SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Kepicikan Putri Carraya



"Siapakah dia ibu suri," ucap ratu Alexa yang sedang berjalan bersama raja Abraham.


Disaat ibu suri keluar dari tempat peristirahatan pangeran Fathur, ia tidak sengaja bertemu dengan ratu dan raja yang sedang berkeliling melihat pengamanan di istana.


Ratu Alexa melihat kearah Aya, lalu menatapnya dengan tajam sementara Aya yang melihat gelagat aneh sang ratu ditambah lagi dia ingat dengan hukuman cambuk yang diberikan Alexa kepada Fathur. Iapun membalas tatapan Alexa dengan sorotan yang tidak kalah lebih tajam. Alexa terkejut melihat reaksi Aya yang menatapnya dengan lancang.


"Kamu tidak perlu tau semua hal tentangku." ucap ibu suri.


"Benarkah?"


"Sudah Alexa, hentikan. Biarkan ibu suri kembali ketempat peristirahatannya." Raja Abraham mempersilakan ibu suri untuk kembali ketempatnya.


"Rajaku..."


"Sudahlah Alexa. Aku sudah memperingatimu berkali kali, kamu boleh mencampuri segala hal namun tidak dengan orang yang melahirkanku." Raja melangkah pergi melanjutkan tujuannya pertama untuk melihat keamanan sekitar.


"Aibeth,, aku akan menghancurkanmu," ucap Alexa menahan amarah dan gadis itu akan kukeluarkan bola matanya sampai keluar karena sudah beraninya menatapku.


Aya mengikuti langkah kaki ibu suri lalu diam diam menoleh kebelakang dan memperhatikan raja Abraham dan ratu Alexa sedang berdebat hingga bibirnya mengukir senyuman tipis. Tiba tiba terbersit difikirannya rencana untuk balas dendam terhadap keluarga Abraham muncul kembali. Jika membalas dendam dengan kekuatan dia sangat sulit namun dengan cara mengadu domba pasti itu hal yang sangat mudah karena di dalam kerajaan Andromela ini begitu banyak keluarga yang menginginkan kekuasaan.


"Aku tidak akan membuang kesempatan ini, aku tidak boleh pergi dari kerajaan ini hingga semua keluarga hancur dan bertikai sesamanya," ucap Aya didalam hati sambil terseringai licik


"Siapa kamu?" ucap ibu suri kepada Aya setelah sampai ditempat peristirahatan.


"Saya Aya, pengawal pangeran Fathur," Aya menundukkan kepalanya.


"heemh, Apa kamu fikir aku percaya, pangeran Fathur memilih seorang wanita sebagai pengawalnya?" Ibu suri melihat penampilan Aya yang menggunakan gaun merah panjang dan dengan rambut yang tergerai.


"Cih, wanita sepertimu hanya akan dijadikan teman pria diatas ranjang. Cepat katakan jangan membuang waktuku. Siapa kamu?"


"Apa kamu ingin menguji kemampuanku ibu suri."


Tanpa menunggu jawaban dari ibu suri Aya langsung memukul pengawal yang ada disamping ibu suri dengan sekali pukul dan terpelanting ke tembok hingga mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Kamu....." ibu suri tidak melanjutkan ucapannya. Kata katanya tertahan ditenggorokan.


"Pengawal, kurung dia dibawah tanah."


"Baik ibu suri."


Ibu suri melangkahkan kaki menuju kamarnya namun baru beberapa langkah dia mendengar suara pengawal menahan kesakitan dan benda benda terjatuh, ibu suripun menoleh kebelakang dan dilihatnya beberapa pengawal yang selalu menemaninya sudah habis dibantai oleh Aya hingga membuat mereka jatuh ke lantai.


"hemh... " Aya mendengus melihat pengawal yang jatuh lalu menepuk nepuk tangan untuk membersihkannya.


"Ibu suri, anda harus mengganti beberapa pengawal anda agar keselamatan ada terjamin."


Aya melangkahkan kakinya meninggalkan ibu suri yang melongo.


"Kalian semua, tidak bisa diharapkan. Menghadapi satu wanita saja tidak becus." bentak ibu suri sambil meninggalkan pengawal yang terjatuh dan terluka hingga babak belur lalu pergi dengan kecewa.


"Siapa wanita itu, jika dia memang pengawal Fathur baguslah. ilmu bela dirinya cukup untuk melindungi pangeran." lirih ibu suri.


Aya kembali ke tempat peristirahatan Fathur, ia dengan santainya melangkahkan kaki masuk kedalam peristirahatan Fathur. Beberapa pengawal yang melihat Aya kembali hanya melihat dengan penuh kebingungan.


Ada beberapa pengawal yang menghalangi Aya namun Macron memberikan isyarat kepada pengawal agar Aya diperbolehkan masuk. Aya menaiki lantai atas dan suduk disamping taman.


"Kenapa kamu bisa kembali?"


"Aku menghajar semua pengawal ibu suri."


"Kamu... kamu jangan bercanda."


"Tidak, aku tidak bercanda. kamu bisa melihat keadaan mereka babak belur dengan sekali pukulan." Aya menggerakkan tangannya ke udara lalu tersenyum bahagia.


"Kamu akan membuat pangeran dalam masalah. Mereka akan mencari tau siapa dirimu hingga akan makin sulit untuk dirimu keluar dari istana ini nona." Macron memegang kepalanya yang sangat pusing melihat tingkah Aya.


"Tidak bisa."


"Terus kamu ingin aku jadi apa? jadi pelayan? atau bersembunyi lagi sementara ibu suri dan beberapa pelayan dan pengawal sudah tau aku ada disini? atau jadi kekasih dirimu dan pengeran?" ucap Aya menunggu jawaban dari Macron.


Macron menarik nafasnya karena yang dikatakan Aya semua benar. Besok pagi kabar tentang Aya sudah tersebar di istana.


"Ratu Alexa dan raja Abraham juga sudah melihatku." Aya menatap Macron dengan senyuman tipis.


"Apa yang kamu rencanakan gadis gaun merah?"


"Namaku Aya, tuan Macron. Tidak ada yang kurencanakan. bukankah aku ingin keluar dari istana tapi selalu gagal dan kalian sendiri yang memasukkan ku di istana ini. Aku hanya ingin menyelamatkan pangeran dan kamu, tuan Macron."


Macron menatap mata Aya mencari jawaban. Benar juga yang dikatakan gadis ini. Pangeran dan aku sendiri yang membawanya ke istana. Gadis ini juga sudah berkali kali minta keluar namun selalu saja ada halangan. Mungkin ini sudah takdir. Jika mereka masih dalam satu kamar maka akan bertambah runyam jika kepergok yang kedua kali. Besok akan kujelaskan semuanya kepada pangeran.


"Baiklah, aku akan menyuruh pelayan menyiapkan kamarmu. Macron melangkahkan kakinya pergi.


"Tunggu."


"Siapkan juga kebutuhanku yang lain sebagai wanita dan pengawal pangeran. Aku tidak memiliki apapun. Tidak mungkin aku menggunakan gaun ini setiap harinya." ucap Aya tersenyum penuh arti.


Dilain sisi Fathur sudah terbangun diliriknya waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 dini hari. Fathur langsung memegang kepalanya yang sedikit terasa pusing, karena efek dari ramuan yang diminumnya. dia berjalan mengitari ruangan kamar tidurnya mencari Aya, namun tidak menjumpainya.


"Apa dia sudah kabur?" Fathur melangkahkan kakinya menemui Macron.


"Macron dimana?" ucap pangeran Fathur kepada salah satu pelayan.


"Ada dikamarnya pangeran." pelayan membungkukkan badannya.


Fathur berlari kecil menuju kamar Macron. Disaat ia ingin masuk Macron pun sedang ingin beranjak keluar.


"Dimana gadis itu?"


"Ada dikamar bawah pangeran."


"Bugh...Kenapa bisa, menjaga satu orang saja kamu tidak becus. Bagaimana jika Alexa dan raja tahu." Macron menahan sakitnya karena ditinju oleh pangeran.


Macron menceritakan semua kejadiannya dari awal hingga sampai Aya berada di kamar bawah. Tidak ada satupun cerita yang dilewati oleh Macron. Fathur mendengarkannya dengan begitu antusias.


Fathur menarik nafasnya dalam dalam lalu duduk di kursi kamar Macron.


"Bagaimana bisa kamu seceroboh itu? Fathur memaksakan fikirannya untuk berfikir.


"Maaf pangeran, secepatnya saya akan mencari usaha agara nona Aya keluar dari istana ini, agar ia tidak terlibat terlalu jauh."


"Pindahkan dia ke kamar tamu yang ada dilantai atas usahakan ia tetap berada dibawah penjagaanmu agar Aya tidak disakiti oleh musuh kita."


"Baik pangeran."


"Berikan dia fasilitas sebaik dan senyaman mungkin seperti seorang tamu karena aku yang membawa dia ke istana ini hingga ia harus terlibat didalam masalahku.


"Baik pangeran."


"Oh ya,, berikan dia pengawal agar kita mudah membantunya jika ia dicelakai oleh Alexa atau musuh kita yang lain.


"Baik pangeran."


Fathur kembali kekamarnya lalu duduk dimeja kerjanya.


"Maafkan aku Aya, harusnya aku tidak membawamu keistana ini, hingga kamu tidak masuk kedalam perangkap istana ini. Arggggghhh... bodohnya aku." Fathur mengusap wajahnya kasar.


Fathur adalah seorang pria yang menepati janji dan bertanggungjawab. Walaupun Aya dan dirinya tidak mempunyai hubungan apa apa tapi bagi Fathur Aya adalah rakyatnya yang mesti ditepati janjinya.