
"Braaaak....." Terdengar suara pintu dibanting sangat kuat dari lantai bawah.
Suara manusia saling berteriak dan langkah kaki berlari saling kejar mengejar dilantai bawah sangat terdengar dengan jelas diruangan pangeran Zein.
"Keributan apa itu?"
"Aooooooooommmm..." Tiba tiba suara seekor singa mengaum dengan sangat kuat memecah kesunyian seperti meminta pertolongan.
Pangeran Zein yang masih berdiri kaku melihat Aya menangis spontan menoleh kebelakang begitu juga dengan Aya. Aya langsung berhenti menangis setelah mendengar suara lolongan sang singa.
"Redolf...." Lirih Aya pelan lalu mencoba untuk bangun dan berlari keluar.
"Mau kemana kamu? Urusan kita belum selesai." Pangeran Zein mencengkeram tangan Aya.
"Aku hanya ingin kebawah. Aku mendengar suara singa milik pangeran Fathur menjerit minta pertolongan." Ujar Aya.
Belum sempat pangeran Zein menjawab ucapan Aya lagi lagi terdengar suara keributan dilantai bawah. Pangeran Zein langsung melepaskan tangan Aya dan membuka pintu kamarnya lalu berlari menuju kelantai bawah.
Disaat pangeran Zein menuju lantai bawah. Ia melihat Redolf sedang berlari menaiki tangga dan menuju kamarnya. Aya yang keluar dari kamar terkejut melihat Redolf sedang berdiri tepat dihadapan pintu kamar. Mereka saling menatap. Tatapan Redolf penuh dengan kesedihan.
Pangeran Zein melihat Aya dan Redolf sekilas lalu menuju keributan yang ada dilantai bawah. Dihalaman depan begitu ramai perajurit istana sedang berlari sambil mengepung tempat peristirahatan pangeran Zein.
"Serahkan singa itu kepada kami." ucap seorang prajurit pangeran Fathur.
"Tidak. Ini wilayah pangeran Zein. Kalian tidak boleh memasuki tempat peristirahatan ini tanpa izinnya." ucap prajurit yang berjaga dipintu masuk.
Tidak beberapa lama muncullah pangeran Fathur dengan menaiki kuda kesayangannya. Pangeran Fathur turun dari kuda lalu berjalan kaki menuju dimana pangeran Zein sedang berdiri.
"Dimana Redolf?" Pangeran Fathur mencoba untuk masuk namun Lexdo menghalanginya. Pangeran Fathur mendorong tubuh Lexdo namun Lexdo tetap tidak bergeser.
"Minggir kamu." bentak pangeran Fathur lalu mendorong tubuh Lexdo sekali lagi dan memasuki ruangan.
"Apa yang ingin kamu lakukan diwilayahku Fathur?" Pangeran Zein menatap pangeran Zein dengan kesal sambil duduk diatas kursi yang disediakan oleh prajuritnya.
"Aku ingin membawa singa tidak tahu diri itu. Aku ingin menghukumnya." ucap pangeran Fathur meledak ledak sambil menahan emosinya yang sedang memuncak.
"Dia masuk diwilayahku. Kamu tidak berhak mengejar singa itu sampai kesini." Ketus pangeran Zein.
"Brengsek. Minggir kamu." Pangeran Fathur ingin mendorong tubuh pangeran Zein namun dihalangi oleh Rezya.
"REDOLF... REDOLF... KELUAR KAMU." Teriak pangeran Fathur dari luar.
Tidak berapa lama putri Liana pun hadir ditempat pangeran Zein. Putri Liana datang dengan wajah yang terkena cakaran. Tatapan putri Liana yang tajam menatap pangeran Zein.
"Dimana singa itu? Serahkan kepada kami. Dia sudah melukai diriku. Jika kamu tidak menyerahkannya aku anggap kamu melindunginya. Aku dan pangeran Fathur akan menyampaikan kejadian ini kepada ratu Alexa dan juga raja Abraham."
"Carilah sendiri." pangeran Zein memberikan jalan kepada putri Liana dan pangeran Fathur serta prajurit yang mereka bawa. Pangeran Zein tidak mau membesarkan masalah hanya karena seekor singa.
"Cari dia disetiap sudut." ucap pangeran Fathur.
Aya yang mendengar suara pangeran Fathur langsung berlari mengejar mencari Redolf. Aya melihat Redolf berada dilantai atas sambil duduk kelelahan. Redolf bangun melihat Aya lalu berhambur didalam pelukannya.
"Redolf tenanglah. Kamu akan baik baik saja." Aya melepas pelukannya lalu mencoba mengintip ke halaman bawah. Ia melihat semua sudut dikelilingi oleh prajurit. Mereka tidak bisa melarikan diri.
"Tap...Tap... Tap... Suara hentakan kaki prajurit berlari makin jelas terdengar ditelinga Aya. Aya mencoba untuk tenang lalu membaca mantra agar Redolf tidak bisa terlihat begitu juga dengan dirinya.
"Ayo kita meloncat Redolf dan pergi dari sini."
"Tidak. Aku tidak akan pergi dari sini Aya." Suara bariton khas Redolf terdengar sedih.
"Lalu bagaimana? Kamu akan terbunuh?"
"Tapi Redolf......"
"Kembalikan aku seperti semula Aya. Biar saja dia menemukanku disini."
"Tidak..."
"Jangan begitu Aya. Aku akan menyesal mengenalimu jika kamu tidak mau mendengarkanku. Cepat Aya kembalikan aku."
Dengan berat hati Aya membaca mantranyya dan mengembalikan Redolf agar bisa terlihat. Tidak berapa lama datanglah beberala orang prajurit. Prajurit tersebut datang dengan tatapan mata buas. Tanpa menunggu aba aba prajurit tersebut menarik anak panah hingga melesat di bagian perut Redolf.
"Aoooooooooom...." Redolf menjerit pelan lalu tersungkur dilantai. Ada tiga anak panah melesat ditubuhnya.
"TIIIIIIIIDAAAAAAAAKKKKKKKK...." Teriak Aya yang langsung memeluk Redolf. Prajurit tersebut bingung melihat Aya yang tidak tau datang dari arah mana. Lexdo yang mendengar jeritan Aya langsung berlari kelantai atas diikuti oleh pangeran Zein dan juga Rezya karena penasaran. Sementara pangeran Fathur dan Liana sekarang sudah ada di hadapan Aya.
"Ha... Ha....Ha.... Rasakan." ucap pangeran Fathur melihat Redolf terluka dan juga Aya yang menjerit histeria.
"Kamu juga akan aku hukum. Bawa dia." ucap pangeran Fathur kepada prajurit.
Prajurit mengangkat tubuh Aya lalu memborgol tangan Aya.
"Lepaskan. Apa yang sedang kamu lakukan." Teriak Rezya kepada pangeran Fathur.
"Aku akan menghukumnya karena dia tidak bisa menjaga hewan peliharaannya Redolf. Redolf telah menggigit tangan putri Liana dan mencakar wajahnya." bentak pangeran Fathur.
Rezya kemudian hanya diam mendengar penjelasan pangeran Fathur karena dia tidak begitu mengerti cerita sebenarnya. Pangeran Zein dan Lexdo hanya menatap kesal.
"Bagaimana bisa itu adalah hewan peliharaan Aya sementara hewan itu kamu yang pelihara?" ucap Lexdo.
"Apa kalian tidak tahu. Wanita penyihir ini yang membawanya dari hutan belantara." ucap pangeran Fathur sinis dan membuat orang yang ada disana semua melongo.
Sementara Aya hanya diam. Dirinya tidak begitu menghiraukan ucapan pangeran Fathur. Dirinya lebih fokus melihat Redolf yang terkulai. Aya menatap mata Redolf yang makin lama makin tertutup.
"REEEDOOOOOOOLFFFFFF....." teriak Aya disaat mata Redolf mulai tertutup rapat hingga membuat semua orang menatap Aya dan juga Redolf.
Aya mulai memberontak setelah melihat Redolf tidak bereaksi apapun. "Lepaskan aku."Teriak Aya.
"LEPAAAAASKAAAAAN..." Aya membentak prajurit hingga membuat borgol yang membuat tangannya terikat kebelakang ikut terlepas. Aya langsung duduk bersimpuh dihadapan Redolf. Prajurit yang memegang Aya terdiam dan tidak berkutik terkejut melihat kekuatan Aya.
"Redollllf..... Bangunlah. Aku mohon. Redolf..... Radolf..." Aya menepuk nepuk pipi Redolf lalu mencoba menarik anak panah yang tertancap ditubuh Redolf dengan mata berkaca kaca.
"Tangkap dia." ucap putri Liana kepada prajurit.
Prajurit mulai menangkap Aya dan memaksa dia bangun.
"Lepaskan." bentak Aya.
"Kamu adalah pria bodoh yang aku kenal. Apa kamu tidak tahu jika singa ini adalah singa yang selalu mengikuti mendiang ibumu dahulu. Apa kamu tidak punya ikatan batin kepada singa ini. Sementara dia memiliki ikatan batin kepadamu." ucap Aya murka kepada pangeran Fathur.
Pangeran Fathur terkejut mendengar ucapan Aya begitu juga yan lain. "Bagaimana bisa gadis ini mengetahui Redolf adalah singa yang selalu menemani mendiang ibunya pangeran Fathur sementara pangeran Fathur aja tidak tau." Batin pangeran Zein dan juga yang lain.l
"Kamu....." ucap pangera Fathur murka.
"Kamu fikir Redolf adalah singaku. Jika dia adalah singaku kenapa dia tidak mengikuti kemanapun aku pergi. Namun selalu saja mengikuti dimana kamu berada. Dulu kamu begitu menyayanginya. Kenapa sekarang kamu tiba tiba begitu tega menyakitinya hingga ingin menghilangkan nyawanya. Kamu pria brengsek yang aku kenal." Teriak Aya lagi memutus kalimat yang ingin diucap pangeran Fathur.
"Plakkkk...." Sebuah tamparan mendarat dipipi Aya. Putri Liana menampar Aya.
"Kamu lancang. Pelayan tidak sadar diri." ucap putri Liana murka.