SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Kematian Yoenaz Sang Pengasuh



"Raja, ada undangan dari tuan putri Liana." ucap seorang prajurit yang datang menghadap.


"Berikan padaku."


Raja meraih undangan yang diberikan oleh prajurit lalu membacakan undangan yang sudah ada di tanggannya.


"Undangan siapa sayang?"


"Undangan pesta ulang tahun ratu Wiena" ucap raja kepada ratu yang sedang duduk disampingnya. Ratu Wiena merupakan ibu kandung dari putri Liana.


"Benarkah, kapan?


"Dua hari lagi."


"Sayang, aaKita harus menyiapkan pakaian mulai sekarang. Kita harus tampil dengan tampilan yang sangat memukau¹."


"Teserah kamu saja."


"Apa perlu kita beri tahu pangeran Fathur."


"Jangan, biar aku saja."


"Hem, baiklah." ucap ratu Alexa. Raja kemudian melanjutkan kegiatan paginya dengan memanah ditemani oleh pengawal setianya.


"Robert, apa ada berita terbaru?"


"Ada tuanku, beredar sebuah rumor mengatakan ada kerajaan baru berdiri di sebelah selatan. Negerinya sangat makmur dan kaya."


"Cari tau siapa penguasanya."


"Baik tuanku."


"Apa ada perkembangan tentang Alexa."


"Sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu raja."


"Ikuti segala gerak geriknya."


"Baik tuanku."


"Selesaikan hukuman kepada pangeran Fathur, sekarang dia sudah bebas kembali. Hentikan segala pengamanan. Jika terlalu lama prajurit dan pengawal menghabiskan waktu untuk menjaga istana maka akan habis tenaganya untuk hal yang tidak penting. Jika terjadi peperangan maka kita akan kewalahan menghadapinya. Kembalikan mereka dengan kegiatan biasanya.


"Baik tuanku."


Raja Abraham melanjutkan latihan memanahnya namun tiba tiba pandangannya teralihkan dengan gerakan Aya yang tidak jauh dari tempatnya berlatih. Aya sedang melakukan latihan bela diri tanpa menggunakan alat apapun.


"Apa kamu tidak mencurigai gadis itu, robert?" Raja memberikan sebuah isyarat lewat matanya kepada siapa ucapan tersebut dituju.


Robert melihat isyarat mata raja tertuju "Saya sedikit merasa aneh tuanku. Sebelum pangeran keluar dari istana ini, saya melihat gadis itu belum hadir diistana ini namun disaat kita melakukan pengamanan ketatq didalam istana tiba tiba gadis itu sudah muncul.


"Menurutmu, pangeran Fathur membawanya saat ia berada diluar kemaren."


"Saya juga tidak pasti tuan, namun disaat malam pertama kita melakukan pengamanan ada dua orang prajurit terluka di lorong bawah tanah. Selain itu menurut cerita dari beberapa orang prajurit yang ada disana, pada malam kejadian prajurit terluka paglima Eben dan ibu suri hadir ditempat kediaman pangeran. Namun selang beberapa menit kemudian ibu suri yang khawatir ingin menjenguk pangeran Fathur dikejutkan oleh kehadiran wanita itu. Lalu ibu suri membawanya ke tempat peristirahatan.


"Dimana pangeran disaat itu?"


"Sedang tertidur tuan."


"Apa gadis itu dibawa oleh ibu suri?"


"Tidak mungkin tuan, Disaat malam itu kita tidak sengaja bertemu mereka."


"Oh ya benar, aku mengingat kejadian malam itu. Ibu suri kelihatannya sangat asing dengan gadis itu. Mereka tidak saling kenal. lalu siapa gadis itu?


"Coba kamu cari tahu Robert. Jika ia memiliki maksud tertentu habisi saja dia."


"Baik tuan."


Raja melihat kearah lokasi Aya sedang berlatih namun gadis itu sudah menghilang tidak tau kemana. Aya yang tadinya sedang berlatih tidak sengaja melihat Raja hingga membuat ia berubah fikiran ingin mengintip raja. Iapun langsung bersembunyi disebalik pohon tidak jauh dari raja. Aya mendengar seluruh percakapan tentang dirinya.


"Hemh, ternyata mereka semua ingin menghabisiku, sebelum mereka menghabisiku aku yang akan menghabisi kalian."


Setelah kepergian raja, Aya keluar dari persembunyiannya lalu berjalan kembali menuju tempat pangeran Fathur.


"Nona Aya, dari mana saja kamu?"


"Saya sedang berlatih ilmu bela diri di dekat taman. Ada apa pangeran?"


"Bukankah kamu sedang dihukum?"


"Hukumanku sudah dicabut."


"Benarkah." Aya kelihatan begitu bahagia.


"Kalau gitu aku akan menemanimu dan pulang kerumahku."


"Tidak, kamu tidak bisa melakukan itu. Setidaknya kamu harus disini untuk sementara waktu. Raja, ratu, ibu suri dan yang lainnya akan mencari tahu tentang dirimu. Tunggu sampai keadaan tenang." ucap Macron.


"Aku merindukan ibuku," ucap Aya sedih. Aku khawatir kepada dirinya.


"Ya sudah, nanti disaat aku sedang berburu kamu boleh menghilang sebentar untuk kembali disana. tapi jangan lupa sebelum matahari terbenam kamu sudah kembali ke tempat kami berburu."


"Terimakasih pangeran."


"Ayo bersiap kita akan mencari lokasi berburu yang tidak jauh dari tempatmu." Fathur bergerak menuju kandang kuda kesayangannya.1


Setelah selesai persiapan semuanya, merekapun melakukan perjalanan hampir satu jam lamanya lalu memilih sebuah hutan yang tidak jauh dari rumah Aya.


Fathur dan Macronpun mulai berburu ditemani oleh pengawal istana sementara Aya mulai menjauh sedikit demi sedikit. Pengawal kerajaan yang lebih fokus untuk menjaga pangeran Fathur membuat Aya menjadi lebih mudah untuk pergi dari tempat berburu tanpa sepengetahuan mereka.


Aya menggunakan kudanya setelah jauh dari pengawal kerajaan. Suara ringkikan kuda terdengar samar samar oleh Macron dan Fathur namun mereka tidak menggubrisnya.


"Ada orang lain disini pangeran." ucap salah seorang prajurit.


"Tidak, mungkin kamu salah dengar." ucap Fathur lagi.


Salah seorang pengawal yang mendengar suara kuda menoleh kebelakang namun dikarenakan melihat situasi aman ia kembali mengawal pangeran.


Aya menunggangi kudanya dengan sangat cepat lalu berhenti disebuah pondok. Dengan gerakan cepat ia turun lalu masuk kedalam rumah. Ia melihat penampakan rumah yang bergitu berantakan seperti telah terjadi sebuah perkelahian di rumah yang ditempati Yoenaz yang tidak lain adalah ibu asuhnya. Aya menggenggam tangannya ia merasakan sebuah firasat buruk.


"Ibu... "


"Ibu... " Aya memanggil ibunya disetiap ruangan yang ada namun tidak ada suara yang menyahut seperti biasanya.


Aya mencari disetiap sudut. ia tidak menemukan Yoenaz lalu ia berlari menuju kearah sungai. Disungaipun sosok yang dicari tidak ada. Yoenaz menjatuhkan tubuhnya kelantai. Matanya mulai berkaca kaca.


"Ibu....... Kamu dimana?" lirih Aya didalam hatinya sambil menahan matanya yang perih.


"Ibu... kumohon kamu masih hidup. Jangan tinggalkan aku ibu. Aku hanya memilikimu lagi." lirih Aya. Aya kembali mencari Yoenaz disetiap sisi dengan tangan gemetaran. Ia sungguh tidak berharap menemukan Yoenaz dalam keadaan tidak baik. Kini tubuhnya betul betul linglung dan jatuh kelantai karena berjalan dengan tergesa gesa.


"Bugh." Aya terjatuh lalu kembali bangun dan berjalan dengan langkah gontai kembali keluar rumah.


"Ibu..... ibu...... ibu....... kamu dimana?" teriak Aya sambil terisak. Ia sudah tidak mampu menahan tangisannya. Kini bulir bulir embun sudah membasahi pipinya. Aya benar benar takut merasakan kehilangan


lagi. Ia begitu trauma dengan rasa itu.


"Ibu.... kumohon jangan tinggalkan aku. Aku tidak memiliki siapa siapa." lagi lagi air mata Aya tumpah tanpa bisa dibendung.


"Hiks, hiks, kenapa takdirku seperti ini. kumohon keajaiban datanglah."


Aya berjalan berkeliling lalu pergi masuk kedalam hutan yang biasa dimasuki oleh Yoenaz mencari kayu bakar. Ia berlari dengan kencang tanpa alas kaki. Alas kakinya ditanggal saat ia mencari ibunya disungai dan ia lupa untuk menggunakannya.


"Ibu...... Ibu........"teriakan Aya menggema dihutan. Aya terjungkal ketanah. kakinya tersandung akar pohon yang besar.


"Ibu... dimana?" lirih Aya lalu bangun kembali tanpa mempedulikan kepalanya yang mengeluarkan darah segar di wajah akibat terbentur akar pohon.


"Ibu.......," Aya menjerit sekeras tenaga disaat ia melihat Yoenaz bergayut dengan seutas tali. kedua tangan Yoenaz diikat di ranting pohon yang besar. Tetesan tetesan darah yang sudah mengering di daun yang berada ditanah menandakan Yoenaz sudah dibunuh beberapa hari yang lalu. Aya dengan cepat menurunkah tubuh Yoenaz kebawah. lalu melepaskan semua tali sambil menangis tersedu.


"Ibu... kenapa begini? semua salahku ibu" jika bukan karena diriku kamu tidak akan seperti ini."


Aya memeluk Yoenaz dengan kuat sambil menangis sekuat kuatnya. Ia meraung didalam hutan hingga membuat penghuni hutan berlari ke tempat yang lain.


Aya melihat bagian jantung dan hati Yoenaz sudah menghilang. Ia langsung mengetahui siapa pelakunya.


"Selena... Akan kubunuh kamu." teriak Aya. Aya kemudian bangun lalu membawa tubuh Yoenaz ke sungai untuk membersihkannya lalu menguburkannya. Dengan hati yang pedih dan mata berkaca kaca Aya membersihkan mayat Yoenaz dengan tubuh begemetaran.


Aya berjalan gontai melangkahkan kakinya ke kamar Yoenaz lalu meraih lukisan yang terpajang didinding. Dipeluknya lukisan yang menggambar wajah orang tuanya tersebut.


"Ibu.... Ayah.... Kenapa aku harus menjalani takdir seperti ini? Aku tidak kuat." Aya kembali terduduk dilantai dan menangis tersedu sedu. Ia memukul mukul dadanya yang terasa sangat sakit dan perih. Air matanya pun sudah kering sudah tidak mampu lagi mengeluarkan tetesan embun karena terlalu lamanya ia menangis.


"Ibu, ayah... kenapa kalian meninggalkanku seorang diri? Bagaimana aku hidup. Sekarang, aku tidak memiliki apapun. Jangankan harta, sebuah kasih sayang saja sulit untuk kudapati. Kini aku menjadi seorang putri yang malang." Aya menyenderkan kepalanya dijendela menatap sungai.