SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Lexdo Diserang Musuh



"Aya, disaat aku dan Lexdo menghadapi mereka kamu harus langsung berlari menuju kuda. Tunggu kami disana. Jika dalam waktu satu jam kami tidak kembali maka kamu harus kembali keistana seorang diri dan cari bantuan untuk menyelamatkanku."


"Baik pangeran."


Pangeran Zein kemudian melirik kearah sekitar begitu juga dengan Lexdo, mereka berdua sekarang sedang berada didalam rumah bordil yang memiliki pasukan keamanan yang sangat terkenal akan arogan dan kebengisannya. Mereka tidak akan segan segan memutilasi siapapun lawan mereka.


"Tuan, aku rasa mereka bertiga yang ada disudut sana. Bukan orang sembarangan. Mereka memberiku sekantong emas agar aku memberikan hidangan yang tidak memabukkan." ucap salah satu pelayan yang diserahkan Lexdo sekantong emas.


"Hemh, kita lihat siapa mereka dan sampai mana nyali mereka. Ambil semua barang beharga yang ada pada mereka. Ha.ha.ha." ucap pemilik rumah bordil sambil menghembuskan tembakau yang ada ditangannya.


"Apa aku harus memanggil prajurit kita tuan?"


"Tentu saja. Panggilkan semua yang terbaik untuk menangkap mereka yang sudah berani bermain api ditempatku. Aku yakin mereka punya tujuan."


"Baik tuan." pelayan tersebut meninggalkan pemilik rumah bordil yang dipanggil tuan Wind.


Tuan Wind yang ada disebalik ruangan memperhatikan mereka bertiga dari jauh. Pangeran Zein yang dari tadi ingin mencari sosok dirinya. Tidak melihat Tuan Wind yang sedang memperhatikannya dari jauh disebalik tembok.


"Lepaskan penutup wajah kalian." ucap seseorang yang memiliki tubuh berbadan besar." kepada Mereka bertiga.


Pangeran Zein memandang pria yang bertubuh besar tersebut lalu membalas tatapan pria tersebut dengan tidak kalah tajam. "Kenapa kami harus menuruti permintaanmu. Bukankah penginapan ini terbuka untuk umum?"


"Aku bilang lepaskan penutup wajahmu. Itu perintah dariku."


"Kami tidak mau."


"Hemh, kalau gitu rasakan ini."Sebuah gebrakan diatas meja yang dilakukan oleh teman pria yang bertubuh besar tersebut dengan tangan kosongnya membuat meja menjadi ambruk.


"Whooosh." Mereka bertiga berlari dengan kencang berbeda arah namun dengan satu tujuan menuju pintu keluar. Aya menoleh kebelakang melihat pangeran Zein yang sedang membantu Lexdo menghadapi musuh.


"Bugh..." Sebuah tendangan diberikan kepada Lexdo hingga membuat dirinya terpelanting jauh. Pangeran Zein dengan cepat menangkap Lexdo. Lexdo kewalahan menghadapi musuh yang begitu banyak. Pangeran Zein yang sebenarnya sudah sampai dipintu keluar namun melihat Lexdo yang tertangkap dan dipukul tidak tega meninggalkannya sendiri.


"Apa kamu baik baik saja Lexdo?"


"Baik pangeran." ucap Lexdo bohong.


"Ha.ha... Menyerah saja kalian. Daripada nyawa kalian melayang." ucap musuh mereka.


Pangeran Zein mengamati sekitar lalu matanya tak sengaja menatap Aya yang berdiri mematung diluar.


"Kenapa dia masih disitu. Harusnya dia kembali keistana. Meminta bantuan." batin pangeran Zein kesal.


"Bugh..." Pangeran Zein ditendang oleh seorang pria hingga membuat dirinya terjungkal. Dengan sigap ia berdiri lalu bangun dan menyerang mereka semua habis habisan. Namun karena mereka masuk ke wilayah musuh. Tentu saja mereka kalah jumlah. Ditambah lagi lawan mereka bukan lawan sembarangan.


"Bugh..." Lexdo terpelanting sangat jauh disudut.


"Menyerahlah atau temanmu ini akan kupotong lehernya." ucap seorang pria mendekatkan sebuah belati kearah leher Lexdo.


Pangeran Zein mengangkat tangannya karena tentu saja dirinya tidak ingin kehilangan Lexdo yang telah setia menemani dirinya selama ini.


"Dimana gadis itu? Apa dirinya sudah kembali keistana?" Lexdo melihat sekeliling namun tidak melihat sosok yang dicarinya.


Pangeran Zein diikat tangannya begitu juga dengan Lexdo. Sangat mudah bagi pangeran Zein melarikan diri sebenarnya namun dirinya melihat Lexdo yang sudah babak belur dan tidak berdaya mengurungkan niatnya karena akan sulit untuknya membawa Lexdo dengan keadaan seperti ini. Mereka pasti akan tertangkap lagi.


Mereka di jebloskan kepenjara bawah tanah dan penutup wajah mereka dibuka.


"Siapa kamu?" ucap musuh.


"Menurut kalian?"


"Jawab."


"Ha...ha...ha..."


"Bugh." sebuah tendangan mendarat diperut pangeran Zein.


"Sudahlah. Nanti tuan Wind akan marah jika mereka mati. Biar saja tuan Wind yang memghadapinya."


"Kita belum selesai." ucap salah satu pria yang kesal dengan tingkah pangeran Zein yang belagu.


Setelah kepergian musuh pangeran Zein dan Lexdo saling bertatapan.


"Pangeran, lebih baik anda pergi dari sini? Sebelum tuan Wind melihat pangeran disini. Beliau akan membunuh anda."


"Bagaimana dengamu. Apa kamu masih sanggup berlari?"


"Tidak pangeran. Aku sudah tidak kuat."


"Kita akan keluar bersama." Pangeran Zein membuka ikatan tangannya dengan begitu mudah lalu membuka ikatan ditangan Lexdo. Setelah itu ia membuka gembok yang ada dipintu pagar lalu memapah Lexdo untuk keluar dari ruangan tersebut.


Baru lima menit mereka berjalan penjaga bawah tanah mengejar mereka. Pangeran Zein memukul penjaga bawah tanah dengan sekali pukulan. Namun disaat dirinya ingin keluar dari penjara bawah tanah tuan Wind dan rombongannya sedang berada dipintu luar. Dengan cepat pangeran Zein bersembunyi disebuah tempat.


"Bawa dia kesini."


"Baik tuan." ucap seorang prajurit menuju ruangan tempat pangeran Zein dijebloskan.


Pangeran Zein meletakkan Lexdo pelan pelan dibawah lalu bersembunyi disebuah sudut menunggu kepergian tuan Wind. Dia tidak mungkin bertemu dalam keadaan seperti ini.


"Tuan Wind, mereka melarikan diri. Dua orang penjaga ambruk dilantai tidak sadarkan diri." Ucap prajurit gemetaran.


"CARI MEREKA SEKARANG JUGA. JIKA TIDAK KETEMU KALIAN SEMUA AKAN KUHABISI." Bentak tuan Wind kepada semua yang ada dan pergi meninggalkan tempat.


"Plak...." Sebuah tamparan mendarat dipipi penjaga yang berada diluar.


"DIMANA MEREKA?"


"Maafkan saya. Namun tidak ada satu orangpun yang keluar dari sini. Saya rasa mereka masih ada didalam."


"Segera berpencar." Tegas seseorang pria berbadan kecil namun dikenal sangan hebat. Dirinya merupakan tangan kanan tuan Wind.


Semua prajurit berpencar. Disaat pangeran Zein merasa semuanya sedikit aman ia kekuar dari tempat mencari jalan keluar. Lexdo dibiarkannya disebuah tempat yang sedikit aman.


"Berhenti." ucap seseorang kepada pangeran Zein. Pangeran Zein berhenti namun tidak menoleh. Ia mengeluarkan sebuah belati dari dalam bajunya. Ia bersiap siap untuk melakukan penyerangan.


"Hyaaaa... " Pangeran Zein memberikan sebuah pukulan kepada penjaga dan menyerang dua orang teman yang lainnya. Namun gerakannya terbaca dan terjadilah pertempuran yang sangat sengit. Karena mereka semua memang prajurit yang terlatih. Pangeran Zein mengeluarkan ilmunya untuk menggelabui musuh. Ia melemparkan sebuah serbuk ke udara namun lagi lagi musuh bisa membaca gerakannya.


"Ha.ha... hanya segitu kemampuanmu." ucap salah seorang musuh.


"Hemh" pangeran Zein tersenyum sinis lalu dalam sekejab ia menghilang dari pandangan musuh.


"Dimana dia?"


"Kenapa kamu tanya aku goblok!"


"Cepat kalian berdua cari dia lagi!" Ketiga pria tersebutpun langsung berlari mencari pangeran Zein. Tanpa mereka sadari pangeran Zein sedang berada di langit langit ruang bawah tanah.


"Hemh.... dasar. Dimana gadia itu? Apa dia masih menunggu atau sudah diistana?" batin pangeran Zein.