SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Selena Mulai Membongkar Kejahatan Ratu



Ratu Alexa berjalan menuju kereta kudanya sambil melewati pangeran Zein.


"Apa yang ingin kamu rencanakan Zein?"


"Tidak ada ibu. Ini demimu. Tenanglah." ucapnya pelan lalu mereka berdua saling menuju keretanya masing masing.


Aya yang sudah lebih dulu masuk kedalam kereta kuda menoleh sekilas kearah ratu Alexa dan melihat pangeran Zein dan ratu Alexa sedang tersenyum sinis kearahnya. Ayapun membuang pandangannya karena jengah melihat prilaku mereka berdua.


"Apalagi yang mereka rencanakan? Jika tidak ada janji dengan Redolf maka aku sudah dari tadi meninggalkan mereka semua." batin Aya sambil mengingat kejadian dirinya dipermalukan oleh pangeran Fathur ditambah lagi dirinya diperlakukan kasar.


Pangeran Zein menoleh sekilas kedalam kereta lalu tersenyum dan menaiki kereta tersebut. Beliau duduk dihadapan Aya.


"Apa kamu tidak keberatan aku disini?"


"Jika aku keberatan apakah kamu akan pindah dari situ?" ucap Aya sinis.


"Hm, benar juga apa yang dirimu katakan!" jawab pangeran Zein santai dan duduk bersandar sambil melipatkan kaki kanannya diatas kaki kirinya kemudian melihat ke luar jendela.


Pangeran Zein dan Aya kemudian sibuk dengan fikirannya masing masing. Aya sedikitpun tidak berniat untuk berbicara kepada pangeran Zein karena dirinya beranggapan pria yang ada dihadapannya sekarang sama piciknya dengan sifat ibunya.


"Kenapa kamu diam? Apa kamu sedang patah hati atas perlakuan pangeran Fathur?" ucap pangeran Zein memecahkan suasana yang sedang hening.


"Aku patah hati? Aku sudah melupakan kejadian malam tadi? lagian kita memang tidak memiliki hubungan apapun."


"Benarkah? Sorot matamu tadi malam berkata lain. Kamu seolah terkejut ditampar oleh Fathur." Pangeran Zein mengucapkan kata kata tersebut dengan santainya sambil memandang langit langit kereta kuda.


"Kenapa kamu begitu penasaran?"


"Aku tidak penasaran. Aku hanya ingin menghiburmu."


"Tidak perlu." ucap Aya ketus.


"Kenapa kamu selalu ketus kepadaku. Bukankah kita tidak pernah berhubungan dan tidak memiliki masalah?"


"Fikir saja sendiri."


"Hm baiklah. Mungkin memang nasibku selalu dianggap tidak ada oleh sekelilingku!" Pangeran Zein mengangkat wajahnya keatas dan menutup matanya.


Wajahnya yang tampan sangat terlihat jelas dihadapan Aya. Selama ini Aya tidak pernah melihat pangeran Zein dari dekat. Jika dilihat pangeran Zein tidak kalah ganteng daripada pangeran Fathur. Kulinya putih bersih dan memiliki postur tubuh yang tegap. Pangeran Zein tidak mirip sedikitpun dengan ratu Alexa.


Hampir dua jam sudah mereka melakkukan perjalanan Aya merasa bosan berada didalam kereta bersama pangeran Zein. Ia melihat pangeran Zein yang sedang nyenyak tidur.


"Jika dilihat dari dekat ia sangat sempurna dan aroma tubuhnya sangat menggoda." batin Aya.


"Kenapa kamu melihatku?" ucap pangeran Zein yang tiba tiba membukakan matanya karena terasa lapar. Aya yang merasa dirinya kedapatan sedang menatap pangeran Zein terkejut dengan pertanyaan pangeran Zein.


"Apa aku terlalu mempesona?" Pangeran Zein menggoda Aya dengan mengedipkan matanya lalu memjukan wajahnya dihadapan Aya.


"Kamu terlalu percaya diri?" ucap Aya menetralkan jantungnya yang sedang berdegup kencang karena pangeran Zein mendekatkan wajahnya dihadapan dirinya.


"Baiklah. Tapi kamu jangan jatuh cinta padaku. Kamu boleh melihat sesukamu. Aku orangnya bebas."


"Kamu sudah gila ya. Aku hanya penasaran kenapa wajahmu tidak ada miripnya dengan ibumu?"


"Memang kamu mengenali ibuku?"


"Dasar gila. Tentu saja aku kenal."


"Siapa?" ucap pangeran Zein santai.


"Sepertinya kepalamu sedang tidak baik baik saja. Kamu harus memeriksanya ke tabib." Ucap Aya emosi menghadapi sosok pria yang ada dihadapannya.


"Ha. ha. ha."


Pangeran Zein tertawa lepas melihat tingkah Aya yang sangat menggemaskan menurut dirinya. Kemudian ia mengambil semangkok anggur lalu melahapnya. Namun disaat pangeran Zein ingin melahap anggur yang terakhir tiba tiba kereta kuda yang sedang ditempatinya berhenti.


Selena yang sudah mengintai dari tadi sengaja menunggu rombongan raja Abraham melewati tempatnya mangkal. Disaat rombongan raja Abraham melewati tempat persembunyiannya iapun sengaja mengganggu perjalanan mereka.


Angin berhembus dengan sangat kencang membuat kuda menjerit dan berhenti sejenak. Jalan yang mereka lalui tertutupi oleh gumpalan asap. Pangeran Zein mengintip dari jendela melihat situasi yang ada diluar.


"Gunakanlah penutup wajahmu kembali dan jangan keluar dari kereta kuda ini!" ucap pangeran Zein menatap Aya dengan tatapan teduh.


"Aku harap kamu akan mengikutiku. Aku berbeda dengan pangeran Fathur. Jika orang melanggar perintahku. Aku akan langsung menghukumnya."


"Kita lihat saja nanti." ucap Aya santai sambil menggunakan penutup wajahnya. Pangeran Zein keluar dari kereta sementara Aya mengintip dari sebalik jendela.


"Selena." batin Aya.


"Ini pasti ulah Selena."


Aya melihat beberapa prajurit sedang melakukan pertarungan dengan beberapa orang wanita yang sangat lihai. Tatapan matanya pun tak sengaja melihat sosok pangeran Fathur yang sedang berhadapan dengan lawannya. Aya menarik nafasnya kembali mengingat kejadian kemaren.


"Begini rasanya sakit hati disaat kita sudah begitu percaya dengan seseorang namun orang itu tidak mau mempercayai dan membela kita?" gumam Aya sambil memegang dadanya yang terasa sakit lalu ia membuang wajahnya mencari sosok pangeran Zein. Ia tidak melihat dimana pria tersebut berada.


Sementara itu Selena yang dari tadi memperhatikan situasi langsung menyelinap masuk kedalam rombongan lalu menuju kereta kuda milik ratu dan raja. Ia memberikan sebuah kertas di pangkuan raja lalu pergi meninggalkan rombongan diikuti oleh anggota yang lainnya. Pangeran Zein yang melihat Selena masuk kedalam kereta kuda raja dan ratu hanya tersenyum sinis lalu kembali ke keretanya.


"Apa kamu baik baik saja?"


"Yeah seperti yang kamu lihat!"


"Hm baguslah."


"Ada kejadian apa diluar?"


"Bukankah kamu mengetahuinya. Kenapa kamu harus bertanya padaku."


"Maksudmu?" ucap Aya merasa aneh dengan ucapan pangeran Zein.


"Tidak ada. Lupakan saja." Pangeran Zein kembali melahap anggur yang terakhirnya dengan santai.


Aya memandang kearah jendela sambil memikirkan ucapan pangeran Zein barusan.


"Apa dia mengetahui sesuatu tentangku? Kenapa dia begitu yakin aku mengetahui kejadian diluar?" batin Aya sambil mengingat ucapan pangeran Zein.


"Sepertinya dia mengetahui tentangku makanya dia menyuruhku untuk menutup wajahku disaat rombongan Selena menghadang." gumam Aya lalu langsung spontan memandang kearah pangeran Zein. Aya menatap pangeran Zein dengan tatapan penuh tanya.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa kamu ingin memakanku?"


"Apa maksud ucapanmu barusan?"


"Tidak ada apa apa. Aku hanya asal saja."


"Tadi kamu menyuruhku memakai penutup wajahku. Kenapa?"


"Bukankah kamu memang dari tadi memakai penutup wajahmu. Disaat berada didalam kereta penutup wajahmu tiba tiba terbuka dan tidak kamu baiki. Aku hanya menyuruhmu untuk memperbaikinya saja." ucap pangeran Zein santai.


"Hm baiklah." Aya menarik nafasnya sementara pangeran Zein tersenyum didalam hati karena melihat wanita polos yang ada dihadapannya.


Sementara itu dikereta raja Abraham. Raja Abraham sedang berdebat hebat dengan ratu Alexa. Semenjak raja Abraham membaca sebuah kertas yang baru didapatinya ia begitu murka kepada ratu Alexa.


"Mengapa kamu tiba tiba begitu marah padaku?"


"Jelaskan padaku. Apa benar kamu yang membunuh Ishna?"


"Kenapa kamu tiba tiba membahas itu? Bukankah itu sudah lama dan kamu sendiri tau siapa pembunuhnya. Kenapa sekarang kamu menuduhku?"


"Oh ya. Benarkah? Lantas apa maksud ini?" Raja Abraham melemparkan sebuah kertas yang ada digenggaman tangannya.


Alexa mengambil kertas yang terjatuh dilantai kereta lalu dengan segera ia langsung membuka dan membacanya.


"Selena." Batin ratu Alexa penuh emosi. Kertas tersebut merupakan sebuah tulisan tangan yang dibuat oleh ratu Alexa disaat hari kematian Ishna. Ratu Alexa mengirimkan sebuah pesan kepada mendiang Ishna. Pesan tersebut berisi permintaan untuk Ishna datang kesebuah taman dibelakang karena raja Abraham menunggunya di sana. Padahal semuanya hanya omong kosong.


"Ini hanya fitnah. Ini pasti ada seseorang yang ingin menghancurkan kita."


"Aku tidak bisa mempercayaimu. Kamu wanita berhati iblis."


"Apa kamu lupa disaat hari kematian Ishna aku sedang bersamamu? Mana mungkin aku membunuhnya." ucap ratu Alexa menangis sesugukan hingga membuat raja Abraham merasa bersalah.


"Baiklah. Maafkan aku. Aku akan mencari tau siapa yang mengirimkan ini."ucap raja Abraham sambil mengambil kertas tersebut dan menyimpannya didalam sebuah tempat.


Alexa mengamati dimana raja Abraham menyimpan kertas tersebut. Ia harus mendapati kertas tersebut sebelum raja Abraham mengetahui bahwa tulisan itu sama dengan tulisan dirinya.