
"Plak........" Sebuah tamparan mendarat kepada seorang prajurit yang menyampaikan pesan kepada tuan Wind bahwa rombongan pangeran Zein sudah kabur. Darah segar keluar dari ujung bibirnya
akibat tamparan yang sangat keras mendarat dipipi kirinya.
"KALIAN SEBANYAK INI TIDAK BISA MENANGKAP MEREKA BERTIGA. DASAR BODOH!" Teriak tuan Wind dengan emosi yang berapi api. Sorot matanya yang tajam seakan akan ingin mencabik mereka semua. Tuan Wind melirik ke semua prajurit yang sedang menunduk dihadapannya.
"APA KALIAN SEMUA INGIN KUBUNUH HIDUP HIDUP DAN DAGING KALIAN KUBERIKAN KEPADA SERIGALA YANG KELAPARAN." Teriaknya lagi hingga membuat pria yang ada dihadapannya bergetar seluruh badannya.
Siapa yang tidak kenal dengan tuan Wind. Mereka semua sangat mengenal tuan Wind yang lagi marah. Bagi tuan Wind nyawa mereka tidak ada artinya.
Semua prajurit yang ada disana tidak ada yang berani menjawab ataupun memandang kearah tuan Wind kecuali orang kepercayaannya.
"Tuan, aku rasa mereka belum jauh dari sini. Mereka pasti menginap disekitar tempat tinggal yang ada di wilayah kekuasaan kita karena salah seorang diantara mereka ada yang terluka. Ada yang berhasil menusukkan sebuah pisau belati ke arah perutnya."
"Ha.ha... Benarkah? Kalau begitu cari mereka sekarang juga! Aku ingin melihat bagaimana anak pungut itu memohon belas kasihanku."
"Baik tuan." Semua prajuritpun dikerahkan untuk mencari disetiap penginapan yang ada diwilayah mereka.
"Bawa prajurit yang paling terbaik."
"Zeyn, ternyata kamu datang juga mencariku? Aku fikir kamu tidak akan pernah tahu siapa aku?" gumam tuan Wind sambil tersenyum sinis.
Sementara itu Aya dan pangeran Zein masih berada dimeja makan. Pangeran Zein sudah selesai menikmati makanannya berbeda dengan Aya. Pesanannya sedikitpun tidak dicicipi. Fikiran Aya bercabang cabang. Ia sedang mencari akal agar pangeran Zein tidak mencurigai dirinya.
"Bagaimana jika dia curiga kepadaku? Apakah dia akan mencari tahu aku? Setelah dia tahu apakah aku akan dibunuh atau dihukum gantung?" batin Aya gelisah.
"Hem, apakah kamu hanya melihat makananmu saja tanpa kamu cicipi?" ucap pangeran Zein sambil melirik kearah makanan dan minuman yang dipesan oleh Aya.
"Hm, Iya." Aya memotong dan menyuap makanan untuk masuk kemulutnya namun nafsu makannya hilang seketika. Dirinya yang tadi sangat kelaparan kini rasa lapar itu tidak lagi terasa.
"Hm, ternyata dia adalah putri Carraya. Anaknya raja Alexandro. Bagaimana dia bisa masuk padahal dirinya memiliki ilmu hitam?" batin pangeran Zein sambil memandang kearah Aya yang sedang memotong motong makanannya namun tidak memasukkan kedalam mulutnya.
Mereka berdua hanyut didalam fikirannya masing masing. Selang beberapa detik kemudian terjadi keributan diluar. Ditempat penginapan yang mereka tempati. Aya dan pangeran Zein saling bertatapan kemudian bertanya dengan seorang palayan yang tidak jauh dari mereka.
"Ada keributan apa diluar?" tanya pangeran Zein kepada pelayan yang lewat didepan mereka dengan tergesa gesa.
"Oh, orangnya tuan Wind tuan. Mereka mencari seseorang yang melarikan diri dari penjara mereka." Pelayan tersebut kemudian berlari menyelamatkan dirinya. Aya dan pangeran Zein saling pandang lalu pangeran Zeinpun memberi aba aba untuk kembali ke atas.
Aya dan pangeran Zein kembali ke kamar masing masing mengambil barang mereka lalu menuju kekamar Lexdo. Pangeran Zein mendobrak kamar Lexdo karena disaat pangeran Zein mengetuk dan memanggil Lexdo tidak ada suara yang memberi jawaban dari dalam.
"LEXDO....BANGUN!" Teriak pangeran Zein melihat Lexdo yang sedang terbaring dengan nyenyak diatas dipan.
Lexdo terperanjat memdengar suara pangeran Zein dan langsung membuka matanya.
"Ayo. Kita harus pergi dari sini. Orangnya Wind mencari kita. Mereka ada dibawah."
Lexdo yang sudah sedikit mendingan karena meminum ramuan dari Aya. Bergerak mengambil perlengkapannya lalu mengikuti langkah pangeran Zein namun mereka salah kini dihadapan mereka sudah ada sekelompok orang yang siap menangkap mereka.
Tuan Wind mengirim orang orang terbaiknya yang sebanding dengan pangeran Zein. Pangeran Zein dan yang lainnya melangkah mundur sambil bersiap siap menunggu serangan.
"Kalin tidak perlu bertanya. Bukankah kalian tahu tentangku?"
"Tentu saja. Kehadiranmu dimanapun itu selalu tidak diharapkan. Kamu selalu menjadi pemain pengganti.Ha...ha...ha...."
"Benarkah? Aku rasa tidak. Kalian yang menjadi penonton hanya bisa menilai tanpa tau siapa aku? Bukankah sekarang saja kalian menginginkanku? Apakah seorang pemain penggganti selalu diinginkan? Aku rasa tidak. Justru karena aku tokoh utamanya kalian mengincarku?" pangeran Zein tersenyum sinis melihat semua orang yang dikenalnya ada didepan mata.
"Tangkap mereka." ucap tangan kanan tuan Wind.
"Hyaaa...... semua prajurit mengeluarkan pedang mereka sambil menyerang kearah lawan. Mereka bertigapun tidak mau menyerah begitu saja. Terjadilah pertempuran yang sangat sengit didalam kamar yang ditempati oleh Lexdo.
Lawan mereka kali ini tidak seperti waktu yang pertama kali. Lawan mereka adalah orang orang yang sangat tangguh. Pangeran Zein tidak bisa tetap bertahan untuk tetap berada ditempat.
"Bugh...." sebuah tendangan mendarat diperut pangeran Zein hingga membuat pedangnya terlepas dari genggamannya. Aya menoleh sekilas namun tidak bisa ikut membantu karena dirinya pun sedang diserang habis habisan.
"Pangeran Zein bangun lalu mengeluarkan sebuah belati lalu menyerang mereka begitu juga dengan Lexdo. Lexdo berada ditengah tengah diantara pangeran Zein dan juga Aya.
"Doaar" Sebuah bola api menghantam jendela yang tidak jauh dari mereka bertiga.
"Brengsek." ucap pangeran Zein.
"Ha...ha....ha... Menyerahlah Zein. Kamu tidak akan bisa melawan mereka semua." ucap tangan kanan tuan Wind yang sedang duduk melihat prjuritnya menyerang mereka bertiga.
"Jika kamu bisa melawan aku. Maka aku akan menyerah." tantang pangeran Zein.
"Hm, kamu fikir aku bisa dibodohi kamu. Aku tidak perlu membahas tantanganmu, yang paling terpenting kamu bisa aku tangkap."
"Dasar pengecut."
"Serang mereka lagi dan kamu lakukan tugasmu agar pekerjaan kita selesai." ucap tangan kanan tuan Wind kepada beberapa orang yang berdiri disudut.
"Baik tuan."
Orang orang yang berpakaian hitam tersebut maju lalu merekapun saling memberi kode untuk berhenti menyerang. Kini sekelompok orang berpakaian hitam mendekati mereka lalu menyerang mereka dengan tangan kosong.
Aya memperhatikan mereka dengan gelagat aneh. Aya mundur beberapa langkah mendorong tubuh Lexdo untuk berada dibelakangnya dan pangeran Zein.
"Bersembunyilah Lexdo di belakang almari itu." Aya mendorong tubuh Lexdo dengan kuat.
"Apa kamu siap. Mereka bukan orang sembarangan. Kamu bebas mengeluarkan kekuatanmu tapi jika kamu ingin kita mati disini kamu berhak untuk berpura pura bodoh dan menyembunyikan kekuatanmu selamanya." pangeran Zein menoleh sekilas kearah Aya dengan tatapan tajam.
Belum sempat Aya menjawab kini sekelompok orang yang berpakaian hitam menyerang mereka dengan beberapa buah pisau belati yang siap siap mmengoyak tubuh mereka.
Pangeran Zein dan Aya dengan cepat menghindar. Pangeran Zein melesat diudara sementara Aya menggunakan pedangnya menyingkirkan setiap belati yang bersiap menghunus dirinya namun kini pisau belati tersebut datang dengan jumlah yang sangat banyak. Aya mulai kewalahan.
Pangeran Zein menyerang mereka dengan kekuatannya. Lexdo yang sedang bersembunyi membuka mulutnya seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.