Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
7. Misi Pertama



Dan disinilah dia berada sehari setelah Luz resmi tinggal di dunia barunya. Berbekal keranjang kosong dan Rose disampingnya, dia sudah memulai hari dengan menyelinap keluar. Tidak perlu izin dari Marchioness, dia bisa keluar dari gerbang selatan dengan mudah.


Aih, jangan sepelekan ilmu karate yang sudah dia tempuh sampai sabuk hitam tapi selain itu, Luz juga pandai meloloskan diri dari ruangan tertutup. Dulu dia sempat mengikuti pelatihan militer selama dua tahun jadi hal sepele seperti memanjat dinding dan sebagainya hanyalah masalah simpel.


Tapi semuanya berubah rumit saat Rose ikut bersamanya.


"Nona, saya tidak berani turun!" teriak Rose yang duduk kaku di atas gerbang setinggi delapan meter.


Luz sudah memperhitungkannya. Rose tidak akan terluka —mungkin sedikit— jika dia mendarat dengan benar di atas tumpukan daun kering. Luz memutar otak, pasti ada cara lain agar Rose bisa turun.


"Nona, jangan tinggalkan saya!" pekiknya lagi saat menyadari Luz berjalan semakin menjauh.


"Aku ingin mencari tangga untukmu, atau kau ingin selamanya di atas sana?" Luz berujar kesal. "Dan satu lagi. Berteriak saja sekeras mungkin agar para pengawal datang dan menangkap mu."


Mendengar sarkasme yang dilontarkan Luz, akhirnya Rose bisa duduk diam di atas dinding tinggi tersebut sambil mengangguk patuh. Sedikit rasa tidak rela menggerogoti hatinya saat melihat Luz berjalan semakin menjauh untuk mencari alat bantu. Dan lagi, Rose merasa tidak enak. Mana ada majikan yang membantu pelayannya? Tidak ada, kecuali Odyssey de Cera.


"Lihat apa yang kita temukan di sini."


Rose menoleh kaku ke dalam gerbang. Di bawah sana Athene yang dipayungi pelayannya sedang berdiri congkak dengan ekspresi puas. Berbanding terbalik dengan Rose yang kini dibuatnya pias.


"Sangat setia pada majikan bodoh mu itu, hah? Cepat turun sekarang atau perbuatan mu akan ku adukan pada Marchioness!"


"S-saya tidak berani turun, nona...." jawab Rose bergetar takut.


"Dasar pembohong. Pelayan cepat tarik dia!"


Kedua pelayan yang berdiri di belakang Athene sontak mengangguk dan mulai menarik-narik kaki Rose dengan kasar. Tidak memerlukan waktu lama, pertahanan Rose runtuh dan dia langsung terjatuh tepat di atas tanah tanpa bantuan apapun. Tulangnya terasa remuk redam namun hal yang paling ia khawatirkan adalah nona mudanya yang pasti masih sibuk mencari bantuan di luar sana.


"Untuk apa kau mengikutinya, kau ingin bebas dari pekerjaan di manor house, begitu?" bentak Athene tanpa belas kasihan padahal Rose mengalami patah tulang di bagian lengan kanannya yang tidak sengaja tertindih akibat jatuh dengan posisi yang salah.


"S-saya tidak berniat seperti itu," jawab Rose lirih.


"Berbohong lagi. Pelayan dan majikannya memang sama, bisanya hidup hanya sebagai beban." Athene menoleh ke belakang. "Ambilkan cambuk favoritku. Kita lihat sampai mana pelayan Odyssey mampu bertahan."


"J-jangan...." lirih Rose ketakutan.


"Inilah akibat jika kau selalu mengikuti perintahnya. Aku akan memberikan tanda di tubuhmu agar wanita itu tahu bahwa tidak seharusnya dia mencari masalah dengan Athene."


Athene masih merasa dendam. Perlakuan Odyssey tempo hari masih belum dibalasnya dengan pelajaran yang setimpal.


Athene baru saja menerima cambuk yang ia pinta dari pelayannya namun secepat itu juga Odyssey kini sudah berdiri di hadapannya. Ekspresi gadis itu jauh dari kata ramah ataupun pengampun. Seolah dialah yang akan menghukum sang Crystal Lady.


"Apa yang ingin kau lakukan padanya."


"Menghukumnya, lalu apa lagi?"


"Sekedar mengingatkan posisimu, kau bukan siapa-siapa baginya jadi minggir, jangan halangi jalan kami."


"Sebegitu kesepiannya kah dirimu sampai mau bergaul dengan pelayan?" Athene mengangkat dagunya tinggi-tinggi disertai senyum remeh. "Asal kau tahu, kedudukan mu sebenarnya juga tidak lebih tinggi dari mereka."


Darah Luz rasanya mendidih. Jika Athene hidup pada zaman modern mungkin dia sudah dihujat massa karena sifat buruknya itu.


"Kata siapa kau boleh mengajak orang lain?"


"Uh?"


"Biar kuberi tahu." Masih dengan ekspresi angkuhnya, Athene menjelaskan, "Sebelumnya tidak ada perjanjian jika kau boleh mengajak pelayan mu pergi bersamamu. Jadi jangan manja dan pergi sendiri!"


"Kau...."


"Kenapa? Marah?"


Luz mengalihkan tatapannya dengan memperhatikan Rose yang memegang lengan kanannya. Rasa sakit terpatri dalam mimik wajah Rose yang ketakutan. Tidak ada pilihan lain selain membiarkan Rose tetap di manor house Thompsville sampai sembuh kembali.


"Baiklah, tidak masalah aku akan pergi sendiri."


Rose sontak menatapnya khawatir.


"Pilihan bijak, gadis bodoh. Cepat pergi sana!"


"Rose, obati dirimu sendiri sampai benar-benar sembuh, ok. Aku pergi dulu," pamitnya hanya kepada Rose yang senantiasa duduk di atas tanah.


Walau Rose tidak mengerti apa itu 'Ok', tapi pada akhirnya ia tetap mengangguk. "Hati-hati. Saya tidak ingin Anda celaka sedikitpun."


Rose menyerahkan buntalan kain milik Luz yang rencananya akan dia bawa. Nyatanya dalam perjalanan ini dia tidak diperbolehkan ikut dan rasa khawatir mungkin akan terus menggentayanginya sampai Luz kembali ke manor house Thompsville tanpa kekurangan apapun.


"Semuanya akan baik-baik saja!" Luz tersenyum lebar, menyambut buntalan kain tersebut lalu pergi tanpa mengatakan sepatah katapun pada Athene yang terbelalak saat menyaksikannya melompati pagar manor house Thompsville dengan mudah.


Selama hidupnya, Athene tahu betul bahwa Odyssey de Cera tidak pernah belajar ketahanan fisik atau apapun itu sejak kecil!


...----------------...


Usai melompati pagar manor house, Luz celingukan mencari tempat untuk mengganti pakaiannya. Sebenarnya yang dipakainya saat ini sudah termasuk gaun paling sederhana, tapi rasanya kurang pas jika dia memakai gaun kesana kemari karena tentu saja akan memperlambat langkahnya jika ada sesuatu yang terjadi.


Luz mengganti gaunnya dengan terusan lengan panjang ditambah celana dan sepatu boots tanpa hak untuk melengkapi tampilannya yang jauh berbeda dari Odyssey yang ia kenal. Rambut khas seputih kristal miliknya digelung rapi lalu disimpan di balik tutup kepala yang ia pakai. Nah, dengan begini bukannya jauh lebih praktis daripada gaun lebar dengan sepatu berhak tinggi?


Rencana pertama Luz akan membuat make up dari tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar sini. Dia memerlukan buah beri atau ceri juga tidak masalah yang penting warnanya bisa diolah tahan lama dan tentu saja; berwarna sekitaran merah muda.


Sebagai modal, Luz membawa seluruh perhiasan yang tersisa di meja rias dan berencana untuk menjualnya. Anggap saja Luz nekat, tapi bukankah membuat satu jenis make up saja memang membutuhkan tidak sedikit uang?


Berhektar-hektar tanah perkebunan hijau cukup memanjakan mata saat Luz berjalan di sampingnya. Di New York tempat seperti ini tentu tidak ada. Di sana sudah dipenuhi oleh pabrik-pabrik raksasa yang tidak berhenti beroperasi setiap hari hingga rasanya membuat oksigen semakin menipis. Tidak munafik, Luz juga sumbangsih dalam penipisan oksigen tersebut dengan memiliki beberapa gedung pencakar langit dari brand kosmetik miliknya yang sudah mendunia.


Banyak tenaga profesional yang bekerja untuknya, namun tidak sedikit konsumen yang justru lebih puas atas pengerjaan Luz sendiri sehingga dia tidak ragu-ragu turun tangan memberikan hasil terbaik untuk para klien di hari penting mereka. Tapi semua itu tentu ada harganya, dan orang-orang yang berani menyewanya pun biasanya tidak jauh-jauh dari aktor-aktris Hollywood dan penyanyi yang sering berseliweran di Grammy Award.


Tapi hari penting untuk Luz sendiri justru kandas di tengah jalan. Dia dan Erickson tidak ditakdirkan bersama. Ini semua gara-gara Si Sialan Manuel yang ternyata adalah seorang yang mengejutkan. Dia bukan manusia, tapi monster yang merubuhkan jalan hidup Luz.


Setelah hampir menikah di hari itu, rasanya Luz sangsi untuk mencoba menikah kembali. Dirinya juga takut untuk membuka diri di dunia abad pertengahan ini, takut jika di saat semuanya berakhir bahagia dia justru kembali ke dunia nyatanya tanpa apapun. Seperti berusaha keras sampai seratus tapi dilempar kembali ke titik nol. Sia-sia.


Hidupnya masih panjang. Luz tidak tahu apa yang akan menunggunya di luar sana.