SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Kabur Dari Musuh



"Doaaar....." Tembok sebagai pembatas kamar roboh seketika akibat serangan yang dilakukan oleh pangeran Zein. Aya menoleh sekilas melihat gerakan gerakan yang dilakukan oleh pangeran Zein untuk menyerang lawan.


"Bagaimana mungkin dia bisa sehebat itu?" batin Aya. Aya yang lengah karena menoleh kearah pangeran Zein membuat musuh berhasil menancapkan belati dipundak kirinya.


"Argh...." Aya menahan sakit lalu menoleh kearah musuh yang sedang tersenyum sinis kearahnya. Aya mencabut pisau belati tersebut lalu menyerang musuh. Aya tidak menyadari jika pisau belati tersebut memiliki racun yang mematikan.


Aya masih tetap menyerang tanpa menggunakan sihirnya. Pangeran Zein hanya menoleh kearah Aya sekilas namun hatinya sangat kesal dengan pilihan Aya yang tidak menggunakan kekuatannya sama sekali.


"Bagaimana bisa disaat dirinya dihadap dengan kematianpun masih bertahan dengan sikap bodohnya itu. Dasar bodoh!" batin pangeran Zein menahan kekecewaannya.


Pangeran Zein terus saja membalas serangan demi serangan namun beberapa saat kemudian Aya tepelanting jauh ketembok akibat serangan pukulan yang sangat kuat. Darah keluar dari bibirnya. Disaat pria tersebut melakukan serangan lagi kearah Aya, Pangeran Zein dengan cepat bergerak menuju Aya lalu menyelamatkan Aya.


"Makasih." ucap Aya lirih namun pangeran Zein tidak menghiraukannya. Ia dengan cepat pergi menjauh dari Aya menuju Lexdo karena kali ini pria yang menggunakan pakaian serba hitam tersebut mendekati kearah Lexdo dan menyerang tempat persembunyian Lexdo. Pangeran Zein kewalahan dengan gerakan gerakan musuh yang sangat cepat dan lincah ditambah lagi jumlah mereka lebih dari satu.


"Bugh...." Pangeran Zein tersungkur jatuh disaat dirinya menyelamatkan Lexdo. Aya menoleh sekilas namun tidak bisa menolong karena memang mereka sekarang menghadapi orang orang yang sangat hebat dan kuat. Gerakan meraka sangat lincah dan gesit.


Aya turun dari jendela untuk kabur meninggalkan pangeran Zein dan Lexdo yang diserang habis habisan.


"AYA.... AYA... " Teriak Lexdo. Pangeran Zein menoleh sekilas lalu dengan tubuh yang bergetar menahan amarah mengumpulkan seluruh kekuatan dalamnya lalu menyerang mereka semua namun semua yang berpakaian hitam masih dalam keadaan baik baik saja. Hanya prajurit yang jatuh bergelimpangan tidak berdaya bersamaan ruangan kamar hancur roboh berantakan.


"Brengsek, bagaimana bisa gadis itu kabur!" gumam Lexdo.


"Ha.ha.... Menyerahlah. Serahkan pedangmu!" ucap tangan kanan tuan Wind yang sedang mengarahkan hunusan pedang ke jantung Lexdo. Pangeran Zein menatap Lexdo lalu dengan berat hati melemparkan pedangnya ke lantai.


"Bugh...Bugh...Bugh..." Pangeran Zein ditendang berkali kali oleh pria yang mengunakan pakaian serba hitam.


"Sudah, cukup. Tuan Wind menginginkan dia dalam keadaan hidup."


"Hm, kamu beruntung Zein. Jika tidak aku akan membunuhmu disini."


Pangeran Zein tersenyuk sinis lalu kemudian dirinya didorong dan tangan mereka berdua diborgol oleh prajurit lalu didorong dengan paksa untuk keluar.


"Hm.... ternyata orang orangmu pengecut. Bagimana bisa kamu memilih seorang pendamping yang kabur disaat dirimu berada diambang kematian." ucap seseorang prajurit ditelinga pangeran Zein. Pangeran Zein hanya bisa memandang prajurit tersebut dengan penuh amarah.


Selama dalam perjalanan menuju tempat pangeran Zein, pangeran Zein memikirkan cara untuk kabur. Dalam fikirannya jika ia berhasil kabur orang yang pertama kali dicarinya adalah Aya.


"Cepat....." ucap seorang prajurit mendorong tubuh pangeran Zein agar mempercepat langkahnya. Pangeran zein diperlakukan sangat biadap begitu juga dengan Lexdo. Sesekali prajurit tersebut memukul mereka dengan tongkat untuk mempercepat jalannya dan mendorong mereka hingga terjungkal ke tanah.


Ditengah perjalanan tiba tiba sebuah angin yang sangat kencang menghentikan perjalan mereka. Dedaunan yang gugur membuat ia ikut terbang terabawa angin begitu juga dengan debu tanah hingga membuat mata mereka sulit untuk meneruskan perjalanan.


Sekelompok pria yang menggunakan pakaian serba hitam maju kedepan memasang indra penglihatan dan pendengaran mereka dengan tajam. Insting mereka mengatakan ada sesuatu yang tidak normal. Mereka tahu itu bukan kejadian alam yang normal namun itu adalah kekuatan sihir seseorang. Prajurit yang adapun mulai menyebar ditiap sudut.


Pangeran Zein menggunakan kesempatan ini untuk membuka borgolnya.


"Siapakah itu? Apakah Selena? batin pangeran Zein. Pangeran Zein membuka borgol Lexdo kemudian masih tetap berpura pura tangannya berada dibelakang.


"Doaaaar.... Doaaarr...." musuh memyerang dengan meluncurkan bola bola api. Bola bola api beterbangan diudara hingga membuat beberapa pohon menjadi sasaran dan membakar beberapa semak dan pohon yang ada namun belum ada seseorang yang melihatkan wujudnya.


Merekapun akhirnya melanjutkan perjalanannya kembali namun tiba tiba kejadian yang sama terulang lagi namun kali ini mereka diserang oleh puluhan anak panah. Beberapa prajurit banyak yang terjatuh dan terkapar.


"KELUAR... TUNJUKKAN SIAPA KAMU. DASAR PENGECUT." Teriak tangan kanan tuan Wind namun penyerang tetap tidak menampakkan wujudnya dan seranganpun berhenti begitu saja. Kini prajurit yang tersisa hanya tinggal sedikit lagi.


"Baiklah. Jika kamu tidak keluar akan aku bunuh pria ini." ucap pria misterius yang menggunakan pedang menarik tubuh pangeran zein. Dengan cepat pangeran Zein menghindar dan melakukan serangan balik. Kemudian terjadilah pertempuran yang sangat sengit.


"Doarr... Doarrr... Suara petir saling sahut menyahut hingga membuat langit langit menjadi hitam dan angin yang kencang kembali menyerang sekelompok musuh. Disaat itu Aya keluar dengan membawa kuda milik pangeran Zein dan juga Lexdo lalu menuju ketempat mereka berdua berada.


"Ayo... Kita pergi. Cepat." ucap Aya.


Tanpa menunggu lama mereka bertiga kabur dan sepeninggalan mereka cuaca kembali menjadi normal dan prajurit yang tersisa terkejut melihat tawanan lolos sekali lagi.


"Brengsek...." ucap tangan kanan tuan Wind sambil mengusap wajahnya kasar.


"Kenapa kalian semua bodoh. Bagaimana bisa mereka lolos lagi?" ucapnya dengan kesal.


"Maafkan kami tuan. Kita terkecoh."


"ARGGHHHHHH...." JERITNYA KESAL.


Sementara itu rombongan pangeran Zein memacu kudanya dengan sangat cepat. Aya hanya diam begitu juga dengan yang lain. Mereka hanya berfikir bagaimana harus bisa cepat sampai istana. Mereka tidak akan menang jika berhadapan dengan musuh dengan jumlah yang banyak. Ditambah lagi mereka sangat gesit dan lincah dan memiliki kekuatan sihir lebih baik mereka menghindar dahulu jika ingin selamat.


Pangeran Zein sesekali menoleh kebelakang melihat Aya sekilas. Ia sangat ingat Aya terkena tusukan pisau belati yang mengandung racun yang sangat mematikan.


Aya yang tidak menyadari didalam pisau belati tersebut mengandung racun hanya bersikap biasa walaupun pundaknya mulai menunjukkan gejala yang aneh. Aya merasakan sakit yang amat luar biasa, tubuhnya menggigil. Aya hanya bisa menahannya dengan menggigit bibirnya dan tetap bertahan agar tubuhnya tetap seimbang berada diatas kuda.


"Hyaaaaaaa...." Aya memacu kudanya dengan lebih kencang. Kini dirinya berada disamping pangeran Zein namun dalam hitungan detik dirinya sudah melesat sangat cepat. Lexdo hanya menatap Aya dengan menggelengkan kepalanya sementara pangeran Zein hanya menoleh tanpa ada reaksi apapun.