SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Pesta Ratu Wiena



"Tunggu!" Ucap Aya kepada pangeran Fathur yang sudah berada didaun pintu.


"Apa kamu tidak akan kembali kepesta ratu Wiena?"


"Tidak. Aku akan menemanimu disini. Bukankah sudah kujelaskan tadi bahwa aku sangat mengkhawatirkan dirimu. Aku takut jika Selena tau kamu ada disini." Pangeran Fathur menatap tajam kearah Aya.


"Oh ya, aku ingat. Aku hanya mengkhawatirkan dirimu pangeran. Aku takut raja Abraham murka kepadamu. Itu saja. Tidak lebih."


"Aku akan baik baik saja. Cepat ganti pakaianmu. kita akan makan bersama."


"Hm baiklah."


Pangeran Fathurpun kembali ketujuannya semula. Menuju dimana Macron berada.


"Pangeran, apa terjadi sesuatu dengan Aya?"


"Tidak. Dia baik saja.


"Oooh..." Macron terkejut dengan jawaban pangeran Fathur. Difikirnya ada hal apa yang terjadi hingga membuat pangeran Fathur meninggalkan pesta dengan tergesa gesa.


"Macron, perintahkan semua pengawal kerajaan untuk memeriksa setiap orang yang masuk. Jangan beri masuk siapa aja yang mereka tidak kenal dan tambah lagi pengawasan ditempat Aya dua kali lipat.


"Baiklah pangeran." Ucap Macron yang masih bingung atas tingkah pangerannya.


Macron memeberikan perintah kepada prajuritnya untuk melakukan tugas yang diberikan oleh pangeran Fathur. Setelah selesai iapun kembali kedalam melanjutkan tugasnya seperti biasa. Namun perhatiannya teralihkan melihat pangeran Fathur yang sibuk melihat tiap sudut peristirahatan.


"Ada apa pengeran?"


"Oh kamu mengagetkanku saja, aku fikir siapa. Tidak ada apa apa. Aku hanya memastikan disini aman saja.


"Sebenarnya ada apa sih pangeran?"


"Aku melihat Selena diistana ratu Wiena. Aku hanya khawatir jika dia mengetahui bahwa Aya ada bersama kita."


"Benarkah? Apa mungkin tadi malam yang menyusup itu adalah Selena."


"Maksud kamu?"


"Tadi malam ada seorang penyusup. Kami semua mengejar dan mencarinya tiap sisi. Gerakannya begitu gesit dan menurut salah satu prajurit ia meloncat dari satu pohon kepohon yang lain pangeran."


"Apa mungkin Selena secepat itu tahu Aya disini?"


"Sepertinya tidak pangeran karena yang terluka adalah ratu Alexa. Saya rasa Aya mengetahui sesuatu. "


"Hm baiklah. Kamu kembalilah bekerja." Pangeran Fathur menuju meja makan untuk menunggu Aya. Fikirannya bercabang tidak tahu kemana. Ada rasa kesal dan marah karena Aya tidak memberitahu dirinya jika Aya mengetahui sesuatu.


Tidak perlu menunggu waktu yang lama lebih kurang 5 menit setelah kepergian Macron, Aya muncul menuju ruang yang sudah disiapkan untuk mereka makan malam berdua. Pangeran Fathur tidak berkedip sedikitpun melihat kecantikan wanita yang ada dihadapannya.


"Hm... Apakah kita sudah bisa mulai makan?" ucap Aya yang sudah siap menyajikan sepiring nasi dan lauk pauk untuk pangeran Fathur dihadapannya.


"Oh, maaf. Aku lupa diri karena sesuatu."


"Ayo kita makan." ucap pangeran Fathur. Kemudian mereka berduapun menyantap makanannya secara bersama sama.


Setelah selesai mereka berdua berjalan kelantai atas dan duduk di ruang santai. Pangeran Fathur tidak ingin membawa Aya keatas balkon. Udara sangat dingin selain itu Selena bisa saja tiba tiba muncul diatas. dan melihat Aya karena dibalkon ruangannya sangat terbuka.


"Aya..."


"Hm, ada apa?" ucap gadis tersebut sambil melihat kearah kaca jendela.


"Apa kamu sudah tahu jika Selena ada disini?" ucap pangeran Fathur sangat lembut sambil melihat ke manik mata Aya. Ia mengunci mata Aya agar bisa melihat kedalam manik mata tersebut. Aya yang merasa diselidiki hanya bisa membuang tatapannya.


"Aku tidak suka dibohongi Aya." ucap pangeran Fathur sekali lagi sambil menatap tajam kearah luar.


"Iya." Aya menundukkan kepalanya kebawah.


"Semenjak kapan?" Pangeran Fathur menahan emosinya. Dia berharap jawaban Aya 'tidak'. Namun jawaban 'Iya' dari Aya sangat menyakiti hatinya.


"Tadi malam. Akupun terkejut melihat dirinya. Aku melihat dirinya masuk kedalam kamar ratu. Aku hanya mengintip disebalik gorden jendela. Maafkan aku tidak memberitahu kalian." ucap Aya bersalah. Seharusnya ia memberitahu prjaurit jika ratu dan raja dalam keadaan bahaya.


"Aku pantas dihukum pangeran." Aya duduk dilantai sambil menundukkan kepalanya. Aya menggigit bibirnya untuk melepaskan rasa panik dan sesak didadanya.


"Kenapa kamu melakukan itu Aya? Apa kamu juga menginginkan kematian ratu dan raja? Seperti yang lain."


"Tidak pangeran. Aku hanya ingin menyelamatkan diriku dari Selena?" ucap Aya berbohong. Jantung Aya rasanya ingin berhenti berdetak. Ia menelan salivanya. Tidak tau apa yang akan terjadi. Dirinya memang sangat berharap kematian raja Abraham. Tapi tidak mungkin ia katakan kepada Fathur. Karena mereka adalah ayah dan anak.


"Aya....! Pangeran Fathur menuju Aya dan mengangkat dagunya agar mata mereka saling bertatap.


"Hm..."


Aya hanya bisa menatap sendu kedalam mata pangeran Fathur. Ingin sekali dirinya berteriak dan mengatakan bahwa ayah yang dia bela adalah seorang pembunuh namun ia tidak memiliki bukti.


"Tidak pangeran. Aku tidak berbohong." ucap Aya dengan mata berkaca kaca. Di hati Aya ada rasa ketakutan ditinggal sendiri.


"Hm, maafkan aku Aya. Aku hanya takut kehilangan. Bangunlah dan kembalilah kekamar. Aku akan kembali ke pesta ratu Wiena. Ada sesuatu yang ingin kuketahui."


"Hm, baiklah."


Aya meninggalkan kamar lalu memasuki kamarnya dan mengunci pintu dari dalam. Setelah mendengar derap langkah kuda dan singa berlari kencang meninggalkan tempat peristirahatan. Aya melemparkan tubuhnya keatas kasur.


"Kenapa aku begitu lemah dan tidak berdaya? Apakah aku mencintainya sehingga aku menjadi begini?" ucap Aya sambil meneteskan air mata nya. Namun dengan cepat dihapusnya.


"Aku tidak akan pernah menangis karena dirinya. Walaupun dirinya begitu baik padaku namun darah pembunuh di dalam dirinya tetap mengalir." batin Aya menepuk dadanya yang sakit karena cinta yang sudah mulai tumbuh.


"Aku harus mulai membiasakan diri tanpa dirinya. Bagaimanapun caranya. Aku tidak boleh bergantung kepada orang lain. Semua penderitaanku sudah cukup. Bagaimana aku balas dendam jika diriku sendiri masuk kedalam pesonanya." batin Aya lagi.


Sementara Aya mulai sibuk memikirkan cara untuk mulai menjauh dari pangeran Fathur. Macron dan Fathur yang sudah sampai ditempat ratu Wiena Berjalan diam diam sambil mencari sosok yang mereka cari.


Mereka berdua memperhatikan gerak gerik Selena tanpa disadari oleh sang penyihir itu sendiri.


"Aku ingin mencari udara segar dulu putri Liana? Bukankah kamu tadi ingin mencari calon suamimu yang menghilang."


"Oh ya benar. Aku lupa. Aku pergi dulu." Ucap putri Liana mencari pangeran Fathur.


Setelah kepergian putri Liana. Selena yang telah ditinggalkan sendiri, melangkahkan kakinya perlahan lahan sambil matanya sibuk mencari sosok yang sangat dikenalinya dan kemudian bibirnya tersenyum melihat sosok yang dicari akhirnya ditemukan juga. Iapun kemudia menyusul sosok tersebut.


"Ratuku...!" ucap Selena lembut ditelinga seorang wanita hingga membuat yang dipanggil merasakan sekujur tubuhnya kaku.


"Selena. Kenapa kamu bisa disini?" ucap Alexa panik dan menariknya jauh kesudut.


"Apa kamu tidak tahu ini adalah rumahku." Selena tersenyum menyeringai.


"Maksudmu?"


"Aku tidak perlu menjelaskan kepadamu maksudku. Yang penting sekarang kamu dan aku ada disini."


"Menjauhlah Selena. Jika ada seseorang yang mengenali kita maka akan timbul fitnah."


"Hm, fitnah? aku tidak memperdulikan itu."


"Kamu sudah gila ya."


"Ya, apa ga kamu yang gila."


"Tinggalkan aku. Apapun yang kamu minta akan kuturuti."


"Benarkah?"


"Iya, cepat katakan."


"Aku ingin kembali ke kerajaan. Bisakah kamu mengabukkannya ratu Alexa?"


"APA??


"AKU INGIN KEMBALI." teriak ratu Alexa. Untung saja acaranya dihadiri orang ramai ditambah lagi bunyi musik dansa dan juga suara orang ketwa bahagia membuat teriakan Alexa hanya seperti pembicaraan biasa.


"Kamu gila ya! Kamu yang hebat saja tidak bisa membuka sihirnya. Apalagi aku. Jika aku bisa membuka sihirnya aku tidak perlu membuang semua sihirku untuk masuk kedalam kerajaan Andromela supaya bisa menikah dengan raja Abraham." bentak Alexa.


"Itu urusanmu bukan urusanku."


"Heh, aku fikir kamu kuat Selena. Ternyata untuk membuka sihir saja kamu tidak sanggup."


"Aku dan kamu sama saja. Bedanya kamu licik aku tidak. Kamu rakus aku tidak dan satu lagi kamu ****** DAN MURAHAN."


"Whoosh" Tangan Alexa melayang diudara. Tamparannya dapat dihindari oleh Selena.


"Jangan bermain denganku Selena. Walaupun aku sudah tidak memiliki kekuatan sihir lagi tapi untuk menghabisi nyawamu sangat mudah bagiku."


"Benarkah? Kita lihat saja nanti." Selena menghilang dari Alexa.


"Bedebah."


"Sialan."


"Argh....." Ratu Alexa dibuat tidak tenang semenjak kehadiran Selena.