SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Kisruh



"Rezya... " ucap Lexdo terkejut.


"Kenapa kamu melihatku seperti melihat hantu?" Rezya menatap Lexdo dengan kesal.


"Oh maaf, aku hanya terkejut saja melihat dirimu. Ada perlu apa hingga kamu datang kesini dipagi hari? Tidak seperti biasanya." ucap Lexdo kembali disaat dirinya sedang sarapan pagi bersama pangeran Zein.


Pagi ini Lexdo kelihatan sudah mulai sedikit lebih bugar. Dirinya malam tadi melakukan istirahat total ditambah lagi ramuan yang diberikan oleh Aya sangat membantu.


"Aku akan tinggal disini." ucap Rezya santai lalu menarik kursi yang ada dimeja makan. Pangeran Zein hanya melihat sekilas lalu kembali menyantap makanannya.


"Kamu tinggal disini. Wau... itu kedengarannya menarik." Lexdo tersenyum bahagia lalu menatap sekilas pangeran Zein yang kelihatan sangat santai.


Rezya melirik sekitar mencari sosok yang dicari namun dirinya tidak menemukan sosok tersebut.


Setelah selesai menyantap sarapan pagi pangeran Zein duduk didekat taman sambil melihat ikan yang ada dikolam. Lexdo dan Rezya mengikuti pangeran Zein dari belakang. Kemudian merekapun terlibat dalam sebuah pembicaraan yang cukup lama.


"APA? KAMU MENYERANG ORANGNYA TUAN WIND?" Ucap Rezya terkejut.


"Aku tidak bermaksud menyerangnya. Aku ingin mencari tau sesuatu namun tiba tiba kami diserang tentu saja kami harus membela diri jika tidak ingin menjadi mayat." pangeran Zein menatap Rezya.


"Hem begitu... Bagaimana jika mereka tahu bahwa itu adalah kalian?" jawab Rezya resah.


"Sepertinya mereka sudah tahu itu aku karena aku sendiri bertemu dengan tangan kanan tuan Wind. Kami saling serang." Pangeran Zein mengambil sebuah kursi lalu duduk di kursi goyangnya.


"Kamu akan dalam masalah Zein. Mereka tidak akan melepaskanmu begitu juga dengan ratu Alexa." ucap Rezya menatap pangeran Zein dengan khawatir begitu juga dengan Lexdo.


Pangeran Zein menatap sekilas kearah mereka lalu menyeruput teh yang ada diatas meja. Dirinya tidak menjawab ucapan Rezya namun ia mulai mencoba untuk berfikir apa yang akan terjadi dan solusinya.


Tidak beberapa lama kemudian disaat mereka sedang duduk ditaman terjadi sebuah keributan kecil di ruangan depan tepatnya di dekat pintu masuk. Lexdo dan Rezya langsung bergerak melihat keributan apa yang sedang terjadi.


"Ada apa kepala pelayan?" ucap Rezya melihat kepala pelayan sedang berlari dengan panik.


"Oh nyonya Rezya, Itu...disana... Hm maksudnya ada ratu Alexa dan beberapa pria yang tidak saya kenal ingin menjemput....." Kepala pelayan tidak bisa melanjutkan ucapannya namun matanya mengarah kepada Lexdo.


Rezya yang mengerti maksud kepala pelayan langsung berjalan menuju taman untuk menyampaikan sesuatu kepada pangeran Zein namun tiba tiba seseorang memanggilnya.


"REZYA..." Teriak ratu Alexa melihat Rezya dari jauh hingga membuat Rezya harus menghentikan langkahnya.


"Senang bertemu dengan anda kembali ratu Alexa." ucap Rezya tenang sambil membalikkan badannya menghadap ratu Alexa.


"Hem, Benarkah kamu senang bertemu denganku Rezya? Aku merasakan aroma kebencian dari tubuhmu." ucap Ratu Alexa tertawa terbahak bahak.


"Hati hati ratu Alexa. Tidak baik untuk wanita seumuranmu tertawa keras. Itu akan membuat garis keriputmu semakin terlihat." jawab Rezya sinis lalu menatap tajam.


"Aku tidak akan pernah tua Rezya dan kamu tahu itu." Bisik ratu Alexa.


"Kita lihat saja nanti. Aku takut tidak akan ada lagi pria yang terpesona kepadamu hingga kamu tidak bisa menumbalkan siapapun." ucap Rezya pelan agar hanya bisa didengar oleh ratu Alexa.


Ratu Alexa menggenggam tangannya kuat menahan amarah lalu menuju dimana pangeran Zein berada diikuti oleh yang lainnya.


Ratu Alexa mengambil salah satu kursi lalu menyilangkan kakinya kemudian menatap tajam kearah pangeran Zein namun pangeran Zein hanya bersikap santai.


"Ada perlu apa ibuku yang cantik ini datang dengan wajah manyun? Apakah ibu membutuhkan bantuanku?"


"Hm, Kamu pura pura tidak tau atau memang tidak tau Zein. Apa kamu lupa apa yang telah kamu lakukan semalam?" ucap ratu Alexa menahan kesal.


"Benarkah? Apakah kamu berlatih pedang hingga menewaskan begitu banyak orang. Apa itu maksudmu berlatih?"


"Aku tidak mengerti ibuku. Aku rasa berlatih pedang adalah hal yang lumrah. Kenapa kamu begitu marah?"


"Serahkan orang orangmu yang telah membunuh orang kami." ucap tangan kanan tuan Wind yang sudah tidak sabar dan mulai jenuh mendengar pembicaraan mereka.


"Apa? Orang kalian terbunuh. Aku turut prihatin mendengarkan berita tersebut. Lalu mengapa kalian meminta pertanggungjawaban dariku?"


"Jangan bermain main Zein. Serahkan kepada mereka orang itu atau kamu yang harus menggantikannya." ucap ratu Alexa murka melihat sikap pangeran Zein yang berpura pura bodoh.


"Oh, jadi ibu juga mencurigaiku. Aku jadi merasa aneh apa benar kamu ibu kandungku hingga kamu lebih percaya orang lain daripada anakmu sendiri?" pangeran Zein menatap ratu Alexa dengan tatapan tajam hingga membuat dirinya tidak bisa menjawab apapun.


Tanpa aba aba orangnya tuan Wind langsung mengarahkan pedang ke jantung Lexdo dari setiap sisi.


"Ha.ha... Zein. Apa kamu ingin terus bermain dengan kami. Jelas jelas aku melihat dirimu dengan sangat jelas begitu juga dengan pria tersebut. Bekas tusukan luka nya saja pasti masih ada."


"Apa kamu yakin itu aku? Jangan jangan ada orang yang menggunakan topeng menyerupaiku agar kita menjadi musuh."


"Cukup. Serahkan saja Lexdo kepadanya dan satu orang lagi." ucap ratu Alexa agar pembicaraan pangeran Zein tidak melantur kemana mana.


"Tidak!" Kamu tidak punya wewenang ditempatku ibu. Jika kalian ingin mencari masalah ditempatku maka kalian harus berhadapan denganku terlebih dahulu." Semua prajurit yang ada diruangan pangeran Zein berkumpul dan mengeluarkan pedangnya dari sarung dan bersiap siap untuk menyerang.


Tangan kanan tuan Wind melihat suasana sekitar lalu meletakkan kembali pedang mereka kedalam sarung. Mereka melepaskan Lexdo.


"Aku akan bersikap baik jika kalian datangnya baik. Apa buktinya mereka adalah orang orangku yang membunuh orang orang kalian?"


"Baiklah. Salah satu orangmu terluka diperut dan satunya lagi terluka dipundak. Jika ada yang terluka dibagian itu. Serahkan kepadaku."


Pangeran Zein terdiam sejenak karena dia tidak tahu bagaimana keadaaan perut Lexdo dan pundak Aya disaat ini.


"Apa kamu takut? ucap ratu Alexa membangunkan lamunan pangeran Zein.


"Tidak. Silakan periksa satu persatu orang orangku." ucap pangeran Zein santai.


Prajurit yang dibawa oleh tangan kanan tuan Wind serta beberapa orang yang dibawa oleh Macron mulai memeriksa satu persatu namun mereka belum juga menjumpai prajurit yang memiliki bekas luka diperut dan juga pundak.


Disaat mereka membuka perut Lexdo lagi lagi hasilnya nihil dan pundaknyapun tidak terdapat bekas luka. Tangan kanan tuan Wind penasaran hingga dia sendiri yang membuka bagian perut Lexdo.


"Bagaimana bisa lukanya tidak membekas sedikitpun? Bukankah dirinya terluka parah." Batin tangan kanan tuan Wind sambil menatap tajam ke arah Lexdo. "Ini pasti kekuatan sihir. Bukankan ratu Alexa adalah penyihir dahulunya sama seperti Selena." Batinnya lagi.


"Apakah kamu menemuinya?" ucap pangeran Zein kepada tangan kanan tuan Wind.


"Kelihatannya kalian semua ingin bermain main dengan kami. Baiklah ratu Alexa. Aku yakin kamu sudah merencanakan semuanya." ucap tangan kanan tuan Wind berlalu pergi dengan murka.


"Tunggu. Apa maksudmu? Kamu salah paham?" teriak ratu Alexa.


"Bagaimana mungkin aku salah paham ratu Alexa. Aku sendiri yang menangkap anakmu dan juga pria itu hingga memasukkannya kedalam penjara. Aku jelas jelas melihat dengan mata kepalaku sendiri perutnya sobek bekas tusukan pisau dan sekarang lukanya sedikitpun tidak berbekas." teriak tangan kanan tuan Wind sambil mencengkeram kerah baju ratu Alexa.


"Benarkah?"


"Lalu maksudmu aku bercanda?" Tidak disangka kamu yang membantu mereka disaat malam itu. Pantas saja kekuatan sihirnya begitu hebat. Aku fikir Selena yang membantunya." tangan kanan tuan Wind pergi meninggalkan Alexa dengan senyum penuh arti.