SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Ratu Alexa Curiga



"Braaak..." Ratu Alexa mendorong kursi yang tidak jauh dari dirinya berdiri. Dirinya begitu murka dengan tingkah laku pangeran Zein.


"Apà yang kamu rencanakan Zein?" ucap ratu Alexa dengan gigi bergemertak disebabkan menahan emosi yang terlalu berapi api. Pangeran Zein hanya duduk dengan santai sambil menyeruput tehnya lalu memandang ratu Alexa dengan tersenyum.


"Aku tidak mengerti maksudmu ibu?" Jawab pangeran Zein mengernyitkan dahinya sambil menopang dagunya dengan tangan sebelah kiri.


"Baiklah Zein. Kita lihat nanti sampai mana permainanmu ini."


Ratu Alexa menarik nafasnya dalam dalam lalu pergi menuju pintu keluar namun disaat dirinya ingin keluar ia tidak sengaja bertemu dengan Aya yang baru turun dari lantai dua.


Ratu Alexa berhenti sejenak lalu memperhatikan Aya dari kaki hingga ujung rambutnya. Aya kelihatan pucat dari biasanya dan di bagian ujung bibirnya ada sedikit bekas lebam pertanda terbentur sesuatu yang keras.


"Hm, Kelihatannya kamu sedang tidak baik baik saja? Apakah lukamu sudah baikan?" ucap ratu Alexa kepada Aya menebak nebak agar Aya masuk dalam perangkap.


"Darimana dia tahu aku terluka. Apakah pangeran Zein yang memberitahunya?" batin Aya didalam hatinya.


Disaat Aya ingin menjawab tiba tiba pangeran Zein dan yang lainnya juga datang dari arah taman ingin menuju keluar. Lexdo dan Rezya terkejut melihat Aya sedang berhadapan dengan ratu Alexa.


"Oh ya aku ingin pulang namun disaat aku ingin keluar aku menjumpai gadis ini sedang kesulitan turun dari tangga. Aku ingin membantunya yang sedang kesakitan!" ratu Alexa menatap ke dalam mata Aya begitu dalam. Aya membuang tatapannya keluar jendela lalu kembali melangkah menuruni anak tangga yang terakhir.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan dia ibu. Dia barusan berlatih ilmu bela diri bersama Rezya."


"Benarkah? Apakah berlatih ilmu bela diri sampai membuat dirinya sepucat pasi ini?" ratu Alexa dengan cekatan menarik tangan Aya yang sedang melewati dirinya lalu secara sengaja mencengkeram perut Aya.


"Aghh..." Teriak Aya spontan disaat ratu Alexa menarik tangannya. Pundaknya yang terkena tusukan belati terasa begitu sangat sakit. Walaupun luka diluarnya tidak berbekas namun luka dalamnya masih belum sembuh.


"Heh...." ratu Alexa tertawa kecil penuh arti.


"Maafkan aku Aya. Aku tidak sengaja." ratu Alexa masih tetap memegang tangan Aya yang bagian pundaknya terluka dengan penuh tekanan. Mimik wajah Aya yang menahan sakit sangat terlihat jelas namun dirinya berusaha tetap tenang.


"Iya ratu. Bisakah kamu melepaskan tanganku jika tidak ada apa apa lagi?"


"Oh ya. Maaf. Apakah kamu sudah mengobati lukamu Aya?"


"Tanganku tidak terluka ratu Alexa. Jika kamu tidak percaya kamu bisa melihatnya."


"Benarkah?" Ratu Alexa mencoba menarik pakaian Aya.


"HENTIKAN. APA YANG INGIN KAMU LAKUKAN RATU ALEXA?" Bentak pangeran Zein membuat semua orang yang ada disana terkejut.


"Oh... Kamu sudah berani membentak ibumu Zein?" Ratu Alexa menatap pangeran Zein dengan tatapan membunuh begitu juga sebaliknya. Pangeran Zein datang menghampiri dimana Aya dan ratu Alexa sedang berdiri lalu menarik Aya dengan tangannya untuk berada dibelakangnya.


"Tidak ada yang boleh menyentuh orang orangku tanpa persetujuanku?"


"Benarkah? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan jika ada orang orang mu yang ditemukan terluka dibagian perut atau pundak maka kamu akan menyerahkan kepada tuan Wind?" Ratu Alexa memberi aba aba kepada Eben untuk membuka pakaiannya.


"Hentikan."


"Lanjutkan." panglima Eben mendekati Aya lalu mencoba menariknya namun dihalangi oleh pangeran Zein.


Tanpa menunggu aba aba Lexdo memberi isyarat kepada semua prajurit untuk keluar hingga meninggalkan beberapa pelayan wanita saja.


"Yang tidak berkepentingan lanjutkan pekerjaannya." ucap kepala pelayan menatap tajam kearah pelayan yang mencoba untuk mencari tahu karena penasaran. Kini tinggallah Rezya, ratu Alexa dan juga beberapa pelayan wanita yang menemani mereka.


"Aku akan membuka pakaianmu dibagian pundak dan juga perut Aya!"


"Silakan." Lirih Aya pelan karena masih merasa lemas akibat kekurangan darah yang banyak tadi malam.


"Bukakan semua pakaiannya dan tinggalkan saja kembanan didadanya. Itu lebih membantuku." ucap ratu Alexa menatap tajam kearah Aya. Aya hanya menarik nafasnya dan mencoba memegang ukiran yang ada disisi tangga agar tubuhnya tidak oyong.


Rezya menoleh sekilas kearah Aya lalu dengan cepat membuka pakaian Aya sesuai permintaan ratu Alexa agar cepat selesai dan Aya bisa istirahat kembali. Walau bagaimanapun Rezya merasa kasihan dengan Aya yang masih dalam keadaan sakit.


"Zraaaak...." Pakaian Aya koyak ditarik oleh ratu Alexa yang sudah tidak sabar menunggu Rezya yang membukanya dengan hati hati.


"Apa yang kamu lakukan ratu Alexa?" ucap Aya murka. Rezya yang melihat perlakuan ratu Alexa yang juga ikut emosi tiba tiba hilang begitu saja karena melihat pundak Aya yang tidak terluka sedikitpun.


"Apa yang sedang terjadi. Bukankah aku melihatnya dengan sangat jelas pundaknya terluka tadi malam? batin Rezya dengan mata yang melotot karena terkejut.


Ratu Alexa melihat pundak dan bagian perut Aya yang tidak tergores sedikitpun merasa aneh. "Apa yang sedang terjadi disaat ini?" gumamnya kemudian mendorong tubuh Aya hingga terjatuh lalu pergi meninggalkan tempat peristirahatan pangeran Zein.


Ratu Alexa melewati pangeran Zein dan juga Lexdo dengan tatapan yang penuh amarah lalu pergi menuju tempat peristirahatannya.


"Eben, Perhatikan pangeran Zein dan juga Rezya. Aku curiga dengan mereka."


"Baik ratu."


Ratu Alexa meninggalkan panglima Eben untuk menuju kamarnya. Sepanjang perjalanan menuju kamarnya ratu Alexa memikirkan kejadian yang baru saja terjadi.


"Tidak mungkin tangan kanan tuan Wind berbohong padaku. Dia mengatakan bahwa Lexdo tertusuk diperutnya dan berhadapan langsung dengan pangeran Zein." gumam ratu Alexa.


"Tapi kenapa luka diperut Lexdo tidak berbekas sedikitpun lalu gadis itu yang biasanya sangat kuat kenapa tiba tiba hanya ditarik dengan kekuatan seperti itu sangat kesakitan? Aku harus pergi ketempat tuan Wind jika tak ingin salah paham ini terjadi."


Sementara ditempat pangeran Zein, Aya yang masih menggunakan kembanan pergi menuju kamarnya meninggalkan Rezya yang masih berdiri mematung terkejut melihat pundaknya yang sudah kembali mulus.


"Hei, Kenapa dengan dirimu Rezya?" Lexdo menyenggol badan Rezya hingga ia kembali sadar dari lamunannya.


"Ha.ha... Kamu seperti melihat hantu?" Sindir pangeran Zein.


"Lukanya, Lukanya Zein. Lukanya tidak berbekas. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa penyihir bisa masuk ke istana ini? Lexdo dengan cepat menutup mulut Rezya agar tidak berbicara yang lain.


"Ada apa? Apa kamu juga tau Lexdo? Rezya menatap Lexdo dengan tatatapan menyelidik.


"Jangan jangan benar kata tangan kanan tuan Wind. Kamu terluka dibagian perut dan..."


"Bisakah kamu sedikit tenang Rezya? Akan ada yang mendengarmu?"


"Bagaimana aku bisa tenang. Kalian memelihara penyihir. Apa kalian lupa penyihir itu memiliki perjanjian dengan iblis? Kalian mengetahuinya tanpa berbuat apapun?" ucap Rezya kesal.