SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Aya Menghampiri Pangeran Fathur



"Kenapa dia masih belum keluar, apa dia tidak sehebat yang kufikirkan?" batin Aya yang sedang menunggu disebuah pohon yang sangat rindang, dimana kuda milik mereka sedang diikat. Aya duduk bersandar di bawah pohon sambil memainkan rerumputan yang ada di sekelilingnya.


"Apa aku harus kembali ke istana saja ya atau aku mencari mereka?"


Disaat Aya sedang berfikir, tiba tiba pandangannya teralihkan dengan melihat begitu banyaknya prajurit musuh yang sedang berlari menuju ke sebuah tempat. Aya penasaran dengan apa yang terjadi, firasatnya mengatakan Lexdo dan pangeran Zein sedang tidak baik baik saja.


Rombongan tersebut berhenti disebuah bangunan. Ayapun dengan mengendap endap ikut berhenti disebuah bangunan yang sedikit sepi. Dirinya melihat rombongan tersebut masuk kesebuah bangunan tua yang terlihat seperti sebuah penjara karena dikelilingi oleh kawat berduri.


"Apa mereka tertangkap?" Aya bergerak dengan cepat masuk kebangunan tersebut. Ia menyelinap diantara keramaian. Lalu mengikuti prajurit menuruni anak tangga menuju sebuah lorong. Langkahnya terhenti disaat ia melihat begitu banyak pria bertubuh besar dan tegap sedang berjaga di sebuah pintu masuk dan juga keluar.


Aya mendengar sebuah keributan diantara prajurit. Dirinya melihat ada beberapa orang yang sedang ditampar oleh seorang pria bertubuh besar. Pria tersebut kelihatan sangat marah.


"Cepat, cari mereka sampai ketemu!" perintah pria bertubuh besar tersebut dengan suara sayup sayup terdengar oleh Aya.


"Baik tuan." ucap salah satu pria.


Ayapun kemudian berkeliling dibangunan tua tersebut untuk mencari sebuah pintu atau jendela yang lain agar dirinya bisa masuk kedalam. Namun dirinya tidak menemukan sebuah pintu atau jendela.


"Jangankan pintu atau jendela. Lobang yang kecil pun mereka tidak punya. Sepertinya ruangan ini penjara sekalian tempat untuk membunuh para tawanan secara perlahan." batin Aya.


Aya kembali keposisi semula lalu dirinya mencoba untuk membaca sebuah mantra agar bisa melewati prajurit yang berjaga. Dirinya bergerak seperti hembusan angin.


"Hei, apa kamu merasakan ada sesuatu yang aneh. Sepertinya ada seseorang yang melewati kita?" ucap salah satu pria yang sedang berjaga.


"Tidak. Aku tidak merasakannya. Lagian bukankah kita semua disini. Tidak ada seorangpun yang melewati didepan kita?"


"Benarkah? Aku merasakan seperti ada seseorang yang melewati kita dan aroma ini...." pria tersebut mengendus endus indra penciumannya diikuti yang lain.


"Seperti bau bunga." ucap pria yang lain."


"Ichhhh.... jangan jangan penunggu disini. Arwah yang mati gentayangan."ucap yang lain sambil bergiding ngeri.


"Bodoh. Mana ada hantu. Apa kamu masih percaya hal mistik yang begituan."


"Terus menurut kalian ini aroma apa? aromanya sungguh menyerbak. Hidungku saja ingin lepas rasanya."


"Mungkin ini bau tumbuh tumbuhan yang ada disekitar. Sudahlah. Jangan dibahas."


Mereka semuapun hanya terdiam dengan fikiran masing masing, sementara Aya sudah berhasil menyelinap masuk kedalam. Dirinya melihat beberapa musuh sedang melihat dan mencari sesuatu.


Aya berhenti disebuah sudut sambil mendengar pembicaraan mereka. Dari pembicaraan mereka Aya mengetahui jika pangeran Zein berhasil keluar dari dalam sel penjara. Namun pamgeran Zein dan Lexdo masih ada didalam bangunan tua tersebut.


"Dimana mereka berdua? Aya berjalan menelusuri lorong lalu tanpa sengaja dirinya melihat sesuatu yang ada disudut. Aya menghampirinya pelan pelan.


"Lexdo....." uca Aya dengan mulut ternganga. Aya melihat Lexdo dalam keadaan babak belur dan juga berlumuran darah.


"Aya..! Kenapa kamu masih disini? Kenapa tidak mencari bantuan?"


"Huzzz... " Aya meletakkan jari telunjuk dibibirnya sendiri. Dirinya memberi aba aba kepada Lexdo untuk diam.


"Dimana pangeran?" Aya celingak celinguk mencari sosok yang dicarinya.


"Pangeran sedang mencari jalan keluar." ucap Lexdo pelan.


"Tidak. Kita akan tertangkap." ucap Lexdo. Lexdo tidak begitu percaya dengan kemampuan Aya. Apalagi dirinya tidak pernah melihat Aya bertarung didepan matanya.


"Percayalah padaku." Aya mencoba meraih Lexdo.


"Kenapa kamu masih disini?" ucap pangeran Zein dengan tatapan membunuh.


"Aku khawatir dengan kalian." ucap Aya dengan tatapan cemas.


"Apa kamu ingin kita bertiga mati disini? Tubuh kita akan dipotong menjadi beberapa bagian lalu diberi makan kepada serigala dan anjing peliharaan mereka!" teriak pangeran Zein dengan penuh emosi. Dirinya tidak sadar jika musuh sedang mencari mereka. Pangeran Zein tidak habis fikir dengan tingkah Aya.


"Bukan begitu maksudku?"ucap Aya merasa bersalah.


"Terus apa?" Pangeran zein mendorong tubuh Aya kedinding dan menatap kedalam manik mata Aya. Kini manik mata mereka saling bertatapan. Pangeran Zein mencengkeram dagu Aya dengan penuh amarah.


"Maafkan aku.... Aku mohon, lepaskan! Sakit....." Lirih Aya dengan tatapan sendu. Wajahnya terasa sakit akibat cengkeraman tangan pangeran Zein. Pangeran Zeinpun dengan cepat melepaskannya.


"Maaf. Aku emosi... Kita bisa keluar dari sini tapi bagaimana dengan Lexdo? Aku tidak ingin membiarkan dia mati konyol disini." ucap pangeran Zein sambil mengusap wajahnya kasar.


"Kita akan membawa dia."


"Heh, kamu fikir kita sedang bermain? Kamu harus tau yang kita hadapai siapa! Kita hanya berdua melawan mereka sebanyak itu? Mungkin jumlah mereka ratusan diluar sana. Kita masuk dikandang mereka Aya. kamu harus sadar." Ucap pangeran Zein kesal.


Belum sempat Aya menjawab. Beberapa orang sudah ada di hadapan mereka. Mereka datang dengan begitu banyak prajurit.


"Ha.ha...Disini kalian rupanya." ucap salah satu musuh yang berbadan kecil namun sangat lihai dalam bertarung.


"Kenapa gadis itu bisa disini?" ucap salah seorang pria.


"Aku tidak tahu. Semenjak kapan dia ada."


"Lepaskan penutup wajahmu." ucap seorang pria. Aya hanya memandangnya sekilas lalu kemudia menatap wajah pangeran Zein yang masih kesal kepadanya.


"Apa kamu lihat mereka? Mereka semua ahli bela diri. Harusnya kamu kembali ke istana. Aku tidak ingin mati konyol bersama kamu disini." ucap pangeran Zein kesal.


Aya hanya diam tidak menjawab. Hatinyapun mulai kesal dengan pangeran Zein yang tidak mengerti dengan kekhawatirannya. Jika dia kembali keistana tentu perjalanan yang mesti dihabiskannya memakan waktu yang lama. Aya khawatir jika nyawa Lexdo dan pangeran Zein dalam keadaan berbahaya.


"Kamu jaga Lexdo. Biar aku yang hadapi mereka. Jangan melawan." ucap pangeran Zein sambil menyerang musuh yang ada dihadapannya dalam jumlah yang sangat banyak.


Aya meraih tangan Lexdo dan memapahnya untuk menjauh.


"Jangan dimasukkan ke hati, pangeran Zein memang ketus namun maksudnya tidak seperti itu. Pangeran Zein sangat tidak suka jika orang orang nya mati dihadapannya. Dia hanya takut kamu terluka sepertiku." ucap Lexdo.


Aya hanya tersenyum tanpa menjawab. Aya kemudian meletakkan Lexdo ditempat yang agak jauh dari pangeran Zein dan musuh.


"Bantulah pangeran Aya. Biarkan saja aku disini. Jangan sampai karena aku, kalian berdua tidak bisa keluar dari sini." Lirih Lexdo dengan pelan.


"Tidak. Kita akan keluar bersama. Kamu duduk disini dulu. Aku akan membantu pangeran. Apakah kamu ingat dengan perkataan pangeran Fathur disaat aku melarikan diri?" ucap Aya menatap kedalam bola mata Lexdo.


Lexdo mengingat ucapan pangeran Fathur yang mengatakan Aya adalah seorang penyihir. Lalu Lexdo menatap Aya dengan penuh pertanyaan. "Maksud kamu?" ucap Lexdo.