
"Apa yang harus kulakukan jika ia mengatakan bahwa diriku dan Selena ada sebuah hubungan?" Bagaimana jika Selena tau jika diriku disini karena Selena sangat mengetahui siapa diriku dan apa tujuanku?" batin Aya sepanjang jalan menuju perpustakaan. Dirinya kini benar benar gelisah dengan sifat pangeran Fathur yang seakan akan ingin membuat semua orang membenci dirinya.
Pangeran Zein yang melihat Aya sedang kelihatan sangat gelisah hanya tersenyum sinis menatap gadis yang ada dihadapannya. Aya menggigit bibirnya serta ******* ***** jari jemarinya antara tangan yang satu dengan yang lainnya.
"Apa kamu takut pangeran Fathur membongkar rahasia yang lainnya padaku? ucap pangeran Fathur.
"Iya." jawab Aya dengan spontan.
"Ha ha ha... kamu terlalu jujur."
"Tidak, bukan begitu maksudku."
"Aku tidak begitu peduli urusanmu dan juga rahasiamu." Pangeran Zein tersenyum sinis lalu memandang lurus kedepan.
"Selamat pagi pangeran? Sudah lama anda tidak terlihat?" ucap kepala perpustakaan ramah.
"Iya kepala perpustakaan, akhir akhir ini aku sangat sibuk. Tolong antarkan aku ketempat koleksi biografi raja raja dan ratu terdahulu." ucap pangeran Zein santai.
"Oh ya baiklah pangeran."
Kepala pelayanpun memimpin perjalanan mengantarkan pangeran Zein kesebuah ruangan bersejarah. Sebuah ruangan yang terdapat ribuan koleksi perkumpulan raja dan ratu yang berkuasa dahulu. Baik itu sebuah buku maupun lukisan.
"Disini pangeran, anda bisa mencari apa yang ingin anda cari. Di ruangan sudut sana anda bisa melihat begitu banyak koleksi dan juga lukisan."
"Baiklah kepala perpustakaan. terimaksih."
Pangeran Zein pun mulai mencari sesuatu yang dia inginkan sementara Lexdo dan Ayapun berkeliling sambil melihat koleksi yang ada. Pangeran Zein duduk disebuah kursi setelah yang dicarinya ia temui begitu juga dengan Lexdo.
Sementara Aya hampir satu jam ia berkeliling. Ia belum juga mendapatkan apa yang dicarinya.
"Aku bisa menemukan sebuah informasi disini. Pasti disini ada sejarah kerajaanku. Bukankah kepala pelayan mengatakan jika ini adalah semua koleksi dan biografi tentang raja dan ratu terdahulu?" Gumam Aya.
"Dimana gadis itu?" Pangeran Zein bertanya ke Lexdo.
"Tu disana pangeran."
"Apa yang dicarinya, sepertinya begitu penting."
"Apa saya harus melihatnya pangeran."
"Tidak. Biar aku saja." Pangeran Zein berlalu pergi meninggalkan Lexdo menuju ketempat Aya sedang duduk sambil membaca sesuatu."
Aya duduk disebuah sudut yang sedikit jauh dari pangeran Zein. Dirinya sudah menjumpai apa yang diinginkannya. Sebuah biografi tentang orangtuanya dan juga sejarah kerajaannya dari berdiri hingga jatuh.
Pangeran Zein yang sedang berada dibelakang Aya melihat beberapa buku yang ada diatas meja Aya. Aya tidak menyadari jika pangeran Zein sedang berdiri dan mencari tahu apa yang dicarinya.
"Kerajaan Budewa." batin Zein didalam hatinya.
"Aku belum pernah mendengar nama kerajaan itu." gumam Zein sambil duduk disamping kursi kosong dekat Aya.
"Pangeran Zein." ucap Aya menjadi salah tingkah.
"Kenapa kamu duduk disini?"
"Oh maaf pangeran." Aya dengan cepat merapikan buku yang ada diatas meja namun tiba tiba pangeran Zein menarik sebuah buku yang menurut pangeran Zein buku tersebut ada yang aneh.
Aya dengan cepat merampasnya kembali namun ditahan oleh pangeran Zein.
"Aku ingin membacanya." ucap pangeran Zein dengan tatapan tajam.
"Untuk apa?"
"Maaf pangeran atas kelancanganku."
"Temani aku. Letakkan semua buku yang kamu pegang itu diatas meja. Aku ingin membaca semuanya." ucap pangeran Zein.
Dengan berat hati Aya meletakkan kembali buku buku yang sudah ingin ditatanya kembali keatas rak barisan buku.
"Kenapa kamu masih berdiri? Duduk!" perintah pangeran Zein kepada Aya. Aya menarik nafasnya lalu duduk dihadapan pangeran Zein. Pangeran Zein menoleh sekilas lalu mulai membolak balik buku untuk melihat apakah ada hal yang menarik untuk dibaca.
"Bukankah gambar ini sama dengan lukisan yang kudapatkan dari Zeya?" batin pangeran Zein saat melihat sebuah gambar lukisan yang ada dibuku dalam genggamannya.
"Biografi raja Alexandro Bonapardo." gumam pangeran Zein melihat judul buku tersebut dibagian depannya.
"Panggilkan Lexdo kemari." perintah pangeran Zein kepada Aya.
"Baik pangeran." Aya meninggalkan pangeran Zein yang sedang menyusun buku tersebut.
"Hm untunglah dia tidak tertarik dengan buku tersebut." Batin Aya meninggalkan pangeran Zein.
Sepeninggalan Aya, pangeran Zein menuju dimana kepala perpustakaan berdiri dan menyerahkan semua buku yang dibaca Aya.
"Antarkan buku ini di tempat peristirahatanku dan semua yang berkaitan dengan raja Alexandro." ucap pangeran Zein sambil menyerahkan buku kepada kepala perpustakaan.
"Oh raja Alexandro dari kerajaan Budewa." jawab kepala perpustakaan setelah melihat judul buku yang diserahkan oleh pangeran Zein.
"Apa kamu mengenali rajanya?"
"Tidak pangeran. Raja Alexandro sudah lama meninggal dan kerajaanyapun sudah hancur tiga atau empat tahun yang lalu. Kerajaan tersebut diserang oleh raja Abraham dan ratu Liana."
"Oh apakah semua keluarganya meninggal?"
"Menurut cerita, beliau memiliki seorang putri. Namun disaat kejadian mayat putrinya tidak ditemukan. Hampir setahun seluruh prajurit mencari namun tidak menemukan."
"Hm baiklah. Apa yang kamu tahu selain itu?"
"Tidak banyak pangeran."
"Baiklah. Jangan lupa pesanku. Antarkan semua buku yang berkaitan dengan raja Alexandro.
"Baik pangeran." ucap kepala perpustakaan. Setelah itu pangeran Zein meninggalkan kepala perpustakaan setelah melihat Aya dan Lexdo telah tiba.
"Ayo kita kembali." Pangeran Zein melangkahkan kakinya dan berjalan dengan segera menuju tempat peristirahatan. Setelah sampai ia langsung menuju kamarnya dan memandang Aya dengan begitu intens. Ia ingin merekam wajah Aya didalam fikirannya.
Aya melihat sekilas lalu membuang matanya kearah lain. Disaat sudah merasakan cukup ia langsung berjalan dengan secepat mungkin kelantai atas dan membuka tempat penyimpanan miliknya.
Diambilnya lukisan yang didapatinya dari Zeya lalu dilihatnya wajah yang ada dilukisan.
"Wajahnya sangat mirip dengan wanita ini? Apakah dia adalah putri Alexandro? Apa ia ingin balas dendam seorang diri atau ada tujuan yang lain?" batin pangeran Zein.
Pangeran Zein berdiri di samping jendela lalu menatap keluar. Matanya tak sengaja melihat Aya yang sedang berbicara dengan kepala pelayan.
"Siapa kamu sebenarnya?" gumam pangeran Zein sembari kembali duduk diatas kasurnya lalu berbaring diatas kasur mengusap wajahnya dengan kasar.
"Bagaimana aku bisa tidak tahu raja Abraham dan ratu Liana menyerang sebuah kerajaan tiga, empat tahun yang lalu?" batin pangeran Zein.
Pangeran Zein larut dalam pemikirannya sendiri untuk menemukan jawaban. Tanpa disadari waktu makan siangpun sudah tiba. Dirinya turun kelantai bawah untuk menuju meja makan. Setelah selesai ia bertemu dengan Lexdo.
"Pangeran, Ini dari kepala perpustakaan." Lexdo memperlihatkan sebuah kotak besar kepada pangeran Zein.
"Ayo, bawakan ke kamarku." Pangeran Zein dan Lexdo menuju lantai atas.