
"Prang..." Sebuah piring melayang dihadapan prajurit.
"Bagaimana cara kalian bertugas sampai penyusup bisa masuk melukai seorang ratu," ucap raja Abraham penuh murka dilantai bawah.
Aya dan Macron yang ada dibawahpun ikut menjadi amukan raja Abraham.
"Hm, luka seperti apakah yang diberikan oleh Selena kepada wanita binal itu. Semoga saja ia sedang sekarat." batin Aya didalam hatinya, Ia merasakan senang mendengar Alexa terluka.
"Bugh... Bugh... " Beberapa tendangan melayang dari kaki raja Abraham hingga membuat beberapa orang prajurit terpental. Sementara prajurit yang lain menatapnya dengan penuh ketakutan. Ada beberapa prajurit yang sampai terkencing didalam celana karena ketakutannya menunggu giliran ditendang.
"KALIAN BERDUA, KEMARI!" ucap raja Abraham menghentikan tendangannya dan menatap tajam kepada Aya dan Macron.
"DIMANA SAJA KALIAN SAAT ITU?" Raja Abraham menatap Macron dengan sorot mata berapi api. Macron menjawab dengan tenang bahwa dirinya sudah berusaha untuk mengejar penyusup tersebut namun dirinya kehilangan jejak karena penyusup tersebut jauh lebih gesit.
"Bugh..." Raja Abraham memberi tendangan kepada Macron. Ekspresi Macron hanya datar hingga membuat raja makin murka. Sebenarnya raja Abraham bukan marah karena ratu Alexa terluka tapi dia marah karena tidak ada satupun yang bisa menangkap penyusup tersebut. Ia takut jika ia yang dibunuh.
"KAMU...!" Raja Abraham menatap Aya dengan sorot mata membunuh.
"Saya diatas raja," ucap Aya santai. Semua yang ada disana memandang kearah Aya. Ekspresinya yang santai tanpa takut sedikitpun kepada raja Abraham membuat orang menjadi melongo dan menatapnya dengan tidak percaya.
"KAMU..."
"Apakah menurut anda penyusup itu memang berniat untuk membunuh ratu Alexa atau jangan jangan dia datang hanya untuk berbicara atau melaporkan sesuatu hal kepada ratu Alexa tercinta?" ucap Aya sinis hingga membuat ratu Alexa yang sedang turun dari tangga tidak sengaja mendengarnya.
"KAMU PELAYAN TIDAK SADAR DIRI. BERANINYA KAMU MENUDUHKU!" ucap Alexa berteriak dengan keras hingga membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Coba anda lihat raja, dia masih baik baik saja. Masih sanggup beteriak dengan kencang." ucap Aya tenang sambil tersenyum sinis menatap ratu Alexa.
"Apa kamu tidak melihat luka di wajahku ******!" ucap Alexa penuh emosi. Ingin rasanya saat ini Alexa berlari dan menjambak rambut Aya sekarang juga namun karena raja Abraham dan prajurit yang begitu ramai menatap dirinya. Ia urungkan niatnya.
"Ha... ha... ha..., Aku baru tau goresan sekecil itu adalah sebuah luka. Bagaimana menurut kalian? Apakah itu luka?" ucap Aya sinis dan tersenyum dengan penuh seringai.
"Anda harus hati hati raja, terkadang musuh kita adalah orang yang paling terdekat." Aya berlalu pergi meninggalkan raja Abraham. Ratu Alexa yang mendengar ucapan Aya menjadi salah tingkah. Sementara Aya menuju pangeran Fathur yang baru turun dari tangga.
"Ada apa Aya? Apa mereka menyakiti orang orangku?" ucap pangeran menatap tajam kearah semua orang.
Raja yang melihat perlakuan pangeran Fathur terhadap Aya menjadi semakin murka. Ditambah lagi dengan ucapan Aya barusan. Aya sedikitpun tidak takut dengan dirinya. Ini yang pertama kalinya seorang pelayan melawannya.
"Aku akan menghukummu. Pengawal, Tangkap dia!" ucap raja Abraham.
"TIDAK. TIDAK ADA YANG BISA MENYENTUHNYA SELAGI AKU MASIH HIDUP. LANGKAHI DULU MAYATKU." Ucap pangeran Fathur kepada ayahnya dengan sorot mata tajam yang berubah warnanya menjadi biru terang. Fathur menarik tangan Aya untuk berada disisinya.
Raja Abraham terkejut dengan reaksi pangeran Fathur yang penuh amarah. Redolf yang tidak tau sejak kapan datangpun kini sudah berada tepat di hadapan pangeran Fathur dan Aya, seolah olah ingin mencabik cabik siapapun yang berani maju.
Tuan Robert terkejut melihat perubahan pada pangeran Fathur dan Redolf begitu juga dengan Aya yang berdiri disampingnya. Aya merasakan sebuah kekuatan yang sangat besar berada di sekelilingnya. Seluruh tubuh Aya terasa panas akibat genggaman tangan pangeran Fathur.
"Sejak kapan manik mata pangeran Fathur berubah menjadi biru terang jika ia marah?" Bukankah yang memiliki manik mata tersebut hanya keturunan murni darah bangsa makhluk bunian? seharusnya dia tidak memilikinya. Ibunya yang merupakan bangsa bunian menikah dengan raja Abraham dari manusia biasa. Dia harusnya manusia biasa saja." tuan Robert merasa tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.
Mendiang ibu pangeran Fathur adalah keturunan bangsa bunian. Bangsa bunian adalah makhluk yang memiliki kekuatan sihir diatas rata rata. Mereka tidak bisa menikah dengan manusia biasa. Jika mereka menikah dengan manusia biasa maka mereka akan mendapatkan keturunan manusia biasa. Darah bunian dari keturunan mereka tidak lagi murni.
Kekuatan sihir mereka didapatkan murni dari darah mereka. Kekuatan itu tidak akan pernah hilang. Mereka hanya perlu berlatih untuk menggunakannya. Setiap bangsa bunian memiliki pengawal setia baik itu dari binatang maupun makhluk halus. Tergantung keinginan mereka.
Tetapi hal tersebut berbeda dengan pangeran Fathur walaupun ibunya menikah dengan manusia biasa. Darahnya tidak lagi murni. Namun tanpa ia sadari ia memiliki kekuatan yang dimiliki oleh ibunya.
"Whooosh....." Semua peralatan yang ada dilantai bawah terpelanting akibat hembusan angin yang begitu kuat.
"Aooooooooommmm..." Redolf meraung sekencang kencangnya.
Semua yang ada mencari pegangan masing masing. Aya yang menyadari kekuatan yang ada ditubuh pangeran Fathur berusaha untuk membuat pangeran Fathur menjadi tenang. Fathur masih belum bisa mengendalikan kekuatannya.
"Pangeran, pangeran...!" ucap Aya sambil sesekali menggoncangkan tubuh Fathur. Namun Fathur tidak juga sadar sama sekali.
Aya tidak mungkin mengeluarkan kekuatan sihirnya didepan semua orang karena akan mengancam keberadaannya. Dengan susah payah Aya menarik tubuh Fathur untuk menjauh.
Tubuh Fathur yang sangat berat membuat ia menjadi kesulitan. Macron yang melihat Aya sedang bersusah payah ikut membantu untuk membawa pengeran Fathur sedikit menjauh lalu membawanya keruangan Macron yang tidak jauh dari sana.
"Whooosh..." Aya memngeluarkan kekuatan sihirnya untuk menenangkan Fathur dengan menatap bola mata Fathur dan membaca sebuah mantra namun percuma saja tubuh Aya terpental jauh. Aya mencoba berkali kali namun gagal. Darah segar keluar dari bibir Aya. Sementara Angin kencang yang berhembus disekitar peristirahatan masih juga belum tenang.
Raja dan ratu masih berpegangan dengan tiang yang ada disekitar mereka. Peralatan sudah porak poranda. Begitu juga dengan keadaan kamar Macron semuanya ikut terbang tanpa arah. Macron mencoba menyiram tubuh Fathur dengan air namun tetap juga gagal.
"Bagaimana ini Aya?" ucap Macron pasrah melihat pangeran yang masih tetap berdiri dengan mata yang melotot dan dengan warna mata yang sama bewarna biru sementara Redolf diluar kamar sibuk meraung tidak jelas.
"Aku juga tidak tau Macron. Semua cara sudah kucoba." ucap Aya meletakkan kepalanya diatas kaki dan tidak tahu kenapa hatinya begitu sakit melihat kondisi Fathur seperti saat ini. Dirinya membayangkan bagaimana sakitnya tubuh pangeran disaat ini. Aya saja jika menggunakan kekuatan sihir yang sebentar tubuhnya terasa lemah. Apalagi jika seperti pangeran saa ini. Setengah jam sudah berlalu namun Fathur masih belum bisa mengendalikannya.
Macron mencoba keluar dengan terhuyung huyung akibat angin yang besar untuk melihat keadaan Redolf yang tidak lagi bersuara. Sementara Aya setelah ditinggalkan Macron menatap Fathur dengan penuh kebingungan. Tanpa ia sadari ia kembali mendekati tubuh pangeran Fathur.
"Pangeran, aku mohon sadarlah! Aku mohon! Hiks... hiks...," ucap Aya menatap keatas lalu tanpa ia sadari ia memeluk tubuh pangeran Fathur dengan menangis histeria. Dirinya tidak mau kehilangan lagi. Tidak tau sejak kapan dirinya menganggap Fathur adalah tempatnya bergantung.
"Aku tidak memiliki siapapun lagi, jika kamu begini bagaimana denganku. Kembalilah pangeran. Aku tidak punya tempat untukku kembali." ucap Aya sesugukan.
Aya memeluk tubuh pangeran dengan kuat dan menangis dengan pelan. Kemudian dirinya mengeluarkan seluruh kekuatannya kembali dan mentrasfer seluruh energinya ketubuh Fathur hingga membuat darah segar keluar dari mulut dan hidung Aya. Aya tersenyum disaat ia melihat angin kencang sudah mulai berhenti berhembus namun Aya terjatuh dan tidak sadarkan diri. Bekas tetasan salju masih membasahi mata dan pipinya.
Jangan lupa like, koment n vote nya ya readers... dan yang palin terpenting kritik & sarannya.... I love uπππ