
Note: putri Carraya menatap hutan belantara milik Selena
** free image for pinterest.
Sang putri melangkahkan kakinya mendekati hutan belantara namun dirinya hanya berdiri menatap hutan yang penuh misteri itu. Dilihatnya pemandangan sekitar setelah itu iapun berjalan menuju Elf dan menunggangi Elf secepat kilat untuk memacu kudanya berbalik arah. Namun baru lima langkah kudanya berjalan Aya membalikkan arah kudanya kembali untuk masuk kedalam hutan belantara itu dengan kecapatan tinggi. Aya sudah sangat yakin dengan keputusannya untuk menggadaikan jiwanya agar bisa memiliki kekuatan walaupun meski bersekutu dengan sang iblis, makhluk terkutuk.
"Wuuuushh... Wuuuushh...Wuuuush..." bunyi suara angin berhembus sangat kencang.
Kuda yang ditunggangi putri Carraya berlari dengan kecepatan sangat tinggi sehingga membuat semilir angin yang berhembus menerpa tubuhnya. Burung burung yang terbang saling bersahut sahutan seakan akan memberi tahu kepada sang pemilik hutan belantara bahwa ada seorang tamu yang datang.
Tak terasa setengah jam berlalu dan kini Aya sudah sampai ditempat Selena. Selena menatap Aya dengan senyuman yang penuh arti.
Aya turun dari kudanya dan mengikat Elf disamping pohon yang tidak jauh dari pondok tua milik Selena.
Selena masuk kedalam pondok tuanya untuk mengambil beberapa perlengkapan yang sudah disiapkannya sejak Aya mulai memasuki hutan belantara miliknya. Setelah merasakan sudah lengkap iapun keluar untuk menemui Aya.
Selena menatap Aya lalu menggerakkan mata dan tangannya sebagai isyarat untuk mengikuti dirinya. Aya yang mengerti langsung bergerak cepat mengikuti Selena dari belakang.
"Wooosh... Wooosh... Wooosh..." Selena meluncur dengan sangat cepat, sesekali ia terbang secepat kilat sementara Aya yang tidak memiliki ilmu sihir hanya bisa mengikuti Selena dengan cara berjalan. Sesekali Aya memanjat tebing, turun tebing, dan melewati sungai yang sangat curam. Setelah lama melakukan perjalanan akhirnya Selena memberhentikan gerakannya di sebuah pinggir sungai karena dilihatnya Aya sudah tidak sanggup untuk berjalan.
Aya duduk sebentar lalu dia menggerakkan badannya untuk membersihkan diri di sungai. Dilihatnya matahari sudah mulai tenggelam pertanda malam akan segera tiba. Aya mengambil beberapa kayu lalu membuat sebuah api namun apinya sulit sekali untuk menyala dikarenakan angin yang berhembus sangat kuat.
"Ha,ha,ha... apa yang kamu lakukan tuan putri?"
"Apa kamu tidak melihat apa yang sedang kulakukan?"
"Hemh, menghidupkan api saja kamu tidak bisa."
"Bukan aku tidak bisa. Anginnya sangat kencang."
"Minggir kamu." ucap Selena. Selena menatap fokus kearah kayu sambil membaca beberapa mantra dan kemudian dia melemparkan segenggam tanah kedalam tumpukan kayu lalu keluarlah sebuah api unggun besar yang bisa membuat tubuh Aya menjadi hangat.
"Kenapa kamu tidak melakukannya dari tadi?"
"Kamu tidak meminta bantuanku." ucap Selena sambil mengelus si Elfis yang tiba tiba muncul. Kucing hitam tersebut memang selalu setia menemani Selena kemanapun dia pergi dan menariknya dia selalu muncul dan pergi secara tiba tiba.
"Cih, sombong."
"Aku lapar." ucap Aya.
"Begitukah cara seorang putri minta bantuan?" ucap Selena sambil menatap sungai dihadapan mereka.
"Nyonya selena, bisakah anda membantu saya menyiapkan makan malam?" ucap Aya dengan senyum dipaksakan.
Selena membisikkan sesuatu ke telinga Elfis kemudian kucing hitam tersebut melesat meloncat kedalam sungai dan tidak beberapa lama Elfis membawa beberapa ekor ikan segar hasil tangkapannya.
"Wau, sini. Ikannnya masih hidup." Aya yang melihat Elfis membawa ikan segar langsung menghampiri untuk mengambil ikannya namun Elfis marah dan mencakar tangan aya.
"Aduch, kamu...."
"Meaaaaaaw... " Elfis mengeluarkan suaranya seakan akan mengatakan "Jangan ambil ikanku." kemudian Elfis meninggalkan Aya dan menuju Selena untuk menyerahkan hasil tangkapannya.
"Dia tidak suka disentuh oleh oranglain." Selena mengambil ikan yang diberikan oleh Elfis kemudian berjalan menuju kearah api unggun yang mereka buat. Selena menggerakkan tangannya dengan lihai, sehingga terbentuklah api unggun kecil dan kayu untuk memanggang ikan. Aya duduk dihadapan Selena untuk menunggu ikan matang.
Tujuh menit berlalu dan Aya melihat ikannya sudah matang dengan sangat sempurna, lalu Aya melahap bagiannya tanpa sisa.
"Apa kamu tidak memiliki keluarga?" ucap Aya menatap Selena.
"Mereka pergi meninggalkanku."
"Mereka takut aku akan membawa masalah." Selena mengigat masa lalunya dengan mata penuh kebencian.
"Semenjak kapan kamu belajar sihir?" tanya Aya merasa iba.
"Kemampuanku sudah ada dari sejak lahir, turunan dari nenek moyangku. Nenekku dulu adalah seorang penyihir yang hebat tapi dia bukan penyihir yang jahat. Dia selalu menolong orang yang membutuhkan namun suatu hari ia difitnah dan dibakar hidup hidup." Selena mendongakkan kepalanya menatap langit.
"Lanjutkan, kenapa berhenti?" Aku masih penasaran dengan ceritamu. Bukankah kita memiliki nasib yang sama cuma jalannya saja yang berbeda."
"Semenjak hari itu penduduk kampung mengejar seluruh keluargaku dan membunuh semua keturunan yang memiliki kemampuan sihir. Keluargaku melarikan diri disuatu pulau. Disaat itu aku masih dalam kandungan namun disaat aku lahir akupun bisa langsung berbicara dan berjalan hingga membuat ibuku diusir dan dibunuh. Setelah aku besar aku hidup bersama seorang penyihir pria." jelas Selena panjang lebar.
"Bagaimana kamu tahu? bukankah kamu masih bayi."
"Orang yang merawatku menceritakannya."
"Apa kamu percaya?"
"Tentu saja."
"Bagaimana dengan dirimu, kenapa memilih jalan ini? masuk ke dunia yang tidak diinginkan orang lain?" tanya selena.
"Aku hanya ingin mengambil apa yang menjadi milikku kembali?"
"Bagaimana jika bukan Raja Abraham yang melakukan semuanya?"
"Aku akan mencari tau semuanya!"
"Masuk kedalam kerajaan Andromela tidak semudah yang kamu bayangkan, kamu akan banyak mendapat rintangan?" jawab Selena menatap sungai.
"Makanya aku mau menempuh jalan ini, mengorbankan jiwa dan ragaku untuk mendapatkan apa yang harusnya aku miliki? aku harus memiliki kekuatan."
"Semoga kamu berhasil dan tidak menyesal."
"Ayo kita lanjut perjalanan kita, sebelum bulan purnama penuh kita harus sampai di dalam gua."
Aya dan Selena melanjutkan perjalanannya menuju gua untuk melakukan sebuah ritual pemujaan.
Tiga jam lebih Aya dan Selena melakukan perjalanan. Akhirnya mereka sudah sampai didepan gua. Suara burung hantu saling bersahut sahutan menggema dari arah dalam gua, bulu kuduk Aya berdiri melihat suasana didalam gua. Selena mebuat percikan api di tangan kanannya untuk membantu mereka masuk kedalam gua.
Setelah sampai didalam gua, Aya dan Selena disambut oleh seorang lelaki separoh baya. Selena menuju lelaki separo baya itu sambil membisikkan sesuatu lalu lelaki tua itu menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti apa yang dikatakan oleh Selena.
Aya dan Selena dibawa menghadap seorang lelaki yang tinggi, tegap, badannya kekar dan jari jemarinya penuh dengan warna hitam namun seluruh tubuh dan wajahnya ditutupi oleh sebuah jubah.
Selena dan Aya duduk menghadap pria itu, pria itu tidak berbicara dia hanya diam dan melakukan gerakan gerakan sambil membaca beberapa mantra didepan bola merah yang mengeluarkan cahaya bewarna merah darah. Pria tersebut menyodorkan sebuah gelas kepada Selena kemudian Selena meraih tangan Aya untuk membuat sebuah luka goresan kecil dijari telunjuk.
"Aw." teriak Aya. Selena menggores jari Aya dengan sebuah pisau lalu Selena menampung tetesan tetesan darah yang keluar dari jari tangan Aya dengan sebuah gelas yang disodorkan oleh pria berjubah. Gelas yang sudah berisi darah Aya diserahkan kepada pria yang dipanggil pak tua itu.
Pak tua menumpahkan darah Aya kearah bola bewarna merah dihadapannya kemudian dari dalam bola merah tersebut keluarlah sebuah tangan yang menampung darah Aya hingga membuat Aya ketakutan. Tidak perlu menunggu lama tiba tiba datang sebuah angin yang sangat kuat berhembus membuat semua yang ada terlempar.
"Hi...... Hi...... Hii....... Ha..... Ha..... Ha... " bunyi suara iblis yang menyerupai suara pria dan wanita tertawa saling bersahut sahutan didalam gua.
Beberapa detik kemudian pak tua dan Selena saling berkomat kamit membaca mantra hingga muncullah sosok hitam yang sangat besar memenuhi ruangan gua menghampiri tubuh Aya. Sosok itu masuk kedalam tubuh Aya hingga membuat darah segar keluar dari mulut Aya.
Aya merasakan dadanya sesak sekali dan tubuhnya seperti disobek sobek. Aya mnggelepar seperti ayam yang sedang dipotong. Selena yang melihat Aya langsung menghampirinya untuk memberi sebuah pertolongan namun tiba tiba tubuh Aya terpelanting kesana kemari. Dengan sangat lihai Selena mengejar Aya bersama pak tua hingga akhirnya mereka berhasil menangkap Aya.
Aya mengelepar dengan tatapan matanya yang sangat sendu dan kemudian dirinya jatuh pingsan dipangkuan Selena. Selena menatap Aya dengan tatapan sedih.
Lelaki separo baya yang menyambut mereka diawal datang menghampiri mereka. Pria tersebut bernama Macrey. Macrey mengangkat tubuh Aya dan meletakkannya diatas ranjang tua.
Selena menatap tubuh Aya yang penuh dengan luka dan bercak bercak darah. Aya sedang melewati proses penyatuan dengan roh kegelapan. Jika Aya bisa melewati masa penyatuan ini, maka Aya akan mendapatkan kekuatan mistis yang lebih kuat dari Selena namun jika dia tidak bisa melewatinya maka jiwa dan raga Aya akan dibawa oleh sang iblis terkutuk yang menyatu di badannya untuk selamanya.
"Aya semoga kamu berhasil melewatinya." Lirih Selena meninggalkan Aya untuk bertemu dengan pak tua.