SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Rencana Ratu Alexa berjalan



"Bagaimana keadaan pintu keluar masuk istana Macron?" Fathur menatap mata Macron menanti jawaban dari pertanyaan yang barusan dilontarkan dengan gelisah.


"Panglima Eben melakukan pengawalan dengan sangat ketat pangeran, prajurit yang handal dan lihai diletakkan Eben tepat dipintu keluar masuk. Dia melakukannya dengan sangat sempurna. Pasti ada seseorang dibelakangnya Pangeran."


"Brengsek, ne pasti semuanya ulah Alexa agar aku tidak bisa lari lagi dari perjodohan."


"Pangeran, bagaimana cara kita mengeluarkan si gadis gaun merah dari sini?"


"Bagaimana dengan ruangan bawah tanah?"


"Sama saja pangeran, kita harus tetap keluar menuju pintu istana. Sementara pintu istana sudah dijaga dengan pengawalan yang ekstra ketat, karena ruangan bawah tanah kita tembusnya tepat depan pintu keluar yang dijaga langsung oleh prajurit yang sangat handal."


"Argh... " Fathur mengacak acak rambutnya lalu melewati Macron, ia ingin kembali ke ruangan kamarnya melihat Aya. Fathur melangkahkan kakinya menuju ruangan dimana Aya berada.


"Kamu mau kemana?" Fathur melihat Aya yang sudah menggunakan gaun merahnya yang basah kemaren, namun kali ini gaunnya sudah kering. kulitnya yang putih bersih menambah kecantikannya menggunakan gaun bewarna merah marron itu.


"Tentu saja aku ingin pulang. Apakah kamu sudah lupa dengan janjimu pangeran?"


"Tidak, aku masih ingat. Tapi kenapa kamu begitu terburu buru, bukankah aku berjanji untuk mengantarmu disaat malam hari."


"Aku hanya sudah tidak sabar." Aya menatap kearah luar. wajah ibu pengasuhnya Yoena terbayang dipelupuk matanya.


"Apa dia baik baik saja, apa dia masih hidup." Aya bergumam sendiri, tidak tau kenapa Aya merasakan begitu rindu dengan ibunya. Dia merasakan takut kehilangan orang yang disayang untuk kedua kalinya.


"Apa jalan yang kupilih salah? benar kata Ibu aku harus melupakan semuanya dan hidup damai. Jalan yang kupilih saat ini membawaku masuk ke kuburanku sendiri. Aku harus berhadapan dengan Selena dan Sekarang aku berada di kerajaan Andromela. kerajaan yang dipimpin oleh Raja Abraham yang memiliki segudang kekuatan. Selena yang hebat saja bisa terusir dari kerajaan ini.


Fikiran Aya berkecamuk memikirkan segala cara agar dia bisa keluar dari kerajaan Andromela. Disaat ia memikirkan strategi yang akan disusun tiba tiba mata Aya fokus melihat begitu banyak prajurit berlari menuju tempat peristirahatan Fathur.


"Lho, ada apa ini, kenapa begitu ramai prajurit dibawah. Apa kamu ingin menangkapku?" ucap Aya menatap Fathur dengan penuh tanya.


Fathur berlari menuju kearah Aya, lalu berdiri disamping Aya untuk melihat apa yang terjadi dari sebalik jendela.


"Alexa, kamu...." suaranya yang pelan namun penuh dengan penekanan terdengar di telinga Aya. lalu Fathur berlari menuju lantai bawah.


"Pangeran, ada apa?" Macron bertanya kepada Fathur yang keluar dari kamar dengan penuh amarah. Fathur tidak menoleh ke arah Macron ia langsung menuju kelantai bawah. Macron mengikutinya dari belakang.


Macron terkejut melihat prajurit yang banyak diluar, mengalahkan jumlah pengawal yang ditugaskan Macron untuk menjaga rumah peristirahatan pangeran Fathur.


"Bubar, Enyah kalian disini." Beberapa pengawal dipukul oleh Fathur namun mereka tidak bergeming.


"Maaf pangeran, kami hanya melakukan tugas." seorang prajurit menundukkan kepalanya.


"Siapa yang memberi perintah kepada kalian." Ucap Fathur murka.


"Ibu suri, pangeran." jawab panglima tadi.


"Ibu suri, kenapa Ibu suri melakukan ini. jangan berbohong kamu."


"Saya tidak berbohong pangeran, kami hanya melakukan tugas sesuai perintah. Ibu Suri meminta kami menjaga keamanan di tempat peristirahatan dan juga menjaga keamanan anda.


"Baiklah. kalian boleh melakukannya, Tapi kalian harus masuk kedalam dengan izinku. Jika tidak ada kepentingan kalian berjaga di sini aja." Ucap Fathur dengan penuh amarah.


"Baik pangeran." kemudian beberapa prajurit mengelilingi bagian tempat peristirahatan pangeran untuk mengambil posisi masing masing.


Fathur masuk kedalam dengan langkah gontai. "Apa yang terjadi dengan ibu suri. Apa dia bersekongkol dengan Alexa atau dia memang benar benar khawatir dengan diriku."


"Saya tuan."


"Baik, ikuti saya kedalam." Macron mau menjelaskan tentang peraturan apa saja yang boleh dilakukan dan tidak selama berada ditempat Pangeran.


Setelah Macron rasa penjelasannya sudak cukup, dia menyuruh pemimpinnya untuk kembali ketempat semula. Lalu dia melangkahkan kakinya menuju lantai atas untuk menemui Fathur.


"Prajurit, suruh semua pelayan dan juga semua yang ada diatas menuju lantai bawah."


"Baik tuan."


Setelah rasanya aman, Macron mencari Fathur, dilihatnya Fathur ada ditaman lantai atas. lalu dia mendekati Fathur.


"Pangeran... hari sudah semakin sore. Bagaimana kalau kita memberi tahu kepada gadis gaun merah tentang hal ini. Kita bisa membahayakan nyawa pangeran jika berani nekat untuk keluar dari istana ini. Walaupun wanita itu kuat, tapi kita jangan lupa Selena sang penyihir handal saja tidak bisa menghadapi prajurit Alexa apalagi dia tuan.


"Jangan. Aku takut dia berfikir kalau kita sengaja."


Tanpa mereka sadari dari tadi Aya sudah ada duduk dibelakang mereka berdua.


Fathur berjalan maju melihat Air mancur yang ada dihadapannya. kemudian dia berniat untuk kembali kekamar melihat Aya. Disaat ia membalikkan badan dilihatnya Aya sedang duduk menatap dirinya.


"Kamu...." Fathur membelalakkan matanya.


"Kenapa begitu reaksimu, seperti melihat hantu saja." Aya berjalan menghampiri Fathur kemudian ia berhenti di samping Fathur untuk merasakan dinginnya air terjun buatan tangan yang ada ditaman itu.


"Kenapa kamu tidak katakan, ada ruangan seindah ini di tempat ini?" Aya mengambil air sambil memainkannya lalu dia menatap kearah Macron.


"Tunjukkan saja jalannya, biar aku sendiri."


"Jangan, sama saja kamu akan bunuh diri." Ucap Fathur.


"Terus maksud kamu, aku harus disini sampai kapan?"


"Maaf, aku memang salah. Harusnya aku tidak membawamu masuk kemari. Namun disaat itu aku tidak memiliki pilihan. Hari sudah larut malam kamu dalam keadaan tidak sadarkan diri. Apakah itu tertidur ataupun pingsan akupun tidak tau karena kita ada diatas kuda sementara aku sendiri dalam keadaan penuh luka. Aku hanya berfikir bagaimana bisa jauh dari pengejaran Selena dan nyawa kita semua terselamatkan."


Aya hanya diam menatap Fathur. Dari tatapan mata Fathur memang terlihat jika dia tidak berbohong.


"Kita akan pergi sama sama." aku akan menemanimu.


Macron menatap Fathur seakan tidak percaya. sementara Aya yang sudah mendengar ucapan Fathur kembali ke kamarnya.


"Pangeran... apa anda tidak salah mengucapkan hal itu."


"Aku adalah seorang pangeran, kata yang keluar dari mulutku aku harus tepati."


Fathur melangkahkan kakinya menuju kamar, dia melihat Aya duduk dipinggir ranjang.


"Kamu jangan kemana mana, aku hanya keluar sebentar. Setelah itu aku akan kembali dan mengantarmu keluar dari istana."


Aya menatap mata Fathur sejenak kemudian Aya memalingkan wajahnya menatap jendela kamar. Fathur yang melihat tingkah Aya, hanya bisa melemparkan senyuman yang dipaksakan kemudian melangkahkan kakinya menuju kediaman ibu suri bersama Macron dan dua pemgawal lainnya.


"Jangan ada satu orangpun yang boleh masuk kekamarku, kecuali itu raja." ucap Fathur.


"Baik Pangeran."