jika ada sesuatu yang khusus.


Seperti kedatangan Luz kembali ke rumah mereka.


"Ayah, aku bisa sendiri," tolak Luz saat Ken menggendongnya dan mendudukkan sang putri di atas kursi roda.


Luz hanya berdecak saat ia sudah berada di kursi roda. Kedua kakinya masih terasa kaku, sangat sulit untuk digerakkan karena terlalu lama terbaring di rumah sakit.


"Walau Luz sudah besar, kamu masih putri ayah. Jangan sungkan-sungkan begitu, ya," pinta pria tua itu manis lalu tersenyum lebar saat tahu Luz juga membalasnya dengan tawa lembut.


"Rasanya tidak ada yang berubah. Masih sama seperti dulu," komentar Luz sembari memperhatikan sepanjang pohon kecil yang berjejer di sebelah kiri dan kanan jalan yang mereka lalui. Dulu katanya, Rebecca Anderson sang ibu sangat menyukai tanaman sehingga di seluruh mansion penuh dengan hasil tangannya dan basement termasuk ke dalam hasil cantik sang ibu. Tidak heran, banyak tanaman yang tumbuh di sana.


Ken mengangguk. Saat mereka memasuki sebuah lift yang dibuat transparan, barulah pria itu membuka suara. "Kau tahu sendiri mendiang ibumu sangat menyukai tanaman. Lagipula ayah masih berfokus pada kesehatanmu, tidak sempat lagi untuk sekadar menata taman-taman di sini."


Luz terenyuh. Ia menyentuh punggung tangan Ken yang bertengger di gagang kursi rodanya. "Terima kasih karena tidak pernah menyerah atas hidupku, ayah."


"Kau bercanda?" Ken terkekeh, mensejajarkan tingginya dengan sang putri yang balik menatap dirinya. "Luz adalah satu-satunya alasan ayah untuk tetap hidup. Setelah kematian ibu, bukankah selama ini kita selalu bersama? Luz yang menggenggam tangan ayah sampai kita bisa sesukses ini. Jika kau meninggalkan ayah, untuk apalagi ayah tetap berada di dunia ini?"


Luz tertohok. Merasa begitu berdosa setelah beberapa hari ini masih memikirkan cara untuk kembali ke Sormenia yang tentu akan kembali meninggalkan sang ayah yang sangat mencintainya. Isakan kecil lolos dari bibir mungil itu. Mengetahui suasana hati putrinya, Ken tersenyum hangat lalu memeluk tubuhnya seperti sebuah kapas yang mudah luruh.


"Sudah-sudah, yang penting Luz sudah kembali. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, kan?" ujarnya lalu mengelus lembut rambut pirang milik Luz yang sama seperti dirinya.


Di tengah sesenggukan, Luz mengangguk cepat. Kenapa dirinya begitu tidak bersyukur, mendapatkan sosok ayah yang merangkap sebagai ibu untuk hidupnya selama ini. Menyayanginya melebihi siapapun, selalu meluangkan waktu walau dia sendiri baru selesai bekerja, bahkan tidak pernah menaruh target atas prestasi yang Luz raih. Benar-benar bebas, tidak ada larangan. Sekarang Luz justru malu kepada dirinya sendiri. Ingin meninggalkan sosok pria ini? Ah, tidak. Luz memutuskan untuk mengorbankan semua yang ia miliki di Sormenia.


"Aku mencintaimu, ayah," ujarnya masih dengan linangan air mata.


Ken terkekeh lalu menghapus air mata yang membasahi pipi putrinya. "Apakah ada sesuatu yang mengganggumu? Jangan menangis seperti ini. Hati ayah ikut sakit melihatnya, hm?"


"Aku hanya tidak menyangka jika hari ini akan tiba." Luz menerbitkan senyum cerahnya. "Setelah ini, aku hanya akan bersama ayah. Selamanya."


"Selamanya?"


"Tentu saja."


"Bagaimana dengan pernikahan? Ayah memiliki teman seorang direktur yang sudah menduda selama kurang lebih dua tahun di Berlin."


"Ayah ingin aku menikah dengan duda tua?!"


Ken tergelak saat Luz mendaratkan pukulan di pundaknya yang masih menonjolkan otot. Sebenarnya hanya becanda. Tidak mungkin sekali Ken mau menyerahkan putri paling berharganya untuk pria yang biasa-biasa saja terlebih lagi sudah tua.


"Kita akan kemana?"


Saat keluar dari lift, Ken melirik kaki putrinya yang tidak mengenakan alas. "Kolam renang. Dokter menyuruhku untuk melatihmu belajar berjalan lagi dengan berjalan di dalam air."


"Belajar berjalan?"


"Ya, ayah harus melakukannya lagi untuk kedua kalinya pada orang yang sama," canda Ken lalu menoel bahu putrinya itu.


"Waktu kecil aku belajar berjalan bersama ibu, bukan bersama ayah!"


"Darimana kau mendapatkan informasi hoax itu? Jelas-jelas aku yang membantumu mulai merangkak sampai berlari!"


"Tapi foto-foto berkata lain. Ibu yang mengajariku!"


"Menurut ayah, mengajari putri sendiri tidak perlu didokumentasikan seperti itu."


"Oh ya. Lalu mana bukti atas ucapanmu itu?"


"Tidak perlu bukti, aku 'kan ayahmu. Titik!"


Begitulah mereka. Jika sudah bertemu, tidak akan lengkap tanpa berdebat walau tentang hal yang tidak penting sekalipun.