
Sepeninggalan pelayan, Aya mencium aroma harum dari hidangan yang dibawa oleh pelayan wanita tersebut. Ayapun tertarik untuk mencicipinya. Ditambah lagi dirinya hampir seharian belum ada mencicipi makanan.
"Kurrrrk...Kuurrrrk....Kurrrk..." Perut Aya menjerit meminta untuk disuapi.
Ayapun dengan cepat menyantap dengan lahap hingga habis makanan yang ada dihadapannya. Dirinya kemudian meletakkan piring kotor di dekat meja tidak jauh dari dirinya berada lalu menutupinya dengan plastik kembali agar aroma sisa makanan tidak membuat kamarnya menjadi pengap.
Aya berjalan mendekati kursi yang ada didekat cermin kemudian melihat pantulan dirinya didepan cermin.
"Apa yang harus kamu lakukan Aya?" tanya Aya kepada dirinya sendiri. "Cepat atau lambat pangeran Zeinpun akan menyingkirkanku seperti pangeran Fathur." Jawab Aya sambil melamun dan mengingat kembali ucapan Rezya.
"Iblis itu akan kembali kepadaku. Setelah dia tahu aku disini. Dia akan mengejarku sampai mendapat apa yang diinginkannya? Bagaimana wanita itu tahu semuanya? Siapa dia?" batin Aya.
Aya kemudian berdiri lalu membaca beberapa mantra agar kamar tersebut tidak bisa dimasuki oleh iblis tersebut. "Aku harus belajar dan mempertajam ilmu sihirku agar aku bisa melawan iblis itu." Gumam Aya lalu memilih untuk tidur di sofa yang sangat empuk.
Disaat Aya tertidur dengan nyenyak pangeran Zein diam diam memasuki kamar yang ditempati oleh Aya. Dirinya melihat Aya yang tertidur sambil meringkuk diatas sofa. pangeran Zein mendekati tubuh Aya.
"Kamu gadis yang cantik namun kamu sangat berbahaya. Dirimu penuh dengan kebohongan dan memilik banyak rahasia. Apa tujuanmu Aya?" pangeran Zein duduk dihadapan Aya sambil memperhatikan wajah Aya tanpa kedip.
"Hufffft..." pangeran Zein menarik nafasnya lalu pergi meninggalkan Aya dalam diam.
Pangeran Zein memasuki kamarnya lalu membersihkan diri kemudian mencoba untuk memejamkan matanya.
Sementara di kediaman tuan Wind sedang terjadi keributan yang sangat besar.
"KENAPA KALIAN SEMUA BODOH?"
"Kami tidak bodoh tuan. Kami sudah berhasil menangkapnya dan salah satu pengawalnya telah kabur meninggalkannya. Ditengah perjalanan kami diserang oleh kekuatan sihir yang sangat kuat. Kami tidak tahu siapa yang menolongnya karena penyerang tidak menampakkan wajah." ucap tangan kanan tuan Wind.
Tuan Wind terdiam sejenak lalu menyunggingkan senyumnya. "Siapakah yang membantunya, apakah Selena atau ratu Alexa sendiri? Berani sekali dia bermain denganku." gumam tuan Wind.
"Ya sudah kalian semua bubar. Panggilkan saja aku panglima Eben kemari. Secepat mungkin. Aku ingin pagi esok dia sudah tiba disini."
"Baiklah tuan." tangan kanan tuan Wind bergerak segera untuk menyuruh seorang prajurit yang bisa dipercayai melakukan tugas tersebut di saat subuh hari.
Hampir tiga jam lamanya mereka melakukan perjalanan kini panglima Eben sudah tiba di tempat tuan Wind dipagi hari. Dirinya langsung menghadap tuan Wind.
"Ada perlu apa anda memanggil saya tuan Wind?" ucap panglima Eben dengan sopan.
"Heh, ada apa? Apa kalian sedang bermain drama denganku setelah kalian mengobrak abrikku tempatku." ucap tuan Wind seraya mencengkeram leher panglima Eben.
"Kami tidak ada menyerangmu. Aku rasa kamu salah orang tuan Wind."
"Oh ya benarkah lalu milik siapa ini?" Tuan Wind melemparkan sesuatu milik pangeran Zein.
"Pangeran Zein." batin panglima Eben..
"Aku akan menyelidikinya tuan Wind. Ratu Alexa tidak pernah memerintahkan seseorangpun untuk menyerang tempat ini apalagi menyentuh orang orang anda."
"Apa kamu fikir aku bisa langsung mempercayai ucapanmu?" Tuan Wind menatap mata Eben dengan tajam seakan akan ingin membunuh Eben saat ini hingga membuat Eben tidak berkutik.
"Aku akan menyuruh beberapa prajuritku untuk ikut bersama kamu. Aku ingin orang yang menyerang tempatku dan membunuh orang orangku diserahkan kepadaku. Jika tidak aku akan menganggap ratu Alexa sedang menabuh genderang perang kepadaku." ucap tuan Wind sambil mendorong Eben.
"Kamu tidak perlu mencari tahu mereka. Orang orangku sudah memberi tanda sebuah tusukan di perut kepada salah satu temannya dan juga tusukan dipundak kepada salah satu prajurit yang lainnya."
"Baiklah tuan Wind. Aku pamit dulu."
"Ya. Tangan kananku akan ikut bersamamu juga."
Setelah kepergian tuan Wind, panglima Eben dan tangan kanan tuan Wind serta beberapa prajuritnya melakukan perjalanan menuju kerajaaan Andromela. Didalam perjalanan Eben hanya diam tanpa bersuara sedikitpun. Dirinya berfikir apa benar pangeran Zein yang menyerang tempatnya tuan Wind.
Sesampainya di kerajaan Andromela. Eben langsung mempersilakan tangan kanan tuan Wind menuju tempat peristirahatan ratu Alexa dan mengantarkannya sampai diruang tamu. Setelah itu dirinya menemukan ratu Alexa.
Panglima Eben berdiri tidak jauh dari tempat ratu Alexa yang sedang menikmati makan siangnya bersama raja Abraham. Ratu Alexa yang melihat kehadiran Eben secara tiba tiba merasakan ada sesuatu yang sangat penting. Setelah dirinya menyantap makan siang bersama sang raja. Dirinyapun menjadi tidak fokus.
"Ayo kita bersantai di taman sayang? Ada sesuatu hal yang ingin kusampaikan."
"Apa tidak bisa besok saja suamiku. Aku merasakan seluruh tubuhku meriang. Aku ingin istirahat."
"Baiklah jika begitu. Kamu istirahatlah dulu agar pulih." ucap raja Abraham santai.
Ratu Alexapun mencium kedua pipi suaminya kemudian berjalan keluar dan diikuti oleh panglima Eben. Setelah sampai di sebuah sudut yang tidak terlihat orang lain ratu Alexa menatap tajam kearah Eben. "Ada hal penting apa yang ingin kamu sampaikan hingga menuju istana raja?"
"Tadi pagi aku dijemput paksa oleh orangnya tuan Wind. Tuan Wind mengatakan orang kita menyerang tempatnya. Beliau minta orang yang telah menyebabkan keributan ditempatnya diserahkan kepadanya ratu. Jika tidak ia menganggap kita menabuh genderang perang kepadanya ratu."
"APA? MENYERANG TEMPAT TUAN WIND?"
"Iya ratu bahkan orang yang menyerang tersebut sampai menghilangkan beberapa nyawa orang orangnya tuan Wind. Tuan Wind begitu murka. Tangan kanan tuan Wind serta beberapa prajurit yang lainnya sedang berada ditempat peristirahatan anda sekarang. Maafkan saya ratu Alexa."
"Brengsek. Siapa yang sedang bermain denganku?"
"Mereka ada bertiga. Salah satu diantara mereka ada yang terluka diperut dan ada juga yang terluka dipundak yang lainnya. Selain itu mereka menemukan ini." panglima Eben menyerahkan sebuah saputangan berinisal "Z".
"Pangeran Zein." gumam ratu Alexa bergetar. "Apa yang sedang direncanakannya?" ratu Alexa menggenggam erat sapu tangan tersebut dengan penuh emosi.
Dirinya berjalan dengan cepat menuju tempat peristirahatannya sambil memikirkan apa yang sedang direncanakan pangeran Zein. "Apakah pangeran Zein mengetahui sesuatu?" batin ratu Alexa.
Sesampainya ditempat peristirahatan miliknya ratu Alexa menarik nafasnya agar kelihatan lebih tenang lalu berjalan menuju ruang tamu. Ia menuju tempatnya tangan kanan tuan Wind serta prajuritnya yang sedang menunggu.
"Selamat siang semuanya. Ayo, kita makan nikmati makan sianh dulu?"
"Tidak perlu ratu Alexa. Kami datang kemari hanya ingin menjemput orang orangmu yang telah membuat keributan ditempat kami. Jika kalian tidak bisa menyerahkannya maka tuan Wind sendiri yang akan berurusan dengan anda."
"Hm. Tentu saja aku akan menyerahkannya namun bagaimana jika mereka bukan orang orangku?"
"Aku berhadapan langsung dengan orang orangmu ratu Alexa. Lebih tepatnya dengan pangeran Zein anakmu dan juga Lexdo namun satu lagi aku tidak mengenalnya kecuali jika kamu melindunginya agar aku tidak bisa membawanya."
"Baiklah. Kita sekarang akan langsung menuju tempatnya pangeran Zein?" ucap ratu Alexa penuh dilema.
"Itu lebih bagus ratu Alexa. Daripada kami menghabiskan waktu untuk hal yang tak penting." ucap tangan kanan tuan Wind melewati ratu Alexa untuk keluar dari tempat peristirahatannya. Ratu Alexa menatap tajam tangan kanan tuan Wind tersebut. Jika pria tersebut orang lain tentu saja akan dihabisinya sekarang juga.
"Ayo. Aku akan mengantar kalian semua." ucap ratu Alexa dengan tenang sambil menahan amarahnya.