
Derap langkah kuda memasuki gerbang istana. pangeran Fathur memberi perintah kepada pengawalnya masuk ke istana terlebih dahulu untuk melihat keadaan didalam. Setelah Macron memberikan aba aba aman, pangeran Fathur masuk kedalam kamarnya melalui jalan pintas bawah tanah yang hanya diketahui oleh dirinya dan Macron.
Akhirnya setelah lima belas menit berjalan, Fathur membukakan sebuah pintu rahasia yang menghubungi kamar dan ruang bawah tanah. Fathur melangkahkan kakinya menuju ranjang king size miliknya, lalu perlahan lahan diturunkannya putri Carraya ke atas ranjang.
Pangeran Fathur bingung bagaimana mau menggantikan pakaian putri Aya yang sudah basah semuanya, jika dipanggilkan pelayan wanita untuk menggantikannya, takutnya masalah akan menjadi besar. akhirnya Fathurpun memutuskan untuk membiarkan Aya tertidur dalam keadaan basah. lalu dia melangkahkan kaki meninggalkan Aya dipembaringan untuk membersihkan diri dan menggantikan pakaiannya.
pangera Fathur keluar dari kamar mandi. Kini dia sudah kembali segar dan menggunakan pakaian yang lebih bersih. Dia melangkahkan kakinya menuju kursi goyang kebesarannya sambil mengobati luka luka disekujur tubuhnya yang penuh dengan sayatan dan lebam bewarna biru.
"Tidak, tidak, jangan bunuh ibuku! jangan, jangan..."
teriak Aya.
Aya yang ada di atas pembaringan menjerit jerit histeria sambil sekali kali menangis sesugukan kemudian dia tertidur lagi. pangeran Fathur yang mendengar dan memperhatikan tingkah Aya yang aneh dari kursi goyang melangkahkan kakinya menuju ranjang king siza miliknya yang ditempati oleh Aya. Ditatapnya wajah Aya dengan jarak sangat dekat sambil melihat seluruh bentuk wajahnya kemudian mata Fathur berhenti di satu titik. Ditatapnya bibir yang ranum dan sangat menggoda itu lalu perlahan lahan ibu jarinya megikuti bentuk bibir Putri Carraya, dia meneguk saliva dan menggigit bibirnya untuk menahan keinginannya segera melahap habis bibir gadis yang ada dihadapannya. Fathur segera menjauhkan ibu jarinya disaat ia mendengar suara erangan kesakitan dari sebalik bibir yang ranum itu.
"Apakah dia sakit?" gumam Fathur dalam hati sambil meletakkan tangannya diatas dahi Aya.
"Panasnya tinggi sekali, apa karena pakaian yang basah?"
Fathur bingung apa yang harus dilakukannya. selama ini Fathur lebih terbiasa dilayani. Lalu diapun meninggalkan Aya dan melangkah kan kakinya ke pintu kamar. Dibukanya pintu kamar lalu menutupnya kembali dengan sangat rapat sambil memanggil pengawal istana yang sedang berdiri menjaga keamanan sekitar.
"Pengawal, panggil Macron. Perintahkan dia menghadap padaku sekarang?" titah pangeran.
" Baik pangeran" ucap pelayan seraya membungkukkan badannya lalu segera beranjak pergi.
Fathur kembali masuk untuk menunggu kedatangan Macron, ia menghampri Aya dan menatapnya sambil membelai wajah Aya.
"Gadis yang malang, kamu tak seharusnya berurusan dengan penyihir. Mereka adalah iblis yang memiliki topeng berwajah manusia." lirih Fathur pelan sambil menatap iba kearah Aya.
"tok.... tok....tok....!" Fathur melangkahkan kakinya menuju pintu kamar untuk membukanya. Macron sudah ada berdiri dihadapannya. Fathur memberikan isyarat untuk segera masuk.
"Gadis itu sakit, panasnya sangat tinggi? Apa kita harus panggil seorang tabib?"
Macron dan Pangeran melangkahkan kakinya menuju pembaringan, Macron yang melihat Aya sedang tidur dalam keadaan masih menggunakan pakaian yang sama, menoleh kearah pangeran.
"Demamnya karena dia tidur dalam keadaan pakaian basah Pangeran, jika kita panggil tabib takutnya Raja dan Ratu akan tau anda membawa seorang gadis yang tak dikenal. Raja dan Ratu akan membawa gadis ini pergi lalu menyiksanya.
"Ya sudah kalau gitu ayo kita ganti pakaiannya?"
"Kita? Maksud tuan kita menelanjanginya bersama sama?" ucap Macron seakan akan tidak perrcaya atas yang diucapkan oleh pangeran Fathur barusan.
"Bukan, maksudku...." kata katanya menggantung diudara.
Pangeran fathur terkejut dengan pernyataan Macron yang terlalu vulgar sehingga membuat wajahnya memerah membayangi mereka berdua membuka pakaian gadis yang tidak dikenal. Jangankan untuk menyentuh wanita, mereka berdua saja selama ini tidak pernah dekat dengan gadis. Waktu mereka habis untuk mengembara namun sekarang mereka harus membuka pakaian seorang wanita.
"Tidak, kamu saja!" ucap Pangeran Fathur kembali.
"Saya!" ucap Macron tak percaya.
Macron kaget, seakan tidak percaya dengan ucapan sang Pangeran Fathur namun dikarenakan itu adalah sebuah perintah maka Macron tidak bisa menolak. Dengan berat hati Macron melangkahkan kakinya mendekati Aya. Dia merapikan rambut Aya dengan tangan gemetaran lalu turun ke bagian bawah leher Aya untuk membuka kancing. Macron kini seperti mayat hidup, wajahnya pucat pasi, dadanya bedetak dengan cepat seakan akan ia akan menghadapi kematian, tubuhnya bergemetar membuka kancing tersebut. Saking gemetarnya kancing bajupun tidak terbuka sama sekali. Macron lebih fokus mengelap keringatnya yang terus menetes dari kepalanya.
Pangeran Fathur yang melihat tidak sabar menunggu selesai.
"Berhenti, keluar sana. Bertahun tahunpun tidak akan selesai jika begitu cara kamu mengganti pakaiannya." ucap Pangeran mendengus kesal.
Macron yang mendengar perintah Pangeran langsung dengan cepat bergerak meninggalkan kamar Pangeran sebelum Pangeran berubah fikiran.
Kini tinggallah Pangeran Fathur dan Putri Carraya. Pangeran naik diatas ranjang kemudian dengan tangan yang bergemetaran membuka satu per satu kancing baju Aya. Sesekali Fathur meneguk salivanya walaupun tubuh Aya belum sepenuhnya terbuka namun lekukan tubuh Putri Carraya terbentuk dengan sempurna di gaun yang basah. Dadanya yang membusung kedepan serta tubuh yang padat dengan pinggang yang ramping terpampang dengan sangat sempurna. Fikiran pangeran melalang buana layaknya pria normal lainnya.
Kancing baju Aya sudah terbuka semua. Kini tinggal membuka bajunya. Disaat pangeran Fathur ingin menggerakkan tangannya mencopot baju yang digunakan Aya, tiba tiba sebuah tangan bergerak meraih tangan pangeran Fathur. Aya sudah terbangun dari tidurnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Aya.
"Kamu ingin memperkosaku?" teriak Aya dengan tatapan penuh dengan api amarah.
"Tidak, saya hanya ingin membuka bajumu. Pakaianmu basah, kamu sakit!" jelas pangeran Fathur terburu buru sambil mengacak rambutnya yang basah untuk menghilangkan rasa terkejutnya.
Aya yang mendengarpun langsung ikut turun dari ranjang. Tanpa Aya sadari seluruh kancing yang ada di Gaun merah miliknya sudah terbuka tanpa sisa hingga membuat gaunnya terlepas begitu saja ke lantai. Kini tubuh bagian depan Aya terexspose dengan jelas. Fathur yang ada dihadapan Aya tercengang tidak percaya melihat gunung kembar yang hanya tertutup selembar kain transparan berwarna merah dan bagian milik Aya yang tertutup dengan kain yang sama dengan penutup gunung kembar miliknya. Kulit putih bersih dan lekukan tubuh yang begitu sempurna bak body gitar spanyol terpampang jelas didepan mata Fathur sehingga membuat sang junior ikut terbangun dari alamnya. pangeran Fathur menelan salivanya.
Putri Carraya masih belum menyadari apa yang terjadi dengan tubuhnya, ia ingin pergi meninggalkan kamar Fathur namun sebelum ia melangkah pergi, pangeran Fathur sudah terlebih dahulu memeluk Aya lalu menggulungkan tubuh Aya dengan selimut.
"Lepaskan, Apa yang kamu lakukan?" ucap Aya. Aya sudah kehabisan tenaga disaat melawan Selena sehingga tidak bisa untuk menggunakan kekuatannya melawan Fathur. Disaat ini ia sama dengan wanita biasa lainnya.
"Apa kamu ingin keluar tanpa menggunakan busana lalu memperlihatkan tubuhmu didalam istana? ganti pakaianmu dan gunakan pakaian diatas ranjang itu." perintah pangeran Fathur menunjukkan bajunya lalu meninggalkan Aya menuju ruangan kerjanya.
"Maksudmu?" teriak Aya.
Sepeninggal pangeran Fathur, Aya yang seperti tersambar petir mendengar perkataan Fathur melihat sekeliling kamar yang penuh dengan perabotan berbalut emas. Ada gelas emas disudut dan ranjang yang ditidurinyapun terbuat dari emas.
"Istana? Tanpa busana? Maksudnya? Aya menoleh kekiri dan ke kanan. Dilihatnya ada kamar mandi tidak jauh dari dirinya kemudian ia masuk kedalam kamar mandi. Mata Aya takjub melihat kamar mandinya.
"Ini sangat indah. Apa aku kembali ke kerajaanku? apa aku sudah mati dan kembali ke kerajaanku di surga atau aku masih hidup dan hanya bermimpi." gumam Aya.
Di sebuah sudut ada sebuah cermin lalu Aya menatap dirinya di cermin, dilihat sekujur wajahnya penuh dengan tanda lebam, lalu dibukanya selimut yang menggukung tubuhnya.
"Aaaaaaaaaa... " kenapa kancingku terbuka semuanya? Dasar cabul. laki brengsek. Apa yang dilakukannya dengan tubuhku." Maki Aya.
Kemudia Aya teringat dengan ucapan Fathur dan tingkah Fathur menggulungi dirinya dengan selimut. Aya menggenggam jari jemarinya ingin mencabik cabik tubuh Fathur.
Aya membersihkan dirinya kemudian mengganti pakaiannya, pakaian itu longgar di badannya walaupun badannya padat, karena tubuh Fathur jauh lebih besar dari dirinya. Aya hanya menggunakan kemeja Fathur tanpa pakaian dalam, sehingga membuat bagian tubuhnya yang menonjol kelihatan dari balik kancing kemeja dan lekuk tubuhnya terlihat dengan jelas karena kemeja yang digunakannya terbuat dari bahan sutra. Aya melihat dirinya didepan cermin. Dilihatnya tubuhnya yang sangat sexy iapun menggulung selimut di atas tubuhnya. Jika iabtidak menggunakan selimut tubuhnya sangat jelas terlihat seperti wanita malam yang sedang menggoda.
Aya menoleh sekitar mencari keberadaan Fathur, beberapa menit ia berputar dilihatnya Fathur ada dalam sebuah ruangan tidak jauh dari kamar. Iapun masuk dengan penuh amarah.
"Jelaskan padaku apa yang terjadi?" ucap Aya.
Fathur melirik kearah Aya sambil mengernyitkan dahinya melihat selimut yang membungkus Aya. lalu ia kembali menatap berkas berkas yang ada dihadapannya.
"Istirhat lah dulu, jangan keluar dari dalam kamar ini jika kamu tidak mau di tangkap oleh Raja dan Ratu, aku lagi banyak kerjaan." Ucap pangeran Fathur untuk menghindari pertanyaan dari Aya.
"Brak..." Aya menendang meja kerja dihadapannya", Apa yang kamu lakukan sehingga tubuhku bisa terbuka?" teriak Aya emosi.
Fathur yang melihat ekspresi Aya, langsung menarik Aya,
"Bukankah sudah kujelaskan. Kamu sakit. Aku hanya ingin menolongmu mengganti pakaian agar panasmu tidak semakin tinggi. Harusnya kamu bilang terimakasih." Ucap pangeran Fathur kemudian meninggalkan Aya.
Aya yang melihat pangeran Fathur ingin melangkahkan kakinya langsung menendang tubuhnya. Dengan gesitnya Fathur menghindar lalu menatap tajam kearah Aya. Fathur sangat ahli dalam berperang apalagi jika hanya menghadapi Aya. Aya akan kalah telak kecuali jika berhadapan dengan ilmu sihir ia tidak memiliki keahlian sama sekali.
Fathur dan Aya saling bertatapan layaknya musuh yang sudah lama tidak bertemu dan ingin saling membunuh. Kemudian terjadilah saling serang menyerang. Tidak sampai 5 menit, Aya sudah kewalahan menghadap Fathur. Apalagi Aya masih dalam keadaan bergulung dengan selimut. Tiba tiba dari arah berlawanan Fathur datang menyerang Aya untuk menendang tubuh Aya. Aya yang melihat langsung bergerak dengan gesit untuk menghidari tendangan dari Fathur yang mematikan hingga membuat selimutnya jatuh kelantai di posisi dia pertama. Fathur yang melihat tubuh Aya langsung berhenti melakukan serangan dan memilih untuk pergi.
Namun dari belakang Aya menendang tubuh Fathur hingga membuat Fathut terpelanting ke dinding dan membuat bibirnya berdarah. Fathur yang melihat ada darah dibibirnya langsung balik menyerang Aya hingga akhirnya Aya jatuh keatas lantai.
Posisi Aya sekarang ada dibawah tubuh pangeran Fathur. Fathur mengukung tubuh Aya dari atas. pakaian Aya sudah berantakan akibat pertempuran mereka.Fathur menatap ke Arah Aya. Mereka berdua saling mengambil nafas, tetesan keringat Fathur menetes ketubuh Aya hingga membuat Aya harus memalingkan wajahnya kesebelah kanan.
Fathur melihat pemandangan indah didepan matanya. Nafasnya yang tersengal sengal akibat pertempuran dengan Aya, kini makin bertambah sulit untuk bernafas. pangeran Fathur berusaha mengambil oksigen. Detak jantungnya bergerak dengan cepat. Dilihatnya bagian atas Aya menonjol sempurna membuat si buah cerri berbentuk sempurna dari balik kain sutra. Beberapa bagian kancing kemeja sudah terbuka memperlihatkan belahan dada Aya dengan samar samar, leher jenjang Aya terlihat begitu menggoda untuk dicicipi.
"Lepaskan." teriak Aya sambil menatap sebelah kanan karena ia tidak mau memperlihatkan wajahnya yang seperti kepiting rebus menahan malu. ia ingat jika ia tidak menggunakan apapun dibagian dalamnya. Aya meronta ronta di bagian bawah tubuh Fathur.
"Bukankah kamu yang menyerangku terlebih dahulu." pangera Fathur fokus melihat bagian tubuh Aya, walaupun hanya samar samar namun kain sutra halus yang menempel tubuh Aya membuat ia semakin bernafsu.
"Lepaskan."
"Tidak akan." Fathur tersenyum tipis dan mendekatkan bibirnya di ceruk leher Aya hingga membuat Aya sedikit bergidik.