SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Makan Malam Dengan Ibu Suri



"Selamat malam pangeran Fathur, ayo saya antarkan anda ke tempat ibu suri." ucap seorang pelayan cantik yang diperintahkan oleh ibu suri untuk menunggu pangeran dilantai bawah.


Fathur dan Macron yang baru saja tiba langsung mengikuti pelayan yang berjalan didepan meraka tersebut.


"Maaf pangeran, ibu suri meminta untuk semua pengawal anda tetap disini saja." ujar pelayan tersebut sambil mempersilakan pengawalnya masuk kedalam sebuah ruangan di lantai dua yang sudah tersaji menu makan malam dan beberapa lilin untuk menemani mereka menikmati makanannya.


"Mengapa begitu?"


"Ibu suri hanya ingin anda saja yang berada dilantai atas bersama dirinya. Ada hal penting yang ingin dibicarakan, dan sayapun hanya diminta untuk mengantar anda sampai disini." ucap pelayan tersebut seraya membungkukkan badannya dan mempersilakan pangeran untuk menuju kelantai atas.


Fathur dan Macron saling bertatapan. Fathur merasakan ada hal yang aneh. tadi sore ibu suri mengirim pengawal yang begitu banyak dan sekarang ibu suri memintanya untuk makan malam namun tidak ada satu orangpun pengawal maupun pelayan yang boleh ada disana kecuali dirinya dan ibu suri sendiri. Namun Fathur mencoba untuk berfikir tenang.


Fathur melangkahkan kakinya menuju lantai atas dan disana sudah ada ibu suri yang menunggunya.


"Cucuku." Ibu suri membukakan tangannya lebar lebar agar Fathur masuk ke dalam pelukannya. Fathur pun menyambutnya dengan hangat.


"Sudah lama kita tidak makan bersama seperti ini, terakhir kali kita makan disini waktu kamu masih umur 15 tahun. kamu datang disini bersama ibumu dan juga ayahmu. Ucap ibu suri dengan raut wajah sedih.


Fathurpun mulai teringat momen disaat ia bersama ibunya masih hidup. Mereka selalu tertawa bersama dan hidup dengan bahagia. Ayahnya yang merupakan raja Abrahampun sangat baik padanya. Namun semenjak ibunya meninggal ayahnya menjadi berubah. Ia menjadi sosok yang keras dan sangat arogan.


"Kamu kenapa Fayz."


"Tidak apa apa ibu suri."


"Kalau kita sedang berdua jangan panggil ibu suri, panggil nenek saja. Nenek rindu dengan panggilan itu. Dulu waktu ibumu masih hidup kamu selalu memangil dengan panggilan nenek walaupun dalam acara resmi sekaligus. Ayahmu selalu melarangmu dan memamarahimu namun kamu tidak berubah memanggil nenek." ucap ibu suri tertawa mengingat momen waktu fathur masih anak anak.


"Baik nek." ucap Fathur seraya menggenggam jari jemari neneknya sehingga membuat mereka berdua tersenyum.


"Ayo, sekarang kita nikmati makan malamnya." Fathurpun menikmati makanannya tanpa ada rasa curiga. lalu disaat semuanya sudah selesai ibu suri memberikan sebuah gelas minuman.


"Ayo diminum, ne nenek buatkan ramuan dari bahan radix notoginishing agar lukamu yang didalam tubuh cepat sembuh."


"Darimana ibu suri tau ramuan ini."


"Tentu saja nenek tau, dulu kan kakekmu seorang Raja, jika dia terluka nenek selalu membuatkan dia ramuan ini."


Fathur pun senang bisa dapat meminum ramuan itu, karena dia ingat dengan pesan Aya untuk meminum ramuan tersebuat agar luka dalamnya cepat sembuh. Fathur langsung meneguknya tanpa rasa curiga.


Ibu Suri yang melihat kejadian tersebut merasa sangat senang, karena akhirnya rencananya berhasil. ramuan tersebut sudah dicampur dengan ramuan penenang yang berfungsi merelaksasi otot agar segerta tertidur.


Fathurpun yang sudah selesai meneguknya tanpa sisa tiba tiba merasa ngantuk yang sangat hebat. matanya tidak bisa diajak kompromi.


"Nek, mata saya tiba tiba terasa mengantuk sekali. Saya kembali ke peristirahatan dulu."


"Jangan, sebentar lagi. kita belum bercerita, masa habis makan langsung pulang fathur."


"Baiklah nek."


Fathur mencoba untuk membuka matanya lebar lebar dan mencubit pahanya agar rasa ngantuk yang ada pada tubuhnya sedikit menghilang sementara Ibu suri terlihat asyik bercerita tentang banyak hal, namun belum sampai 10 menit, Fathur sudah tertidur ngorok sambil duduk. Ibu suri berjalan kearah Fathur lalu dengan segera menyingkap pakaian yang ada dipunggungnya perlahan lahan.


"Oh ya tuhan..." Kata kata ibu suri menggantung diudara. dia menutup mulutnya dan mengerjapkan matanya, seakan akan tidak percaya atas apa yang dilihatnya.


"Kenapa luka cambuknya bisa hilang tanpa tergores sesikitpun, bukankah pengawal yang kukirim sebagai mata mata mengatakan punggungnya terluka parah. Apa yang terjadi dengan dirinya." gumam ibu suri.


Ibu suri melangkahkan kakinya untuk kembali ke kursinya lalu fikirannya bercabang cabang memikirkan jawaban atas apa yang dilihatnya.


"Apa dia memiliki ilmu yang bisa menyembuhkan luka. Tapi semenjak kapan? Oh ya semenjak dia melarikan diri." gumam ibu suri mencari jawabannya.


Kemudian setelah rasanya cukup, Ibu suri menuruni tangga.


"Pelayan." Ibu suri melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.


"Baik Ibu suri." pelayanpun berjalan menuju pengawal Pangeran.


"Tuan Macron, Ibu suri memanggil anda." pelayan mempersilakannya untuk memberi jalan kepada Macron menuju Ibu Suri.


Macron berjalan menghampiri Ibu suri yang sudah ada dilantai dua. dia memberi hormat dengan membungkukkan badannya.


"Bangunkan pangeran kalian itu, belum apa apa sudah ngorok.


"Baik ibu suri."


Macron menaiki anak tangga menuju lantai atas dengan segera. Dia merasa khawatir dengan pangeran yang tidak pernah tertidur dalam acara apapun.


"Apa yang dilakukan ibu suri kepada pangeran." gumam Macron yang telah berada disamping Fathur.


"Pengeran."


"Pangeran." Macron mencoba menggoyang goyangkan tubuh Fathur.


"Hem... Aku ngantuk, jangan ganggu."


"Pangeran, apa anda sudah lupa dengan janji anda bersama gadis gaun merah itu."


Disaat Macron menyebut gadis gaun merah mata Fathur langsung tebuka dan ia reefleks memaksakan dirinya untuk melangkah menuju tempat peristirahatnnya.


"Dimana ibu suri."


"Dia sudah kembali ke kamarnya pangeran."


"Hem baiklah. kita langsung pulang saja.


Fathur melangkahkankan kakinya menuruni anak tangga sesekali kakinya tersandung namun dengan sigap Macron membantunya untuk berdiri dengan baik. sesampainya dibawah pengawal yang lain sudah menunggunya dibawah.


"Ada apa dengan pangeran, tuan." ucap seorang pengawal kepada Macron.


"Mungkin dia lelah."


"Sepertinya jika dilihat dari ciri cirinya, pangeran sudah meminum ramuan obat tidur tuan."


"Benarkah."


"Iya tuan."


"Ya sudah, bantu saja pangeran berjalan."


"Jika kata pengawal tersebut benar, kenapa ibu suri melakukan ini? apa ibu suri tau tentang gadis gaun merah itu, makanya dia sengaja memberikan ramuan obat tidur kepada pangeran agar bisa menggagalkan rencana pangeran mengeluarkan gadis tersebut dari istana." gumam Macron dalam hati.


Mereka berjalan terus hingga akhirnya mereka sampai di tempat peristirahatan. Aya yang dari tadi berkali kali mengintip dari balik jendela menunggu kedatangan Fathur langsung kaget melihat keadaan Fathur seperti orang mabuk.


"Ada apa lagi sich, kehidupan pria ini kenapa tidak jauh dengan orang yang ingin mencelakainya. Aya merasa sedikit kesal dengan orang yang mencelakai Fathur. Bukan karena dia mencintai Fathur. Namun dikarenakan makin sulit untuk dia keluar dari istana ini jika Fathur terus terus begini. Dia belum begitu paham dengan seluk beluk jalan keluar istana ini. karena dia baru dua hari di istana ini.


"Pengawal kalian tunggu dibawah saja semuanya."


"Baik tuanku."


tok...tok...tok...


Macron masuk tanpa menunggu jawaban Aya, Aya dan Fathur memang tidur dalam satu kamar untuk menggelabui pengawal dan pelayan. Agar mereka tidak tau ada Aya di tempat peristirahatan Fathur. Kamar Fathur ukurannya besar. mereka tidur berpisah. Fathur tidur di ruangan kerja sementara Aya diatas ranjang.