SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Raja Abraham Mendengar Hasutan



Derap langkah kuda berjalan menapaki hutan belantara yang sangat gelap. Setelah hampir satu jam rombongan kerajaan beristirahat didalam sebuah gua, kini mereka mulai melakukan perjalanan kembali setelah keadaan diluar sana tidak lagi hujan.


Pangeran Fathur kini sudah kembali menunggangi Redolf sementara Aya tetap berada didalam kereta yang ditarik oleh kuda.


"Berapa jam lagi kita akan sampai Macron?"


"Kurang lebih tiga jam pangeran."


"Bagaimana keadaan prajurit?"


"Mereka sudah kembali bugar pangeran. Mereka senang kita membawa pelayan wanita karena mereka bisa makan dengan lahap dan bisa berganti pakaian."


"Hem baguslah." ucap pangeran Fathur. Padahal tujuan awal dirinya membawa pelayan wanita hanya untuk menemani Aya agar tidak kesepian.


Sementara dilain sisi ratu Alexa yang melihat Aya berada didalam kereta yang hanya boleh dinaiki oleh anggota kerajaan berfikir bagaimana caranya untuk segera cepat menyingkirkan gadis tersebut.


"Aya... " gumamnya lirih dengan penuh tatapan benci. Alexa memejamkan matanya untuk menahan amarahnya.


"Kenapa dia dengan mudahnya mengambil hati pangeran Fathur. Aku tidak bisa membiarkan mereka bersama. Jika mereka bersama maka posisiku akan sangat sulit jika raja Abraham mengangkatnya sebagai putra mahkota dan gadis itu kelak akan bisa menjadi permaisurinya."


"Ratuku, kamu ada apa?"


"Tidak ada sayang, aku hanya mengkhawatirkan pangeran Fathur. Aku takut dia tidak berkutik dengan gadis itu. Tadi saja kita bisa melihatnya jika gadis itu masuk kedalam kereta yang biasa dinaiki oleh anggota kerajaan."


"Kamu terlalu memikirnya jauh Alexa, mereka hanya bersahabat."


"Tidak raja, aku lebih mengerti tentang wanita. Dari gaya tubuhnya berbicara dan manik matanya menatap pangeran aku sudah mengerti."


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi Alexa. Pangeran Fathur adalah benihku sendiri. Tidak mungkin aku membiarkannya menderita."


"Istirahatlah agar kamu bisa tidur."


"Hem tapi raja...."


"Sudah! jangan difikirkan. Aku akan mencari tahu tentang gadis itu." ucap raja Abraham.


Raja Abraham memejamkan matanya sambil memikirkan ucapan Alexa.


"Apa benar Fathur jatuh cinta kepada gadis itu? kelihatannya gadis itu bukan wanita biasa. Dari penampilannya dan cara dia menatap lawan bicara sudah dipastikan dia adalah anak yang terdidik. Jika dibandingkan dengan ratu Alexa saja. Jauh berbeda. Dirinya lebih anggun."


Raja Abraham memejamkan matanya mencoba untuk tertidur. Perjalanan mereka benar benar melelahkan.


"Macron, masih jauhkah?"


"Hampir sampai pangeran."


Pangeran Fathur tidak menjawab ucapan Macron. Ia lebih tertarik melihat prajurit yang sudah sangat kelelahan. Walaupun cuaca sudah tidak hujan lagi dan rembulan malam menampilkan cahayanya dengan sempurna. Namun mereka sudah melakukan perjalanan kurang lebih tujuh jam perjalanan. Keindahan rembulan malam tidak bisa mereka nikmati karena badan yang teramat lelah.


"Horeee... " ucap beberapa prajurit. Prajurit melihat lampu lampu kerajaan Zimba milik Ratu Wiena sudah terlihat didepan bola mata mereka.


"Hm, akhirnya kita sampai." ucap pangeran Fathur bahagia.


"Iya pangeran."


"Mereka memilih untuk menuju penginapan yang sudah dipesan oleh tuan Robert satu hari yang lalu.


Aya yang tertidur didalam kereta tidak tahu jika dirinya sudah sampai. Dia tidur sangat nyenyak. Udara malam yang sangat dingin ditambah lagi keadaan dirinya yang sendiri berada didalam kereta membuat dirinya menjadi mudah mengantuk.


"Aya..." Ucap Fathur lembut.


"Aya...." ucap pangeran Fathur sekali lagi namun tidak membuahkan hasil. Akhirnya Fathur memutuskan unguk masuk kedalam kereta dan mengangkat Aya.


"ergh... " ucap Aya mengerang dalam tidurnya karena merasa tidurnya diganggu.


Fathur dengan mudah mengangkatnya dan membawanya kedalam. Ratu Alexa yang memang dari tadi fokus melihat kereta yang diduduki Aya meremas tangannya dengan kuat hingga membuat kulit tangannya sedikit terluka akibat tergores kuku nya yang panjang dan lancip.


"Kenapa dia begitu mempesona?" ucap Alexa yang cemburu atas perlakuan pangeran Fathur terhadap Aya.


"Pangeran," ucapnya masih dalam keadaan separo sadar.


"Hm..."


"Ada apa pangeran? apa terjadi sesuatu?"


"Iya, tubuhmu berat."


"Maksudnya? Aya merasakan sebuah gerakan tangan Fayz menggoyang tubuhnya.


"Aaaaaa... turunkan." ucapnya malu lalu meloncat hingga membuat mereka berdua terjatuh ketanah. Aya melihat kearah sekeliling dengan wajah merah.


"Kamu..... "


"Maaf pangeran, aku hanya terkejut."


Aya kembali berdiri dan kembali melihat sekeliling. Matanya berhenti disaat manik matanya bertemu dengan raja Abraham dan ratu Alexa. Raja dan ratu sedang menatapnya dengan sangat tajam. Mereka rasanya tidak sabar ingin mencabik cabik tubuh Aya disaat ini.


"Hm, kalian fikir aku akan takut dengan tatapan mata kalian." Gumam Aya didalam hatinya.


"Ayo, kita masuk!" ucap Pangeran Fathur menarik Aya. Fathur membalas tatapan Alexa dan ayahnya tidak kalah tajam.


"Lihat itu sayang! Apa aku bilang? Kamu tidak percaya padaku jika wanita itu akan memberi pengaruh buruk pada pangeran."


Raja Abraham menatap tajam kearah Aya dan meninggalkan Alexa menuju kamarnya dengan penuh amarah.


"Panggilkan Robert menghadapku." Ucap raja Abraham kepada seorang prajurit yang tidak jauh dari dirinya.


"Baik raja."


Raja Abraham menunggu dengan sangat gelisah, ratu Alexa yang sudah masuk kamar melihat raja dengan senyum menyeringainya.


"Hmh, akhirnya amarahmu terbakar juga raja Abraham." Lirih Alexa penuh kemenangan.


Tidak berapa lama tuan Robertpun datang menemui raja Abraham.


"Ada hal penting apa tuanku memanggil saya?"


"Cari tau tentang gadis yang bernama Aya itu, jika perlu singkirkan dirinya dari pangeran Fathur secepat mungkin."


"Baiklah tuanku." ucap tuan Robert sambil menoleh kearah ratu Alexa sekilas. Tuan Robert yakin jika ini pasti kemauan ratu Alexa.


"Kamu silakan keluar sekarang! Aku ingin istirahat."


"Baik tuanku." Tuan Robert meninggalkan ruangan kamar raja Abraham dengan segera.


Disaat ia keluar, ia tidak sengaja bertemu dengan rombongan pangeran Fathur dibawah. Ia melihat Pangeran Fathur tertawa bahagia bersama rombongannya.


"Ratu Ishna, maafkan saya." lirih Robert menyebut nama mendiang ibunya pangeran Fathur. Ia melihat Fathur dari jauh dengan tatapan menyesal sekaligus sedih. Robert keluar dari peristirahatan namun ia dikejutkan oleh tatapan Redolf.


Tuan Robert dari istana tadi sudah memperhatikan Redolf yang ditunggangi oleh Pangeran Fathur. Ia sangat ingat dengan sangat jelas jika mendiang ratu Ishna juga memiliki sahabat seekor singa. Namun singa tersebut sejak kematian ratu Ishna ikut menghilang juga.


"Apakah kamu singa yang selalu menemani Ratu Ishna? Sekarang kamu datang kembali untuk menemani pengeran Fathur?" ucap tuan Robert.


Redolf hanya memberi tatapan yang sangat tajam kepada tuan Robert sebagai tanda dirinya tidak ingin bersahabat dengan lelaki yang ada dihadapannya.


"Apakah kamu sangat membenciku?" lirih tuan Robert. Redolf tiba tiba mengeluarkan suara raungannya dan pergi menjauh.


Pangeran Fathur melihat dari jendela menatap tuan Robert dan Redolf dengan tatapan penuh selidik.


"Aku yakin kamu adalah singa yang sama." Robert meninggalkan Redolf menuju kereta raja dan menurunkan sesuatu dan membawanya kedalam sambil menoleh sekilas kearah Redolf.


Hari sudah larut malam semua prajurit dan rombongan yang ada sudah tertidur pulas kecuali Redolf. Matanya sibuk mencari sesuatu. Sepertinya dirinya merasakan tidak aman disaat ini.