
Siapa gadis itu? kenapa dia begitu anggun layaknya seorang putri. Aku benci jika ada orang lain yang diperhatikan selain diriku di kerajaan ini. Aku adalah ratu di kerajaan ini, tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisiku.
Alexa menatap tajam kearah Aya yang sedang asyik bercerita bersama Ela. Aya tidak menyadari beberapa pasang mata sedang menatap kearahnya dengan sorot penuh kebencian.
"Pangeran," Fathur yang dipanggilpun menoleh kearah Aya yang memanggilnya pelan.
"Semangat." ucap Aya sambil menyemangati Fathur yang ingin memulai pertandingan.
Fathur melangkahkan kakinya ke tengah lapangan yang sudah disiapkan. Panitia acara sudah mulai memasuki lapangan sebagai ketua juri.
"Siapa gadis bersamamu itu," ucap pangeran Zein.
"Pengawalku."
"Benarkah, aku tidak melihatnya seperti pelayan. apakah dia wanita yang menghangatkan ranjangmu."
"Bisa jadi." ucap Fathur yang tidak begitu tertarik dengan arah pembicaraan Zein.
"Aku fikir kamu tidak tertarik dengan wanita tapi rupanya aku salah."
"Hem." Fathur mengambil busur panah untuk melakukan pemanasan.
"Seleramu bagus juga, apa boleh aku menggunakannya sesekali."
"Silakan."
"Hemh, Dasar ular. Apa kamu fikir aku tidak tau kamu mengujiku seberapa berartinya gadis itu bagiku. kamu pasti curiga siapa gadis itu."gumam Fathur didalam hatinya.
Pangeran Zein mengambil busur dan anak panah lalu menarik busurnya hingga mengenai sasaran dengan sekali saja percobaan. Fathur melihatnya namun kemudian fokus untuk menenangkan fikirannya.
"Selamat datang semua, hari ini merupakan hari yang penting bagi kerajaan Andromela. Hari ini kita akan menyaksikan pertandingan memanah dan berkuda. Pesertanya adalah pangeran Fathur dan juga pangeran Zein. Walaupun pertandingan ini hanya disaksikan oleh rakyat dan petinggi petinggi yang ada dikerajaan Andromela namun hari ini akan menjadi sangat bersejarah." panitia membuka acara dan disambut oleh tepuk riuh dari penonton.
Alexa tersenyum bahagia melihat acara yang sebentar lagi akan dimulai. Ia sangat yakin pangeran Zein yang merupakan darah dagingnya sendiri akan memenangkan pertandingan tersebut. Pertandingan ini dari jauh hari memang sudah dipersiapkan dengan sangat matang oleh Alexa dan Zein sehingga pangeran Zein hampir setiap harinya berlatih berbeda halnya dengan Fathur yang lebih sibuk dengan acara melarikan dirinya untuk menikmati berburu di alam bebas.
Pangeran Zein dan Pangeran Fathur akan diberikan kesempatan untuk melepaskan 3 kali anak panah.
Pelepasan panah pertamapun dimulai. pangeran Zein dan pangeran Fathur akan diberi waktu 10 menit untuk melepaskan anak panah yang pertama.
"Whoosh....." anak panah pertama mendekati sasaran. Zein menyunggingkan senyumannya.
"Whoosh.... " anak panah pertama dari pangeran Fathur jauh dari posisinya. Fathur menggenggam erat tangannya.
Zein tersenyum sinis menatap kearah Fathur sementara Fathur yang melihat senyuman Zein hanya membalas dengan sebuah tatapan dingin. Raja dan ratu melihat mereka dari atas. Raja hanya menatap lurus kedepan tanpa ekspresi apapun.
"Whoosh...." anak panah kedua dari pangeran Zein sedikit lagi tepat di sasaran.
"Whoosh..." anak panah kedua melesat jauh dari sasaran. Lagi lagi pangeran Fathur kalah poin dari pengeran Zein. Fathur mengusap wajahnya kasar lalu mengacak rambutnya.
"Arrgh, Kenapa aku bisa kaku begini." Fathur melihat kearah atas dimana sang raja duduk. Raja hanya menatap dirinya tanpa ekspresi.
"Dasar bocah, ini akibatnya jika kamu lebih sibuk menikmati dunia di luar sana. Kamu lupa dengan tanggung jawabmu. Kamu jadi pria lemah. Bagaimana kamu mau memimpin, memanah yang butuh kosentrasi saja kamu tidak bisa." Raja menyeruput minumannya.
"Whoosh...." anak panah ke tiga dari pangeran Zein mengenai sasaran.
Aya melihat Fathur yang sudah pasrah. "Apa aku harus menolongnya. Ach tidak. Jika aku menolongnya maka akan sulit untuk dirinya dikemudian hari.
"Whoosh..." Fathur melepaskan anak panahnya namun terpental ketanah. Fathur mengusap wajahnya kasar lalu melempar busurnya.
Penontonpun banyak kecewa melihat kemenangan Zein, karena tidak sedikit dari mereka yang memginginkan pangeran Fathur yang menang. Namun sayangnya takdir berkata lain.
"Baiklah pertandingan memanah selesai dan dimenangkan oleh pangeran Zein." tepuk riuh tangan terdengar ditelinga Zein dan membuat dirinya merasa diatas angin.
"Sabar pangeran, ini hanya pertandingan biasa saja." pangeran Zein memukul pundak pangeran Faghur, lalu tersenyum didalam hatinya. Ia merasa bangga bisa mengalahkan sang calon putra mahkota.
pangeran Zein dan Fathur kembali ke kursi masing masing untuk beristirahat serta menunggu waktu pertandingan berkuda dimulai. Mereka diberi waktu setengah jam untuk mempersiapkan semuanya.
"Jangan lupa dengan pesan saya, jangan ada satu kesalahanpun" ucap pangeran Zein kepada seorang pengawal.
"Baik tuan."
Pangeran Zein dan Fathur mempersiapkan kudanya masing masing. Fathur mengecek keadaan kudanya untuk melihat kebugarannya dibantu oleh Macron namun ada yang aneh dengan kuda pangeran Fathur, ia lebih aktif dari biasanya. Ia sedikit sulit untuk dikendalikan.
"Ada apa dengan kudanya macron."
"Sepertinya ia kurang sehat tuan."
"argh... kenapa diwaktu seperti ini kudaku sakit." Fathur meremas rambutnya dan terduduk di tumpukan jerami namun tidak berapa lama kemudian Aya dan Ela datang di kandang kuda.
"Ada apa dengan pangeran tuan,"ucap Aya.
"Kuda kesayangannya sakit, ia sedikit sulit untuk dikendalikan." Aya mangut mangut tanda mengerti.
Fathur berdiri menenangkan fikirannya. "Aku tidak boleh menjadi lemah seperti ini dan membiarkan dirinya mempermalukan diriku."
"Macron, berikan aku kudamu."
"Baik, pangeran." Macron mengambil kudanya di kandang. Tidak beberapa lama terdengarlah suara kuda yang dibawa oleh Macron. Kuda jantan bewarna hitam.
Fathur membelainya dan membisikkan sesuatu ditelinga kuda tersebut lalu menaikinya untuk mengajak berputar sebentar.
"Baiklah tuan tuan dan puan puan, waktu setengah jam sudah habis. Sekarang saatnya kita melihat pertandingan menunggang kuda." panitia mempersilakan untuk pangeran Fathur dan pangeran Zein untuk memasuki titik yang sudah ditentukan.
"Jangan terlalu dipaksakan, jika kamu tidak siap Fathur."
"Aku siap." mereka berduapun mengambil ancang ancang.
Setelah hitungan ke tiga mereka memacu kuda mereka dengan kecepatan tinggi.
Ditengah perjalanan kuda Fathur masuk kedalam lobang becek hingga membuat ia terpental namun nasib baik masih berada dipihak pangeran Fathur. kudanya masih dalam keadaan baik baik. Pangeran Zein yang melihat kejadian tersebut tersenyum kearah seorang pangawal. Fathur bangun dalam keadaan tertatih tatih lalu berlari menuju kudanya dan memacu kudanya. Fathur jauh ketinggalan dari Zein.
"Ibu,,, bantu aku." ucap Fathur yang selalu menyebut nama ibunya disaat ia dalam kesulitan. rasanya dengan menyebut kata "Ibu" ia seperti diberi kekuatan baru lagi.
Pangeran Zein yang sedang merasa diatas angin dan ia yakin pasti akan menang karena pangeran Fathur masih sangat jauh, Iapun menurunkan kecepatan kudanya lalu melambaikan tangannya kearah wanita wanita cantik yang sedang menonton pertandingan sementara Fathur dengan penuh semangatnya memacu kuda dengan kecepatan tinggi hingga tanpa disadari oleh pangeran Zein jarak mereka sekarang sangat dekat.
Setelah selesai acara melambaikan tangannya kepada penonton, pangeran Zein menoleh kebelakang dan melihat Fathur yang tinggal sedikit lagi menghampirinya. Ia kaget dan panik hingga membuat ia tidak begitu fokus memacu kudanya. Kini mereka sudah berbarengan. Pangeran Fathur melemparkan senyumnya kearah Zein dan melewati Zein.