
""Tinggalkan saja kami berdua. Kalian semuam boleh pergi." Kepala pelayan beserta pelayan yang lainpun pergi meninggalkan Rezya dan Aya.
Rezya menghampiri Aya dan membuka bagian pundaknya yang terluka. Rezya mulai melihat luka yang ada dipundak Aya lalu kemudian dahinya mengernyit. "Siapa yang memberikan ramuan ini? Apakah Zein yang memberikan ramuan ini lalu dari mana ia mendapatkannya?" Batin Rezya.
Rezya menutupi pundak Aya kemudian Aya tiba tiba terbangun dari pingsannya. Ia membuka matanya dan memperhatikan apa yang dikerjakan oleh Rezya.
"Kamu sudah sadar? Kamu beruntung karena bisa selamat dari racun yang mematikan ini. Biasanya jika terkena racun ini seseorang hanya bertahan hidup dalam satu jam saja.
Aya menatap Rezya sekilas kemudian menoleh kearah jendela. "Terimaksih karena sudah membantuku." ucap Aya lirih.
"Aku tidak melakukan apapun, pangeran Zein yang sudah menyelamatkanmu. Dia sudah memberikan ramuan racun kepadamu."
"Walaupun begitu. Terimakasih." Aya menoleh ke arah Rezya dan memaksakan dirinya untuk tersenyum.
"Hem. Kamu boleh istirahat. Aku akan meninggalkanmu. Badanmu akan segera pulih."
"Baiklah."
Rezya meninggalkan Aya sendiri lalu menuju ruangan kerja pangeran Zein.
"Apakah ada pangeran Zein didalam?" ucap Rezya kepada penjaga.
"Ada Nyonya Rezya. Silakan masuk."
Rezya mengetuk pintu ruangan kerja pangeran Zein lalu tanpa menunggu jawaban ia langsung masuk kedalam.
"Bagaimana keadaanya?"
"Dia baik baik saja. Aku tidak perlu melakukan apapun. Sepertinya ramuan yang kamu berikan kepadanya sudah mulai bekerja!"
"Benarkah. Aku hanya memberikan ramuan yang pernah kamu berikan kepadaku dimulutnya!"
"Bukan itu yang kumaksudkan Zein. Maksudku ramuan yang kamu berikan pada luka dipundaknya?"
"Oh itu?" Pangeran Zein mengangguk anggukkan kepalanya mencoba untuk berfikir. "Ramuan apakah yang dimaksud Rezya?" batinnya dalam hati.
"Dari mana kamu mendapatkannya Zein. Ramuan itu hanya penyihir yang mengerti dan bisa mendapatkannya!" Rezya mencurigai sesuatu.
"Aku mendapatkannya dari seseorang Rezya. Akupun tidak tau itu ramuan apa." ucap pangeran Zein berbohong karena Aya sendirilah yang memberikan ramuan itu dipundaknya.
Pangeran Zein masih belum ingin membuka rahasia Aya sebelum dirinya mengetahui tujuan Aya masuk ke istana tersebut.
"Benarkah Zein. Aku harap kamu tidak membohongiku."
"Apakah kamu tidak mempercayaiku Rezya?"
"Baiklah aku percaya padamu. Ada yang aneh dengan orangmu itu. Aku merasa dia bukan wanita biasa saja. Aroma melatinya sangat tajam menusuk hidungku. Tatapan matanya pun seperti ada jiwa yang lain bersemayam didalamnya."
"Benarkah Rezya?" Apa menurutmu itu hanya perasaanmu saja."
"Aku sangat yakin Zein." Rezya menatap tajam kearah pangeran Zein.
"Baiklah Rezya, aku akan mencari tau siapa dia dan berhati hati kepada dirinya.
"Bagus. Aku pamit dulu." ucapnya kesal karena pangeran Zein meragukan kemampuannya.
"Aku akan mengantarmu Rezya." Pangeran Zein mengantar Rezya menuju tangga. Disaat mereka berdua melewati kamar Aya. Rezya dan pangeran Zein merasakan ada sesuatu yang aneh dikamar Aya. Hawanya membuat bulu kuduk mereka merinding.
"Brakkkk..." Rezya dengan cepat menendang pintu kamar Aya. Terlihat sesosok bayangan hitam melesat keluar dari arah jendela. Ruangan Aya yang penuh dengan kabut putih tidak membuat Rezya kehilangan sosok misterius itu.
Rezya dan pangeran Zein menuju kearah jendela mengejar bayangan tersebut namun bayangan itu pergi begitu saja menghilang.
"Aya, apa kamu baik baik saja?" Pangeran Zein melihat tubuh Aya yang berkeringat sekujur tubuhnya. Rezya pun datang menghampiri ketempat Aya berbaring.
Rezya memiliki kekuatan yang sebanding dengan pangeran Zein namun tidak ada yang mengetahui betapa kuatnya kekuatan mereka. Rezya memperhatikan Aya begitu teliti.
Pangeran Zein terkejut atas ucapan Rezya sementara Aya hanya terdiam tanpa mengeluarkan suara.
"Selama kamu tidak menyerahkan apapun yang iblis itu mau. Kamu akan diikuti kemanapun kamu pergi."
"Apa maksudmu nona?"
"Hem, Kamu tidak perlu berpura pura kepadaku. Aku tahu kamu pasti telah melakukan perjanjian kepada iblis itu atau kamu telah mengambil sesuatu yang merupakan miliknya? Iblis tidak pernah lupa dengan pengikutnya." bentak Rezya penuh emosi.
"Aku tidak mengerti maksudmu." ucap Aya lirih namun dirinya terkejut mendengar ucapan wanita yang berdiri didepannya saat ini. "Siapakah gadis ini? Aku dalam bahaya." Batin Aya.
"Teserah kamu berlagak bodoh. Yang jelas aku sudah memperingatimu. Dia akan terus mengejar kemanapun kamu pergi."
Rezya meninggalkan ruangan Aya lalu pangeran Zeinpun mengikuti langkah kaki Rezya menuju pintu keluar.
"Apa yang kamu katakan itu benar Rezya?"
"Iya. Kamu harus berhati hati Zein. Kamu tau iblis itu adalah makhluk terkutuk. Setiap orang yang berada didekatnya akan mati dengan cara sadis Zein. Aku tidak mau kamu adalah salah satunya."
"Kamu tenang saja Rezya. Aku tidak akan menjadi salah satunya."
"Bagaimana aku bisa tenang Zein. Sahabat yang paling kusayang sekarang dalam bahaya. Kamu tidak akan pernah tahu apa yang dilakukan iblis itu. Disaat iblis itu tahu. Gadis itu ada disini."
"Tenanglah Rezya."
"Darimana kamu mendapat gadis itu Zein?"
"Dia adalah orangnya pangeran Fathur. Disaat pangeran Fathur membuangnya. Aku mengambilnya.
"Kembalikanlah dia dimana dia berada Zein. Kamu tidak perlu mengambil resiko terlalu berat agar rencanamu berhasil."
"Aku akan memikirkannya Rezya."
"Aku akan tinggal disini Zein. Aku akan pulang dan mengambil barang barangku. Setelah itu aku akan disini sampai gadis itu pergi."
"Jika itu yang membuatmu tenang. Baiklah Rezya. Kita tungga sampai dia pulih. Setuju."
"Baiklah." Rezya melangkahkan kakinya diikuti oleh pangeran Zein menuju lantai bawah.
Aya yang diam diam bangun dari pembaringannya dan mengikuti langkah kaki mereka. Menguping dari sebalik pintu kamar. Ia dengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh Rezya dan pangeran Zein.
Aya menarik nafasnya dengan berat setelah merasakan keadaan sedikit tenang. "Apa yang harus kulakukan ibu? Mengapa semuanya menjadi terlalu rumit?" Ait mata spontan menetes disudut pelupuk mata Aya. Bebannya begitu berat.
Aya berdiri didekat jendela sambil bersandar melihat kepergian Rezya. Tanpa sengaja mata mereka berdua saling beradu. Aya memundurkan langkah kakinya dan kembali ke pembaringan. Dirinya tidak sanggup untuk bertatapan dengan Rezya.
Aya berdiri didepan cermin lalu membuka perban yang ada dipundaknya. Setelah ia merasakan ramuan yang diberikan dipundaknya telah bekerja. Aya menutup lukanya dengan sihir agar kembali ke keadaan yang semula. Kini pundaknya kembali mulus.
Tidak beberapa lama pintu kamarnya diketuk oleh pelayan. Aya dengan cepat menggunakan pakaiannya lalu tanpa ia meminta untuk masuk seorang pelayan sudah masuk keruangan kamar.
"Aya, kenapa kamu berdiri? Kamukan sakit?"
"Oh iya. Aku merasa capek saja berbaring."
"Oh... Ini sudah pukul 02.00 pagi Aya sebentar lagi subuh. Istirahatlah. Ini ada makanan dan minuman jika kamu terasa lapar."
"Baiklah. Terimakasih. Bolehkah aku minta tolong sesuatu?"
"Boleh. Apakah itu?"
"Antarkan makanan ini kekamarku. Aku ingin tidur disana."
"Tidak. Kamu harus disini dulu. Ini permintaan pangeran Zein. Tunggulah sampai besok pagi Aya. Ucap pelayan.
"Baiklah."