SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Berhasil Melarikan Diri



"Lexdo...!" lirih pangeran Zein. Pangeran Zein menghampiri mereka berdua lalu mengangkat wajah Lexdo yang terlihat semakin pucat. Ini yang pertama kalinya Lexdo terluka parah.


"Bertahanlah Lexdo, kita akan keluar. Kita belok kekiri saja. Aku menemukan sebuah lobang disana."Pangeran Zein memandu jalan. Sesekali mereka menemui musuh namun dengan sigap pangeran Zein melumpuhkannya.


Ilmu bela diri pangeran Zein sangat bagus. Hal tersebut dikarenakan dirinya sering kali ikut bertempur dan bertarung dalam sebuah peperangan. Dari pertempuran dilapanganlah ia banyak belajar ilmu bela diri.


Pangeran Zein yang awalnya sangat sulit untuk mengalahkan musuh karena dirinya harus memapah Lexdo sekalian. Namun sejak kehadiran Aya dirinya dengan mudah melumpuhkan musuh dikarenakan Lexdo yang terluka parah kini dijaga oleh Aya.


Tadinya setiap kali memukul musuh selalu saja musuh menangkap Lexdo dan mengancam pangeran Zein untuk tidak melawan. Jika dirinya melawan nyawa Lexdo menjadi teruhannya.


"Itu disana." ucap pangeran Zein menunjukkan sebuah Lubang yang ada disebuah sudut.


Namun disaat mereka sampai di lobang tersebut, mereka dikepung oleh musuh dalam jumlah yang banyak.


Pangeran Zein melihat kearah sekitar lalu menoleh kearah Aya.


"Aya kamu fokus menjaga Lexdo. Aku akan menghadapi mereka."


"Apa kamu yakin?" ucap aya seakan tidak percaya karena musuh kini mengepung mereka.


"Bugh...." Sebuah benda terlempar diudara. Dengan cepat pangeran Zein menghindar. Pangeran Zein hanya menunggu musuh menyerang dirinya.


Tiba tiba pria berbadan besar datang menghampiri mereka. Aya berdiri dibelakang pangeran Zein sambil tetap memapah Lexdo.


"Ha.ha.ha... Menyerahlah, rupanya kamu si Zein. Aku fikir kamu siapa. Tuan Wind pasti senang dengan kedatanganmu." ucap pria yang memiliki tubuh yang sangat besar tersebut kepada pangeran Zein.


Pangeran Zein hanya diam tanpa menjawab ucapan tubuh pria berbadan besar tersebut.


"Dasar anak tidak tahu diri." ucapnya murka dan melayangkan sebuah pukulan. Namun dengan sigap pangeran Zein mengelak lalu memberikan sebuah pukulan tepat diselangkangan pria tersebut.


"Aghhhhh...." teriaknya. Wajah pria tersebut merah padam karena menahan rasa sakit dan juga marah.


"Apa yang kalian lihat. Dasar bodoh. Tangkap mereka." rombongan musuhpun yang sudah diberi aba aba langsung menyerang mereka bertiga. Pangeran Zein dengan mudah menjatuhkan musuh yang berjumlah banyak. Berbeda dengan Aya. Dirinya sedikit kewalahan karena dirinya sedang memapah Lexdo.


"Bugh...." Sebuah tendangan tepat mengenai Pundak Aya dari belakang. Aya tersungkur kelantai. Pangeran Zein yang melihat Aya terjatuh langsung dengan sigap menyerang musuh yang ada didekat Aya. Lexdopun merampas sebuah pisau dari musuh untuk memberikan perlawan dan pertahanan.


Aya yang terjatuh bangun mengelap sudut bibirnya yang berdarah lalu mengambil pisau belati yang ada di paha kaki kirinya. Dengan gerakan cepat dan emosi yang berapi api. Dirinya membantai setiap musuh yang ada.


Pangeran Zein melihat Aya sekilas. Aya terlihat sangat berbeda jika sudah dilanda oleh emosi. Bola matanya berubah menjada bewarna merah darah dan Aya membantai setiap lawan yang ada dihadapannya tanpa sedikitpun belas kasihan.


"Aya... cukup!" teriak pangeran Zein kepada Aya yang sedang memukul seorang pria yang sudah ambruk.


"AYAAAAA..... CUKUP!" Teriak pangeran Zein dihadapan Aya sambil memegang wajah Aya dengan kedua tanganya agar Aya bisa melihat kedalam mata pangeran Zein. Aya spontan sadar dengan apa yang terjadi.


"Oh iya. Itu, Hem, Ech iya Dimana Lexdo?" Aya menjadi salah tingkah karena dirinya sadar betapa kejamnya dirinya.


"Itu." Pangeran Zein tidak mau membahas hal tersebut karena dirinya ingin cepat cepat mesti keluar dari ruangan tersebut.


"Lexdo mencoba membuat lobang yang ada menjadi lebih sedikit besar dengan menggunakan peralatan yang ada. Bangunan tua tersebut sangat kokoh karena upaya pangeran Zein sedikitpun tidak berhasil.


"Kalian tunggu disini. Aku akan mencari sesuatu."


Tidak berapa lama kemudian pangeran Lexdo membawa sebuah kapak yang terbuat dari besi. Kapak tersebut didapatinya dari musuh. Lalu iapun memukul tembok tersebut dengan seluruh kekuatan yang ada dan benar saja usaha pangeran zein berhasil.


Mereka bertiga keluar dengan cepat. Pangeran Zeinpun ikut memapah Lexdo agar mereka bisa berjalan dengan cepat. Rombongan musuh sedang berjaga jaga diluar. Mereka bertiga mengendap endap melewati penjaga hingga sampai di pagar. Mereka melawati jalur belakang. Kini mereka sedang berada didekat pasar yang ramai.


"Kalian berdua disini. Pakailah penutup wajah dan jubah ini dan jangan sampai membuat orang curiga. Bersikaplah sewajarnya." pangeran Zein melempar sebuah penutup wajah dan juga jubah untuk menutupi noda darah yang ada dipakaian, kemudian dirinya pergi untuk mengambil kuda.


Sebelum sampai di tempat kuda yang diikat, pangeran Zein singgah di sebuah toko. Pemiliknya adalah seseorang yang sangat dikenal. Dirinya berbicara dengan pemilik toko tersebut lalu tidak berapa lama iapun pamit.


Kedatangan pangeran Zein ketempat pemilik toko tersebut untuk meminta pertolongan kepada pemilik toko tersebut agar meminjamkan dua orang pelayan pria yang bekerja ditokonya untuk mengambil kuda milik Lexdo dan juga Aya.


Kini pangeran Zein serta kedua pria tersebut pergi ke tempat kuda merka diikat lalu membawanya ketempat Aya dan Lexdo.


"Ini untuk kalian berdua dan ini untuk pemilik toko." Pangeran Zein memberikan 2 kantong berisi emas.


"Terimakasih tuan." ucap pelayan tersebut.


"Ayo kita berangkat. Lexdo apakah kamu bisa menaiki kudamu?"


"Bisa pangeran."


"Kalau gitu, Ayo kita berangkat. Kita tidak akan langsung kembali keistana. Kita menginap dahulu disini agar tubuhmu sedikit pulih."


"Terimakasih pangeran."


Pangeran Zein memacu kudanya dan diikuti oleh Lexdo. Aya sengaja memilih berada dibelakang untuk menjaga Lexdo. Agar bisa melihat Lexdo dalam keadaan baik baik saja dan tidak jatuh dari atas kuda. Sekitar lima belas menit berjalan kini mereka sampai ditempat penginapan. Pangeran Zein memesan tiga kamar lalu masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Setelah selesai membersihkan diri, pangeran Zein menuju kamar Lexdo. Dirinya penasaran dengan luka yang ada tubuh Lexdo. "Apakah membusuk?"


batin pangeran Zein.


"Lexdo, ini aku." Pangeran Zein mengetuk pintu kamar Lexdo lalu tanpa menunggu jawaban ia langsung menerobos masuk.


Lexdo masih berada dikamar mandi membersihkan tubuhnya. Dirinya tidak menyadari jika pangeran Zein kini sedang berada dikamarnya.


Setelah rasanya cukup, Lexdo keluar dari kamar mandi hanya menggunakan celana panjang sementara bagian atas tubuhnya hanya bertelanjang dada.


Pangeran Zein yang mendengar pintu kamar mandi dibuka langsung menoleh kekamar mandi dan kini mereka berdua saling bertatapan dengan mimik wajah terkejut. Mereka hanyut dengan fikirannya masing masing.


"Lexdo, Bagaimana bisa lukamu hilang dalam sekejab? Apa kamu membohongiku?" ucap pangeran Zein penuh selidik.


"Tidak pangeran. Aku memang terluka. Bukankah anda sendiri melihat mereka menghunuskan tubuhku dengan belati dan anda juga melihat langsung lukaku yang terbuka disaat kita masih didalam sel tahanan?"


"Terus sekarang aku tidak melihat apapun dibagian tubuhmu?" ucap pangeran Zein murka.


"Itu tuan... Anu. Begini!"


"Prang.... Kamu tahu kan Lexdo aku benci dibohongi. Apa kamu ingin menghianatku?" pangeran zein berjalan secepat kilat kearah Lexdo dan kini pangeran Zein sudah berdiri dihadapan Lexdo sambil mengarahkan pedang tepat di jantung Lexdo.