
"Brak...." Aya mendorong pintu rumah peristirahatan pangeran Zein. Beberapa prajurit setia yang sedang berjaga dan ingin beristirahat terkejut melihat Aya yang berlumuran darah. Aya berdiri didepan pintu dengan pakaian yang lusuh ditambah lagi penampilannya yang sangat berantakan.
"Pangeran dan Lexdo ada dibelakang." ucap Aya lirih dengan wajah yang sangat pucat kemudian Aya langsung berlari menuju kamarnya namun langkah kakinya dicegat oleh kepala pelayan.
"Apa yang terjadi Aya?" ucap kepala pelayan kepada Aya.
"Huk...Huk...." Aya batuk dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Semua pelayan dan prajurit yang ada disekeliling Aya terkejut. Mereka membelalakkan matanya seakan tidak percaya apa yang mereka lihat. Aya langsung mendorong tubuh kepala pelayan dan berlari menuju kamar mandi yang ada dikamarnya.
Disaat kepala pelayan ingin mengejar Aya terdengar derap langkah kaki kuda dihalaman peristirahatan. Kepala pelayanpun menghentikan langkahnya untuk menyambut kehadiran pangeran Zein.
"Pangeran Zein..." ucap seorang prajurit menangkap tubuh Lexdo yang oleng.
"Antar dia kekamarnya dan obati dia." ucap pangeran Zein kepada seorang prajurit dengan tatapan mata yang sangat tajam.
"Dimana gadis itu?" Pangeran Zein menatap kearah kepala pelayan.
"Dikamarnya pangeran. Dia sepertinya terluka parah. Darah menyembur keluar dari mulutnya." ucap kepala pelayan.
"Bawa dia kemari dan kalian panggil Nyonya Rezya. Segera lakukan." Pangeran Zein kemudian berlari menuju kamarnya untuk mengambil sesuatu.
Pelayan wanita yang telah diperintahkan oleh pangeran Zein untuk membawa Aya keruang tamu langsung bergerak cepat menuju kamar Aya. Disaat ia mencoba untuk mengetuk pintu dan memanggil nama Aya, gadis yang dipanggil tersebut tidak menjawab dari kamarnya.
Pelayan wanitapun akhirnya mencoba untuk mendobrak pintunya namun gagal.
"Kepala pelayan, kamar pelayan itu terkunci. Aku mendobraknya namun gagal."
"Benarkah. Minta pertolongan prajurit."
"Baik pangeran."
Kepala pelayan dan yang lainnya menuju kamar Aya dan beberapa prajurit mencoba mendobrak pintu kamar Aya namun tidak ada yang berhasil.
"Kenapa pintu ini menjadi kuat sekali? Biasanya didobrak sekali saja oleh prajurit pintunya sudah terbuka." ucap kepala pelayan.
"Akupun tidak mengerti kepala pelayan. Kita sudah mencobanya berkali kali namun tidak ada yang bisa."
Sementara Aya yang berada didalam kamar mandi. Ia masih sibuk memikirkan cara agar racun tersebut berhenti bekerja. Hingga saat ini Aya terus saja memuntahkan darah segar dari mulutnya hingga membuat dirinya menjadi lemah dan sangat pucat.
Aya mengumpul seluruh kekuatannya untuk mencoba melawan racun tersebut namun sia sia hasilnya. Tubuhnya hanya makin lemah.
"Arghhhhh... teriak Aya dikamar mandi hingga terdengar sampai dilantai atas. Pangeran Zein yang berada dikamarnya langsung berlari kebawah. Aya sedang merobekkan pundaknya dengan pisau agar semakin lebar dan memasukkan sebuah ramuan agar racunnya tidak menghentikan denyut nadinya.
Pangeran Zein dengan cepat berlari menuju lantai bawah.
"Dimana dia?" ucap pangeran Zein dengan tatapan marah karena tidak menemui Aya diruangan.
"Masih dikamarnya pangeran. Kamarnya tidak bisa dibuka. Prajuritpun sudah mencoba mendobraknya berkali kali namun gagal." ucap salah satu pelayan dengan menunduk.
"Argh... dasar gadis bodoh. Keras kepala." Pangeran Zein menuju kamar Aya sementara prajurit dan pelayan mengikuti langkah pangeran Zein.
"Brakkkkkkk..." Pangeran Zein mendobrak dengan kekuatan dalamnya. Kamar Aya dikunci dengan sebuah mantra namun berhasil dibuka oleh pangeran Zein.
"Heh.. Hanya segini kekuatan mantranya? batin pangeran Zein lalu tersenyum sinis sementara yang lain ketakutan melihat pangeran Zein karena mereka semua tidak bisa mendobraknya.
"Matilah kita dihukum." ucap seorang prajurit.
"Benar. Bagaimana bisa kalian sebanyak ini tidak bisa membukanya sementara beliau bisa?" ucap kepala pelayan kesal menahan amarah.
"Minggir kamu." ucap pangeran Zein.
"Baik pangeran."
Pangeran Zein mendobraknya dan melihat Aya yang sedang terduduk di dalam wastafel sambil bersandar. Pangeran Zein membuang pandangannya kesamping karena melihat Aya yang kini hanya menggunakan kembanan didadanya.
Aya sudah mengoyak pakaiannya hingga hanya meninggalkan kembanan yang menutup bagian dadanya agar mudah melihat dan mengobati lukanya makanya pintu kamar dikunci.
"Tutupi dia dengan selimut." perintah pangeran Zein. Kepala pelayanpun langsung mengambil selimut dan menutupi tubuh Aya dengan selimut. Disaat menutupi tubuh Aya kepala pelayan menoleh sekilas kearah bagian tubuh Aya yang terluka. Dirinya terkejut melihat luka koyak dipundak Aya yang sangat besar ditambah lagi dengan darah yang berjejer dilantai.
"Aya..." ucap pangeran Zein menepuk pipinya.
"Hm..." Aya membuka matanya sebentar lalu menutupinya lagi. Aya benar benar tidak berdaya.
Pangeran Zein mengangkat ttubuh Aya ala bridal style lalu membawanya kelantai atas menuju ke kamar kosong yang sangat luas. Pangeran Zein memberikan beberapa ramuan dedaunan kedalam mulut Aya yang diambilnya tadi.
"Dimana Nyonya Rezya. Susul dia. Suruh dia segera kesini." ucap pangeran Zein kepada seorang prajurit dengan nada panik.
"Kamu kepala pelayan. Perintahkan berberapa pelayan untuk membersihkannya.
"Baik pangeran."
Pangeran Zein menunggu diluar selagi Aya dibersihkan. Luka Aya diperban oleh pelayan agar dirinya tidak kehabisan banyak darah.
"Apa yang terjadi kepala pelayan?"
"Aku tidak tau. Mungkin mereka diserang musuh. Kita hanya akan tahu ceritanya setelah tuan Lexdo pulih dan sadar."
"Kasihan dia. Pasti dirinya sangat kesakitan." ucap seorang pelayan menatap Aya yang terbaring lemah. Kepala pelayan menatap wajah Aya dengan wajah iba. Kepala pelayan menelusuri wajah Aya sambil matanya berkaca kaca.
"Dia sangat cantik." ucap seorang pelayan yang sedang membersihkan kaki Aya.
"Dia juga harum. Harum bunga melati. Padahal dia belum mandi dan sedang berlumuran darah serta keringat."
"Kalian kenapa menggosip. Cepat kerjakan. Sebelum pangeran Zein marah. Kalian tahukan pangeran Zein tidak suka kehilangan orang orang yang setia padanya apalagi yang mau mengobankan nyawa seperti gadis ini dan tuan Lexdo.
"Baik kepala pelayan."
Tidak beberapa lama nyonya Rezya tiba diperistirahatan pangeran Zein. Nyonya Rezya langsung diantar keatas untuk menemui pangeran Zein.
"Kenapa kamu lama sekali?"
"Aku tidak lama Zein. Aku langsung datang bersama prajuritmu. Aku melesat kesini hanya 15 menit. Sementara jarak tempat tinggalku jauh."
"Ya sudah. Obati orangku. Jangan sampai ia kehilangan nyawanya."
"Baik Zein."
Rezya merupakan sahabat pangeran Zein. Dia orang yang sangat setia sekali dengan pangeran Zein. Mereka bertemu disaat pangeran Zein berada ditempat kediaman tuan Wind. Tuan Wind merupakan orang tua angkat pangeran Zein.
Rezya masuk keruangan Aya. Dirinya mencium aroma bunga melati yang sangat harum. Indra penciuman Rezya sangat tajam.
"Darimanakah Zein mendapati gadis ini? Dia selalu saja pintar dalam mencari orang orang yang memiliki kelebihan?" Heh, dasar lelaki picik." batin Rezya.