SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Siapakah Singa itu?



Dua jam telah berlalu, Deloy yang merupakan tangan kanan panglima Eben mulai resah karena teman temannya belum sampai juga di tempat yang sudah dijanjikan.


"Aduch, dimana mereka. Apa mereka tertangkap? Bukankah mereka orang yang sulit sekali untuk ditangkap. Mereka selalu berhasil tiap melancarkan aksinya karena kegesitannya." Deloy mondar mandir sambil memaksakan otaknya untuk berfikir mencari ide.


"Pengawal kemari!" Ucapnya kepada salah satu pengawal yang duduk dibawah pohon.


"Ada apa tuan?"


"Kamu jaga tempat ini. Aku dan mereka bertiga akan menyusul orang suruhan tadi untuk melihat situasinya."


"Baik tuan." ucapnya sambil membungkukkan badan.


Deloy melangkahkan kakinya dengan sangat cepat dan di ikuti oleh tiga orang pengawal. Setelah sampai di tempat peristirahatan pangeran Fathur merekapun menyebar.


Deloy bergerak perlahan lahan sambil melihat suasana sekelilingnya.


"Seperti tidak ada terjadi sesuatu saja disini. Semua pengawal dalam keadaan baik baik saja. Apa yang terjadi kepada mereka berlima? Apa mereka tertangkap dan dibawa kedalam. Argh...bagaimana ini? panglima Eben akan membunuhku karena telah membawa orang yang gagal." Deloy merasakan gelisah dan mengacak acak sebagian rambutnya.


Setelah hampir setengah jam Deloy mengintip dan tidak menemukan sesuatu kejanggalanpun. Iapun akhirnya memutuskan dirinya untuk kembali ketempat dimana pengawal yang lain berada.


"Bagaimana? Apa kalian menemukan mereka?"


"Tidak tuan. Kami sudah berkeliling mencari mereka berlima namun tidak ada tanda tanda dari mereka. Keadaan didalampun sangat tenang. Tidak ada sesuatupun yang mencurigakan."


"Apa kalian ada melihat seekor singa?"


"Ada tuan. Dia ada di kandang belakang dan sedang tertidur dengan sangat pulas.


"Apa ada keanehan disana?"


"Tidak tuan, cuma ada beberapa pengawal yang lagi mondar mandir berjaga di sekitar kandang tersebut."


"Argh... Eben mengusap wajahnya kasar lalu memijit kepalanya yang terasa sangat pusing. Ia bingung bagaimana akan menjelaskannya kepada panglima Eben.


"Ya sudah, Ayo kita kembali." Deloypun kembali ke tempatnya. Sementara tiga orang pengawal pergi menuju temannya yang diperintahkan untuk menunggu. Mereka ditugaskan untuk tetap berada disitu sampai pagi karena Deloy masih berharap kelima temannya akan kembali disana dan memberikan laporan.


*** Pagi Hari


"Selamat pagi tuan." Ucap pengawal yang berjaga di halaman depan menyapa Macron.


"Pagi. Ayo panggil semua pengawal dan pelayan untuk masuk kedalam."


Beberapa pengawal saling pandang. Mereka heran apa yang akan terjadi.


"Apa tuan Macron marah dengan kejadian tadi malam. Makanya ia ingin mengumpulkan kita semua agar mendapatkan hukuman." Ucap salah satu pengawal gemetaran sehingga membuat beberapa teman yang mendengar ikut menjadi panik dan ketakutan.


"Bagaimana ini?"


"Ayo. Kita maaf saja." ucap pelayan yang lain.


"Setuju." jawab mereka serentak.


"Maafkan kami tuan Macron. Kami tau kami teledor." Ucap salah satu pengawal dan diikuti oleh yang lain kemudian merekapun berlutut dibawah.


"Bangun, apa yang sedang kalian lakukan?" teriak Macron bingung.


"Ada apa ini? ucap pangeran yang baru keluar dan diikuti oleh Aya. Aya hanya tersenyum sinis melihat Macron yang bingung.


"Pangeran, maafkan kami atas keteledoran kami hingga menyebabkan penyusup masuk. Kami mengakui kesalahan kami pangeran." ucap salah satu pengawal.


"Maksud kalian?" Pangeran Fathurpun bingung mendengar ucapan pelayan. Pangeran Fathur dan Macron saling berpandangan. Pengawal dan prajurit yang ada di dekat merekapun merasa heran dan saling bertatapan.


"Jadi siapa yang menggantung penyusup itu?" ucap beberapa pengawal saling berbisik.


"Aku pun ga tau."


"Coba kalian salah satu maju dan jelaskan semua." ucap pangeran.


"Pangeran, tadi malam ada penyusup yang masuk ke dalam sini. Kami melakukan perlawanan namun kami dibekap dan kemudian tertidur. Setelah satu jam kemudian kami semua terbangun dan melihat ada beberapa orang berpakaian serba hitam digantung di dekat atas pohon tidak jauh dari kandang Redolf."


"Redolf?" teriak Fathur. Pangeran Fathur pun langsung berlari menuju kandang milik Redolf. Dilihatnya Redolf sudah bangun dan sedang bermain di halaman. Pangeran Fathurpun lega.


Redolf yang melihat kedatangan sang majikannya langsung berlari menuju pangeran Fathur. Fathurpun memeluk dan membelainya. Kemudian mereka berjalan beriringan menuju dimana Macron dan Aya serta yang lainnya berdiri.


"Itu tuan" seorang pengawal mengarahkan jari telunjuknya kearah sebuah pohon yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Macronpun melihat ada beberapa orang berpakaian serba hitam sedang tergantung diatas pohon tersebut.


"Turunkan mereka." ucap pangeran Fathur datang bersama Redolf. Beberapa orang Pengawalpun memanjat pohon untuk menurunkan jaring jaring yang mengikat peyusup kebawah. Mereka masih belum terbangun karena efek ramuan.


"Aaaa..." teriak salah satu penyusup terkejut karena disiram dengan air dingin. Kemudian merekapun terbangun dan melihat keadaan sekeliling mereka yang ramai. Nyali mereka seketika ciut disaat bertatapan langsung dengan pangeran Fathur sedang ada dihadapan mereka.


"Apa yang kalian lakukan disini?" ucap pangeran Fathur.


"Maaf pangeran, kami hanya ingin menemui pangeran namun tiba tiba ada sebuah perangkap dan kami terjerat disini." ucap mereka berbohong.


"Benarkah?"


"Iya pangeran."


"Apa kalian sudah bosan hidup sehingga berbohong?" pangeran Fathur mengambil sebilah pisau yang ada di sepatunya. Pisau tersebut mengkilap terkena cahaya matahari.


"Ampun pangeran, maafkan kami yang sudah lancang. Kami tidak berbohong.


"Sreet." Pisau tersebut dilempar oleh pangeran Fathur dan mengenai jaring laba laba. Pangeran Fathur hanya menakuti mereka.


"Katakan sejujurnya."


"Kami hanya berniat untuk mencuri singanya pangeran."Ucap salah seorang penyusup.


"Ha ha ha.... Kalian ingin menculik Redolf." Seketika wajah pangeran Fathur langsung menjadi merah hingga membuat semua orang bergidik ngeri.


"SIAPA YANG MEMBERI PERINTAH KEPADA KALIAN?" Bentak pangeran Fathur menggema. Penyusup saling pandang diantara mereka. Mereka saling memberi isyarat untuk tetap diam. Sekujur tubuh mereka bergemetar melihat pangeran Fathur begitu marah padahal mereka hanya ingin menculik seekor singa.


"Hemh, rasakan kalian. Pasti kalian bingung melihat pangeran yang begitu marah." gumam beberapa prajurit disana.


"Kami tidak ada diperintah oleh siapapun pangeran. Kami melakukannya atas kesadaran sendiri."


"Benarkah?"


"Iya pangeran."


"Baiklah. Jika kalian tidak ingin memberi tahu siapa yang memberi perintah kepada kalian maka kalian akan menikmati bagaimana gelapnya penjara bawah tanah." Ucap pangeran Fathur. Fathur yakin mereka tidak akan mau mengatakan apapun.


Penyusup merasa lega karena hanya dihukum lewat penjara. Mereka tahu bahwa pangeran Fathur tidak seperti Raja Abraham yang kejam. Mereka berfikir akan melarikan diri dari penjara tersebut tanpa mereka tahu penjara bawah tanah seperti apa yang dimasud oleh pangeran Fathur.


"Pengawal, Bawa mereka ke ruang bawah tanah sampai mereka mau bicara siapa yang memberi perintah kepada mereka. Jangan beri mereka makan dan minum."


"Pangeran, maafkan kami." teriak mereka seakan tidak percaya. Padahal setau mereka pangeran Fathur jarang sekali menghukum orang yang berbuat kesalahan jika itu baru ketahuan sekali. Biasanya ia akan memberi kesempatan sampai yang ketiga kali.


Setelah selesai, pangeran Fathur langsung menarik Aya membawa wanita tersebut menjauh.


"Aku tau kamu yang menggantung mereka. Kenapa kamu tidak meminta pertolongan Macron atau diriku!" bentak Fathur marah.


"Bagaimana aku mau minta pertolongan kalian sementara mereka sudah berhasil melumpuhkan semua pengawalmu dan sudah ada didepan singa kesayangan milikmu.


"Baiklah kali ini kamu kumaafkan."


"Ngomong ngomong bukankah itu singa yang kuselamatkan kemaren?" ucap Aya sambil melihat seekor singa yang sedang mengikuti pangeran Fathur dari belakang.


"Roaaar...." Singa mengaum memgeluarkan suaranya hingga mebuat Aya dan pangeran Fathur terkejut. Beberapa pengawal yang tidak jauh dari Ayapun terkejut.


"Kenapa kamu disana?" Ucap seorang pengawal melihat temannya sedang memeluk pohon besar.


"He he he, aku hanya merindukan kekasihku." Ucapnya malu. Macron yang melihatpun hanya geleng geleng kepala.


Sementara Aya heran melihat singa yang ada dihadapannya meraung. Aya mendekat ke arah Redolf. Redolf mengaum sekali lagi dengan suara yang sangat besar hingga terdengar diseluruh istana. Raja dan ratu yang sedang mencoba pakaian yang akan digunakan untuk pesta ulang tahun ratu Wiena pun ikut terkejut dan saling pandang.


"Redolf, ada apa?" Fathur membelai sang singa hingga ia kembali tenang.


"Sepertinya dia tidak menyukaiku? Aya melihat singa tersebut dengan wajah kesal.


"Dia masih terkejut karena ditembak oleh panah!" ucap pangeran Fathur merasa heran dengan reaksi Redolf terhadap Aya. Padahal pangeran Fathur berfikir Redolf adalah peliharaan Aya.


"Benarkah, apa dia lupa bahwa diriku pernah menyelamatkannya?" Aya menarik nafasnya kesal.


"Dia ingat. Disaat aku mencari tempat tinggalmu tidak ketemu. Redolflah yang menunjuk arahnya."


"Benarkah? Darimana dia tahu tempat tinggalku? Bukankah dia hanya seekor singa?" Aya menatap tajam kearah Redolf begitu juga sebaliknya.


"Apakah dia adalah hewan peliharaanmu?"


"Iya, semenjak dirinya tertembak panah."


"Maksudmu?" Fathur tidak bisa menjawab pertanyaan Aya karena Redolf menarik pakaian Fathur dengan giginya untuk pergi menjauh dari Aya. Redolf menoleh kearah Aya lalu pergi meninggalkannya. Aya menggenggam tangannya merasa ada sesuatu yang aneh.