
"Whoosh..." Sekelebat bayangan melintas tidak jauh dimana Redolf beristirahat. Redolf berlari ke arah pohon yang tumbuh didekat peristirahatan. Sorot mata Redolf yang tajam disaat malam hari bersinar dengan sangat terang.
Aroma di sekitar tempat tinggal tersebut sangat dikenali oleh Redolf. Ia hapal dengan tempat tersebut. Matanya berkeliaran mencari bayangan yang baru saja melintas tidak jauh dari dirinya berada.
"AOOOOOOMMMMMM." Teriakan raungan Redolf membuat semua prajurit yang berjaga terbangun dari tidurnya. Mereka memperhatikan sekeliling.
"Ada apa?"
"Tidak tau tuan, tiba tiba Redolf meraung dengan sangat kuat."
Macron yang baru saja tiba langsung berlari keluar dan memperhatikan suasana sekitar. Ia melihat ada sekelebat bayangan hitam lalu dengan cepat berlari mengejarnya namun bayangan tersebut dengan sangat cepat menghilang lagi.
"Coba kalian berpencar!" perintahnya.
"Baik tuan." Prajurit pun berlari kearah sekitar namun mereka tidak menemukan apapun.
Ratu Alexa yang sedang tertidur dengan sangat pulas tiba tiba terbangun disaat dirinya merasa ada sebuah tangan yang sangat kasar membelai pipinya. Matanya tiba tiba terbuka dan sontak langsung terkejut disaat dirinya melihat ada sosok wanita yang sangat dikenalnya sedang berdiri di samping ranjangnya.
"Apa kabar ratu?" ucap wanita yang sedang berdiri disampingnya dengan senyum yang dipaksakan.
"Selena." ucapnya lirih hampir saja tidak terdengar oleh lawan bicaranya. Ratu Alexa langsung meloncat turun dari ranjang miliknya dan berdiri kaku dihadapan Selena.
"Iya. Aku Selena. Sahabatmu. Apa kamu lupa hm?" Selena berjalan mendekati Alexa sambil membelai wajah Alexa dan memeprmainkan rambut pirangnya.
"Ada apa kamu kemari?"
"Aku bebas kemanapun, kecuali di kerajaan Andromela. Jika bukan karena dirimu maka aku masih berada disana hingga saat ini." ucap Selena mencengkeram wajah ratu Alexa.
"Kamu salah paham Alexa. Bukan aku yang menjebakmu. Yang menjebakmu adalah tuan Robert."
"Apa menurutmu aku akan percaya?"
"Kamu harus percaya, aku bisa buktikan!" ucap Alexa meyakinkan Selena.
"Sreet..."
"Auuu... brengsek kamu selena!"ucap ratu Alexa yang mendapatkan goresan dipipinya.
"Shrupp." Selena menjilat darah yang menempel dikuku tajamnya. Kuku yang digunakan untum menggores wajah cantik Alexa.
"Bersyukurlah kamu karena aku tidak membuat lukanya terlalu dalam. Jika lukanya dalam maka ia akan meninggalkan bekas dipipimu yang mulus ini."
"Singkirkan tanganmu."
"Ha... ha... ha..."
"Kamu iblis Selena."
"Apa bedanya dengan dirimu Alexa. Kamu membunuh sahabatmu demi mendapatkan seorang pria dan ingin mendapatkan kekuasaan. Cih... kamu iblis serta pelacur." Selena meludah kesamping meahan rasa jijik dan mualnya melihat Alexa.
"Ha ha ha...." Kamu berbicara seolah olah kamu tidak pernah membunuh. Bukankah kamu ikut dalam membunuh sahabatmu juga?" ucap Alexa tidak kalah sinis.
"Coba saja jika kamu bisa. Aku takut kamu akan kehilangan nyawamu terlebih dahulu."
Raja Abraham yang sedang tertidur pulas diatas ranjang tiba tiba mendengar suara orang lagi berbicara lalu terbangun. Namun Selena sudah lebih dulu pergi dari hadapan raja Abraham.
Aya yang lagi berdiri disamping jendela yang menghadap dengan kamar Alexa terkejut melihat ada sekelebat bayangan masuk kedalam kamar Alexa. Ia sengaja tidak ingin memberitahu yang lain. Ia berharap ada yang mati didalam.
"Semoga saja mereka mati. Aku tidak perlu mengotori tanganku dengan membunuh pendosa seperti mereka."
Aya yang pada awalnya ingin menikmati rembulan malam yang begitu indah jadi teralihkan dengan sesuatu bayangan hitam tersebut. Ia menutup gorden lalu mengintip dari sebalik jendela menunggu ada sebuah teriakan dari dalam atau kejadian yang lainnya.
Hampir 20 menit ia menunggu namun tiba tiba sekelebat bayangan hitam tersebut keluar lagi. lalu berdiri disebalik jendela kamar ratu Alexa. Cahaya lampu yang terang membuat Aya mengenali sosok tersebut.
"Selena..." ucap Aya. Aya melihat senyum membunuh Selena lalu melesat dari satu pohon ke pohon yang lain. Redolf yang melihat Selena berlari mengejarnya. Selena tidak menggubrisnya dan pergi menjauh.
Aya yang masih berdiri disebalik gorden melihat semua kejadian dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
Aya yang bingung melihat Redolf mengejar Selena dan meraung dengan raungan yang keras menatap penuh heran. Setelah beberapa saat Redolf membalikkan badannya lalu menatap ke kamar Aya diatas. Aya langsung bersembunyi disebalik tembok.
"Aku sangat yakin Redolf itu adalah sahabat mendiang ibunya pangeran Fathur. Dia bukan singa biasa. Mendiang ibunya pun bukan gadis biasa. Apa mungkin Alexa juga adalah seorang penyihir? Aya memaksakan dirinya untuk berfikir.
Aya membuka gordennya dan melihat keluar namun ia langsung bertatapan dengan Redolf yang menatapnya dengan sorot mata tajam. Aya terperanjat dan terjungkal kebawah karena kakinya tersengkut gorden.
"Argh,,, singa itu. Mengangetkan ku saja. Aku fikir dia sudah pergi." Aya kembali berdiri dan ingin melihat Redolf dari sebalik gorden namun singa tersebut sudah pergi dari sana.
"Kenapa Selena bisa tahu jika Alexa disini. Padahal di kerajaan Andomela sekalipun ia tidak pernah berkunjung. Padahal jarak antara hutan miliknya dengan kerajaan Andromela sangat jauh dibandingkan disini?"
Aya melangkahkan kakinya dan menaiki ranjang untuk beristifahat. Karena besok ia akan menemani pangeran Fathur.
Sementara dilain sisi Macron masih sibuk mencari bayangan hitam dan Redolf yang berlari tidak tau kemana.
"Tuan, kami melihat ada seseorang keluar dari kamar raja Abraham? Namun disaat kami mengejarnya ia begitu cepat menghilang. Ia terbang dari satu pohon ke pohon yang lain."
"Baiklah. Kembali ke tempat masing masing. Jika Redolf meraung kalian harus segera mengejar Redolf kemanapun ia pergi. Ia sepertinya penunjuk arah yang hebat daripada kalian semua."
"Baik tuan." Macron meninggalkan prajurit dan pergi menuju Redolf lalu membelainya dengan penuh kasih sayang.
Macron membawanya ke dalam tempat peristirahatan dan memberi perintah kepada prajurit untuk membiarkan ia berada dimanapun ia suka.
Macron kembali ke ruangannya dan melanjutkan istirahatnya begitu juga dengan yang lain. Hari ini memang hari yang sungguh sangat melelahkan.
Selena yang sudah pergi menjauh dari peristirahatan raja Abraham tertawa dengan penuh kemenangan.
Sudah berpuluh tahun yang lalu ia tidak bisa bertemu dengan ratu Alexa. Akhirnya ia kini bisa bertemu juga. Dirinya yang awalnya berada di kerjajaan Andromela harus terusir dikarenakan fitnah kejam oleh Alexa.
Walaupun kekuatan Selena berpuluh kali lipat lebih hebat daripada Alexa namun ia tidak bisa kembali masuk ke dalam kerajaan Andromela walaupun ia harus datang dengan cara senyap.
Kerajaan Andromela sudah dikunci sangat kuat oleh kekuatan sihir yang luar biasa oleh seorang wanita. Hingga saat ini belum ada seseorangpun yang berhasil menerobosnya. Para penyihir hanya bisa berada di luar gerbang. Berdiri disamping tembok.