SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Ciuman Hangat



"Pangeran Fathur, apa anda tidak ingin bersiap terlebih dahulu? Satu jam lagi kita akan menuju istana raja Barock. Kita akan pergi ke pesta ulang tahun ratu Wiena." ucap Macron.


"Bagaimana keadaan Aya?"


"Dia sudah sadarkan diri. Ela menemaninya dari tadi."


"Hm baguslah. Aku akan mandi dulu untuk membersihkan badanku agar segar."


"Baiklah pangeran. Aku akan mempersiapkan pakaiannmu."


Pangeran Fathur menuju kamar mandi dan membersihkan badannya sambil sesekali ia mengingat kejadian yang memporak porandakan tempat peristirahatan tersebut. Walaupun dalam fikirannya tidak ingat seutuhnya. Namun potongan penggalan penggalan yang diingatnya seolah olah seperti puzzle yang bisa dirangkai jadi sebuah cerita.


"Sepertinya aku tinggal merangkai rangkainya saja." batinnya lirih.


"Tapi aku lupa apa yang membuatku menjadi marah?"


Sudahlah jangan terlalu kupaksakan." gumamnya sendiri.


Pangeran Fathur keluar dari kamar mandi dan menggunakan pakaian yang sudah disiapkan oleh Macron. Kini dirinya sudah terlihat sangan menawan ditambah lagi aroma parfum yang disemprotnya keseluruh tubuh. Dirinya begitu sangat mempesona. Wajar saja jika banyak wanita yang ingin menjadi pasangannya.


Pangeran Fathur melangkahkan kakinya menuju kamar wanita yang sangat dirinduinya. Dari tadi dirinya sudah tidak sabar untuk melihat langsung kabar wanita tersebut.


"Pangeran..." ucap si Ndut sambil membelalakkan matanya dan membuka mulutnya lebar lebar karena terkejut melihat lelaki ganteng sedang berada dihadapannya.


"Hei, sadar! ucap Ela pelan menyenggol si Ndut yang hampir saja mengeces.


"Hm..." si Ndut menutup mulunya lalu tersenyum cengengesan.


"Ayo kita keluar." ucap Ela."


Kini tinggallah pangeran Fathur dan Aya yang sedang tertidur diatas kasur. Pangeran Fathur duduk disamping ranjang Aya sambil menatap gadis yang ada dihadapannya. Dilihatnya wajah sang gadis begitu pucat.


"Aya, maafkan aku." ucap Fathur menyentuh pipi Aya.


Aya menggeliat dan terbangun akibat sentuhan tangan Fathur yang dingin. Ditambah lagi aroma parfum yang menusuk hidungnya.


"Maaf. Aku tidak bermakssud membangukanmu." ucap Fathur merasa bersalah. Aya hanya melihat pangeran Fathur dengan tatapan mata yang sayu.


"Apa kamu baik baik saja." ucap Aya lirih.


"Hm ech." Fathur menganggukkan wajahnya untuk menjawab pertanyaan Aya. Matanya berkaca kaca mendengar pertanyaan Aya.


"Ach wanita ini, jelas jelas dirinya yang terluka dan pingsan namun masih sempatnya menanyakan kabar diriku." batin Fathur.


Merekapun kemudian diam dan saling bertatapan. Pangeran Fathur ingin sekali memeluk dan mencium kening Aya namun karena mereka tidak memiliki hubungan yang lebih dari seorang pangeran dan tamu. Pangeran Fathur hanya membuang angan angan tersebut jauh.


"Apa kamu sudah bersiap siap ingin ke istana ratu Wiena?" tanya Aya memecahkan keheningan.


"Iya, aku akan segera pulang menemanimu disini."


"Tidak apa. Aku sudah baik baik saja. Aku akan dijaga oleh Ela dan yang lain serta prajurit. Itu sudah cukup."


"Oooo... baiklah." ucap Fathur kecewa.


"Nikmatilah pestanya. Kita sudah jauh jauh kesini."


"Iya." Fathur berdiri dan meninggalkan Aya.


Pangeran Fathur melangkahkan kakinya dengan kecewa. Dirinya berharap Aya akan senang jika dirinya cepat pulang ternyata salah. Sementara Aya hanya melihat punggung pangeran Fathur sampai menghilang kemudian ia memejakan matanya dan meneteskan tetesan embun dari sebalik matanya.


"Aku tidak boleh mencintai dirinya. Jika aku mencintainya Selena pasti akan datang mengambil nyawanya." batinnya lirih sambil menahan rasa sakit didadanya.


"Pangeran, Ayo kita kebawah. Semua sudah ada dibawah." ucap Macron.


"Siapa penanggung jawab yang berjaga malam ini?"


"Werto pangeran."


"Panggilkan dia cepat."


"Baik tuan.


"Jaga gadis itu sperti kamu menjaga nyawamu."


"Baik pangeran."


Pangeran Fathurpun turun menuju keluarga yang lain yang sudah menunggu dirinya. Pangeran Zein melihat Fathur turun dengan sangat gagah. Dirinya merasa sangat cemburu. Sementara raja dan ratu hanya diam. Mereka masih terkejut dengan kejadian tadi siang.


Redolf yang sudah kembali sadar menunggu pangeran Fathur keluar. Redolf sudah bersiap siap ingin memberi tumpangan kepada majikannya.


"Ayo kita berangkat." ucap raja menuju kereta kudanya bersama ratu.


"Dimana gadismu?" ucap pangeran Zein.


"Bukan urusanmu."


"Tentu saja urusanku. Aku rasa gadismu terkejut melihat dirimu yang tiba tiba berubah menjadi sosok yang tidak dikenal. Kamu seperti iblis. Mengamuk dan memporak porandakan semua barang yang ada." ucap pangeran Zein tertawa.


"Maksudmu?"


"Maksudmu? Jangan bilang kamu lupa kejadian tadi siang!" ucap pangeran Zein penuh selidik.


"Ha...ha...ha..." Fathur pergi meninggalkan pangeran Zein tanpa menggubris ucapan Zein. Pangeran Fathur hanya mengingat ucapan pangeran Zein.


"Apa maksudnya? Apakah aku yang membuat semua kekacauan tadi sore. Aku harus pastikan dengan Macron apa yang terjadi tadi siang. Batinnya lirih.


Pangeran Fathur menaiki punggung Redolf dan berjalan mengikuti kereta kuda yang ada dihadapannya.


Tidak berapa lama merekapun sampai diistana raja Barock. Mereka disambut oleh pelayan lalu diantar sampai ke aula.


Putri Liana yang melihat kehadiran pangeran Fathur langsung berjalan menuju lelaki tersebut. Namun langkah kaki putri Liana berhenti disaat dirinya kehilanga pria tersebut.


"Hei gadis kecil, sedang mencari apa kamu?


"Hai, Selena. Kapan kamu tiba?


"Baru saja."


"Aku memcari calon suamiku. Tadi dia berada disana namun tiba tiba dia menghilang."


"Oh ya, benarkah?"


"Hm ech. Ya sudah. Ayo kita duduk disana."


Putri Liana dan Selena berjalan menuju tempat yang ingin mereka duduki. Merekapun saling bercerita sesekali terdengar suara ketawa mereka semetara pangeran Fathur yang mengintip disebalik tembok langsung pergi mencari Macron.


"Macron."


"Ada apa pangeran?"


"Ayo kita segera pergi dari sini."


"Baik pangeran." Macron langsung bergerak menyelinap dalam keramaian bersama pangeran Fathur tanpa banyak bicara. Macron mengambil kuda dan Redolf kemudian menungangginya menuju tempat peristirahatan.


Pangeran Fathur langsung berlari menuju kamar Aya. Aya yang sedang berganti pakaian dibantu oleh Ela dan si Ndut terkejut melihat pangeran datang.


"Aaaaa...." teriak Aya sambil melempar apa yang bisa direngkuh namun Fathur tetap berjalan masuk dan menghampiri Aya hingga membuat Ela dan siNdut keluar.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" teriak Aya.


Pangeran Fathur tidak menggubris Aya. Dirinya langsung berjalan cepat menuju semua jendela lalu menutupnya dengan sangat rapat. Lalu menghampiri Aya yang masih sibuk mengomel sambil memegang selimut untuk menutupi tubuhnya. Namun pundaknya yang putih terekspos sangat jelas dimata Fathur


"Cup... Sebuah ciuman hangat mendarat di bibir Aya. Pangeran Fahur memejam matanya dan menikmati ciuman yang diberikan kepada gadis yang ada dihadapannya. Digigitnya bibir tersebut dengan sangat lembut lalu ditekannya kepala Aya agar ciumannya lebih dalam. Tanpa Aya sadari dirinya yang biasanya hanya pasrah diam atau melawan. Namun kali ini ia menggigit bibir Pangeran Fathur dengan sangat lembut. Dirinya membalas ciuman tersebut dengan sangat hangat. Pangeran Fathur melepas ciumannya lalu tersenyum melihat Aya yang menundukkan kepalanya karena malu.


"Aku tidak ingin melakukan apapun. Mana mungkin aku akan memperkosamu. Aku hanya khawatir kepadamu. Aku melihat Selena ditempat ratu Wiena. Disaat aku melihatnya aku langsung memikirkanmu dan berlari kesini. Aku menutup semua jendela agar ia tidak melihatmu ada disini. Aku hanya takut kamu terluka." Pangeran Fathur mengangkat dagu Aya hingga membuat Manik mata mereka saling bertatapan.


"Maafkan aku."


"Cup..." Pangeran Fathur mencium bibir Aya sekali lagi. Dirinya membuat gadis yang ada didepannya berdiri mematung.


"Selesaikanlah pakaianmu. Habis tu aku akan temani kamu makan." ucap pangeran Fathur lirih." Aya tidak bisa menjawab apapun. Dirinya benar benar terkejut dengan sikap pangeran Fathur.