
Selama dalam perjalanan rombongan pangeran Fathur merasa aneh melihat kejadian sekeliling. Ribuan kunang kunang mengelilingi mereka seolah olah ingin memberikan cahaya kepada jalan yang mereka lalui. Angin berhembus sangat kencang membuat suasana menjadi sangat dingin.
Setelah melalui hutan belantara dan semak belukar kini mereka telah berada di wilayah kerajaan namun masih didaerah rumah penduduk sebagai petanda sebentar lagi akan sampai di istana.
Dilain sisi seorang pengawal kerajaan yang berada diatas gerbang istana menyiapkan panahnya untuk menembak seekor singa yang berlari dengan cepat.
"Tunggu." temannya mendorong busur panah hingga terpental ke tanah.
"Apa yang kamu lakukan." ucapnya murka.
"Sepertinya itu pangeran Fathur."
"Dimana?" temannya melihat sekeliling namun ia tidak melihat sosok yang disebut temannya hingga iapun memilih untuk mengambil kembali busur panah yang terlempar ketanah untuk menghentikan singa.
"Hentikan, pangeran Fathur yang menunggangi singa itu." teriak temannnya, namun anak panah sudah terbang menuju sasarannya hingga langsung mengenai pundak singa. Singa terjatuh ketanah hingga membuat pangeran dan Aya terpental. Aya sadar seketika lalu langsung menatap sekeliling heran. Dilihatnya pangeran Fathur ada disampingnya sedang memeluk dirinya sedangkan singa yang terluka berada tidak jauh dari dirinya.
"Kamu..."
"Oh.. ya tuhan, Aku benar benar tidak sengaja."
"Bukankah tadi sudah kukatan dari awal jangan memanahinya."
"Aku tidak tau ada pangeran Fathur diatasnya, aku tidak melihatnya. aku cuman berfikir bahwa singa itu akan menyerang istana.
"Bugh." sebuah tinju dilayangkan ketemannya yang memanah singa tersebut.
"Habislah kita." temannya terduduk di lantai sambil mengacak acak rambutnya membayangkan amukan sang raja dan pangeran Fathur. Walau bagaimanapun pangeran Fathur merupakan benih satu satunya.
Macron yang berada dibelakang Fathur terkejut melihat pangeran dan Aya tersungkur ditanah. sementara pundak singa terdapat busur tanah.
"Brengsek." ucap Macron murka lalu turun membantu pangeran Fathur.
"kamu urus saja singa itu, jangan sampai dia mati. Jika terjadi sesuatu dengan singa itu cari pelakunya. Beri dia hukuman yang setimpal untuk bertanggungjawab," ucap Fathur dengan sangat emosi lalu berjalan menuju kuda kesayangannya kemudian menuju kearah Aya. Fathur meraih Aya dengan tangan kanannya lalu membawa Aya kedalam pelukannya untuk menunggangi kuda bersama dirinya menuju tempat peristirahatan.
"Cari bantuan segera, kita harus mengangkat singa ini masuk kedalam terlebih dahulu." ucap Macron.
"Baik tuan."
Seorang prajurit memacu kudanya dengan cepat untuk menuju gerbang istana dan berlari mencari teman temanya untuk membawa sesuatu benda yang bisa mengangkut singa ketempat peristirahatan Fathur kemudian iapun menunggangi kudanya lagi untuk pergi menjemput tabib Murf mengobati sang singa.
Sementara Macron menunggu dengan sangat gelisah. Walau bagaimanapun ia sangat takut membuat pangeran Fathur murka. Dia masih ingat terakhir kali pangeran Fathur marah. Ia mengamuk kesetanan dan menghajar siapa saja yang menghalanginya. Benda benda yang biasanya tidak bisa diangkat oleh pangeran namun dengan mudahnya terangkat jika beliau sudah marah. Sorot matanya pun akan berubah menjadi bewarna biru yang sangat terang. Sosoknya yang ramah dan baik hati akan menjadi seperti orang lain yang tidak dikenali sama sekali.
Pangeran Fathur sampai ditempat peristirahatannya, pengawal dan pelayan yang melihat langsung bergerak dengan cepat untuk menyambut kedatangannya.
"Ela, bersihkan badannya?"
"Baik pangeran."
"Non Aya...." ucap Ela pelan ditelinganya.
"Ini saya non," ucap Ela menatap wajah Aya. Aya hanya diam menatap Ela lalu menoleh kesamping. Aya sudah kembali sadar di saat ia tepental ketanah. Namun ia masih belum memiliki keinginan untuk bicara. Rasa trauma akibat kehilangan, dendam, benci, dan tidak berdaya berbaur menjadi satu hingga membuat ia kehilangan semangat untuk menatap hari esok.
Ela terus saja mengajak Aya berbicara tentang banyak hal walaupun tidak digubris sama sekali oleh Aya. Dia begitu setia menemani malam yang panjang hingga tanpa sadar Aya tertidur dikarenakan sebuah ramuan minuman yang diberikan oleh Ela.
"Apa dia sudah meminum ramuan itu?" Ela terkejut melihat Pangeran yang baru saja masuk kekamar Aya untuk melihat keadaannya.
"Sudah pangeran." Nona Aya sekarang sudah tidur.
"Hem baguslah." Fathur keluar dari kamar menuju kebawah. Ia melangkahkan kakinya menuju tempat singa istirahat. Dari jauh ia melihat singa berbaring tidak berdaya. Fathur mendekatinya perlahan lahan kemudian duduk disamping sang singa. Singa menatap Fathur dengan tatapan sayunya. Seakan akan mengatakan tubuhnya sangat sakit. Fathur yang melihat kondisi sang singa tak berdaya, merasakan sakit yang sama disaat melihat bekas luka tembus akibat anak panah yang berisi racun. Ia memeluk sang singa dengan penuh kasih sayang. Hatinya merasakan sedih.
"Aku akan memberimu nama Redolf." ucap Fathur sambil membelai sang singa yang sudah diobati oleh tabib Murf. Fayz meletakkan kepala Redolf dipaha miliknya lalu membelai kepalanya seperti layaknya seseorang yang dikasihi. Redolf menikmati sentuhan yang diberikan oleh pangeran Fathur seperti bayi manja dan tertidur dengan pulas akibat belaian sang pangeran.
Fathur mendongakkan kepalanya menatap langit yang sedang cerah.
"Kenapa begitu banyak kejadian aneh disaat aku bertemu dengan gadis malang itu?" Fathur mengingat awal mula pertemuan mereka hingga sampai sang singa terluka akibat anak panah. Fathur memejamkan matanya lalu menarik nafasnya untuk beranjak pergi dari Redolf.
"Jaga dia." Fathur memberi perintah kepada beberapa prajurit lalu mendekati Macron.
"Macron, Besok persiapkan kandang yang nyaman untuk Redolf, beri makanan dan minuman yang disukainya. Perintahkan orang yang ahli untuk menjaga dirinya."
"Redolf? maksud tuan?"
"Singa itu, siapa lagi." ucap Fathur ketus tidak seperti biasanya.
"Baik pangeran." ucap Macron yang sudah mengerti dengan perangai pangerannya. Macron sudah sangat paham dengan pembawaan pangeran Fathur. Jika ia menghadapi masalah yang membuat dirinya merasa tidak aman, maka sikapnya akan menjadi sangat dingin.
"Apa pangeran jatuh cinta sama gadis itu? Kenapa dia merasa begitu bertanggungjawab atas semua yang terjadi dengan wanita gaun merah itu? tidak seperti biasanya. Biasanya ia tidak pernah mempedulikan tentang wanita manapun kecuali mendiang ibunya."
Waktu sudah menunjukkan tengah malam. Macron memasuki kamarnya begitu juga dengan Fathur. Swbwlum memasuki kamar Macron menuju dapur untuk meneguk minuman. Tenggorokannya terasa sangat haus.
"Zeya, sedang apa kamu disitu?" ucap Macron yang melihat Zeya sedang mengintip disebalik tangga.
"Oh tuan Macron, tidak ada apa apa tuan. Saya melihat ada seekor kalajengking disebalik tangga
tapi sudah pergi. saya bermaksud ingin memukulinya. Saya permisi dulu tuan." Zeya dengan cepat meninggali Macron.
Macron menuju tempat Zeya berdiri lalu melihat keatas.
"Hemh, sepertinya kamu ingin menncari tau sesuatu Zeya." Lirih Macron, karena dari posisi Macron berdiri bisa terlihat dengan jelas kamar yang ditempati oleh Aya.
Macron kembali menuju dapur lalu menuangkan minuman didalam gelasnya. Ia duduk lalu meneguk minumannya. Fikirannya teringat dengan tingkah Zeya.
"Ternyata ada begitu banyak mata mata di tempat ini. Pantes saja musuh musuh dengan mudahnya mengetahui rencana dan hal apapun yang terjadi di tempat ini dengan begitu cepat.