SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Permohonan Alexa



"achh.... achhhh......achhhhhhhhhhh ..." Ratu Alexa menggoyang goyangkan pinggulnya sekali kali dia menghentak hentakan pinggulnya ke atas dan ke bawah.


Ratu menjerit dan mendesah dengan kuat hingga membuat pengawal yang berjaga disebalik pintu mendengar suara jeritan kenikmatannya. Raja Abraham yang mendengar jeritan sang ratupun merubah posisinya. Ditariknya tubuh polos istrinya untuk berada dibawah kungkungannya kemudian Raja menghentak hentakkan pinggulnya dengan gerakan yang sangat cepat sehingga mengeluarkan cairan kenikmatan. kemudian mereka berdua terkulai diatas kasur.


"Rajaku, apa perlu kita menambahkan pengawalan yang ketat agar pangeran Fayz tidak mencoba kabur dari istana lagi? alexa menelusuri dada bidang suaminya.


"Bukankah keamanan yang sekarang sudah bagus ratuku?"


"Kalau keamanannya bagus tidak mungkin pangeran bisa lolos bekali kali rajaku." Alexa mencium leher sang raja dan meraba raba yang ada dibawah sana hingga membuat raja menginginkannya lagi.


"Baiklah kita akan menambahkannya lagi ratuku."


"Rajaku... bagaimana jika pengawalan di tempat pangeran juga kita ganti."


Raja tidak mengindahkan lagi percakapan sang ratu, dia mendorong ratu dan melahap habis bibir sang ratu dan terulanglah adegan panas ranjang mereka kembali hingga membuat sang raja tertidur di dalam mimpinya.


Ratu memungut pakaiannya yang berserakan dan membungkus tubuhnya yang polos lalu keluar dari istana sang raja untuk kembali ke tempat peristirahatannya.


"Pengawal, panggil prajurit Eden untuk menghadap ku."


"Baik ratu." pengawal kamar pergi menuju kamar Eden.


lalu beberapa saat kemudian Eden sudah berada didepan kamarnya ratu.


tok.... tokk.... tok....


"Masuk." Ratu Alexa sudah berganti dengan gaun tidur panjang bewarna putih dan transparan. Bahannya jatuh mengikuti lekuk tubuhnya karena terbuat dari bahan sutra terbaik.


Eben menelan salivanya melihat ratu.


"Besok kamu persiapkan prajurit terbaik untuk menjaga disetiap pintu keluar istana. jangan biarkan pangeran Fathur keluar dari istana."


"Baik ratu." Eden menundukkan pandangannya karena tidak ingin melihat tubuh Alexa.


"Kenapa kamu tidak mau melihatku."


"Tidak ratu. saya melihat anda." Eben menatap ratu yang lagi duduk bersender sambil menatap dirinya menggoda.


"Kalau begitu kemari mendekat." Eben sang prajurit melangkahkan kakinya mendekati sang ratu. Ratu tersenyum dengan sinisnya melihat gerakan langkah kaki Eben yang tinggal 3 langkah lagi.


"Ada apa ratu." Eben berhenti tidak jauh dari ratu.


"Maju lagi." ucap ratu tersenyum dengan puasnya.


Eben melangkahkan kakinya lebih dekat dan sekarang dia bisa melihat dengan jelas apa yang ada disebalik pakaian ratu. Eben merasakan tubuhnya seperti terkena serangan listrik, nafsunya begitu memggelora. Ia ingin segera menerkam makanan nikmat yang tersaji dihadapannya.


Ratu berdiri dihadapan Eben, jarak mereka hanya tinggal beberapa senti lagi. Aroma tubuh sang ratu sangat tercium jelas oleh Eben.


"Apa yang kamu lihat." ucap sang ratu.


"Maaf ratu, saya lancang."


Ratu mengangkat dagu sang prajurit hingga menatap bola matanya. "Apakah aku tidak menarik?" tanya sang ratu dengan suara lembut yang menggoda.


Eben hanya diam tidak menjawab. bola matanya beradu dengan milik sang ratu.


"Kenapa kamu tidak menjawabnya pengawal?"


Eben menutup matanya saat ratu berbisik ditelinganya lalu memberikan gigitan yang sangat lembut.


"Menarik ratu."


"jika aku menarik, apa tidak ada keinginanmu untuk melakukan sesuatu padaku."


"tidak ratu." jawab Eben berbohong. Eben tidak berani berkata jujur takut sang ratu akan murka dengan jawabannya karena sudah lancang menginginkan tubuh ratu.


plak..... sebuah tamparan mendarat di pipi Eden. Eden terkejut dengan reaksi sang ratu. mengapa sang ratu begitu murka.


"keluar." titah sang ratu.


Eben membungkukkan tubuhnya lalu pergi meninggalkan ratu.


"Biadap, beraninya kamu menolakku."


Ratu melemparkan apa yang ada di meja riasnya.


"Apa aku sudah tidak muda lagi, apa aku sudah tidak cantik dan semenarik dulu lagi." gumam ratu sambil melihat dirinya didepan cermin.


prang.... cerminpun pecah menjadi sasaran amukan sang ratu.


"pengawal....." teriak sang ratu dari dalam kamar. pengawal yang menjaga didepan kamar langsung berlari masuk kedalam.


"ya ratu."


"panggil pelayan." bersihkan kamarku."


"baik ratu."


Alexa melangkahkan dirinya menuju pintu disamping kamarnya untuk melihat taman sambil menunggu pelayan selesai membersihkan kamarnya.


Dia melihat Eben keluar dari pintu tempat peristirahatannya lalu bola mata mereka tidak sengaja bertemu disaat Eden menatap keatas kamarnya. Eden mmbungkukkan badannya lalu berlalu pergi meninggalkan tempat peristirahatan ratu.


"Tidak, keluar kalian semua." ucap ratu meninggalkan pelayan.


pelayan langsung bergerak dengan cepat menuju pintu kamar sebelum ratu akan memarahi mereka.


"Kenapa dengan ratu?" tanya pelayan dengan pelayan lainnya.


"Biasalah, diakan selalu membanting barang jika marah. Kami membersihkan kamarnya."


"Coba jika ratu Eliza masih hidup pasti kita tidak alan tersiksa begini."


""Hus... hati hati kalau ngomong, bisa dipotong lidahmu sama ratu Alexa jika ketahuan.


"Oh y ampun. ada yang denger ga ya." pelayan menoleh ke kiri dan ke kanan.


"sudah, sudah, istirahat lagi kita." jawab pelayan lain dan mereka semuapun bubar.


*


*


*


Pagi hari.


"Pengawal, mulai hari ini perketat penjagaan istana. prajurit Eben kamu saya angkat sebagai panglima perang sekaligus sebagai penanggung jawab keamanan istana. Pilihlah langsung prajurit prajuit yang akan kamu bina." titah sang raja.


"Terimakasih raja." Eben membungkukkan kepalanya.


Semua petinggi yang ada terkejut mendengar keputusan sang raja secara sepihak termasuk ibu suri dan pangeran Fathur karena posisi yang diberikan kepada Eben merupakan posisi yang strategis untuk sebuah kerajaan. Sementara pangeran Zein dan Ratu Alexa senang mendengar keputusan sang Raja.


Setelah selesai acara pertemuan pagi hari, Eben sengaja menemui Macron.


"Hei pengawal, kamu kutugaskan untuk menjaga dan mengamati siapa saja yang keluar dan masuk kedalam."


"heh...apa menurutmu aku akan memdengar bawahanku berbicara."


bugh... Macron ditendang oleh Eben.


"bawahan kamu bilang, aku panglima sekarang. lebih tinggi darimu jika kamu berani membangkang maka aku tidak segan membunuhmu."


"Hentikan... " teriak ibu suri yang melihat Macron dan Eben sedang bergumul. Fathur yang baru tibapun heran melihat wajah mereka berdua babak belur.


"Ada apa?" teriak Fathur menatap mereka berdua. Walaupun Eben pernah mencambuk Fathur tapi dia tetap takut dengan Fathur. Eben mencambuk Fathur atas perintah raja, jika tanpa perintah raja mana berani dia terang terangan menyentuh kulit pangeran. Walau bagaimanapun Fathur adalah calon putra mahkota terkuat dibanding pangeran Zein.


"Maaf pangeran" ucap Macron menundukkan kepala.


"Kamu.. kenapa bisa ditempatku? jangan sekali kali menyentuh orang orangku. mereka hanya bisa bergerak atas perintahku." ancam Fathur.


Aya yang berada dikamar melihat kejadian yang ada di halaman bawah.


"lumayan."


Fathur melihat kedatangan ibu suri langsung mempersilakannya untuk masuk. mereka berjalan kedalam bersama dan duduk di kursi lantai atas.


"Ada apa ibu suri? tanya Fathur dengan sendu menatap wajah neneknya yang sudah tua.


"Ibu hanya kangen padamu." jawab ibu suri tersenyum.


"Oh ya... Ayo lepaskan bajumu."


"Kenapa tiba tiba menyuruhku untuk melepaskan baju."


"Bukankah kamu diberi hukuman cambuk oleh ayahmu, ibu ingin mengolesnya dengan obat yang ibu bawa."


"Ibu suri.. biar aku saja yang mengolesnya. akukan dah besar."


"Biar ibu saja, cepat!" ibu suri duduk menghampiri Fathur untuk menyingkap pakaian di punggungnya.


Fathur tanpa sengaja menepis dan menjauh dari ibu suri, ibu suri terkejut dengan tingkah fathur. ia merasakan hatinya sedih dengan tingkah Fathur.


"Ibu suri menjauh dari Fathur lalu duduk dengan diam. Fathur yang melihat ekspresi ibu suri menjadi bingung bagaimana menjelaskan lukanya yang sudah sembuh tanpa bekas dalam semalam.


"Ibu suri, maafkan aku. Aku hanya terkejut ibu."


"Ya baiklah, Ayo buka sekarang." Senyum nya kembali menghiasi wajahnya yang keriput.


"Biar saya oles sendiri aja ibu suri, saya malu."


"Bagaimana kamu mau mengolesnya, kamu akan kesulitan karena tanganmu tidak akan bisa menyentuh punggungmu secara sempurna"


Ibu suri berdiri ingin membuka baju, lagi lagi Fathur menjauh.


"Ada apa dengan anak ini, apa yang disembunyikan dengan tubuhnya." gumam nya.


ibu suri yang namanya Aibeth akhirnya duduk dan meletakkan salapnya diatas meja. fikirannya berkecamuk mencari ide bagaimana caranya ia bisa melihat punggung Fathur.


"Ya sudah baiklah, ayo duduk kemari. Ibu ingin bercerita dengamu.


Fathur yang mendengar ibu suri yang tidak lain bukan adalah neneknya menuruti permintaan neneknya. mereka bercerita sangat lama sesekali terdengar ketawa mereka hingga kemudian ibu suri memintanya untuk makan malam di tempatnya. dan Fathurpun menyetujuinya. Ibu suri sudah siap dengan rencananya.