SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Mencari Aya




note : pondok tempat tinggal Aya ** Free image form pinterest


"Pangeran, matahari sebentar lagi akan terbenam."


"Kita tunggu gadis itu sebentar lagi."


"Tapi pangeran kita sudah menunggunya berjam jam, saya rasa dia tidak akan kembali. Apa saya mesti mencarinya?"


"Tidak perlu. Kita akan pergi bersama sama. Bawa prajurit yang bisa dipercaya. Sementara prajurit yang tidak bisa dipercaya suruh mereka untuk kembali jangan sampai mereka curiga.


"Baik pangeran."


Panglima Macron langsung segera memanggil prajurit yang menemani mereka berburu.


"Kalian berdua kembali keistana. Sampaikan sebuah pesan jika ada yang mencari pangeran katakan bahwa beliau akan kembali sebelum tengah malam. Sementara kami yang ada disini semua akan mencari nona Aya yang masih tersesat."


"Baik tuan." Dua orang prajurit tersebut segera memacu kudanya dengan cepat agar mereka sampai sebelum langit berubah warna gelap. Mereka sedikitpun tidak curiga kepada pangeran Fathur.


"Ayo.. kalian berempat ikuti saya dan pangeran mencari nona Aya. Apa yang akan terjadi selama pencarian nona Aya kalian tidak boleh menceritakan kepada siapapun. Tutup mata dan telinga kalian jika masih ingin hidup."


"Baik tuan."


Pangeran Fathur yang sudah ada diatas kuda memberikan isyarat kepada Macron untuk segera bergerak. Macronpun dengan cepat mengambil kudanya dan diikuti oleh prajurit yang menemani mereka.


"Hyaaa.." terdengar suara sahut menyahut hentakan kuda berpacu diatas tanah. Setelah setengah jam berlalu merekapun berhenti di sebuah persimpangan.


Macron dan pangeran Fathur melihat kearah sekeliling untuk menebak arah posisi tempat tinggal Aya. Aya cuma menyebutkan jika ia tinggal tidak jauh dari tempat pemburuan mereka dan tempat tinggalnya terletak dipinggiran sungai.


"Apa kamu mengerti daerah sini Macron?"


"Tidak pangeran." ucap macron lalu menoleh kebelakang.


"Apa ada yang mengerti wilayah ini?"


"Tidak tuan, jawab prajurit yang ada dibelakang mereka.


Akhirnya pangeran Fathur mengikuti kata hatinya dengan memilih belokan sebelah kanan lalu merekapun memacu kudanya dengan cepat kembali agar segera menemui tempat tinggal Aya. Hampir satu jam lamanya mereka menelusuri jalan setapak namun hingga saat ini mereka masih belum melihat aliran sungai. Langit sudah mulai gelap. Mereka hanya berharap penerangan dari bintang dan bulan yang ada dilangit. Sementara suara binatang buas sudah mulai unjuk gigi untuk saling menjawab.


"Bagaimana? Apa kalian menemukan sungai."


"Tidak tuan," ucap prajurit yang baru pulang melihat sekitar area yang menyebar ke setiap titik.


"Apa kita harus kembali ke tempat semula pangeran dan mengambil belokan kiri."


"Baiklah, Ayo kita kembali."


Merekapun berputar arah balik ke tempat semula untuk mengambil belokan kiri. Perjalanan mereka sangat melelahkan. Merekapun memilih beristirahat sebentar untuk meneguk minuman yang mereka bawa.


"Apa kita harus kembali ke istana pangeran, dan mulai melakukan pencarian besok."


"Tidak, kita harus mencarinya sampai ketemu. Firasatku mengatakan buruk. Dilihat dari matanya ia tadi berbicara dengan sungguh sungguh akan kembali. Ayo kita bergerak."


Sang singa yang mengaum mulai menghampiri rombongan. Rombonganpun bergerak mundur secara perlahan. Macron bersiap memasang kuda kuda sebagai pertahanan apabila sang singa mulai menyerang.


Fathur yang masih ada diatas kuda melihat singa hanya berdiri. Ia mulai memberanikan dirinya untuk menghampiri.


"Apakah ia singa yang satu satunya hidup waktu berada dihutan selena kemaren?" gumam Fathur didalam hatinya.


"Tunggu pangeran." Fathur memberi isyarat kepada Macron untuk diam. Ia pun perlahan lahan mendekati sang singa. Namun tiba tiba sang singa mengaum dengan keras hingga membuat Fathur terjatuh karena kaget. Macron dan prajurit yang melihat situasi berniat hendak menyerang namun lagi lagi Fathur memberi isyarat untuk tetap tenang.


Fathur bangun dari atas tanah lalu menghampiri sang singa. Ia membelai singa tersebut. Singa memejamkan matanya selerti seekor kucing yang lagi bermanja dengan tuannya.


Fathurpun tersenyum lalu menatap sang singa. Singa tersebut seolah olah mengatakan sesuatu. dan tanpa Fathur sadari ia seperti mengerti dengan bahasa singa tersebut.


Fathur naik keatas kuda lalu memberi isyarat untuk bergerak. Singapun berlari dengan kencang meloncat kesana dan kemari dan diikuti oleh Fathur serta rombongan lalu sampailah mereka disebuah sungai.


"Pangeran, itu kuda nona Aya."


"Ayo kita kesana."


Prajurit mengikatkan semua kuda tidak jauh dari pondok lalu mereka melakukan gerakan dengan bahasa isyarat. Perlahan lahan mereka mendekati pondok dengan sebilah pedang digenggaman tangan untuk berjaga jaga jika ada bahaya datang. Dua orang prajurit menunggu diluar, sisanya ikut kedalam bersama Macron dan Fathur. Sebuah lampu teplok yang remang remang memberikan cahaya yang cukup untuk melihat keadaan didalam.


Pamgeran Fathur masuk kedalam dan melihat rumah terlihat berantakan didalamnya pertanda sebuah perkelahian telah terjadi didalam pondok tersebut sehingga membuat hati Fathur merasa sangat gelisah.


"Dimana gadis itu? apa yang terjadi dengan dirinya."


"Pangeran dia disini." ucap Macron pelan.


Fathur yang masih diruang makan datang menghampiri Macron yang sedang berada dalam ruangan kecil berbentuk seperti kamar. Dilihatnya seorang gadis lagi bersandar sambil menatap kearah sungai.


"Aya," ucap pangeran Fathur kepada gadis yang mematung. Aya tidak menjawabnya sama sekali. Pandangannya hanya tertuju kearah sungai.


"Aya ini aku, pangeran Fathur." Fathur menggerakkan tubuh Aya agar menghadap dirinya hingga membuat sang pangeran panik melihat bekas darah yang sudah mengering diwajah yang mulus itu.


"Aya.... apa yang terjadi, kenapa kepalamu berdarah?" Aya lagi lagi hanya diam mematung dan memandang dengan tatapan kosong.


"Aya... Aya...." Fathur memanggilnya berkali kali serta menggoncang tubuh gadis yang mematung di hadapannya agar kembali sadar namun tidak ada hasil sama sekali.


"Tuan, sepertinya telah terjadi sesuatu dengan dirinya. Kita bawa dia ke istana saja. Disini tidak aman. Saya sudah mencari ibunya di sekitaran pondok ini namun tidak menemukan apapun. Lebih baik kita cepat pergi dari sini. Disini tidak aman."


"Baiklah."


"Fathur menggendong tubuh Aya ala bridal style lalu membawanya keluar. Singa yang melihat Aya digendong langsung datang menghampiri pangeran Fathur seolah olah memberikan tumpangan keatas badannya.


Fathur yang melihat singa sudah duduk untuk dinaiki tanpa fikir panjang langsung menaiki pundak singa yang sangat besar tersebut.


Macron memberi aba aba kepada kuda jinak kesayangan Fathur untuk kembali. lalu merekapun memacu kudanya dengan secepat mungkin agar sampai dengan segera keistana. Derap langkah kuda dan singa memecah kesunyian malam.


"Siapa dirimu? Kenapa aku selalu menemui dirimu berada dalam bahaya. Kenapa hidupmu begitu sulit?" lirih Fathur didalam hatinya lalu memeluk tubuh Aya dengan kuat. Fathur merasakan tubuhnya sangat nyaman jika berada sedekat ini bersama Aya. Aroma melati tubuh Aya menyebar ke udara. prajurit dan Macronpun ikut menciumi aroma tersebut.


"Wanita ini penuh misteri. Aroma tubuhnya saja membuat orang tau dia bukan gadis biasa," ucap Macron didalam hatinya sementara prajurit yang ada dibelakang mereka hanya diam tanpa ingin memikirkan apapun. Walaupun hati mereka penasaran.