SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Belajar Pedang




note : putri carraya berlatih menggunakan pedang *free image from pinterest*


"whoooosh...whooosh... bunyi pedang berkibas diudara."


"Putri Carraya, istirahatlah dulu." ucap Yoena dengan tatapan penuh kasih sayang.


Putri Carraya pun menoleh kearah Yoena dan berjalan mendekati dirinya. Putri Carraya sudah menganggap Yoena seperti ibunya sendiri semenjak kerajaannya diserang.


"Ibu, mulai sekarang jangan panggil aku putri Carraya lagi, panggil saja aku Aya walaupun hanya ada kita berdua. Kamu tau sendirikan jika orang tau aku masih hidup, aku pasti akan dibunuh." ucap putri Carraya dengan lirih.


"Baiklah Aya." Yoenapun membungkukkan badannya sebagai tanda hormat kepada Aya.


"Bagaimana dengan pendaftarannya ibu? Apa kamu sudah mendaftarkanku sebagai pengawal Ratu Alexa." Tanya Aya.


Ratu Alexa merupakan istri dari Raja Abraham. Aya ingin sekali masuk kedalam istana raja Abraham. Dirinya ingin tahu bagaimana kematian orang tuanya.


"Sudah Aya, Tapi apakah kamu yakin untuk masuk ke dalam kerajaan Andromela yang merupakan pembunuh orang tuamu."


"Yakin ibu, aku harus mencari tau kenapa mereka menyerang kerajaan kita. Jika memang terbukti mereka bersalah aku akan membunuh mereka dengan tanganku sendiri sampai tidak tersisa satupun ibu, termasuk raja Abraham sendiri." Aya menatap Yoena dengan mata yang berkaca kaca. Didalam sorot matanya tersirat rasa marah, kecewa, benci, dendam dan sedih bercampur baur menjadi satu.


"Tiga tahun sudah berlalu Aya, apa tidak bisa kita melupakannya, ibu khawatir dengan keselamatanmu Aya?" ucap Yoena yang usianya sudah memasuki kepala lima.


"Tenang saja ibu, tidak akan ada yang tau siapa aku?" jawab Aya berlalu pergi meninggalkan Yoena yang masih berdiri.


"Tiga tahun memang sudah berlalu ibu, tapi derita yang kualami selama tiga tahun tanpa ayah dan ibu sangat tersiksa ibu, aku hidup telunta lunta, menjauh dari keramaian dan tinggal di desa ini tanpa siapapun." gumam Aya didalam hatinya.


Terbayang kisah tiga tahun lalu di ingatan Aya. Disaat dirinya menyelamatkan diri dari serangan kerajaan Andromela. Ibu dan ayahnya berjanji akan menyusul di belakang. Dia menunggu kedatangan ibu dan ayahnya didalam hutan belantara dengan tubuh yang penuh dengan luka dan baju yang basah akibat hujan yang deras. Ia hanya berteduh dibawah pohon yang besar sambil meringkuk menahan kedinginan.


Aya menunggu dibawah pohon besar selama tiga hari empat malam sampai tubuhnya lelah dan tidak berdaya namun yang ditunggu tidak juga kunjung datang. Setelah hari ke empat datang seorang pengawal kerajaan yang memberi tau bahwa ayah dan ibunya sudah meninggal dan mayatnya sudah di bawa kehadapan Raja Abraham. Disaat itu Aya hanya bisa menangis dan meraung meratapi kisah hidupnya.


Saat itu Aya hanyalah putri lemah yang tidak bisa apa apa berbeda dengan sekarang Aya sudah tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat tangguh.


"Sekarang tiga tahun memang sudah berlalu namun tidak sebanding dengan kematian mereka. orang menyuruhku untuk melupakannya.


Tidak semudah itu, Nyawaku akan ku tebus sebagai gantinya." gumam Aya berlari dengan sangat kencang sambil menahan amarahnya.


Aya pergi menuju ke tempat kuda kesayangannya diikat kemudian dia menunggangi dan memacu kudanya dengan sangat cepat untuk memasuki sebuah hutan belantara. Tidak ada rasa takut sedikitpun didalam hatinya. Semenjak kematian ibu dan ayahnya Aya menjadi sosok wanita yang sangat tangguh. Semua ilmu bela diri dan juga sihir dipelajarinya. Rasa sakit hati dan dendam yang dirasakannya menjadi kekuatan bagi dirinya.


Hutan yang gelap gulita menyambut kedatangan Aya. Ribuan kunang kunang berkumpul membuat sebuah penerangan di gelapnya malam. Aya memacu kudanya semakin kencang hingga sampailah Aya ke sebuah pondok buruk. Pondok buruk tersebut tertutupi oleh daun daun yang merambat. Suara makhluk yang ada dihutan saling memanggil antara satu sama yang lain hingga membuat suasana hutan menjadi semakin mencekam.


Ribuan kunang kunang yang tadinya mengikuti dan menerangi Aya dalam menelusuri perjalanan tiba tiba pergi beterbangan menjauhi pondok buruk tersebut, seolah olah kunang kunang mengerti bahwa pondok tersebut bukan tempat yang aman untuk mereka.


"kkkkiiiiìiik, kiiiiiiikkkkkkk, iìiiiiiiiikkkk.... terdengar suara kuda meringkik."


Kuda yang dinaiki Ayapun tidak mau mendekat sama sekali dengan pondok tersebut. Kuda menjadi sangat liar hingga membuat Aya memilih untuk turun dan mengikat kudanya dipohon yang agak sedikit jauh agar sang kuda merasa nyaman.


"Kamu yang tenang ya Elf, kamu akan baik baik saja. Jangan kemana mana tunggu aku sampai keluar." ucap Aya kepada sang kuda kesayangannya yang diberi nama Elf.


Si Elf pun meringkik seolah olah memberi jawaban tanda ia mengerti. Ayapun melangkahkan kakinya perlahan lahan mendekati pondok tersebut. pondok ini merupakan milik seorang penyihir yang pernah bekerja di kerajaan Andromela namun diusir oleh Raja Abraham karena kesalahan yang dilakukannya.


"Roaaaaaaaaaaaarrrrrrrrr." bunyi suara singa meraung. Ayapun terkejut dan bergegas masuk kedalam pondok penyihir tersebut.


"Hallo..." ucap Aya melihat sekitarnya namun tidak ada seseorangpun disana. kemudian Aya mencoba untuk melangkahkan kakinya perlahan lahan. Dilihatnya tengkorak hewan berserakan dimana mana. Bau amis darah sangat menusuk hidung, tubuh Aya refleks bergidik hingga membuat bulu bulu romanya seakan akan ikut berdiri tegak. Jantungnya serasa ingin copot karena baru pertama kali ini Aya masuk kedalam pondok penyihir.


"Hallo... Hallo...Ada orang disini?" ucap Aya yang kesekian kali namun tetap tidak ada jawaban sama sekali.


Aya berputar putar mencari keberadaan sang penyihir. Lima belas menit sudah berlalu Aya tidak melihat seseorangpun didalam pondok tersebut. Aya pun memilih untuk melangkah kan kakinya menuju pintu keluar. Disaat Aya membuka pintu, seorang wanita sedang berdiri menatap dirinya.



...note: penyihir wanita selena...


...** *free image from pi*nterest*...


"Siapa kamu..." ucap wanita yang berdiri dihadapan Aya penuh dengan penekanan. Aya terkejut melihat wanita tersebut hingga membuat dirinya diam seribu bahasa.


Wanita penyihir yang bernama Selena tersebut masuk kedalam pondok miliknya lalu melangkahkan kakinya menuju kursi tua dan duduk sambil menggoyangkan kursinya.


"Meaw... Meawwwww... " Seekor kucing datang kearah selena. Aya pun menjadi makin heran dengan kedatangan kucing yang tidak tau kapan. Dari tadi kucing tersebut tidak ada, namun sekarang tiba tiba hadir menyambut majikannya.


Kucing hitam tersebut mendekati Selena dan naik diatas pundak kemudian mendekatkan dirinya ditelinga sang penyihir seperti membisikkan sesuatu yang tidak dimengerti oleh Aya.


Selena menatap Aya dengan pandangan tajam begitu juga dengan sang kucing hitam. Selena mengambil kucing yang ada diatas pundaknya kemudian meletakkannya diatas pangkuannya, selena mengelusnya sambil menatap tajam kearah aya.


"Ada apa kamu perlu kemari putri Carraya?" tanya selena sang penyihir penuh penekanan.


"Darimana kamu mengenaliku, bukankah kita belum pernah bertemu?" tanya Aya penuh tanda tanya.


"Hahahaha, tidak perlu kamu tau." Selena tersenyum tipis penuh arti.


"Pulanglah tuan putri? Di sini bukan tempat untuk mu bermain? Sekali saja kamu masuk kesini, maka kamu tidak akan selamat!" ucap Selena dingin dengan tatapan tajam matanya.


"Aku ingin melakukan sebuah penawaran dengamu Selena, aku jamin kamu akan sangat menyukainya."


"Benarkah, apa itu? Hahahaha..." tawa selena menggema dihutan belantara.


"Apa kamu tidak tertarik?" tantang Aya.


"Tawaran apa yang kamu miliki tuan putri? bukankah kamu sudah tidak memiliki apapun?"


"Benar, aku sudah tidak memiliki apapun, tapi tawaranku jauh lebih beharga dari pada emas? jawab Aya lebih sinis.


Selena terdiam lalu ia datang menghampiri Aya "Apakah itu tuan putri?" tanya Selena sambil mengelus pipi Aya yang mulus. Namun dengan lihainya Aya menepiskan tangan selena!


"JIWA DAN RAGAKU" jawab Aya lantang.


Selena menatap Aya seakan tidak percaya. Ia melangkahkan kakinya menunju kursi goyang miliknya dan meraih kucing nya yang bernama Elfiz lalu mengelusnya.


"Apa tujuanmu? Apa kamu ingin balas dendam kematian ibu dan ayahmu."


"Kamu tidak perlu tau tujuanku Selena, yang jelas bukankah yang kutawarkan jauh lebih beharga daripada emas. Bukankah jiwa dan raga yang kugadaikan bisa menambah keberlangsungan hidupmu. Penawaranku berlaku apabila kau memberikan apa yang kuinginkan."