
Pangeran Fathur terbangun dari tidurnya disaat langit masih dalam suasana gelap sementara para pelayan masih sibuk didapur untuk menyiapkan sarapan pagi buat dirinya.
"Pangeran Fathur sudah bangun," ucap salah satu pelayan.
"Benarkah, sarapan belum siap. bukankah masih pukul setengah 5"
"Ayo, cepat." ucap pelayan yang lain.
"Bagimana ini?" Pelayanpun dengan gesitnya menyiapkan sarapan untuk pangeran Fathur.
Pangeran Fathur berlari menuruni anak tangga dengan tak sabar, beberapa pelayan yang melihat sang pangeran turun langsung berlari untuk memberi tahu kepada temannya didapur hingga membuat pelayan melakukan peperangan didapur untuk menyiapkan menu sarapan. Namun Disaat pelayan sudah bersiap untuk menghidangkan sarapan seadanya dimeja, pangeran Fathur hanya melewati meja makan dan menuju dimana Redolf tidur. Pelayan yang melihat pangeran tidak menuju meja makan langsung menarik nafas dengan sangat lega lalu menuju teman temannya.
"Bagaimana?" ucap temannya.
"Apa pangeran marah? atau dia membanting meja?" ucap teman yang lain penasaran.
"Cepatlah ayo katakan." teriak pelayan yang bertanggungjawab didapur.
"Dia akan menghukum kalian semua katanya."
"Apa?" teriak Sotu.
"Apalagi kamu, dia akan memecatmu diluar!" tunjuk pelayan kepada temannya yang berbadan besar yang memiliki nama Sotu.
"Semua pelayan saling pandang lalu terduduk dengan lemas,"
"Kenapa aku harus dipecat?"
"Karena kamu yang paling banyak menghabiskan makanan yang ada di sini." Sotu terdiam sejenak mengingat dirinya yang selalu sembunyi sembunyi mengambil makanan dan membawanya kekamar. Apalagi jika ada paha dan sayap ayam goreng. Dengan secepatnya dia menghabiskan tanpa sisa tanpa sepengetahuan pangeran Fathur. Tiba tiba tubuhnya ambruk terduduk dilantai.
"Hahahaha.... "
"Kenapa kamu tertawa, kamu mengerjai kami ya."
"Dasar" temannya memukul pantatnya dengan sendok masak didapur.
"hehehe, aku hanya ingin melihat ekspresi kalian. Pangeran tidak berkata apapun. Dia hanya melewati meja makan dan keluar." ucapnya lalu berlari.
"Awas kamu. Akan kugulai kamu untuk makan siang." ucap Sotu mengejar temannya. Namun karena badannya besar dia tidak bisa mengejar tubuh temannya yang kecil. Pelayan yang lain hanya geleng geleng kepala melihat kehebohan didapur.
Sementara dilain sisi pangeran Fathur sudah berada didekat Redolf. "Bagaimana tidurnya?"
"Nyenyak pangeran. Belum terbangun dia dari tadi."
"Oh ya sudah, Nanti satu jam lagi pergantian jadwal jaga. Kalian boleh istirahat dan digantikan dengan yang lain."
"Baik pangeran."
Pangeran Fathur kembali kerumah hingga membuat pelayan kembali terkejut namun lagi lagi ia hanya melewati meja makan saja. Ia menuju tangga yang berlawanan arah dari kamarnya. Dibukanya pintu kamar yang tidak terkunci lalu dilihatnya seorang gadis yang terlelap dalam tidurnya. Fathur duduk di sisi ranjang lalu menatap wajah cantik dihadapannya lalu mulai membelainya.
"Cantik." Fathur menelan salivanya disaat jarinya menelusuri pipi halus milik Aya lalu jarinya meraba bibir kenyal milik Aya.
"Gadis malang" ucap Fathur lirih lalu pergi meninggalkan Aya yang masih terlelap dikarenakan meminum ramuan yang diracik oleh tabib Murf.
Fathur menuju bathup yang airnya sudah diisi oleh beberapa pelayan lelaki, lalu ia masuk kedalamnya. Setelah merasakan cukup Fathur menggunakan pakaian yang sudah disiapkan oleh Macron.
Matahari sudah menunjukkan wajahnya, pangeran Fathur menuruni anak tangga untuk menuju meja makan. Kini pelayan dapur sudah menyiapkan sarapan pagi dengan sempurna.
"Ela, panggil Aya untuk turun."
"Baik pangeran."
Ela menaiki anak tangga satu per satu hingga sampai dikamar Aya. Dilihatnya Aya yang sudah bangun sedang berdiri dan menatap keluar jendela. Aya sedang mencari keberadaan singa yang tertusuk panah tadi malam.
"Selamat pagi nona Aya, pangeran Fathur meminta anda untuk turun kebawah."
Aya hanya melihat Ela tanpa mengucap sepatah katapun dan kemudian membuang wajahnya keluar jendela kembali. Aya masih belum memiliki keinginan untuk berbicara.
"Nona Aya! Apa anda baik baik saja?" Ela kembali bertanya namun lagi lagi tidak ada sepatah katapun keluar dari Aya. Ela kemudian keluar dari kamar Aya untuk turun menemui pangeran.
"Dimana dia?"
"Nona Aya tidak mau bergerak dari kamar pangeran dan diapun tidak ingin menjawab sama sekali.
Setelah rasanya cukup. Pangeran kembali lagi melihat Redolf. Redolf sudah mulai bangun.
"Selamat pagi Redolf." Pangeran Fatur mencium dan membelai sang singa layaknya seorang kekasih. Redolf sudah mulai membaik karena racunnya sudah dikeluarkan oleh tabib Murf tadi malam. Namun dia belum bisa beraktifitas seperti biasanya.
"Pangeran." ucap seorang prajurit.
"Ada apa?"
"Raja ingin menemui anda di tamannya."
"Baiklah." Macron yang sejak tadi sedang sibuk memperhatikan prajurit yang sedang mempersiapkan kandang singa menoleh kearah pangeran.
"Ayo, kita pergi." ucap pangeran Fathur.
"Baik pangeran."
"Jangan lupa jika tabib Murf datang. Perintahkan dia untuk membuat ramuan yang bagus agar Redolf cepat pulih dan kamu cari tahu siapa yang memanah Redolf tadi malam. Segera bawa dia kehadapanku." ucap Macron sebelum pergi bersama pangeran.
"Baik tuan." Macronpun mengejar langkah kaki Macron yang sudah berjalan lebih dulu menuju taman tempat Raja menyeruput teh sebelum melakukan aktivitasnya.
"Selamat pagi raja."
"Pagi, kemarilah duduk disini." ucap raja menunjukkan kursi kosong dihadapannya.
Pangeran Fathur menduduki kursi kosong lalu pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka menuangkah teh kedalam gelas yang ada dihadapan pangeran Fathur.
"Apa kamu baik baik saja."
"Maksudnya?"
"Aku dengar tadi malam kamu terluka akibat kesalahan prajurit. Dia melepaskan anak panah kearahmu."
"Tidak raja. Itu hanya gosip murahan yang menginginkan kematianku." ucap Fathur menyeruput teh. Pangeran fathur sengaja berbohong agar prajurit tersebut tidak dihukum oleh sang raja. Ia sangat tahu bagaimana kejamnya sang raja jika memberikan hukuman kepada prajurit yang melakukan sebuah kesalahan.
"Baguslah kalau begitu."
"Shrup." Raja menikmati minuman teh hijau nya.
"Ada perlu apa raja memanggilku."
"Aku ingin memberitahumu bahwa Ratu Wiena yang merupakan ibu kandung dari putri Liana akan mengadakan pesta ulang tahun satu hari lagi."
"Ooooo..." Ucap pangeran singkat dia sudah tahu jika pembicaraan yang berkaitan dengan putri Liana akan dibawa kearah mana."
"Aku ingin memberitahumu langsung agar kamu datang. Aku tidak ingin kejadian yang sudah sudah terulang lagi. Jangan sampai aku memberikanmu hukuman yang lebih daripada kemaren."
"Baiklah." ucap pangeran berdiri.
"Mau kemana kamu."
"Kembali ketempatku."
"Bukankah teh mu belum habis?"
"Aku sudah kenyang."
"Kembalilah duduk!" perintah raja tegas.
"Bukankah tidak ada lagi yang harus kamu sampaikan." suasana hati pangeran fathur menjadi tidak bagus setelah mendengar nama putri Liana.
Raja menatap tajam kearah pangeran Fathur begitu juga sebaliknya kemudian pangeran Fathur berlalu dari hadapan raja.
"Aku permisi dulu." Pangeran Fathur membungkukkan badannya lalu kembali ke peristirahatan dengan suasana hati yang sangat buruk.
"Kenapa dia selalu memaksakan kehendaknya kepadaku!" Pangeran Fathur menggenggam tangannya begitu erat. Macron hanya diam mengikuti langkah kaki Fathur. Biasanya jika begini pangeran Fathur akan pergi melarikan diri dari istana apapun caranya namun sekarang langkahnya begitu berat dikarenakan ada Redolf yang masih terbaring lemah dan Aya yang masih belum pulih. Tidak tau kenapa keberadaan mereka membuat Fathur tidak ingin melarikan diri.
"Macron, temani aku berkuda di tempat biasa."
"Baik pangeran."