SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Pertemuan Pangeran Fathur dan Putri Liana



Macron dan pangeran Fathur yang dari tadi memperhatikan dan mengikuti Selena hingga sampai akhirnya Selena bertemu dengan ratu Alexa saling bertatapan. Mereka sangat yakin ada sesuatu hal yang sedang bicarakan dan sangat rahasia.


"Pangeran Fath..." panggil putri Liana dengan suara lembut dan merdunya hingga membuat pangeran Fathur dan Macron menoleh kearah suara.


"Maksud anda saya?" Fathur mengernyitkan dahinya.


"Iya anda. Perkenalkan aku putri Liana." ucap Liana sopan sambil membungkukkan badannya dengan sangat elegan.


"Oh, maaf putri Liana. Aku fikir anda siapa. Alasanya ini yang pertama kali seseorang memanggilku dengan sapaan seperti itu."


"Hm... Apakah kamu tidak menyukainya? Aku sengaja memanggilmu seperti itu agar panggilanku berbeda dengan yang lain dan kamu mengingatku." ucap Putri Liana dengan tersenyum manis.


"Oh tidak. Itu hakmu mau memanggilku dengan cara apapun asalkan kamunya nyaman."


"Kalau begitu aku akan memanggilmu pangeran Fath." ucapnya manis.


"Hm, baiklah."


"Ayo kita kesana. Aku menunggumu dari tadi." Putri Liana menunjukkan sebuah meja makan besar yang berada disudut. Disana sudah ada keluarga dirinya dan keluarga putri Liana juga.


"Baiklah." Pangeran Fathur melangkahkan kakinya menuju meja tersebut.


"Tunggu pangeran Fath." Putri Liana mengejar langkah pangeran Fathur kemudian merangkul tangan pangeran untuk menuju meja makan namun ditepis oleh Fathur.


"Maaf putri Liana. Aku tidak merasa nyaman." ucap pangeran Fathur sopan. Putri Liana yang terkejut dirinya ditolak menyunggingkan senyuman kecutnya namun tetap bersifat elegan.


"Hm baiklah pangeran."


Mereka berduapun melangkah menuju meja makan khusus untuk tamu penting. Raja Barock yang tidak sengaja melihat kehadiran pangeran Fathur dan putri Liana tersenyum kearah Fathur yang sedang menghampiri meja.


Fathur membungkukkan badannya memberikan salam kepada ratu Wiena dan juga raja Barock. Sementara Macron yang dari tadi mengikuti langkah mereka menghentikan langkahnya kemudian memberikan sebuah bingkusan kepada pangeran Fathur untuk diserahkan kepada ratu Wiena lalu iapun berdiri agak sedikit menjauh menjaga pangeran Fathur sambil sesekali menoleh kearah Selena.


"Kamu sudah tumbuh besar nak? Wajahmu sangat ruapawan." Raja Barock kagum melihat ketampanan wajah pangeran Fathur.


"Biasa aja paman." Fathur merendahkan dirinya dengan sopan.


"Dulu waktu kita ketemu pangeran Fathur. Dia masih sangat kecil. Sekarang kita bertemu lagi dia sudah tumbuh sebesar ini. Ternyata kita sudah tua sayang." ucap raja Barock kepada istrinya dengan tatapan penuh kasih sayang hingga membuat ratu Alexa merasa cemburu.


"Iya sayang. Dia sangat tampan. Pasti banyak wanita yang menginginkan dirinya menjadi suami mereka.


"Ha.....ha.....ha..... termasuk anak kita." Raja Barock tertawa lepas memandang wajah putri kesayangannya.


"Ach ayah, jangan bilang sperti itu. Akukan malu." Putri Liana merengek manja.


"Tidak apa apa sayang. Itu biasa. Sebentar lagi kalian akan menikah." Ratu Alexa menatap lembut kepada putri Liana dengan maksud tertentu.


"Makasih ratu Alexa."


"Ayo kita makan dulu. Setelah itu baru kita lanjutkan pembicaraan kita. Ayo semuanya. Pangeran Zein juga ayo dimakan yang banyak."


"Terimakasih paman." Pangeran Zein tersenyum hangat sambil sesekali menoleh kearah putri Liana. Putri Liana yang tak sengaja memandang pangeran Zein melemparkan senyumannya kepada pangeran Zein dengan sopan.


Pesta berlangsung sangat meriah. Beberapa orang sedang berdansa. Acara puncak sudah selesai setengah jam yang lalu. Kini hanya tinggal acara dansa dan menikmati makan malam saja yang tinggal. Beberapa tamu penting sudah kembali sejak dari tadi. Sekarang hanya tinggal muda mudi yang sedang menikmati pesta dansa.


"Ngomong ngomong kapan pesta pertunangannya akan berlangsung. Kebetulan mereka sudah saling kenal." ucap raja Abraham memecah keheningan setelah selesai makan.


"Saya terserah mereka berdua saja. Jika memang saling suka kita lanjut. Jika tidak kita tidak perlu melanjutkannya." Raja Barock memandang kearah putri Liana dan pangeran Fathur.


"Pangeran Fathur sudah siap kelihatannya. Putri Lianapun kelihatannya tidak menolak. Ucap ratu Alexa tersenyum. Pangeran Fathur sengaja hanya diam saja terlebih dahulu melihat sampai mana cerita mereka.


"Apa kamu menyukainya nak?" ucap raja Barock.


"Hm, maaf bukan maksud untuk mencampuri urusan tersebut namun karena pangeran Fathur adalah adik saya. Saya sangat mengenali dirinya. Apa tidak sebaiknya mereka saling mengenal terlebih dahulu?" ucap pangeran Zein memotong pembicaraan hingga membuat raja Abraham dan ratu Alexa terkejut.


"Hm, benar juga yang pangeran Zein katakan. Saya setuju. Bagaimana dengan yang lain."


"Hm iya kami setuju." ucap raja Abraham.


"Apa maksud anak ini? Kenapa tiba tiba ia berubah fikiran?" batin ratu Alexa menahan amarahnya.


"Bagaimana adikku? Apa kamu setuju?" ucap pangeran Zein menyunggingkan senyuman liciknya.


"Ya. Itu ide bagus." Fathur membalas senyumannya.


"Baiklah. Jika begitu kami izin pamit dulu."


"Baiklah sahabatku. Nanti agar mereka bisa saling mengenal lebih dekat sesekali pangeran Fathur dan putri Liana akan saya izinkan untuk saling mengunjungi."


"Baiklah Barock. Terimakasih telah mengundang kami. Raja Abraham beserta keluarga yang lainpun kembali ketempat peristirahatan.


Pangeran Fathur pergi bersama Macron lalu menceritakan apa yang telah terjadi di meja makan.


"Benarkah? Saya rasa ada yang direncanakan oleh pangeran Zein. Dia tidak mungkin melakukan hal itu jika tidak ada tujuan!"


"Firasatku juga mengatakan hal yang sama seperti dirimu."


"Iya. Padahal saya jelas sekali mendengar pernikahan tersebut merupakan rencana ratu Alexa?"


"Akupun tidak tau rencananya apa. Yang paling penting aku terhindar dari perjodohan ini untuk sementara waktu. Ayo kita kembali."


Hembusan angin malam yang dingin menerpa kulit pangeran Fathur. Ia memacu Redolf dengan sangat kencang sambil sesekali menghirup aroma malam yang keluar dari tumbuh tumbuhan dan pepohonan. Udaranya sangat segar hingga membuat fikiran menjadi tenang.


Setelah sampai di tempat peristirahatan pangeran Fathur kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian dan membersihkan badannya. Diliriknya jam didinding sudah menunjukkan pukuk 01 dini hari. Iapun memilih untuk mengistirahatkan badannya.


"Apa yang kamu fikirkan Zein? Apa yang akan kamu rencanakan?" batin Fathur didalam hatinya.


Kemudian tidak beberapa lama mata pangeran Fathurpun terlelap. Disaat semua orang mulai terlelap Aya masih terjaga dari tidurnya dikarenakan tadi siang terlalu banyak beristirahat.


Aya mengunci semua pintu dan jendela lalu duduk diatas lantai sambil menyilangkan kakinya. Ia ingin memulihkan tenaga dalamnya dengan ilmu sihirnya. Ia memejamkan matanya lalu mulutnya sibuk berkomat kamit mambaca mantra.


Keadaan didalam kamar Aya berubah menjadi panas. Hawa panas memencar ditiap sudut. Redolf yang nyenyak tidur tiba tiba terbangun dan berjalan menuju didepan kamar Aya kemudian ia duduk didepan pintu Aya. Malam ini Redolf tidak seperti biasanya. Biasanya jika Aya mengeluarkan ilmu sihirrnya Aya akan meraung sangat kuat hingga membuat semua yang ada terbangun. Berbeda kali ini Redolf seolah olah sedang berjaga dan menemani Aya.