SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Perselingkuhan Alexa



"Aya dan pangeran Fathur berjalan menuju tempat peristirahatan. Didalam perjalanan pangeran tidak sengaja bertemu dengan raja dan ratu. Fathur memberi penghormatan kepada raja namun tidak kepada Alexa. Sementara Aya memilih untuk membungkukkan badannya kemudian berlalu pergi mengikuti pangeran.


"Tunggu!"


"Dari mana saja kalian."


"Mencari angin raja. Apakah itupun dilarang?"


"Bisakah kamu lebih menghargai ayahmun tiap kali berbicara?" Ucap raja Abraham dengan nada perintah.


"Maaf raja." Pangeran Fathur menarik tangan Aya untuk segera pergi. Aya memandang sekilas kearah Alexa lalu beranjak pergi.


"Sayang, apakah wanita itu tidak sopan?"


"Maksudmu?"


"Dia menatap kearah mataku bukankah seorang pelayan tidak boleh menatap mata keluarga kerajaan karena itu adalah sesuatu yang tidak sopan." rengek Alexa manja.


"Mungkin itu hanya perasaanmu saja Alexa."


"Kenapa kamu selalu berpihak kepada pelayan itu. Mungkinkah kamu tertarik dengannya." ucap Alexa marah dan menatap tajam kearah mata raja Abraham.


"Ha ha ha " Abraham tidak menggubris ucapan ratu Alexa ia hanya tertawa terpiingkal pingkal.


"Ayo kita kembali. Satu jam lagi kita akan melakukan perjalanan menuju tempat putri Liana. Raja Abraham meninggalkan ratu Alexa yang masih berdiri mematung.


"Aku benci gadis itu. Gadis itu begitu sempurna. Aku harus secepatnya menyingkirkan dia sebelum semua orang mempedulikan dirinya." Batin Alexa.


Ratu Alexa berjalan menuju tempat panglima Eben. Panglima Eben ada didalam ruangannya sedang berlatih pedang sambil menunggu informasi dari Deloy. Beberapa prajurit yang melihat kedatangan ratu Alexa langsung membungkukkan badannya.


"Dimana panglima Eben?"


"Didalam ratu." Alexa membuka pintu dan melangkahkan kakinya untuk masuk. Panglima Eben sedang bertelanjang dada hanya menggunakan celana sampai mata kaki. Ia sedang sibuk berlatih pedang tanpa tau kehadiran ratu Alexa yang sedang memperhatikan dirinya berlatih.


Ratu Alexa menggigit bibirnya melihat tubuh panglima Eben yang penuh dengan otot otot yang menonjol. Tetesan tetesan keringat yang membasahi tubuhnya membuat tubuh Eben kelihatan semakin mempesona dimata Alexa.


"Apa kamu tidak ingin menyapaku? ucap ratu Alexa mengganggu kosentrasi panglima Eben. Ratu Alexa berdiri menghadap punggung panglima Eben.


Eben yang mengenal suara tersebut langsung terkejut dan melihat kearah ratu Alexa. Ratu Alexa menghampiri panglima Eben dengan senyuman menggodanya. Ia lupa dengan tujuan dirinya menemui panglima Eben. Pesona panglima Eben membuat dirinya lupa diri bahwa dirinya adalah seorang ratu.


"Maaf ratu, saya tidak menyadari kedatangan anda."


"Hus." ratu Alexa meletakkan jari telunjuk di bibir panglima Eben lalu merabanya dengan penuh gairah dan turun didada yang berbentuk roti sobek tersebut. Eben memejamkan matanya menikmati sensasinya lalu menangkap tangan Alexa yang sedang berjalan menelusuri pusar Eben.


"Ada perlu apa ratu kemari?" ucap panglima Eben menyadarkan Alexa.


"Bagaimana kabar gadis itu? Apakah kamu sudah menyelesaikannya."


"Hampir selesai ratu."


"Aku ingin cepat ia disingkirkan."


"Baiklah." Panglima Eben memberanikan dirinya mengangkat dagu ratu Alexa untuk menatap bola matanya.


"Apakah karena itu ratu kemari?" ucap panglima Eben sambil menelusuri bibir ratu Alexa dengan jarinya dan menarik pinggang ratu Alexa kedalam pelukannya.


"Menurutmu?" ratu Alexa berbisik ditelinga panglima Eben. Ebenpun tersenyum menyeringai dan tanpa menunggu aba aba ia langsung mendorong tubuh Alexa kedinding dengan kasar hingga terdengar suara jeritan kecil namun suara tersebut tiba tiba menghilang karena Eben sudah melahap bibir tersebut dengan penuh gairah.Alexa meremas rambut Eben dan menekan kepalamya Agar ciuman mereka lebih dalam. Sementara Ebenpun tidak mau kalah ia tekan tengkuk sang ratu lalu memasukkan lidahnya dan menelusuri tiap sudut. Ciuman hangat pun terjadi antara mereka. mereka saling membalas hingga terdengar suara kecapan kecapan.


Eben yang sudah bernafsu membalikkan badan Alexa lalu menciumi telinga dan tengkuk Alexa dengan penuh gairah sementara tangannya sibuk meremas bagian gunung yang menonjol dengan sempurna. Eben tidak memberi sedikitpun celah untuk Alexa bergerak. Dia terus memberi serangan bertubi tubi hingga membuat sang ratu mengeluarkan suara erotisnya.


"Argh... Eben.... Argh.... Eben membalikkan tubuh Alexa kehadapannya kembali kemudian membuka pakaian ratu Alexa dengan satu tarikan. lalu melahap semuanya seperti orang kelaparan sementara tangannya sudah masuk menggerayang bagian bawah. Alexa benar benar dibuat kewalahan oleh Eben. Ia tidak berhenti mengeluarkan suara suara erotisnya. pamglima Eben menghentikan aksinya disaat melihat Alexa sudah sangat bernafsu. Ia tersenyum penuh kemenangan melihat wajah merah padam sang ratu.


"Ratu, anda harus kembali." Eben memperbaiki pakaian ratu Alexa lalu meninggalkannya sampai di depan pintu.


"Ayo ratu. Orang akan curiga."


"Baiklah." Wajah Alexa yang masih merah karena menahan nafsu kini bertambah merah karena hasratnya tidak tersalurkan. Alexa meninggalkan tempat Eben dengan penuh caci maki.


"Brengsek kamu sengaja mempermainkanku." Ratu Alexa ingin sekali membunuh Eben saat ini karena berani mempermainkannya namun ia betul betul jatuh hati kepada setiap sentuhan yang diberikan oleh Eben.


"Argh..." Alexa meremas sudut pakaiannya. Ia pun melangkahkan kakinya keluar dari tempat peristirahatan para prajurit dan pengawal.


"Menurut anda?" ucap Aya tersenyum melihat penampilan ratu Alexa yang berantakan. Tanpa dijelaskanpun Aya tahu apa yang telah dilakukan Alexa. Aya sengaja menuju ketempat para prajurit ia ingin tahu apakah benar panglima Eben yang memberi perintah kepada penyusup tersebut karena ia sempat mendengar nama Eben disebut.


"Kamu lancang. Aku akan memotong lidahmu agar kamu menjadi bisu."


"Saya permisi dulu ratu, ada hal penting yang harus saya urus." Aya melewati ratu Alexa.


"Tunggu."


"Perbaiki dulu pakaianmu ratu! apakah anda tidak malu memperlihatkan tubuhmu? Semua tanda ditubuhmu terpampang dengan sangat jelas apa yang telah dirimu lakukan." Aya melihat sekilas lalu beranjak pergi. Sementara wajah Alexa menjadi seperti kepiting rebus menahan malu.


"Biadap, kalian semua bodoh. Kenapa kalian tidak memberitahuku." Ucapnya kepada 2 orang pelayan setia yang selalu mengiringinya kemanapun.


"Kami takut anda marah ratu."


"Plak.... Plak... " sebuah tamparan keras mendarat di pipi kedua pelayan tersebut.


"Maaf ratu."


"Perbaiki sekarang!" Pelayanpun memperbaiki pakaian ratu yang berantakan. Pakaian tersebut masih terbuka sedikit dibagian dadanya. Panglima Eben merapikan pakaian Alexa hanya seadanya saja. Ratu Alexapun berjalan dengan cepat menuju peristirahatannya untuk melihat langsung tanda seperti apa yang dimaksudkan oleh Aya.


Sementara Aya melangkahkan kakinya menuju tempat yang menjadi tujuannya.


"Hemh dasar wanita binal, sudah memiliki suamipun masih bermain dibelakang. Tapi ngomong ngomong siapakah selingkuhannya. Apa selingkuhannya seorang prajurit yang ada ditempat ini? Aku harus mencari tahu kelemahannya?" gumam Aya.


Aya memberhentikan langkah kakinya disaat ia sampai ditempat tujuan.


"Dimana Eben?" ucapnya kepada pengawal.


"Sedang apa kamu disini?" ucap Deloy yang berdiri tidak jauh dari Aya.


Mencari tuanmu. Dimana dia?


"Cih, wanita ga tahu diri. Baru saja kamu masuk ke istana sudah beraninya memanggil tuanku dengan sebuah nama.


Aya memalingkan wajahnya dan tidak menggubris ucapan Deloy, dia terus berjalan bertanya sama semua orang Dimana Eben? Tapi tidak ada satupun yang berani menjawab. Aya akhirnya kembali ke hadapan Deloy.


"Sepertinya semua yang ada disini tidak ada yang berani mendengar nama tuanmu disebut."


"Ha, ha, ha apa kamu sekarang baru menyadarinya. Apa sekarang kamu ingin berlutut memohon kepadaku untuk memberimu sebuah informasi dimana keberadaanya.


"Tidak perlu. Tuanmu sendiri akan mencariku." ucap Aya dengan penuh percaya diri.


"Oh ya aku lupa, katakan padanya apa dia tidak bimbang dengan nasib sahabatnya yang ada di penjara?" ucap Aya angkuh seraya menebak.


Deloy yang mendengar pertanyaan Aya langsung terkejut dan mendekat untuk menarik bagian leher Aya namun dengan cepat Aya menepis.


"Jauhkan tangan kotormu ditubuhku!" ucap Aya beranjak pergi.


"Tunggu, Apa maksudmu?"


"Tidak ada apa apa."


"Jelaskan! apa penyusup itu tertangkap dan dipenjara. Penjara mana? Apa dia mengatakan sesutu? Apa pangeran mencurigai sesuatu?


"Kenapa kamu begitu ketakutan? ucap Aya penuh selidik. Deloy sadar akan ucapannya dan kemudian menjauh. Sementara Aya menyunggingkan senyumannya. Ia padahal hanya menebak nebak namun tebakannya benar.


"Tunggu, aku akan mengantarmu ketempat panglima Eben tapi ada syaratnya."


"Aku tidak berniat lagi untuk menemuinya. Ucap Aya melangkah pergi namun disaat ia ingin membalikkan badan panglima Eben sudah ada dihadapannya."


"Ada apa kau kemari bocah?"


"Aku hanya merindukanmu." ucap Aya menatap Eben yang ada dihadapannya namun pandangannya teralihkan oleh noda lipstik samar samar dibibir Eben ditambah lagi sebuah cakaran diotot tangannya.


"Pergi jika kau tak ingin mati di sini. Jika aku melihat dirimu masuk ke wilayah ini sekali lagi jangan harap dirimu akan keluar hidup hidup."


"Baiklah. Aku penasaran apakah aku lebih dulu mati ditanganmu atau dirimu lebih dulu mati ditangan Abraham karena sudah mencicipi miliknya. ucap Aya melesat pergi. Panglima Eben terkejut mendengar ucapan Aya yang sudah menghilang sementara prajurit yang ada disekitar langsung menatap kearah Eben.


"BUBAR." teriak panglima Eben.