SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Ciuman Panglima Eben




note : Rumah Peristirahatan Fathur ** Free image from pinterest.


"Tidak, kembalilah kekamar." Fathur berjalan dengan gaya khasnya tanpa menoleh ke Aya. Ia langsung menaiki tangga menuju kamarnya yang terpisah dengan kamar Aya.


Ayapun mempercepat langkah kakinya menuju ke dalam kamar lalu mengistirahatkan badannya diatas kasur. Seluruh tubuhnya terasa lengket kemudian dia memilih untuk berendam di dalam bath ub.


"Hemh, rasakan kamu Alexa. Dengan gampangnya dirimu mengatakan aku seorang pelacur. Akan kubuat dirimu menyesal telah mengatakan itu." Aya kemudian tersenyum mengingat ekspresi Alexa yang terkejut disaat gelas yang berada ditangan kanannya pecah hingga membuat air yang ada di dalam gelas tumpah membasahi gaunnya.


Dilain sisi Alexa dan pangeran Zein yang masih berada diistana terlihat begitu murka sementara raja sudah pergi mengurusi hal penting lainnya.


"Kenapa raja membiarkannya begitu saja ibu?"


"Tenang pangeran, masalah raja biar aku saja yang mengurusnya. Dia hanya seorang pria bodoh. Disaat aku membawanya keranjang maka dia akan bertekuk lutut di hadapanku." Alexa tersenyum memikirkan idenya.


"Kita harus menyingkirkan wanita itu ibu, jika tidak rencana kita akan gagal."


"Benar kita harus menyingkirkannya secepat mungkin.


"Apa kita harus memanggil panglima Eben untuk menjebaknya ibu."


"Jangan terlalu terburu buru sayang, kita harus tahu dulu kelemahannya dan mencari cara agar tidak ada yang curiga kepada kita."


"Jika kita tidak cepat ibu, maka akan semakin sulit untuk kita menyingkirkan pangeran Fathur. Sekarang selain Macron sudah ada gadis itu disisinya ditambah lagi dengan ibu suri.


"Sabar sayang, ayo kita kembali untuk beristirahat dulu."


"Baik ibu."


Alexa memasuki tempat peristirahantannya.


"Panggilkan panglima Eben untuk menghadap saya."


"Baik ratu."


Tidak beberapa lama kemudian panglima Eben datang menghadap sang ratu. panglima Eben membungkukkan badannya untuk memberi penghormatan kepada sang ratu.


"Dimana saja kamu beberapa hari ini? Kenapa aku tidak melihatmu?"


"Maafkan saya ratu, saya sibuk melaksanakan perintah anda menjaga pengamanan keluar masuk istana ratu agar pangeran Fathur tidak keluar."


"Lupakan tentang pengamanan itu." Alexa melangkahkan kakinya mendekati panglima Eben lalu jari jemarinya bermain di wajah dan bibir Eden.


"Aku ingin kamu mencari tau tentang gadis yang bernama Aya, pengawal pangeran Fathur. Aku ingin kamu menghancurkannya." Alexa mengangkat dagu Macron agar bertatapan dengannya lalu tanpa menunggu aba aba Alexa melahap habis bibir manis dihadapannya. Eben yang awalnya terkejut dan terpaku dengan tingkah ratunya terbawa suasana hingga ia lupa diri siapa yang ada dihadapannya. Eben membalas dengan lebih hangat dan buas hingga membuat Alexa yang lihai dalam hal ciuman merasakan kewalahan menghadapi permainan Eben. Eben membuka matanya untuk mengintip Alexa. Ia melihat wajah Alexa yang sedang menikmati permainannya.


"Dasar wanita binal, sekarang aku akan membuatmu menggilai diriku agar diriku bisa membalaskan perbuatanmu kepada orang rendah sepertiku." Eben teringat bagaimana Alexa memperlakukan dirinya dan pengawal yang lain. Jika ada satu hal saja yang tidak seperti diinginkannya maka Alexa dengan santainya menghabisi nyawa mereka.


"Emmmh, emmmh," tanpa Alexa sadari ia mengeluarkan suara kenikmatan disaat Eben menghujani lehernya dengan sebuah ciuman yang hangat dan liar lalu Eben kembali membasahi bibir Alexa dengan sebuah ciuman lalu mengakihirnya.


Eben tersenyum dengan penuh kemenangan dibibirnya melihat sang ratu yang sedang bernafsu dan sudah menginginkan hal yang lebih namun ia menghentikannya agar Alexa datang kepadanya untuk memohon.


"Ratu, saya harus menghadap raja."


"Ya, keluarlah" Alexa menggigit bibirnya melihat punggung Eben, setelah Eben keluar dari kamar Alexa membanting vas bunga dihadapannya hingga membuat Eben tersenyum mendengarkan bunyi sesuatu dibanting jatuh kelantai.


"Hemh, akan kubuat dirimu tunduk kepadaku wanita picik," gumam Eben melangkah kakinya meninggalkan tempat peristirahatan ratu Alexa.


Panglima Eben melangkahkan kakinya menghadap raja Abraham, setelah selesai dari temoat raja Abraham Eben berjalan dalam gelap menemui seorang mata mata yang bekerja di tempat peristirahatan Fathur.


"Zeya, kamu cari tahu tentang pengawal pangeran Fathur yang baru."


"Gadis bernama Aya itukah tuan?"


"Ya, malam ini kamu sudah mulai bergerak. Ratu menginginkan informasi mengenai dirinya secepat mungkin.


"Baik tuan."


Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 malam Zeya melihat beberapa orang sudah mulai mengantuk dan beristirahat. Zeya melihat Aya keluar dari kamarnya menuju dapur. Zeya yang merupakan seorang pelayan yang bekerja di tempat pangeran Fathur mulai melangkahkan kakinya perlahan lahan menuju lantai atas tepatnya menuju kamar Aya.


Dibukakannya pintu yang sedang tidak terkunci lalu dengan gerakan cepat ia mencari sesuatu yang bisa dijadikan sebuah informasi.


"Aroma kamarnya harum sekali seperti harumnya bunga melati yang sangat menusuk." Zeya mengalihkan perhatiannya ketiap sudut lalu menggeser beberapa barang untuk mencari sesuatu, ia tidak menemukan apapun. Belum sempat ia merapikan barang barang yang ada diatas meja Zeya mendengar suara langkah kaki menaiki sebuah tangga. Dengan gerakan cepat ia keluar dari kamar.


"Apa yang kamu lakukan disini."ucap Aya dibelakang punggung Zeya yang sedang menutup pintu kamarnya rapat rapat.


"Oh tidak, saya hanya ingin mencari anda nona." Zeya menjadi salah tingkah melihat Aya sudah berdiri di hadapannnya.


"Benarkah." Aya berbisik ditelinga Zeya hingga membuat tubuh Zeya bergetar.


"Benar nona." Aya membuka pintu kamarnya lalu melihat sekilas ke arah Aya dengan tatapan membunuh lalu masuk kekamarnya.


Aya melihat sekeliling kamarnya lalu terlihat olehnya ada beberapa barang yang letaknya sudah bergeser.


"Hemh, kalian sedang mencari tau tentang diriku. Tidak akan semudah itu." Aya menggenggam tangannya lalu membacakan sebuah mantra didepan cerminnya lalu mngeluarkan serbuk putih kemudian dilemparkannya dihadapan sebuahq cermin. Aya membacakan sebuah mantra yang berfungsi untuk melihat siapa saja yang masuk ke kamarnya mulai saat ini akan terpantul di sebuah cermin kemudian Aya mengistirahatkan badannya untuk terlelap.


"Siapa gadis itu? Aroma tubuhnya begitu harum seperti aroma kamarnya! Tidak mungkin dia pengawal biasa. apakah dia seorang bangsawan."


Zeya kembali ke kamarnya lalu memikirkan sebuah rencana untuk mencari tahu lebih banyak tentang Aya.


"Apa dia mencurigaiku, gimana jika aku ketahuan. Argh, aku begitu ceroboh."


Zeyapun mengistirahatkan badannya agar tubuhnya kembali fresh karena esok ia harus melakukan pekerjaan ekstra.


*** Pagi Hari


Aya bangun disaat matahari belum muncul. Hari ini ia berencana untuk mengikuti Macron melatihkan pengawal belajar pedang. Aya sudah siap dengan pakaian dan pedangnya. Ia memakai celana dan baju yang mengikuti bentuk tubuhnya.


"Ela, apa Macron sudah pergi." Aya bertanya dengan Ela yang sedang menaiki tangga menuju kamarnya.


"Belum nona. Anda mau kemana nona?"


"Berlatih pedang bersama Macron. Ayo kamu ikut."


"Tidak boleh nona, saya hanya pelayan biasa. Nanti pangeran akan menghukum saya."


"Bukankah kamu ditugaskan untuk membantu saya. Saya butuh bantuan Ela." Ela masih berdiri mematung.


"Cepat Ela, nanti Macron akan meninggalkan kita."


"Baik nona." Ela mengikuti langkah kaki Aya. Dalam hatinya ia sangat senang dengan kehadiran Aya yang selalu menganggapnya seperti seorang teman bukan pelayan. Berkat Aya ia jadi banyak tahu tentang istana ini. Jika Aya tidak ada ia hanya berada didalam rumah selama 24 jam. Zeya yang ada disebalik tangga yang sedang menguping merasa cemburu dengan Ela.