SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Latihan Memanah



Aya membukakan telapak tangan kanannya kemudian mengeluarkan kekuatan dari dalam tubuhnya. Ia mengeluarkan bola bola api kecil serta mengeluarkan bola bola salju secara bergantian. Ia menikmati mainan barunya. Sekarang Aya sedang berada di kamar lantai bawah ia tidak berada satu kamar lagi dengan pangeran sehingga membuat Aya mudah untuk melakukan hal apapun yang disenanginya. Matanya tidak bisa tertidur karena sibuk memikirkan rencana apa yang akan dilakukannya.


Tok... tok... tok...


Aya menghentikan aktivitasnya lalu melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.


"Selamat pagi tuan, ada apa tuan?"


"Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi, kenapa kamu belum juga mandi dan menggantikan pakaianmu. Bukankah kamu mulai hari ini akan menjadi pengawal pangeran Fathur," ucap Macron seraya memperhatikan Aya yang masih setia menggunakan gaun merahnya.


"Oh ya maafkan saya tuan, saya akan segera bersiap."


Aya memasuki kamarnya setelah Macron meninggalkan dirinya, dengan secepat kilat Aya membersihkan dirinya lalu menggunakan pakaian pengawal lelaki yang diberikan oleh Macron. Setelah itu dengan langkah sigap ia keluar dan berdiri disamping prajurit yang lain.


"Heh gadis gaun merah, kenapa kamu berdiri disitu. Apa yang ingin kamu lakukan. Kamu mau jadi pajangan disitu," ucap Macron tersenyum geli melihat Aya yang sedang berdiri disamping pengawal. Ingin rasanya ia tertawa kuat namun ditahannya karena tidak mau beberapa pengawal melihatnya.


Aya menaiki tangga menghampiri Macron, dengan raut wajah kesal.


"Namaku Aya, A Y A...,"


"Iya nona Aya, pangeran menunggumu." Macron mengantar Aya yang masih dengan raut wajah kesal dan menemui Fathur yang sedang berada dikamar tamu.


Fathur melihat Aya yang menggunakan pakaian prajurit hanya melongo lalu tersenyum melihatnya.


"Namanya wanita, walau sehebat apapun tetap juga ada polosnya di lain hal." gumam Fathur didalam hatinya.


"Kenapa kamu menggunakan pakaian itu nona Aya?"


"Akukan mulai hari ini akan menjadi prajurit kamu pangeran, tentu saja aku harus menggunakan ini lagipula ini pakaian yang dibawakan oleh tuan Macron." Fathur menatap Macron lalu hanya tertawa kecil.


"Mulai sekarang kamu tidak perlu menggunakan pakaian itu, kamu gunakan saja pakaian apa yang membuatmu nyaman. Aku tidak meragukan kemampuanmu. Pakaian apapun yang kau gunakan kau tetap saja bisa mengawalku dengan kemampuanmu."


"Benarkah?"


"Hem."


"Ruangan ini sekarang menjadi milikmu, pakaian dan perlengkapan lainnya sudah disiapkan dan wanita yang ada di sudut itu adalah pelayanmu. Dia akan mendengar semua perintahmu," ucap Fathur menatap Aya.


Aya menatap takjub dengan ruangan yang diberi oleh Fathur begitu indah dan elegan.


"Aku dibawah aja pangeran."


"Kamu bukan pengawalku, kamu adalah tamuku. Aku yang melibatkanmu didalam masalah istana. Maka ikuti saja perintahku."


Aya melihat kearah Macron lalu Macron memberi sebuah isyarat untuk Aya agar jangan berdebat dan menerima semuanya.


"Baiklah pangeran."


"Ya sudah, kamu ganti pakaianmu. Pelayan itu akan membantumu mulai sekarang." Fathur melenggang keluar dari kamar untuk bersiap siap melakukan kegiatan seperti biasanya.


Pelayan wanita yang ditinggalkan oleh Fathur, bergerak mempersiapkan pakaian untuk Aya.


"Siapa namamu?"


"Panggil saja saya Ela, nona." jawab gadis yang pernah diikat oleh Aya disaat ia berada dikamar Fathur beberapa hari lalu.


"Nona, silakan duduk." Ela menarik kursi meja rias dan mempersilakan Aya untuk duduk."


"Untuk apa?"


"Tentu saja merias wajah anda nona."


"Jangan begitu nona Aya, nanti saya akan dihukum jika bekerja tidak beres. Ini adalah permintaan pangeran sendiri. Anda bukan pengawal namun anda adalah tamu. Silakan nona."


Aya berkali kali menolak hingga akhirnya ia menurut. Karena dilihatnya mata Ela sedikit berkaca kaca.


"Maafkan saya nona Aya, Kita harus bergerak cepat. Raja sangat disiplin jika pangeran terlambat maka ia akan dihukum." Ela memoleskan wajah Aya dengan sedikit polesan natural karena hari ini Aya akan menemani pangeran memanah dan berkuda. kemudian rambutnya diikat tinggi agar tidak mengganggu aktivitasnya.


"Nona, ayo saya gantikan pakaian anda." Ela berniat membuka baju Aya, namun Aya menolaknya dengan halus.


"Biar saya saja Ela."


"Baiklah nona." Ela menunggu sambil berdiri didekat meja rias.


Setelah selesai, Aya berdiri didepan cermin melihat dirinya yang sangat cantik. Ia hanya tersenyum.


"Anda cantik sekali nona seperti seorang putri." ucap Ela yang membuat Aya tertegun sejenak lalu kemudian ia tersenyum.


"Kamu ada ada saja."


"Ya sudah nona, Ayo kita keluar 10 menit lagi pangeran akan bergerak."


Aya dan Ela keluar dari kamarnya, Aya duduk disofa menunggu Fathur sementara Aya hanya berdiri. Aya memaksanya untuk duduk namun Ela menolaknya. Tidak beberapa lama keluarlah pangeran dan Macron yang sudah berganti pakaian. Fathur terlihat gagah dan jauh lebih segar dibandingkan hari yang lain. Hal tersebut dikarenakan tubuhnya sudah sehat dari luka akibat cambukan yang diberikan oleh Eben.


Fathur dan Macron menghampiri Aya yang sedang asyik bercerita dengan Ela sambil melihat taman.


"Ayo kita pergi."


Ela dan Aya menoleh kearah suara secara bersamaan. kemudian mereka membungkukkan badannya. Fathur yang melihat Aya yang sudah berganti pakaian begitu kagum melihatnya namun ia dengan cepat mengalihkan pandangannya dan melangkah kedepan.


"Apa boleh Ela ikut?"


"Silakan."


Macron terkejut dengan jawaban Fathur, sementara Aya dan Ela tersenyum mendengarnya. Merekapun melangkahkan kaki menuju tempat latihan memanah diikuti oleh 3 orang pengawal lainnya namun hari ini ada yang berbeda Fathur akan bertanding melawan pangeran Zein. Pangeran Zein sudah dari jauh hari berlatih sementara Fathur baru mendapat kabar pagi ini dari Macron.


Mereka sampai dilokasi memanah terlebih dahulu. Fathur sengaja lebih cepat datang daripada yang lain karena ia ingin berlatih memanah untuk meregangkan otot ototnya. Sementara panitia acara sedang bersiap siap Fathur mulai mengambil busur panah lalu mencoba peruntungannya memanah. Berkali kali ia melepaskan anak panahnya namun bidikannya belum ada yang tepat. Bidikannya selalu saja melesat.


Aya dan Macron serta yang lainnya duduk tidak jauh dari Fathur yang sedang berlatih. Hampir setengah jam berlalu dan lokasi sudah mulai berdatangan tamu tamu. Aya berdiri dari kursinya hingga membuat beberapa orang menatap dirinya.


karena wajahnya tidak pernah kelihatan di lingkungan istana.


"Siapa dia."


"Tidak tau, aku baru hari ini melihatnya."


Sebagian orang melihat Aya menghampiri Fathur dan mulailah mereka bergosip. Aya tidak memperdulikan mereka ia tetap melangkahkan kakinya untuk menghampiri Fathur lalu mengambil anak panah hingga membuat Fathur menoleh kearah Aya melihat apa yang akan dilakukannya.


"Bagaimana kamu ingin tepat sasaran, jika kamu tidak fokus menginginkannya. Kamu harus melepaskan semua beban dan amarah yang ada difikiranmu." ucap Aya sambil memejamkan mata hingga membuat ibu suri, pangeran Zein, raja dan ratu serta tamu yang hadir menyaksikan Aya dan Fathur dari kursi kebesaran mereka.


"Whoosh... Teèeek." anak panah tepat disasaran. Aya tersenyum kearah Fathur lalu menyerahkan anak panah ke Fathur dengan elegan. Fathur menerimanya lalu melangkah menghampiri Aya.


"Kamu membuat semua mata tertuju kepadamu, ayo kita menuju kursi. Sebentar lagi acara dimulai."


Aya melihat sekelilingnya lalu menatap raja dan ratu duduk diatas singgasana, dengan gaya elegannya dia memberi hormat kepada sang raja. macron dan Fathur yang melihat tercengang begitu juga dengan ibu suri dan Alexa.


"Siapakah gadis ini yang bisa memberi hormat layaknya seorang putri." batin mereka dalam hati.


Aya melangkahkan kakinya mengikuti Fathur untuk kembali kekursi. Ia menarik kursi untuk Fathur lalu setelah Fathur duduk baru ia duduk dikursinya. Aya sudah terbiasa dengan hidup didalam kerajaan. Dari kecil dia sudah dididik tentang tata krama, sopan santun hingga hal terkecil cara makan dan dudukpun mereka diajari.