SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Membantu Lexdo



Aya tidak menjawab ucapan Lexdo, dirinya hanya tersenyum lalu menggerakkan kedua tangannya untuk membuat sebuah pintu rahasia agar bisa dimasuki oleh Lexdo. Lexdo membuka mulutnya seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Masuklah kedalam. Kamu akan aman. Tidak akan ada satu orangpun yang bisa menemuimu!" ucap Aya sembari kemudian meninggalkan Lexdo dan berlari secepat kilat menuju pangeran Zein.


Lexdo yang telah ditinggalkan oleh Aya masih berdiri kaku melihat kearah sebuah pintu yang baru saja dibuat oleh Aya. Dirinya mematung seakan tidak percaya dengan kejadian yang baru saja terjadi dihadapannya.


"Itu dia." ucap seorang musuh menunjuk kearah Lexdo. Lexdo yang melihat segerombolan musuh ingin menghampiri dirinya menjadi panik ingin menghindar. Dirinya sudah tidak sanggup untuk berlari. Jangankan berlari, berjalanpun Lexdo terseok seok. Kemudian dirinya teringat akan ucapan Aya, seakan tidak percaya dengan perkataan Aya. Namun karena tidak ada pilihan dirinya mencoba untuk masuk kedalam pintu yang dibuat oleh Aya dalam sekelip mata.


"Tap..." Suara pintu tertutup disaat Lexdo masuk. Lexdo berkeringat dingin disaat segerombolan orang makin mendekati keberadaannya.


"Apa aku tidak ditipu oleh gadis itu? Aku masih bisa melihat musuh kesini." Batin Lexdo sambil menarik nafasnya. Dirinya berfikir tamatlah riwayatnya karena beberapa langkah lagi musuh akan menangkap dirinya.


"Dimana dia? Tadi aku melihatnya disini." ucap seorang pria berdiri tidak jauh dari Lexdo. Lexdo membuka matanya lebar lebar begitu juga dengan telinganya.


"Apa mereka tidak melihatku? Padahal aku melihat mereka." gumam Lexdo.


"Coba cari dia disetiap sudut. Apa kamu tadi melihatnya disini?" ucap pria tersebut dengan salah satu temannya.


"Lihat. Aku melihatnya. Namun cepat sekali dia pergi. Padahal dia dalam keadaan penuh luka."


"Coba lihat jejak darahnya?"


"Baiklah."


Merekapun mengambil sebuah api obor besar yang ada di dinding untuk menerangi penglihatan.


"Jejak darahnya disini. Masih terlihat segar." Musuh tersebut berdiri tepat dihadapan Lexdo. Namun dirinya tidak bisa melihat Lexdo berada.


"Jika dilihat dari ceceran darah tersebut. Dia tidak pergi kemana mana." ucap salah seorang pelayan.


"Agrh." Seseorang menumbuk diding tembok yang ada disamping mereka. Dirinya merasa kesal dengan kejadian yang baru saja terjadi. Bagaimana tidak? Mereka semua kalah menghadapi musuh yang hanya berjumlah sedikit dan bisa dihitung dengan jari.


"Ayo kita berpencar." Semua musuh yang ada dihadapan Lexdo kini meninggalkan Lexdo dan berpencar menjauh dari Lexdo dengan tatapan yang kecewa.


"Huff, hampir saja. Bagimana bisa pintu ini membuat orang tidak melihat diriku? gumam Lexdo sambil melihat sekelilingnya. Dirinya tidak melihat sesuatu yang aneh sedikitpun. Dirinya tidak melihat ada dinding atau apapun.


"Bagaimana aku bisa keluar? Pintunya tidak ada." ucap Lexdo panik. Namun kemudian karena tubuhnya yang lelah ia lebih memilih untuk duduk bersandar dan memejamkan matanya sambil memikirkan pangeran Zein dan juga Aya yang menghadapi musuh dalam jumlah yang besar.


Sementara itu Aya kini sudah sampai ditempat pangeran Zein yang sedang menghadapi musuh. Semua musuh sudah ambruk kelantai dan ada juga sebagian telempar disamping tembok. Tubuh pangeran Zein penuh dengan keringat. Pangeran Zein menoleh kearah Aya yang masih berdiri.


"Dimana Lexdo?" ucap pangeran Zein dengan tatapan marah.


"Dia ditempat yang aman." ucap Aya santai.


"Maksudmu? Dimana tempat yang aman. Jelas jelas ini tempat musuh. Argh... jika sesuatu terjadi padanya kamu harus tanggung jawab."


Aya melihat sekilas kearah pangeran Zein dengan tatapan dongkol. "Kenapa kamu mesti marah marah terus padaku? Salahku apa? Aku khawatir kepada kalian. Makanya aku kesini. Jika aku kembali ke istana tentu saja aku masih dalam perjalanan pulang saat ini? Belum tentu kalian masih hidup disaat aku dan rombongan istana kembali. Apa kalian kaum bangsawan tidak bisa menghargai ketulusan seseorang." ucap Aya berapi api dengan mata berkaca kaca menahan amarah.


Pangeran Zein terdiam mendengar ucapan Aya. "Maafkan aku. Aku hanya panik karena Lexdo dalam keadaan penuh luka dan tidak mampu berjalan. Aku kehilangan akal bagaimana cara membawa dirinya keluar. Sementara pintu masuk dan keluar hanya satu dan itupun dijaga musuh dengan sangat ketat." Pangeran Zein mengusap wajahnya yang kasar.


Mendengar ucapan pangeran Zein. Aya menarik nafasnya panjang panjang. " Apa segitu berartinya seorang Lexdo baginya?" batin Aya dengan memijit kepalanya yang tidak pusing.


"Ayo kita cari jalan keluar. Namun sebelum itu tunjukkan kepadaku dimana Lexdo. Aku ingin memastikan dirinya dalam keadaan baik."


"Kita cari jalan keluar aja dulu agar musuh tidak menangkap kita?" ucap Aya untuk menutupi apa yang telah dilakukannya kepada Lexdo.


"Tunggu. Biar aku saja yang menjemput Lexdo. Anda disini saja pangeran."


"Ide bagus juga. Aku bisa memperhatikan musuh. Cepat. Temui dia dan bawa kesini."


"Baik pangeran." Aya bergegas menuju tempat Lexdo secepat kilat.


Aya membuka pintu tersebut dengan mantra lalu tampaklah Lexdo yang sedang bersandar dengan wajah yang pucat. Lexdo banyak kehabisan darah.


"Aya...." ucap Lexdo lirih.


"Ayo. Pangeran menunggu kita. Apa kamu sanggup berjalan Lexdo?"


"Lexdo mengangguk pelan."


"Maafkan aku Lexdo. Aku tidak bisa menggunakan kekuatan sihirku terlalu sering. Aku takut pangeran Zein akan curiga kepadaku." batin Aya.


Aya memapah Lexdo dengan pelan lalu berjalan pelahan lahan. "Lexdo bisakah kamu membantuku?"


"Bantu apa Aya?"


"Tolong jangan ceritakan kepada pangeran apa yang telah aku lakukan terhadap dirimu tadi?" lirih Aya.


"Baiklah Aya karena kamu sudah menyelamatkanku, aku tidak akan menceritakannya." ucap Lexdo.


"Terimakasih Lexdo."


"Apa kamu memang terlahir menjadi seorang penyihir Aya? atau belajar sihir?" ucap Lexdo.


"Hemh, Tidak perlu dibahas. Yang penting kamu tidak menceritakan kepada yang lain Lexdo!"


Mereka berduapun berjalan secara perlahan lahan. Aya menoleh kebelakang dan melihat ada tetesan tetesan darah setiap kali Lexdo berjalan.


"Lexdo, bisakah kamu tunjukkan dibagian mana tubuhmu yang terluka parah. Setiap dirimu berjalan ada tetesan tetesan darah. Ini akan mempermudah musuh menemui kita?"


Lexdo melihat kebawah dan melihat bercak bercak darah dilantai. Lexdo kemudian melihat kearah Aya.


"Dibagian perutku Aya. Aku tertusuk pisau musuh. Maafkan aku karena aku kalian jadi sulit untuk keluar. Aku menjadi beban."


"Tidak Lexdo. Kamu bukan beban. Bolehkah aku melihatnya?"


"Lexdo mengangkat sedikit bajunya keatas dan terlihat luka yang menganga. Aya membuka mulutnya melihat luka yang ternganga.


"Pantes saja kamu pucat. Kamu banyak kekurangan darah?" ucap Aya. Aya kemudian menggerakkan tangannya dan mengeluarkan sebuah butiran butiran air kristal yang mengkilau lalu meletakkannya diatas luka yang menganga.


Lexdo merasakan perutnya sangat dingin kemudian dalam sekelip mata luka yang menganga tadi menjadi kembali rapat.


"Itu hanya membuat lukamu tidak terbuka namun lukamu masih tetap ada didalam. Setidaknya ia tidak mengeluarkan darah lagi dan juga lukamu tidak menjadi membusuk."


"Hem. Terimakasih Aya." Lexdo menatap Aya kemudian kembali berjalan. Dirinya berfikir lukanya sudah membaik karena lukanya sudah tertutup rapat namun disaat ia melangkahkan kaki rasa sakit diperutnya masih tetap sama.


"Benar katanya. Ini hanya menutup lukaku!" batin Lexdo. Lexdo pun kemudian berjalan dengan dipapah oleh Aya seperti semula.


Tidak berapa lama merekapun sampai dimana pangeran Zein sedang menunggu.