SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Bertemu Selena Lagi



Keringat dingin mengucur deras dan membasahi sebagian tubuh Lexdo. Dirinya sangat kenal sekali bagaimana sikap pangeran Zein jika ada seseorang yang menghianati atau membohonginya. Namun disatu sisi Lexdo sudah berjanji dengan Aya.


"Tes... " Tetesan darah menetes dilantai. Pangeran Zein sudah mengoyak sedikit kulit tubuh Lexdo dengan ujung pedangnya.


"Pangeran, ini salah paham!"


"Hemh, apa kamu fikir aku percaya?" pangeran Zein menghunus pedangnya lebih kedalam sedikit lagi hingga membuat Lexdo menjadi panik.


"Bagaimana ini? Jika karena ini aku harus mati dihunus pedang. Aku tidak rela." Batin Lexdo.


"Apa kamu tidak ada ucapan terakhir untuk dosampaikan kepada keluargamu?" ucap pangeran Zein membuyarkan lamunan Lexdo.


"Pangeran....! Ini hanya salah paham. Ini semua berkat pertolongan nona Aya. Dia yang melakukannya dengan kekuatan sihirnya." Teriak Lexdo spontan sambil mengucapkan hal yang telah dijanjikannya kepada Aya. Jika ia tidak mengatakannya maka pangeran Zein akan menghunuskan pedangnya. Pangeran Zein sangat tidak suka menunggu.


"Hemh, Apa kamu fikir aku percaya?" pangeran Zein mendekati tubuhnya dekat tubuh Lexdo mencengkeram leher Lexdo dengan sekuat tenaga.


"Benar pangeran, saya tidak berbohong." Pangeran Zein menatap tajam kedalam bola mata Lexdo. Disaat dirinya yakin Lexdo berkata jujur dirinya menurunkan pedang yang menghunus ke jantung Lexdo.


"Ceritakan padaku secara rinci."


Lexdopun kemudian memceritakan semuanya secara rinci tanpa kurang sedikitpun. Setelah rasanya cukup Lexdo hanya menunduk sambil mengucapkan permintaan maaf. "Maafkan aku pangeran, Aku terpaksa berjanji kepadanya dan tidak memberitahu anda karena dirinya sudah menyelamatkan nyawaku pangeran."


"Maksudmu gadis itu yang membantu menyelamatkan nyawamu dan aku hanya duduk diam?" Bentak pangeran Zein.


"Tidak pangeran. Bukan begitu. Maafkan ucapanku!"


"Ya sudah tidak perlu dibahas. Aku semakin panasaran dengan asal muasal gadis itu?" pangeran Zein memasukkan pedangnya kedalam sarung pedang dan menjauh dari Lexdo menuju jendela yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Tidak lama kemudian dari sebalik pintu terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Lexdo berjalan menuju pintu dengan langkah yang masih tertatih tatih menahan sakit didalam perut.


"Selamat malam, bolehkah aku masuk?" ucap seorang gadis yang berdiri di hadapan Lexdo.


Dengan berat hati Lexdo hanya mengizinkannya karena ada pangeran Zein yang sedang memperhatikan dirinya.


Aya masuk kedalam dan terkejut melihat sosok mata sedang menatap dirinya dengan sangat tajam.


"Ada perlu apa nona Aya?" ucap Lexdo lirih.


"Hem, itu, ini..." Aya menjadi salah tingkah karena tidak menyangka jika pangeran Zein ada didalam ruangan kamar. Aya menoleh sekilas kearah pangeran Zein namun dengan cepat pangeran Zein membuang wajahnya dan menoleh ke arah luar.


"Ini..! Aku membuatkan kamu ramuan untuk mengobati luka yang terhunus pisau. Kamu harus meminumnya." Lirih Aya namun pangeran Zein yang memilik pendengaran yang sangat tajam mendengar suara Aya dengan sayup sayup.


"Oh terimakasih Aya. Kamu tidak perlu repot."


"Tidak. Ramuan ini memang sudah kupersiapkan dari istana untuk berjaga jaga jika ada yang terluka dan ternyata aku tidak sia sia membawanya."


"Hem...terimakasih sekali lagi."


"Aku kembali ke kamar dulu pangeran. Maaf menggangu." Aya membungkukkan badannya dibelakang punggung pangeran Zein lalu menuju pintu.


Setelah kepergian Aya, pangeran Zein menatap wajah Lexdo sekilas lalu meninggalkan kamar Lexdo dan menuju kamarnya.


"Argh, kenapa aku menjadi saksi pasangan yang lagi jatuh cinta?" batin pangeran Zein kesal.


Pangeran Zein mengistirahatkan badannya yang sangat lelah dan tidak berapa lama dirinya sudah menuju kealam mimpi.


Sementara Aya yang sedang berada dikamarnya, kini sedang duduk diatas katil sambil mencoba untuk memejamkan matanya yang dari tadi tidak mau tertutup rapat.


"Apa Lexdo bisa dipercaya?" gumam Aya didalam kamarnya.


"Jika dia memberitahu pangeran Zein pastinya dia akan mengintrogasiku dan marah kepadaku karena tidak membantu mereka dengan menggunakan kekuatanku namun buktinya dia hanya diam dan menatap tajam seperti biasa!" batin Aya sambil menarik nafas.


Aya melangkahkan kakinya perlahan lahan sambil melihat sekeliling dan melihat dibagian sudut ada seorang pelayan.


"Selamat malam, bisakah saya memesan seekor ayam panggang dan sebotol air dan diantar kekamar."


"Bisa nona. Kamar nomor berapakah dan atas nama siapa?"


"Kamar nomor 17 atas nama Eyna." ucap Aya memberi sebuah nama samaran


"Baik nona. Anda bisa menunggu dikamar."


Ayapun berjalan melewati meja dan kursi yang sangat ramai. Langkah Aya terhenti disaat ia melihat sosok yang sangat dikenalinya. Aya spontan bersembunyi disebalik sebuah dinding sambil sesekali mengintip sosok yang sangat dikenal.


"Selena, kenapa dia ada disini?" batin Aya panik. Aya masih belum sanggup berhadapan dengan Selena. Kekuatan Selena masih belum sebanding dengan miliknya. Ditambah lagi dia jarang sekali mengasah ilmu sihirnya.


Aya mencoba mengintip kearah Selena lagi namun Selena masih tetap ada disana bersama seorang pria. Aya menyandarkan tubuhnya ditembok.


"Nona....!" ucap seorang pria hingga membuat Aya menjadi terkejut.


"Oh, maafkan saya. Apa ada yang bisa dibantu?" ucap pria tersebut lagi.


"Oh tidak tuan. Saya baik baik saja. Saya menunggu seseorang."


"Oh baiklah." ucap pria tersebut berlalu pergi. Di saat Aya lagi ngobrol sama pria tersebut Selena dan aya tidak sengaja saling bertatapan namun setalah itu Selena berdiri menuju dimana Aya berdiri.


"Oh tidak. Apa dia menujuku." Aya mulai mempersiapkan dirinya untuk mengahadapi apa yang akan terjadi namun fikirannya salah. Selena menuju ke meja bar yang ada didekatnya. Selena masih belum menyadari ada seorang putri Carraya di sekitarnya. Sosok yang sangat dikenali.


Dengan langkah santai Aya mulai menjauh dan berjalan dengan langkah sedikit cepat. Selena belum menyadari Aya ada didekatnya. Disaat menaiki tangga Aya tidak sengaja bertemu dengan pangeran Zein.


"Dari mana kamu?" ucap pangeran Zein sinis.


"Pesan makanan pangeran." Tanpa menunggu jawaban pangeran Zein, Aya dengan cepat menaiki beberapa anak tangga namun dengan cepat pangeran Zein menangkap tangan Aya.


"Mau kemana kamu. Temani saya." ucap pangeran Zein menarik Aya.


"Tapi pangeran, pesanan saya sebentar lagi akan sampai dikamar." pangeran Zein menoleh kearah Aya sekilas lalu kembali memandang kedepan. Pangeran Zein tidak berniat untuk menjawabnya.


Pangeran Zein menuju meja bar dimana Selena duduk. Pangeran zein berdiri tidak jauh dari Selena.


Aya mendekatkan tubuhnya disamping pangeran Zein dengan sangat intim.Pangeran Zein menoleh sekilas kearah Aya. Namun ia melihat manik mata Aya yang penuh ketakutan sambil mencoba mengintip sesuatu disebalik tubuh kekar pangeran.


Pangeran Zein melihat seseorang yang di intip oleh Aya. Matanya tertuju kepada seorang wanita yang juga sangat dikenalinya.


"Selena... Ada apa dengan Selena?" lirih pangeran Zein kepada Aya namun dirinya tidak menoleh kepada Aya. Pangeran Zein memesan makanan kepada pelayan sambil menunggu jawaban dari Aya.


"Maksudmu? Aku tidak mengerti!"


"Benarkah? Pangeran Zein spontan dengan cepat bergerak mundur kebelakang agar Aya dan Selena bisa saling melihat. Aya yang panik langsung duduk mencangkung dibawah hingga membuat pangeran Zein tersenyum sinis.


Pangeran Zein menuju meja kosong dan duduk sambil menunggu Aya. Aya menggigit bibirnya dengan kesal sambil menatap kearah pria yang sedang melambainya untuk duduk didekatnya.


"Brengsek." gumam Aya. Aya mencoba berdiri dan menundukkan kepalanya dan bersembunyi dibalik sosok tubuh pria gendut sambil menuju kemeja pangeran Zein.


"Aku keatas pangeran. Pesananku akan sampai." ucap Aya menahan amarah.


"Pesananmu sudah kubatalkan. Ayo makan bersamaku. Apa kamu mau melawan tuanmu?"


Aya menarik nafasnya dan mencoba duduk dengan sedikit tenang agar tidak membuat pria dihadapnnya curiga. Di satu sisi dirinya harus menghindar dari Selena karena urusannya belum selesai namun disatu sisi dirinya tidak ingin membuat pangeran Zein curiga kepadanya.