SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Perjalanan Menuju Kerajaan Ratu Wiena



"Cih, Dasar wanita binal, berani beraninya bermain dibelakang."


"Nona..." teriak Ela.


"Ela... "


"Huzz!" Aya memberi sebuah isyarat kepada Ela agar tidak bersuara. Ela yang terkejut dengan kehadiran Aya dari arah pintu jendela hanya bisa melongo melihat Aya meloncat kedalam kamar.


"Dari mana saja anda nona Aya?"


"Aku hanya mencari angin sebentar. Didalam sumpek." Aya merangkul Ela dengan hangat layaknya sahabat. Sementara Ela hanya bisa menggelengkan kepalanya saja mengingat kejadian yang baru saja terjadi dihadapannya.


"Ayo ganti pakaian nona, pangeran Fathur sudah dibawah bersama tuan Macron memberikan arahan kepada prajurit. Sebentar lagi kita akan berangkat bersama rombongan kerajaan."


"Hem baiklah."


Aya yang melihat seperangkat perhiasan serta sebuah gaun yang sedang dipersiapkan oleh Ela menatap heran itu untuk siapa.


"Ada apa nona?"


"Tidak ada, aku hanya penasaran gaun dan perhiasan itu untuk siapa? Bukankah yang mengadakan pesta ulang tahun adalah seorang wanita yang sudah tua. Apakah cocok jika itu dijadikan sebagai hadiah."


"Ini memang hadiah dari pangeran Fathur nona namun bukan untuk ratu Wiena."


"Terus untuk siapa? Apa mungkin untuk anaknya?"


"Hem, coba nona tebak ini untuk siapa?" Ela tersenyum menunggu jawaban dari nonanya.


"Ga ach malas. Aku tidak tertarik. Kamu kebawah dahulu. Aku akan turun sebentar lagi."


"Baik non."


Ela menuruni anak tangga dengan segera. Semua peralatan sudah dibawa kebawah dari tadi. Sementara Aya membacakan sebuah mantra yang bertujuan untuk mensegelkan kamarnya hingga dia pulang agar tidak akan ada seseorangpun yang berhasil masuk kecuali jika ada yang bisa membuka segelnya.


Angin yang lembut berhembus disekitar kamar. Tidak ada satu orangpun yang menyadari tentang kekuatan sihir yang ada diatas kecuali Redolf yang berada di kandang sendirian.


Ia tiba tiba meraung dan menjadi sedikit liar sambil menatap kamar Aya dengan sorot mata tajam. Pangeran Fathur yang berada tidak jauh dari kandang Redolf melihat kemana arah tatapan Redolf. Iapun ikut melihat keatas sambil memikirkan sesuatu kemudian ia kembali menoleh kearah prajurit untuk memberi arahan.


"Apakah anda sudah siap Aya? Macron melihat penampilan Aya yang santai namun tetap terlihat anggun.


"Sudah."


"Ayo kita menuju rombongan raja!" Pangeran Fathur melihat sekilas ke arah Aya lalu berlalu pergi menuju Redolf.


Cuaca agak sedikit mendung namun jika mereka tidak bergerak dari sekarang mereka akan telat menuju istana ratu Wiena.


Angin mulai bertiup sangat kencang belum lagi awan yang sudah menjadi hitam pekat memberi petanda bahwa cuaca sedang tidak baik baik saja.


"Aya, kamu naik di kereta kuda saja. Saya akan bersama Redolf."


"Tidak pangeran. saya bersama yang lain saja."


"Jangan membantah. Saya tidak suka." Bentak pangeran Fathur membuat beberapa orang prajurit saling pandang.


"Saya dikereta kuda yang itu saja tuan?" tunjuk Aya ke arah kereta kuda yang tidak jauh dari dirinya.


"Itukan tempat persediaan bahan makanan kita selama dalam perjalanan. Jika kamu duduk disana bagaimana pelayan wanita yang lain.


Apa mungkin maksudmu pelayan wanita tersebut di kereta saya dan kamu yang bertanggung jawab manyiapkan makanan." Aya tidak bisa menjawab ia hanya menatap bingung kearah pangeran Fathur.


"Cepatlah Aya. Kita buru buru." Pangeran Fathur langsung menaiki Redolf yang sedang menatap Aya tajam dan meninggalkan Aya lalu memimpin rombongan untuk segera bergerak menuju rombongan yang lain.


"Ikuti saja Aya, cuaca sedang tidak bagus. Pangeran memang tidak suka duduk di dalam dia lebih senang berada di luar agar bisa melihat situasi secara langsung dan ini bukan yang pertama kali. Ini sudah yang kesekian kali." Ucap Macron kepada Aya agar merasa nyaman.


Aya masuk dan duduk didalam kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda tangguh yang biasanya di duduki oleh seorang anggota kerajaan.


Ada kurang lebih tiga orang pelayan wanita yang dibawa untutuk mengurus urusan persediaan makanan dan 10 orang prajurit yang tangguh di bawa untuk mengawal Pangeran Fathur menuju kerajaan ratu Wiena.


Raja dan ratu sudah bersiap untuk melakukan perjalanan. Mereka hanya tinggal menunggu pangeran Fathur tiba sementara pangeran Zein sudah dari tadi tiba.


"Ayo." ucap raja Abraham kepada rombongannya untuk segera bergerak setelah melihat pangeran Fathur sudah memasuki istana. Ia tidak ingin mengobrol ataupun minum teh bersama terlebih dahulu karena ia yakin Fathur pasti akan menolaknya.


Pangeran Fathur berada dalam rombongan terakhir. Mereka berjalan menerobosi jalan setapak dan hutan yang sepi. Tidak berapa lama setelah mereka melakukan perjalanan hujan turun begitu deras. Angin berhembus sangat kencang namun perjalanan tetap dilanjutkan.


Raja Abraham bukan tipe pemimpin yang memikirkan prajuritnya yang basah berbeda dengan pangeran Fathur.


"Pangeran, Bukankah lebih baik anda masuk didalam kereta kuda bersama nona Aya?"


"Tidak, aku baik baik saja." ucapnya.


"Raja Abraham akan marah kepada kami semua pangeran jika ia melihat anda hujan hujanan seperti ini."


Fathur melihat kearah Macron sekilas lalu terfikirkan olehnya yang dikatakan oleh Macron itu benar. Walaupun bagi dirinya dan prajurit hujan ini tidak akan membuat dirinya mati namun berbeda dengan raja Abraham ia memiliki cara fikir yang berbeda.


"Hem baiklah."


Aya heran kenapa rombongan tiba tiba berhenti lalu membuka tirai sedikit untuk melihat kejadian diluar namun belum sempat ia melihat keluar kepala pangeran sudah nongol disampingnya dalam keadaan basah.


"Bolehkah aku disini?"


"Boleh, silakan! Aku akan keluar."


"Jangan, kamu temani aku disini saja." ucap pangeran Fathur menarik tangan Aya. Aya menatap pangeran Fathur dan tanpa Aya sengaja manik manik hitam mereka berdua saling bertaut.


"Jangan membantah." ucap Fathur yang melihat gelagat Aya ingin menolak.


"Hem baiklah." Aya duduk dihadapan pangeran.


"Aku basah, apa kamu tidak keberatan?"


"Tidak apa apa." ucap Aya lalu menghidupkan sebuah lampu teplok untuk menerangi keadaan didalam.


"Kenapa kita tidak berhenti sebentar agar prajurit bisa istirahat? Kita sudah berjalan sangat jauh dalam keadaan hujan. Mereka sangat kedinginan. Bukankah tadi ada gua?


"Aku inginnya seperti itu tapi raja tidak akan memberi izin." ucap Fathur kecewa.


"Apa aku boleh membantu mereka?"


"Maksudmu?"


"Mempergunakan kekuatanku."


"Jangan. Kamu akan menarik perhatian rombongan kerajaaan." Fathur menatap kedalam manik hitam milik Aya dan menatapnya dengan penuh khawatir.


"Aku tidak ingin kamu...."


"Argh......" teriak prajurit yang ada dibaris depan. Beberapa orang yang ada dalam rombongan terjungkal ke tanah. Kuda mereka sudah sangat lelah.


Pangeran menghentikan ucapannya dan melihat keluar. Dilihatnya prajurit rombongan pangeran Zein dan raja Abraham sudah banyak yang terjatuh. Perjalanan pun tiba tiba dihentikan dekat sebuah gua yang dimaksud Aya.


"Ayo semuanya istirahat selama satu jam. Setelah itu kita akan melanjutkan perjalanan yang tinggal 3 jam lagi.


"Baik" ucap semua serentak.


Beberapa orang mencari ranting kering untuk menghidupkan api berbeda dengan rombongan pangeran Fathur. Mereka membawa pelayan wanita yang tugasnya membawa persiapan dengan sangat matang.


Ela dan teman temannya mengeluarkan kayu lalu menghidupkan nya dengan pematik api. Setelah itu mereka mengeluarkan bahan makanan yang bisa diolah dengan cepat dan menggerakkan tangan lihai mereka untuk segera menyajikan makanan dan minuman yang lezat dan hangat.


"Ayo, Kita makan..... " teriak si ndut membelah kesunyian hingga membuat beberapa orang geleng gelang kepala lalu tertawa.


Aya mengambil porsi untuk dirinya dan pangeran lalu duduk didekat pangeran yang sedang menghangatkan makanan. Semua mata melihat kearah mereka.


"Langsung dimakan pangeran selagi hangat biar tubuh terasa baikan."


"Terimakasih." Mereka menyantap makanan bersama sama.


"Mau nambah?


"Apa kamu tidak keberatan untuk mengambilnya?


"Tentu saja tidak." Aya mengambilnya dengan segera lalu menyerahkannya ditangan Fathur lalu meninggalkannya.


"Ayo, ganti bajumu dulu." ucap Aya setelah melihat Fathur selesai makan. Pangeran Fathurpun terkejut dengan permintaan Aya karena selama ini dirinya tidak pernah dilayani wanita.


"Apakah kamu menyiapkan semua pakaiannya sendiri? ucap Fathur malu.


"Iya."


"APA.....!" Wajah Fathur memerah.


"Kenapa?"


"Apa kamu tidak mau menggunakannnya?" Aya mengambil pakaian dari tangan Fathur.


"Tidak, aku akan menggunakannya.


"Ha ha ha... Padahal itukan tuan Macron yang menyiapkan. Aya tertawa sendiri namun disaat ia membalikkan badannya ia melihat raja dan ratu yang sedang menatap tajam kearah dirinya. Aya membungkukkan badannya lalu menuju ketempat Macron berada.


"Lihat gadis itu raja, jika dia dikasi hati terus lama kelamaan dia akan memijak kepala kita." ucap Alexa memanasi.


"Bagaimana jika gadis itu sengaja mendekati pangeran dan memanfaatkannya untuk mengambil alih kerajaan ini."


"Tidak akan kubiarkan." ucap raja murka menatap Alexa dengan sorot mata membunuh.