
Perjalananpun terus dilanjutkan. Setiap orang yang ada didalam rombongan merasa aneh dan larut dalam fikirannya masing masing. Mereka merasa heran kenapa tiba tiba ada sekumpulan rombongan datang menghadang perjalanan mereka dan kemudian rombongan tersebut pergi begitu saja kecuali raja, ratu dan pangeran Zein.
"Apa kamu baik baik saja?" ucap pangeran Fathur melihat putri Liana yang ketakutan.
"Aku takut berada didalam sendiri. Apa kamu tidak bisa menemaniku?" ucap putri Liana manja.
"Hm baiklah." Pangeran Fathur memasuki kereta kudanya lalu duduk dihadapan putri Liana.
"Tidak akan terjadi apa apa, semuanya akan baik baik saja."
"Benarkah? Apa kamu terluka?"
"Tidak. Aku baik baik saja." ucap pangeran Fathur ramah.
"Hm baguslah. Aku takut jika calon suamiku terluka!"
Pangeran Fathur menoleh sekilas kearah putri Liana lalu tidak menjawab ucapan putri Liana.
"Apa kamu tidak menyukai ucapanku?"
"Tentu saja aku menyukainya." ucap pangeran Fathur berbohong karena dirinya belum memiliki fikiran tentang sebuah ikatan pernikahan. Dirinya masih ingin bebas.
"Aku tahu kamu tidak menyukainya. Tapi akan kubuat kamu bertekuk lutut dihadapanku." batin putri Liana menatap pangeran Fathur yang sedang ada dihadapannya.
Sementara mereka berdua asyik bercerita rombongan pun menghentikan perjalanannya sesuai perintah raja. Matahari sudah berada tepat diatas kepala. Waktunya makan siang telah tiba. Mereka harus mengistirahatkan kuda dan juga prajurit yang sudah kelelahan.
"Ayo kita turun?" ucap pangeran Fathur kepada putri Liana. Putri Liana pun menuruni kereta kudanya dan sengaja mencondongkan sebagian tubuhnya ke arah pangeran Fathur hingga disaat ia turun tubuhnya sedikit terjatuh.
Aya melihat pangeran Fathur yang spontan menangkap tubuh putri Liana hingga tubuh mereka hampir seperti berpelukan. Aya membuang wajahnya agar tidak terlihat jika dia sedang memperhatikan tingkah mereka berdua. Sementara pangeran Zein yang melihat tingkah Aya hanya tersenyum geli.
"kenapa wajahmu jadi berubah gitu? Apa kamu cemburu gadis kecil?"
"Jangan panggil aku gadis kecil. Apa kamu tidak lihat tubuhku yang besar ini dan satu lagi siapa juga yang cemburu." ucap Aya kesal dengan tingkah pangeran Zein yang selalu saja mengerjainya.
"Mulutmu bisa berbohong namun tidak dengan raut wajahmu." Pangeran Zein mencolek dagu Aya lalu tertawa keras meninggalkan Aya. Aya menatap tajam kearah pangeran Zein dengan tatapan kesal lalu melempar punggung pangeran Zein dengan bongkahan tanah yang ada dibawah.
"Au.. Kamu!" Pangeran Zein menatap kesal kearah Aya.
"Week.." Aya menjulurkan lidahnya kepada pangeran Zein.
"Dasar bocah tengik." Pangeran Zein berlalu meninggalkan Aya lalu pergi menuju rombongan yang lain. Sementara Aya bingung mau kemana. Jika biasanya ia selalu bersama Ela kini Ela sedang sibuk mengurusi putri Liana.
Ayapun melangkahkan kakinya perlahan lalu tidak sengaja bertatapan dengan pangeran Fathur. Pangeran Fathur menatap Aya dengan tatapan tajam lalu membuang wajahnya. Iapun berjalan menuju putri Liana.
Pangeran Fathur masih marah dengan Aya. Aya hanya menarik nafasnya dan memutuskan untuk kembali kedalam kereta.
"Mau kemana kamu?" tanya ratu Alexa yang tidak sengaja bertemu dengan Aya.
"Mengambil sesuatu yang tertinggal." ucap Aya lirih.
"Ooh, Kenapa kamu tidak pergi saja dari sini. Bukankah tidak ada yang mengharapkan kehadiranmu. Coba kamu lihat pangeran Fathur saja sudah tidak menggubirs dirimu." Ratu Alexa menyunggingkan bibirnya menatap Aya.
"Aku akan segera pergi dari sini setelah urusanku selesai." Aya berlalu meninggalkan ratu Alexa yang bingung dengan jawabannya.
"Urusan apa yang akan dikerjakannya?" batin Alexa menatap Aya tajam lalu menuju pangeran Zein sementara Aya memilih untuk kembali ke kereta. Aya kehilangan gairahnya untuk melakukan sesuatu.
"Kenapa dia begitu marah padaku? Bukankah dirinya yang mempermalukan diriku. Seharusnya dia membelaku dan setelah itu baru dia bertanya kepadaku. Aku pasti akan jujur jika hanya berdua dengannya." gumam Aya.
Aya mencoba untuk memejamkan matanya agar rasa lapar diperutnya agak sedikit berkurang. Sementara diluar semua rombongan sibuk melahap makanan dan bercanda gurau sambil mengistirahatkan badan. Aya merasakan dirinya sangat tersisihkan.
"Apa yang harus kulakukan? Apa aku mesti berada di istana ini? Sementara semuanya adalah musuh bagiku." Aya menarik nafasnya sambil melihat keluar jendela menatap pepohonan.
Sementara dilain sisi pangeran Zein yang melihat Aya membalikkan badannya kembali ke kereta kuda hanya menoleh sekilas lalu kembali menyantap makanannya.
Ia duduk jauh dari keramaian. Ia memang pribadi yang suka menyendiri dan merupakan sosok yang sangat misterius. Sosoknya tidak begitu menjadi objek perhatian didalam istana.
"Apa yang kamu rencanakan Zein?"
"Hm.. Kamu memang licik." ucap ratu Alexa. Pangeran Zein hanya tersenyum sambil meneguk minumannya dan memandang kearah kereta yang ditempati oleh Aya. Sementara ratu Alexa sibuk menceritakan rencananya kepada pangeran Zein. Pangeran Zein hanya menoleh sekilas lalu tersenyum lagi.
"Baiklah ibu, aku akan mengikuti rencanamu." Pangeran Zein bangun dari duduknya dan meninggalkan ratu Alexa.
"Anak itu selalu saja pergi sebelum aku selesai bicara. Sulit sekali mengatur dirinya. Selalu saja bilang iya dan baiklah tapi nanti dia selalu saja menghancurkan rencanaku karena kecerobohannya." gumam ratu Alexa kesal menatap punggung pangeran Zein.
Sementara itu pangeran Zein menuju ke rombongan prajurit untuk mencari orang kepercayaannya.
"Lexdo, bawakan satu mangok buah buahan dan juga roti kedalam keretaku. Aku masih lapar."
"Baik pangeran."
Pangeran Zeinpun memandang sekilas kearah pangeran Fathur dengan tatapan tajam sedang bercanda dengan Macron dan putri Liana kemudian ia berjalan mengelilingi tempat peristirahatan tersebut melihat suasana sekitar.
Pepohonan yang rindang dan udara yang berhembus di hutan tempat mereka berhenti tersebut sangat segar. Pangeran Zein menoleh ada sebuah pohon yang besar tidak jauh dari dirinya berada. Ia kemudian menaiki pohon tersebut dengan secepat kilat dan duduk bersandar diranting pohon yang besar. Iapun memejamkan matanya menikmati pemandangan yang ada dihadapannya.
Setelah hampir setengah jam ia berada diatas pohon pangeran Zeinpun turun mendengar suara ribut dibawah. Suara rombongan sudah bersiap siap untuk melakukan perjalanan kembali.
"Pangeran Zein, buah buahan dan rotinya sudah saya letakkan didalam kereta."
"Hm, baiklah." Pangeran Zeinpun pergi meningglkan Lexdo dan kembali kedalam kereta. Ia melihat Aya yang sedang tertidur bersandar sambil memegang perutnya. Pangeran Zein fokus menatap Aya yang sedang tertidur. Disaat kuda bergerak Ayapun refleks terbangun dan menoleh kekiri dan kekanan karena terkejut.
"Ada apa dengan dirimu? Apa kamu fikir kita sedang diserang."
"Oh maaf. Aku tertidur."
"Ini habiskan." Pangeran Zein menyodor buah buahan dan roti dihadapan Aya kemudian membuang wajahnya menatap jendela.
"Maksudmu?"
"Menurutmu apa?"
"Kamu memberikanku makanan dan menyuruhku untuk menghabiskannya."
"Itu kamu tau. Kenapa bertanya lagi?"
"Terimakasih." ucap Aya menatap pangeran Zein. Dirinya memang sangat kelaparan dikarenakan dari tadi pagi ia sedikitpun tidak melahap sesuatu.
Aya membuka buah apel dengan pisau lalu memasukkan kedalam mulutnya.
"Walaupun dalam keadaan kelaparan gadis ini masih saja makan dengan sangat elegan. Rahasia apa yang disembunyikannya?" batin pangeran Zein.
"Ayo makan bersamaku?" ucap Aya melihat pangeran Zein menatap dirinya.
"Benarkah?"
"Iya. Aku tidak bercanda.
"Suapi aku. Aku suka disuap oleh seseorang. Aku tidak terbiasa makan sendiri jika ada orang bersamaku."
"Benarkah? Bagaimana jika disampingmu adalah seorang lelaki?"
"Aku akan memintanya untuk menyuapiku juga." jawab pangeran Zein membuat tubuh Aya bergidik.
"Aku tidak suka. Aku tidak terbiasa." Aya menolak permintaan pangeran Zein.
"Cepat. Aku ingin anggur." ucap pangeran Zein membuka mulutnya. Aya hanya menarik nafasnya lalu menyuapinya dengan lembut.
"Apa kamu menginginkannya lagi?"
"Tentu saja. Sampai kamu selesai makan baru aku selesai." Pangeran Zein menoleh kearah Aya dan menatap Aya sekilas lalu mengambil sebuah buku untuk membacanya.
Tak terasa hampir setengah jam berlalu mereka berbagi sendok yang sama dan makan sepiring berdua. Pangeran Zein dan Aya menikmatinya sampai sisa terakhir dan akhirnya pangeran yang lelahpun tertidur sambil memeluk buku.
"Dia tidak sejahat yang aku fikirkan. Jika tidak ada dirinya mungkin aku sudah kelaparan." batin Aya.