SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Apakah Singa itu Sahabat Ibumu?



Sementara dilain sisi panglima Eben yang sudah terbangun langsung mengamuk dan membanting apa yang ada. Deloy yang berdiri tidak jauh darinya hanya menunggu sebuah giliran.


"Plak..."


"Egh.. " Di sudut bibir Deloy mengalir darah segar.


"Bagaimana bisa kamu seteledor ini. Aku menyuruhmu untuk mencari orang yang gesit dan lincah bukan mereka yang bodoh dan bisa ditangkap. Bugh.... bodoh." Deloy kali ini jatuh terjungkal akibat tendangan yang diberikan oleh panglima Eben. Panglima Eben memang terkenal dengan bengis. Ia tidak menyukai jika sebuah tugas yang diberikan olehnya tidak berhasil dikerjakan.


"KELUAR KAMU ! Pastikan mereka tidak berbicara bahwa aku yang memberi perintah. Jika mereka mengeluarkan suara maka bersiaplah dirimu. Dagingmu akan kuberikan kepada serigala yang kelaparan.


"Baik panglima." Ucap Delo dengan penuh ketakutan. Deloy keluar sambil menggenggam tangannya untuk mencari sebuah informasi dari Zeya.


Ditempat yang berbeda Macron lagi sibuk berkumpul bersama semua pelayan dan prajurit. Dia memilih beberapa pengawal, prajurit dan juga pelayan. Tujuannya adalah untuk menemani pangeran Fathur melakukan perjalanan menuju ketempat putri Liana. Perjalanan akan sedikit panjang. Jarak yang akan ditempuh selama kurang lebih tujuh jam. Orang yang dipilih oleh Macron merupakan orang orang kepercayaan untuk menjaga nyawa sang pangeran. Sementara yang tidak dipilih ditugaskan untuk menjaga penjara bawah tanah dan juga peristirahatan pangeran Fathur.


"Aya, kamu akan ikut bersama kami." Ucap Macron.


"Terserah kamu saja. Aku akan ikut." Prajurit yang mendengar jawaban Aya heran mendengar Aya menjawabnya dengan sangat santai selain itu Macronpun tidak kelihatan marah. Setelah selesai, Merekapun bubar.


"Hei, kalian lihat gak gadis itu bicara dengan tuan Macron?


"Lihat, ada apa?"


"Apa kalian tidak merasa heran dengan sikapnya yang santai. Padahal kalian tau semuakan hampir disini semuanya takut dengan panglima Macron."


"Hem iya ya. Jangan jangan dia kekasih tuan Macron."


"Bisa jadi."


"Ngomong ngomong aku pernah lihat gadis itu memukul panglima Eben?" Ucap salah satu pelayan menimpali ikut menggosip.


"Oh iya benar. Aku ingat. Disaat kita latihan pedang."


"Kok bisa ? Ucap salah satu pelayan kepada prajurit.


"Kamu tidak akan percaya mendengarnya jika tanpa melihatnya. Dari penampilannya ia sangat anggun tapi jika ia betempur. Ia seperti seorang putri yang haus akan darah."


"Jangan jangan dia yang menggantung penyusup itu?"


"Iya benar. Aku setuju. Dia terlihat sangat santai. Dia tidak terkejut sama sekali."


Disaat mereka sibuk menggosip, pangeran Fathur datang bersama Redolf. Pangeran Fathur sedang menungangi Redolf mengajak ia berkeliling.


"Apa yang kalian gosipkan?"


"Tidak ada pangeran."


"Tolong katakan sama pelayan, siapkan keperluan Redolf. Dia akan ikut bersamaku ketempat putri Liana."


"Baik pangeran."


Pangeran Fathurpun turun dari punggung Redolf dan Redolfpun langsung disambut oleh pengasuhnya untuk memberikan dia makan dan bermain.


Disaat Pangeran Fathur kembali ia melihat Aya yang sedang berlatih memanah tidak jauh dari tempatnya. Iapun melangkahkan kakinya pergi menuju dimana Aya berada.


"Hei, kenapa kamu sering kali berlatih?" ucap pangeran Fathur membelah kosentrasi Aya.


"Agar aku bisa membalas dendam kematian orang tuaku dengan segera." Jawab Aya santai tanpa di pahami oleh pangeran Fathur jika yang dimaksud Aya adalah raja Abraham dan dirinya.


"Yang berlalu biarlah berlalu. Kita lihat kedepan saja." Ucap pangeran Fathur sambil mengambil beberapa anak panah lalu melepaskannya dari busur. Aya menoleh sejenak ke wajah pangeran Fathur.


"Kamu belum pernah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan. Makanya mudah mengatakan hal seperti itu.


"Aku ingin masuk dulu mempersiapkan keperluanku untuk melakukan perjalanan."


"Biarkan Ela saja."


"Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat."


"Lain kali saja." Pangeran Fathur sudah lebih dulu menarik tangan Aya untuk mengikutinya. Disaat pangeran sedang melewati beberapa orang pelayan yang sedang mengangkat sayur mayur dan juga bahan mentah lainnya kedapur, mereka tidak sengaja melihat kearah mereka. Pelayanpun pun membelalakkan matanya. Bagaimana tidak terkejut melihat pengeran Fathur yang tidak pernah menyentuh wanita kini sedang bergandengan tangan dengan pengawal bernama Aya.


"Apa aku tidak salah lihat? Pangeran Fathur mengenggam tangan seorang pengawal?" ucap Sotu berhenti mengunyah makanan hingga mengeluarkan ileran dan bola matanya tidak berkedip sedikitpun.


"Oh, pangeranku. Hiks.. hiks Punah sudah mimpiku bersamamu. Aku fikir dia tidak menyukai wanita manapun." ucap dirinya sambil memeluk tiang.


"He he he, jangan terlalu berkhayal tinggi Ndut! Dalam mimpipun kamu tidak akan bisa bersama pangeran. Mimpipun takut menghadirkan dirimu." Ucap temannya sambil ketawa cekikan bersama.


"Kalian... " Ucapnya sembari memukul bokong temannya.


"Aw..." teriak temannya. Sementara Zeya merasa sangat senang melihat pemandangan pagi ini. Ia tidak sabar memberikan laporan kepada panglima Eben.


"Hem, Rupanya pengawal itu adalah kekasih pangeran Fathur. Ini sangat menarik. Seorang pangeran jatuh cinta kepada seorang pengawal. Raja Abraham pun akan murka mendengarnya." Zeya tersenyum dengan sinis.


Pangeran Fathur membawa Aya ke sebuah taman. Mereka menelusuri taman tersebut kemudian menuruni sebuah anak tangga yang cukup banyak. Dan kini Aya sampai didepan sebuah bangunan yang telah tua.


"Bangunan apa ini?"


"Ini adalah tempat rahasia mendiang ibuku." Ucap pangeran Fathur.


"Ayo kemari." pangeran Fathur memasuki ruangan nya melalu celah celah batu dan diikuti oleh Aya.


"Ibuku meninggalkanku disaat aku berumur 10 tahun. Aku sendiri tidak melihat mayat ibuku dan tidak pernah tahu kematian ibuku hingga saat ini."


Aya berjalan sekeliling dan melihat banyak lukisan. Hampir tiap sudut ada lukisan yang menggambarkan seorang gadis cantik. Lukisannya seperti hidup dan wajahnya terlihat kesepian. Aya berhenti disalah satu lukisan. Lukisan tersebut menggambarkan seorang gadis cantik sedang berjalan bersama seekor singa.


"Lukisan siapa ini?"


"Ooooh ini, wanita ini adalah ibuku dan singa ini adalah sahabat ibuku yang selalu menemaninya sejak kecil. Setelah ibuku menikah dengan ayahku singa inipun tetap setia menemani ibuku.


"Dimana dia sekarang?"


"Kenapa kamu tertarik sekali dengan singa ini."


"Tidak ada. Aku hanya bertanya saja.


"Dia pergi setelah ibuku tidak ada. Tidak ada yang tau dimana dirinya mungkin sekarang dia sudah mati."


"Apa mungkin Redolf itu adalah sahabat ibumu?"


"Ha ha ha... Kamu menghayal terlalu tinggi Aya.


"Ayo kita kesana." Fathur berjalan lebih dulu menuju lantai atas. Sementara Aya berjalan perlahan lahan sambil melihat suasana sekeliling. Dia merasakan ada sebuah kekuatan dibangunan tersebut. Semua yang ada terasa sangat hidup. Setelah sampai diatas Aya disuguhkan oleh sebuah patung singa besar yang sedang melotot.


"Apakah Redolf adalah singa yang sama dengan singa yang dimiliki ibunya?" Aya menatap patung singa tersebut tepat di bola matanya namun tiba tiba Aya mundur. Ia merasakan singa itu seakan hidup.


"Aya kemari." ucap pangeran yang sudah sampai dilantai atas.


"Ya, sabar." Dilantai atas Aya kembali disuguhi bermacam macam lukisan. Setiap ada lukisan yang membuat ia tertarik ia selalu berhenti. Kali ini ia berhenti di sebuah lukisan besar namun lukisan tersebut mulai pudar. Ia menghapus jaring laba laba yang ada dilukisan terssebut.


"Selena... Alexa... "lirih Aya pelan melihat gambar tersebut. Lukisan tersebut melukiskan tiga orang wanita yang sedang berada disebuah hutan gelap namun diterangi oleh kupu kupu yang bewarna. ditengah foto tersebut melukiskan mendiang ibu pangeran yang sedang menunggangi singa sementara di sisi kiri dan kanan nya ada Alexa dan Selena duduk diatas pohon.


"Aya..."


"Iya... " Aya berjalan dengan cepat menuju pangeran Fathur.


"Ini kamarku waktu kecil." Ucap Fathur dan menujuk beberapa lukisan dirinya di waktu kecil. ada dirinya bersama ibunya, dirinya bersama seekor singa dan juga dirinya bersama teman teman.


"Dimana lukisan ayahmu?"


"Hem, mungkin ada di ruangan lain. Aku tidak pernah memasuki ruangan lain. Tempa ini terlalu besar jika aku mengelilinginya. Waktuku akan habis. Aku kesini jika aku rindu dan pulang setelah mengunjungi ruang bermainku.


"Aya, ayo kita kembali. Kita belum makan siang sekaligus kita harus istirahat. Nanti malam kita akan melakukan perjalanan yang sangat panjang.


"Hem baiklah" Aya keluar dari ruangan tersebut kemudian melihat sebuah kamar tidak jauh dari sudut sana.


"Itu ruangan apa?"


"Oh, itu ruangan khusus."


"Ayo. kita buru buru. lain kali aku akan membawamu kesini. Sepertinya kamu tertarik dengan bangunan tua ini." Ucap pangeran Fathur tersenyum tipis.


"Tentu saja aku tertarik. Bangunan ini bukan bangunannya saja rahasia tapi isi dalamnya juga penuh dengan rahasia. Jika aku tidak kesini aku tidak tahu Selena, Alexa dan ibumu adalah tiga orang sahabat yang saling kenal." Gumam Aya.