
"Prang...." Semua makanan dan peralatan yang ada dimeja makan berserakan dilantai. Beberapa peralatan ada yang pecah berkeping akibat benturan. Pangeran Fathur sedang mengamuk hingga menarik taplak meja yang ada dimeja makan karena merasakan emosi mendengar kabar tetang Aya dari Macron.
"Bagaimana bisa kalian semua mengurus seorang gadis aja tidak becus. Kenapa kalian semua diam disaat gadis itu pergi ketempat pangeran Zein?" Bentak pangeran Fathur.
"Kami tidak tahu pangeran." ucap semua yang ada ditempat peristirahatan penuh ketakutan.
"Oh jadi hanya kamu yang mengetahuinya Ela?"
"Iya pangeran. Maafkan saya. Pangeran Zein bilang jika anda ingin bertanya, tanya langsung kepadanya. Nona Ela memberikan ini kepada anda." Aya berbicara dengan keringat yang mengucur dan seluruh tubuh yang menggigil. Aya menyerahkan secarik kertas kepada pangeran Fathur dengan tangan gemetar.
"Ha.ha.ha. Dasar lelaki tidak tahu malu." Pangeran Fathur menendang kursi yang ada disampingnya lalu melangkahkan kakinya menuju kamar tidur dengan tatapan mata membunuh. Dia begitu tidak sabar untuk bertemu dengan pangeran Zein dan Aya.
"Ela, kembalilah kekamarmu. Untuk sementara kamu liburlah dulu agar posisimu aman. Bergegaslah." ucap Macron yang takut akan terjadi sesuatu kepada Ela.
"Terimakasih tuan Macron."
Aya dengan cepat melangkahkan kaki menuju ruangan miliknya lalu memasukkan semua perlengkapan yang dibutuhkan seadanya tidak lupa pula ia membawa uang hasil tabungannya. Ela melewati pintu belakang di bantu oleh si Ndut dan prajurit lainnya.
"Ini untukmu." Si Ndut menyerahkan beberapa keping emas dan perak.
"Tidak usah aku sudah memiliki tabungan."
"Ini dari tuan Macron. Terimalah Ela."
"Hm baiklah. Sampaikan padanya ucapan terimakasih dariku." ucap Ela dengan mata yang berkaca kaca dan pergi meninggalkan istana dengan menumpang sebuah kereta yang membawa tumpukan jerami.
"Semoga nona Aya akan baik baik saja selama di istana." Gumam Ela menoleh kearah istana dengan mata berkaca kaca. Dirinya bukan sedih karena pergi meninggalkan istana namun karena sedih membayangkan Aya yang berada dilingkungan istana sendiri yang penuh dengan tipu muslihat.
Ela memang dari dulu memiliki keinginan untuk berhenti dan keluar dari istana namun karena dirinya memiliki hutang budi dengan ratu Ishna. Ia menahan semuanya. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk pergi dan tidak kembali disana lagi. Apalagi dengan kehadiran putri Liana semuanya akan menjadi makin runyam.
Sementara itu ditempat peristirahatan pangeran Fathur sedang terjadi kesibukan yang luar biasa. Pelayan membereskan semua makanan yang berserakan dan mulai memasak kembali karena sebentar lagi putri Liana akan tiba bersamaan raja Abraham, ratu Alexa, ibu suri dan juga pangeran Zein. Mereka semua akan menikmati makan malam ditempat peristirahatan pangeran Fathur.
Sementara pelayan yang lain sibuk membereskan meja makan dan menyiapkan makanan. Sebagian yang lain menyiapkan kamar yang biasa digunakan oleh Aya untuk digunakan oleh Putri Liana. Semuanya diganti dan ditata ulang sesuai selera putri Liana.
"Dimana Ela ndut?"
"Aku tidak melihatnya sejak tadi," ucap si Ndut berbohong.
"Bagiaimana ini? Biasanya ini tugas dirinya? Dirinya yang pintar menata ruangan dan membuat segalanya tampak indah."
"Bukankah Zeya juga bisa? Semenjak ada Ela dia selalu bersantai dan menyerahkan kepada Ela. Kali ini mau tidak mau dialah yang harus mengurus putri Liana." ucap Ndut sinis.
"Apa mungkin dia mau?"
"Terus siapa lagi?"
"Benar juga. Sebelum ada Ela jika ada tamu itukan urusan Zeya. Kita hanya membantu dirinya jika pekerjaannya berat dan dia membutuhkan orang. Kita hanya pelayan dapur dan berurusan dengan bawang dan asap.
"Tepat sekali."
"Baiklah aku akan memanggilnya." Ucap salah satu pelayan yang lebih tua lalu pergi meninggalkan mereka semua.
"Ada apa? Ganggu aja?"
"Apa kamu tidak dengar jika putri Liana akan tiba?"
"Dengar. Emangnya kenapa?"
"Lakukan tugasmu. Bukankah itu tanggung jawabmu mengurusi setiap tamu yang datang."
"Biarkan saja Ela." ucapnya santai dan berlalu pergi.
"Ela sudah tidak ada. Dia sudah pergi. Jika kamu tidak ingin mengerjakannya siap siap saja kamu diusir pangeran Fathur seperti Aya." Teriak pelayan tersebut berbohong sambil berlalu pergi. Dirinya sendiri tidak tahu kabar Aya.
"APA? HEI TUNGGU!" Teriak Zeya namun tidak digubris oleh pelayan tersbut.
"Brengsek. Dimana gadis bodoh itu? Aku tidak melihat dia diusir. Kapan dia diusir. Aku tidak mungkin melewati satu kejadianpun. Batin Zeya sambil melangkahkan kaki untuk kembali dan mengerjakan tugasnya.
"Ach, Aku jadi harus bekerja extra jika Ela benar benar tidak ada." Zeya menggigit dan menggenggam tangannya karena sudah lama sekali ia tidak mengurusi tugas tersebut semenjak ada Ela. Dirinya hanya duduk manis dan melaporkan tiap kejadian kepada ratu Alexa dan panglima Eben.
Zeya masuk kedalam kamar yang akan ditempati oleh putri Liana lalu pelayan yang melihat kehadiran Zeya langsung pergi meninggalkannya.
"Kalian mau kemana? bantu aku!"
"Kami ingin menyiapkan makan malam. Bukankah dirimu tau jika keluarga inti akan makan malam disini sekalian mengantar putri Liana kemari?" ucap si Ndut judes.
"Aku akan melaporkan kalian kepada ratu Alexa."
"Kesalahan kami dimana? Bukankah biasanya Ela mengerjakan semua sendiri? Bukankah jika ini tidak selesai dirimu sendiri yang akan bertanggung jawab."
"Awas kalian. Kalian akan menyesal." ancam Zeya.
"Hati hati. Aku dengar putri Liana orangnya suka segala sesuatu sempurna. Dia merupakan kesayangan ratu Alexa. Aku takut kamu yang akan tersingkirkan." ucap Si Ndut tertawa.
"Keluar kalian dari sini." teriak Zeya gondok.
Sepeninggalan si Ndut dan pelayan yang lain Zeya merapikan semuanya hingga terlihat sempurna. Walaupun sudah lama ia tidak turun tangan langsung menata sebuah ruangan namun dirinya masih tetap juaranya menjadikan sebuah ruangan menjadi elegan dan memukau.
"Lukisan siapa ini? Apa ini milik nona Aya? Zeya membolak balikkan lukisan berukuran 8 × 9 yang dijumpainya dibawah almari. Tidak ada tulisan apapun. Lukisan tersebut merupakan lukisan seorang wanita dan lelaki yang sedang menggunakan mahkota.
"Aku simpan saja dan akan kuberikan kepada panglima Eben. Siapa tau ini berguna?" Zeya menyimpannya didalam pakaian dan pergi keluar untuk mencari minuman didapur.
"Argh pegal." batin Zeya.
"Oya aku harus mencari panglima Eben dan menyerahkan lukisan yang aku jumpai tadi. Nanti jika putri Liana sudah ada disini. Bisa jadi aku akan sibuk dan tidak memiliki waktu." Zeya melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan peristirahatan pangeran Zein.
Burung burung berkicau saling sahut menyahut diatas langit. Seakan akan mereka saling berbicara antara satu sama yang lain jika ini sudah waktunya pulang. Langit yang cerah kini sudah berganti menjadi bewarna merah. Matahari sedikit demi sedikit menutup tubuhnya malu malu sementara bulan mulai menampakkan senyumnya sedikit.
"Ach hari begitu cepatnya berlalu atau kitanya yang telalu sibuk dengan urusan dunia sehingga kita merasa cepat dan cepat!"