
"whoosh..." Sebuah pisau terbang melayang kearah Aya.
Selena menatap Aya dengan senyuman sinisnya sambil melempar pisau yang kedua kalinya ke arah Aya, tepatnya dibagian jantungnya Aya. Aya dengan lihai melakukan sebuah gerakan untuk menghindar agar tubuhnya tidak terhunus oleh pisau dan dengan cepat menangkap pisau yang dilempar oleh Selena.
"Jangan bermain denganku putri Carraya," ucap Selena menatap tubuh Aya seakan ingin mencabik cabik tubuh yang ada dihadapannya dan langsung melahapnya.
Aya mengelus ngelus pisau yang dilempar oleh Selena tadi sambil berjalan melihat suasana sekitar, kemudian Aya tersenyum dengan sinis. Aya menatap Selena kemudian disaat Aya merasa Selena lengah dilemparnya pisau itu kembali kepada sang majikannya. Selena terkejut dan karena gerakannya sedikit lebih lambat dari pisau yang dihunuskan oleh Aya, pisaunya mengenai tutup kepalanya sehingga membuat wajahnya kelihatan dengan sangat jelas.
"Apa yang kamu inginkan dariku putri Carraya?" mata merekapun saling menatap.
"Menjadi seperti dirimu dan memiliki semua yang kamu miliki." jawab Aya sambil mendekati Selena.
"Huaaa hahha haaa haaaa...." tawa Selena kembali menggelegar didalam hutan belantara.
"Putri Carraya, apa jiwa dan ragamu tidak berharga lagi sehingga kamu sanggup mengorbankannya?"
"Mungkin."
"Apakah sebenci itu kamu sama orang yang menghabisi orang tuamu hingga ingin menggadai jiwamu dengan sang iblis?"
Aya hanya diam dan tidak menjawab apapun. Sorot matanya tajam melihat kearah hutan belantara yang gelap. Didalam sorot matanya tercermin rona amarah, kecewa dan kebencian. Sosok Aya yang penuh dengan kasih sayang dan cinta sudah hilang, sekarang hanya tinggal dendam dan kebencian yang sudah menjalar di seluruh kehidupannya.
Selena yang melihat Aya diam mencoba menghampiri Aya.
"Apa kamu yakin?"
"Ya."
"Jiwamu akan terikat dengan sang iblis."
"Aku tidak peduli."
Selena menatap putri Carraya dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Ada rasa kasian dihati Selena, tidak tega rasanya membuat putri cantik nan jelita dihadapannya ini masuk kedalam dunia kegelapan. Dunia yang kejam dan sadis yang akan mengorbankan banyak jiwa dan juga jiwanya sendiri namun melihat Aya yang sudah memiliki keinginan yang kuat, ia tak ingin menolaknya, karena jika bukan Selena yang mengabulkan keinginan Aya pasti Aya akan datang ketempat yang lain dan meminta hal yang sama.
"Baiklah, aku akan membantumu memenuhi segala keinginanmu." jawab Selena.
"Pilihanmu akan membawa kamu akan menjadi sepertiku putri Carraya. Hidup sebatang kara, tanpa ada yang menemani. Tidak ada mencintai dan tidak akan pernah dicintai." Lirih Selena dengan bibir yang bergetar. Jika waktu bisa berulang Selena tidak mau memilih masuk kedalam kegelapan yang dia pilih.
"Aku tidak ingin menunggu lama, bulan depan aku akan melakukan seleksi untuk menjadi pengawal Ratu Alexa". ujar Aya dengan tatapan kosong.
Mendengar nama ratu Alexa disebut, Selena mengenggam jemarinya. Kisah sepuluh tahun yang lalu mulai terbayang dipelupuk matanya. Bagaimana kejamnya dia difitnah oleh Ratu Alexa hingga membuat ia dibuang ke hutan belantara ini.
"Itu tergantung kemampuanmu dalam menerima semuanya." jawab Selena menatap kucing kesayangannya.
"Baiklah aku akan segera pergi, besok aku akan kembali lagi."
Aya berjalan kearah kudanya sambil menutup kepala. Dilepaskan ikatan kudanya yang berada didekat pohon kemudian ia menaiki kuda dan menunggangi kudanya di tengah gelapnya malam.
"tik... tik... tik... " Hujan turun membasahi bumi. Aya yang masih berada di dalam hutan belantara memacu kudanya lebih cepat lagi agar bisa cepat keluar dari hutan belantara. Sekitar setengah jam perjalanan, Ayapun akhirnya kini telah sampai dirumahnya, diikatnya si Elf didekat kandangnya kemudian Aya masuk berlari untuk kedalam rumahnya.
Yoenapun berlari kedapur dan mengambil handuk untuk mengeringkan tubuh Aya. Meskipun Aya sudah tidak memliki apapun lagi tapi Yoena selalu tetap setia memperlakukan Aya seperti seorang putri. Sudah beberapa kali Aya menyuruh Yoena untuk meninggalkannya namun Yoena lebih memilih untuk mengabdi kepada Aya. Yoena tidak mau lancang bertanya dari mana saja tuan putrinya ini.
"Kamu tunggu disini dulu, ibu akan mempersiapkan makan malammu."
"Baiklah ibu."
Yoena kemudian kembali kedapur dan mempersiapkan makanan untuk Aya kemudian disaat makanan sudah tersaji dengan lahapnya Aya makan.
"Ibu tidak makan?"
"Ibu sudah makan. Ibu fikir kamu tidak pulang. Maafkan ibu."
"Jangan katakan itu ibu." Aya kembali melahap makanannya tanpa sisa. Ia sangat lapar sekali karena dari tadi belum makan sedikipun.
"Ibu, terimakasih."
"Iya, istirahatlah kamu dulu agar tubuhmu kembali bugar," ucap Yoena menatap iba dengan gadis yang ada dihadapannya.
"Baik ibu." jawab Aya kemudian berlalu pergi.
Yoena menatap punggung Aya sampai menghilang. Firasat hatinya mengatakan akan ada sesuatu yang buruk terjadi namun ia mengurungkan niatnya untuk memberi tahu kepada Aya.
"Ya tuhan, kenapa nasib tuan putri menjadi begini? buatkanlah dia bahagia, angkatlah penderitaaannya agar dia bisa tersenyum kembali." lirih Yoena didalam hatinya kemudian melanjutkan mengangkat sisa sisa piring kotor bekas Aya makan ke dalam dapur.
Aya masuk kedalam kamar, berjalan menuju tempat ia biasa meletakkan pedangnya. Kemudiaan Aya keluar untuk pergi ke kamar mandi yang ada dibelakang rumah tua yang ditempatinya. Aya membersihkan badannya dan menggantikan bajunya.
Setelah selesai membersihkan diri Aya melangkahkan kakinya menuju kamar. Aya duduk di tepi jendelanya melihat sungai yang ada didepan matanya. Rumah yang ditinggalinya berada ditepi sungai yang jernih dan pemandangan yang sangat indah sehingga membuat orang yang tinggal menjadi betah.
Aya melamun mengingat masa kecilnya yang bahagia, sesekali Aya tertawa namun tidak jarang juga dia menangis mengingat betapa rindunya dia bersama orang tuanya. Satu jam berlalu Ayapun tertidur dalam keadaan duduk.
"Kukuriuuuuuuuukkkkk... kukuriuuuuukkk." Terdengar suara ayam berkokok pertanda hari sudah pagi.
Aya bangun untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya lalu mempersiapkan perlengkapannya untuk masuk kedalam hutan belantara. Tujuannya hari ini untuk mempelajari ilmu sihir.
Aya keluar dari kamar lalu melihat sekeliling, tidak ada tanda tanda Yoena ada didalam rumah.
"Ibu... Ibu..." ucap Aya yang kemudian menuju dapur. Disaat melewati dapur Aya melihat diatas meja makan sarapan pagi sudah tersaji.
Aya menyantap makanannya kemudian setelah selesai Aya keluar melihat ke arah sungai untuk mencari Yoena. Yoena memiliki kebiasaan dipagi hari mengambil kayu bakar dan menangkap ikan namun Aya tidak melihatnya sama sekali. Ayapun akhirnya memilih untuk menuliskan sesuatu diatas kertas untuk ditinggalkan diatas meja.
"Aku pergi dulu ibu. Jangan menungguku. Aku menyanyangimu."
Aya melangkahkan kakinya menuju dimana Elf diikat kemudian melepaskan tali pengikat Elf dan mulai menunggangkan kudanya perlahan lahan. Aya tidak sedang terburu buru disaat ini. Aya lebih memilih untuk menikmati udara pagi hingga sampailah akhirnya Aya dedepan hutan belantara yang merupakan wilayah sang penyihir Selena.
Siapapun yang sudah masuk didalam hutan belantara ini, maka kehadirannya akan diketahui oleh Selena. Sebelum Aya memilih masuk kedalam hutan tersebut, ia menghentikan kudanya sejenak lalu menarik nafasnya dalam dalam untuk meyakinkan keinginannya karena jika dirinya sudah memilih masuk ke hutan belantara milik Selena yang kedua kali maka Aya tidak akan bisa lagi memilih untuk mundur dalam perjanjian yang akan dia sepakati.
bersambungg......ππ