SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Tertawa Bahagia



"Robert..."


"Ya, tuan."


"Apa aku terlalu keras dalam mendidiknya hingga ia membenciku?" ucap raja Abraham menatap sayu punggung pangeran Fathur hingga menghilang. Robert sang pendamping setia raja hanya bisa diam mendengar pertanyaan dari orang yang amat diseganinya.


"Kenapa kamu diam Robert? Apakah diammu petanda benar. Aku hanya ingin dia menjadi pewarisku tidak lebih dari itu. Bagaimana ia akan melanjutkan kerajaan ini jika dia tidak bisa melihat sebuah kesempatan dan peluang. Jika ia bersama putri Liana, ia akan memiliki kekuasaan yang sangat besar. Dua kerajaan besar akan bersatu. Musuh musuh akan gentar untuk menghadapinya.


"Tidak tuan, tiap orang tua punya cara berbeda dalam mendidik. Suatu hari pangeran Fathur akan mengerti dengan sikap anda.


"Benarkah? tapi kapan? Apa disaat aku sudah tiada? Kenapa begitu sulitnya untuk diriku bersenda gurau dengannya ataupun bisa makan siang bersama?" ucap raja Abraham dengan sorot mata kesepian. Robert lagi lagi tidak bisa menjawab pertanyaan dari raja Abraham.


"Tinggalkan aku sendiri Robert."


"Baiklah tuan." Robert memberi isyarat kepada pelayan dan prajurit untuk keluar dari taman. Sepeninggalan mereka semua, raja Abraham berjalan ditaman mengenang masa masa indahnya bersama pangeran Fathur dan mendiang istrinya Ishnaya.


"Ishna, kenapa kamu begitu cepat meninggalkanku? Anak kita Fathur sekarang sudah tumbuh besar. Ia tumbuh menjadi seorang pangeran yang gagah seperti diriku." ucapnya senyum lalu tanpa disadari mata raja Abraham berkaca kaca mengingat apa yang telah terjadi dimasa lalu.


Sementara dilain sisi pangeran Fathur sedang menunggangi kudanya dengan penuh amarah.


"Kenapa dia menganggapku seperti barang tidak beharga. Ia selalu saja mengendalikanku seperti robot yang tidak memiliki perasaan. Aku jenuh dan bosan." gumamnya didalam hati.


"Hyaaa." pangeran Fathur memacu kudanya dengan cepat melewati sebuah jalan setapak yang terjal menuju ke tebing yang yang menhadap laut.


"Macron, kita istirahat disini saja."


"Baik pangeran."


Pangeran Fathur turun dari kudanya dan turun kebawah melewati batu batu terjal agar bisa menyentuh pasir putih yang ada dibawah. Fikirannya sedikit terhibur setelah melihat hamparan pasir putih yang ada didepan mata. Setelah menempuh jalan yang panjang dan mendapati pemandangan yang indah, suasana hatinya sudah kembali sedikit membaik.


"Macron."


"Ya pangeran."


"Bagaimana jika kita mencari sesuatu yang bisa kita makan?" perutku terasa lapar."


"Biar saya saja pangeran."


"Tidak, kita cari bersama."


Mereka berduapun sibuk mencari kepiting atau kerang untuk di santap. Sesekali mereka tertawa bersama karena terjatuh megejar kepiting yang melarikan diri.


"ha ha ha, sepertinya sudah cukup pangeran," ucap Macron yang melihat pangeran Fathur terpeleset.


"Baiklah, saya akan membersihkan diri dulu."


"Baik pangeran, saya akan menunggu anda di atas tebing."


Pangeran Fathur membuka bajunya dan membiarkan celananya untuk tetap dipakai. Iapun berjalan melewati ombak dan masuk kedalam pantai untuk berenang. Setelah rasanya puas ia naik keatas dengan tubuh yang masih basah menuju ke atas tebing dimana Macron berada.


"Ayo pangeran dinikmati dulu."


"Baiklah." pangeran Fathur melahap habis bagiannya begitu juga dengan Macron. Setelah selesai melahap makanan mereka bercerita tentang banyak hal tak terasa langitpun sudah berubah warna sebagai petanda sebentar lagi akan malam.



"Pangeran, Sebaiknya kita kembali. Sebentar lagi akan malam."


"Baiklah."


Hampir satu jam melakukan perjalanan akhirnya mereka sampai ditempat peristirahatan. Pangeran Fathur disambut oleh pelayan. Tanpa banyak bicara ia langsung turun dari kudanya dan melesat secepat kilat mencari keberadaan Redolf.


"Dimana Redolf, apa yang terjadi padanya?" teriak pangeran Fathur kepada beberapa prajurit yang ada didekatnya. Ia begitu marah kepada beberapa pengawal yang ada. Dia menarik kerah pakaian dibagian leher prajurit yang tidak jauh didekatnya dan menatapnya dengan tajam.


"Siapa yang membawanya?" bentak pangeran Fathur.


"Di, di, dia ...." prajurit tidak melanjutkan ucapannya. Kata kata yang dirangkainya menggantung begitu saja diudara. Prajurit tersebut terkejut melihat mata sang pangeran yang tiba tiba berubah menjadi bewarna biru terang.


"Pangeran, Singa tersebut berada di kandangnya." ucap salah satu temannya. pangeran Fathur melepaskan kerah pakaian pengawal yang ditariknya lalu membaikinya dengan keadaan semula. Macron yang ada dibelakangnya hanya geleng geleng kepala melihat reaksi pangeran Fathur.


"Heh, hampir saja parajurit tersebut dibanting." fikir Macron.


"Dimana kandangnya?" ucapnya pelan.


"Ayo pangeran saya antar." Pengawal tersebut mengantar Fathur menuju Redolf. Dari jauh pangeran Fathur melihat Redolf sedang bermain dengan pengasuh barunya bernama Qero. Qero adalah orang yang ahli dalam hal mengurus singa.


Redolf yang melihat kedatangan pangeran Fathur langsung berlari menghampiri sang majikannya. Redolf memeluk Fathur hingga membuat sang pangeran terjatuh ketanah.


"Ha ha ha... Apa kamu merindukanku Redolf? Fathur membelai kepala Redolf lalu berguling ditanah bersama Redolf. Semua yang melihat terkejut melihat ekspresi pangeran Fathur yang tidak biasa.


"Pangeran Fathur tertawa tuan." ucap prajurit ke Macron. Macron tidak menjawab ucapan prajurit tersebut namun bibirnya melukiskan sebuah senyuman tipis. Semua prajurit serta pelayan yang menyayangi pangeran Fathur bahagia melihat tuan mereka bahagia berbeda hal dengan Zeya yang sedang mengintip dari sebalik jendela.


"Aku akan melaporkan kepada tuan Macron tentang singa tersebut." ucap Zeya pelan lalu meninggalkan mereka semua.


Setelah rasanya puas bermain dengan Redolf pangeran Fathur masuk kedalam peristirahatannya dan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


"Hemh, Hari yang luar biasa." Fathur tersenyum melihat langit langit kamar kemudian memejamkan matanya mengingat Redolf sudah membaik.


"Mengapa secepat itu dia sehat biasanya jika singa yang lain butuh waktu seminggu."


"Apa aku salah lihat, kalau ga salah luka bekas panah tadi malam sedikitpun tidak membekas. Ach, sudahlah itu mungkin hanya persaanku." Fathur beranjak menuju bathup untuk membersihkan diri.


Setelah berganti pakaia Fathur menuruni anak tangga untuk menyantap hidangan makan malam seperti biasanya.


"Ela, dimana nona Aya."


"Diatas pangeran."


"Apa dia sudah makan malam."


"Belum pangeran. Nona Aya dari tadi pagi belum makan sama sekali."


"Kenapa kamu membiarkannya?" ucap pangeran Fathur marah.


"Saya sudah membujuknya pangeran namun dia tidak mau berbicara sama sekali. Dia hanya diam menatap kearah jendela." ucap Aya penuh ketakutan.


"Brak... " bunyi meja dipukul oleh pangeran Fathur lalu ia pergi meninggalkan meja makan menuju lantai atas dimana Aya berada.


"Aya..." ucap pangeran Fathur lembut. Aya hanya diam diatas kasur dan tidak menggubris sama sekali.


"Nona Aya, Apa anda ingin begini terus." Fathur melangkahkan kakinya dan duduk disisi ranjang untuk berada tidak jauh dari Aya.


"Aya, saya sedang bicara kepada kamu." pangeran Fathur menarik tubuh Aya agar melihat dirinya. Fathur melihat kedalam bola mata Aya untuk mengetahui apakah dia sudah sadar atau belum.


"Aya, kamu tidak bisa membohongi saya seperti yang lain. Saya tau kamu sudah kembali sadar sepenuhnya. Dari sorot matamu saja sudah terlihat jika kamu sekarang sudah kembali." ucap Fathur kesal.


Hallo readers tercinta... jangan lupa subs n votenya... maaf up nya telat. Aku lagi dalam tahap memperbaiki kata kata dari episode pertama 🥰🥰🥰