SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Kedatangan Putri Liana



Setelah kepergian pangeran Zein, Aya memejamkan matanya yang terasa sangat perih kemudian ia menarik nafasnya dengan perlahan dan menghembuskannya kembali lalu berjalan mendekati cermin yang tidak jauh dari sisinya.


"Kenapa hatiku terasa begitu terasa sakit? padahal yang ditampar bukan hatiku tapi pipiku." Butiran bening yang dari tadi ditahan oleh Aya jatuh dengan deras dipipi Aya namun dengan cepat dihapusnya lalu dipukul dadanya yang terasa sesak.


"Jangan menangis. Jangan Aya. kamu tidak boleh kalah dengan perasaanmu sendiri. Lebih baik kamu tahu sifatnya yang kasar dari awal sebelum kamu terlalu mencintainya." batin Aya sesugukan kemudian menjauh dari cermin.


"Redolf." ucap Aya terkejut melihat Redolf yang sudah berada di sisi cermin. Aya menoleh kebelakang dan melihat Redolf ada di depannya sekarang.


"Ini milikmu. Jangan lupa kamu berhutang kepadaku." ucap Redolf sambil menyerahkan botol kaca yang berisikan rambut Alexa.


"Kamu bisa bicara?" Ucap Aya membelalakkan matanya karena merasa kaget.


"Itu tidak penting. Ingat janjimu." ucap Redolf pergi keluar dari kamar Aya. Aya hanya tercengang melihat kepergian Redolf.


"Oh.. ya ampun! Aku dikelilingi oleh makhluk dan manusia aneh." batin Aya sambil tersenyum melihat rambut yang ada didalam botol kaca tersebut.


Aya mengintip dari celah pintu memastikan tidak ada siapapun yang berada didekat kamarnya lalu disaat semuanya aman. Aya mengunci pintu dan mengeluarkan rambut tersebut lalu memindahkannya kedalam wadah yang kecil agar bisa diletakkan didalam pakaiannya.


Setelah sampai di istana nanti dia akan mencari tahu tentang jati diri Alexa. Di tempat peristirahatan ini tidak aman untuk dirinya melakukan sebuah ritual.


Aya membaringkan tubuhnya disaat ia sudah berhasil menyelipkan wadah tersebut didalam pakaiannya. Ia pun mencoba untuk memejamkan matanya agar bisa beristirahat sebentar.


Sementara itu pelayan dan prajurit sudah mulai sibuk merapikan barang bawaan mereka karena waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi hari.


"Kasian ya nona Aya?"


"Iya. Kenapa pangeran Fathur begitu kasar? Harusnya dia tidak boleh seperti itu. Dia harus mempercayai nona Aya.


"Aku fikir mereka pacaran. Rupanya pangeran Fathur menganggap nona Aya hanya seorang wanita terbuang yang perlu dikasihani." ucap pelayan yang saling bergosip semntara Ela hanya diam sambil menarik nafasnya.


"Kenapa kamu diam Ela?


"Aku tidak tau mau ngomong apa. Aku juga sama seperti kalian. Kasian sama nona Aya. Dia dipermalukan di depan orang ramai." ucap Ela sambil mengingat prilaku pangeran Fathur.


"Tapi ada yang aneh pangeran Zein membantu Aya tadi."


"Iya. Pangeran Zein pasti punya rencana jahat. Dia pasti ada maunya. Dia pasti mencoba mengambil kesempatan untuk memperburuk suasana.


"Sudahlah. Ayo kita kerjakan dengan cepat. Suasana hati semua orang lagi tidak bagus. Bisa bisa kita dijadikan sebagai pelampiasan jika ada sesuatu yang tidak selesai.


"Benar juga. Ayo segera."


Pelayan dan prajuritpun saling bahu membahu merapikan semua barang. Mereka memasukkan semua perlengkapan kedalam kereta kuda.


Suasana subuh hari sangat masih gelap. Udara yang sangat dingin menusuk kulit mereka. Hingga membuat perut pun terasa lapar.


Tak terasa setelah bahu membahu mengerjakan semuanya. Semuanyapun sudah selesai. Sarapanpun sudah siap diatas meja. Prajurit dan pelayanpun sudah makan lebih dulu. mereka makan bersama sambil bercanda menunggu tuan tuan mereka bangun dan turun.


Raja Abraham dan Ratu Alexapun sudah bangun diikuti oleh pangeran Fathur dan Zein. Mereka makan bersama sama sambil menunggu pukul 07.00 pagi untuk beranjak pergi meninggalkan kerajaan Zimba.


Aya yang sudah bangun dari tadi sengaja duduk didekat Redolf sambil bercanda. Semenjak kejadian tadi malam mereka jadi akur. Pangeran Fathur dari tadi mencari cari Aya namun ia belum melihatnya sama sekali.


Tidak berapa lama ada suara derap langkah kaki kuda memasuki halaman tempat peristirahatan. Prajurit melihat siapa gerangan tamu yang datang. Mereka melihat ada tamu kehormatan yang berkunjung.


"Raja, diluar ada raja Barock beserta istri dan anaknya."


"Oh ya." Raja Abraham beserta yang lain keluar menuju raja Barock dan keluarganya.


"Selamat pagi sahabatku. Maaf pagi sekali kami datang mengganggumu."


"Tidak. Saya senang dengan kedatangan anda raja Barock."


"Ha.ha.ha.."


"Saya kesini ingin mengantar anakku untuk mengimuti perjalanan pulang anda. Putri Liana tidak mau berpisah dengan calon suaminya."


"Ayah..."


"Oh baguslah. Saya menyukainya. Ayo kesini sayang." Raja Abraham membuka lebar lebar tangannya agar putri Liana masuk kedalam pelukannya.


"Terimakasih paman. Ini untuk ratu Alexa." Putri Liana menyerahkan sebuah bingkisan kepada ratu Alexa hingga membuat Alexa bahagia.


Pangeran Fathur hanya diam sambil menoleh kearah Aya yang tidak jauh dari dirinya. Aya sengaja tidak melihat kearah mereka namun mendengar dengan sangat jelas pembicaraan mereka.


"Kalau begitu bolehkah saya permisi dulu Abraham. Pagi ini saya ada pertemuan dengan beberapa tamu penting."


"Baiklah dengan senang hati."


Sepeninggalan raja Barock dan istrinya ratu Alexa sengaja memanas manasi Aya. Namun hatinya kesal disaat Aya tidak bergeming sedikitpun.


"Ayo kita bergerak." ucap raja Abraham.


"Ayah, biarkan Aya bersamaku. Jika dia berkuda maka akan mengundang perhatian perampok. Mereka akan melihat itu sebagai kelemahan kita." ucap pangeran Zein membuat semua yang ada terkejut.


"Tidak. Dia adalah pengawalku." ucap pangeran Fathur.


"Apa kamu ingin meletakkan dia satu kereta bersama calon istrimu? kamu harus menemani putri Liana didalam kereta."


"Tidak. Aku tak terbiasa berada di kereta. Bukankah kamu lihat sendiri setiap melakukan perjalanan aku selalu menunggangi kuda.


"Apa kamu mencimtai Aya?" ucap pangeran Zein menatap tajam kearah Fathur.


"Apa maksudmu bertanya seperti itu?"


"Tentu saja aku bertanya. Kenapa begitu pentingnya gadis itu bagimu? Berada dikeretaku saja tidak boleh."


"Tidak. Aku tidak menyukainya sama sekali. Tapi dia adalah pemgawalku. Dia harus bersamaku." ucap pangeran Fathur membuat Aya menarik nafasnya.


"HENTIKAN." ucap raja Abraham kesal.


"Kenapa kalian meributkan gadis itu. Sebegitu pentingnyakah gadis itu bagi kalian berdua!" bentak raja Abraham.


"Bukan begitu ayah. Pelayan saja duduk didalam kereta. Ratu Alexa dan putri Liana juga. Aku hanya tidak ingin gadis itu menunggang kuda dan membuat perompak melihatnya dan berfikir untuk menyerang kita karena melihat ada gadis yang berada diluar mengundang perhatian mereka. Itu saja tidak lebih." ucap pangeran Zein.


"Aya, kamu bersama pangeran Zein. Putri Liana dan pangeran Fathur akan segera menikah mereka butuh waktu untuk saling mengenal."


"Baik raja." ucap Aya dengan sopan. Putri Liana tidak bisa melihat wajah Aya karena Aya menutupi wajahnya dan hanya terlihat matanya saja. Aya sengaja menutup wajahnya agar tidak kelihatan oleh Selena.


"Ayo gadis kecil." ucap pangeran Zein penuh kemenangan. Pangeran Fathur hanya menggenggam tangannya penuh kemarahan dan kesal lalu dengan cepat meninggalkan semua orang dan menuju Redolf.


Pangeran Fathur melihat kepergian Aya menuju kereta kuda pangeran Zein sambil berharap Aya menoleh dirinya namun sia sia Aya sedikitpun tidak menoleh kebelakang.


"Siapa gadis bernama Aya itu. Kenapa dia kelihatannya


sangat berarti." ucap putri Liana.


"Ayo sayang, jangan difikirkan. Gadis itu hanya seorang pengawal yang dipungut. Mereka tidak memiliki hubungan apapun." ucap ratu Alexa mengantar putri Liana menuju rombongan pangeran Fathur.


"Benarkah?


"Iya putri Liana.


"Hm, baiklah."


Elapun dengan sigap membantu putri Liana memasuki kereta kuda pangeran Fathur.


"Apa pangeran Fathur tidak pernah menaiki kerta ini?" tanya putri Liana kepada Ela.


"Bisa dikatakan tidak pernah tuan putri. Pangeran Fathur tidak menyukai duduk berdiam saja didalam kereta.


"Hem baiklah."