SeCret LoVe'S Princess

SeCret LoVe'S Princess
Makan Malam ditempat Pangeran Fathur



"Lexdo, Dimana pangeran Zein?" Raja Abraham yang sudah berada dikediaman pangeran Fathur melihat disetiap sudut dimana keberadaan pangeran Zein.


"Dia buang air sebentar raja." ucap Lexdo berbohong kemudian Lexdo membungkukkan badannya.


Raja Abraham menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti lalu duduk menuju ruang tamu. "Kita tunggu kedatangan pangeran Zein sebentar." ucapnya kepada semua yang hadir.


Sementara raja Abraham dan lainnya sedang menunggu kehadiran dirinya. Pangeran Zein sedang sibuk mengejar Aya dan kini sedang berada disebuah taman yang sudah lama tidak diurus.


"Mau kemana kamu?"


"Whoosh." Aya berkelebat melesat diudara untuk pergi menjauh. Pangeran Zein pun melesat dengan tidak kalah cepat lalu menarik tangan Aya. Aya menatap pangeran Zein dengan raut wajah marah lalu dengan cepat mempelintir tangan pangeran Zein namun ternyata pangeran Zein lebih cepat gerakannya mempelintir tangan Aya lebih dulu.


"Bugh." pangeran Zein mendorong tubuh Aya ke sebuah pohon besar lalu mengunci tangan dan kaki Aya agar tidak bisa bergerak.


"Siapa kamu?" ucap pangeran Zein kepada iblis yang mengendalikan tubuh Aya.


"Hi...hi...hi Siapa aku? tentu saja aku adalah aku." Sorot mata nya Aya merah membara.


"Hemh, benarkah?" Pangeran Zein menatap tajam kedalam mata tersebut hingga membuat Aya merasakan kesakitan yang luar biasa.


"LEPASKAN! GADIS INI MILIKKU." Teriak iblis yang mengendalikan tubuh Aya. Badannya terasa panas dan seperti ada api yang menjalar diseluruh tubuhnya.


"Tidak akan." ucap pangeran Zein menatap kedalam manik mata Aya yang merah menyala.


"Argh." iblis tersebut meronta untuk segera lepas dari tubuh Aya.


"Siapa pria itu?" iblis tersebut menoleh kearah pangeran Zein dan pergi menghilang.


"Panas, panas. Lepaskan!" ucap Aya lirih. Pangeran Zein melepaskan tangan Aya disaat ia merasakan Aya sudah bisa menguasai dirinya sendiri. Aya menatap mata pangeran Zein dengan tatapan sayu dan penuh ketakutan lalu menundukkan wajahnya.


"Kenapa kamu bisa begitu bodoh. Membiarkan iblis begitu saja mengendalikan tubuhmu. Apa memang kamu ingin mati?" bentak pangeran Zein sambil menekan kuat kepala Aya dengan jari telunjuknya. Aya mendongakkan wajahnya karena kaget dengan ucapan pangeran Zein.


"Iblis...maksudmu?"


"Wanita bodoh." ucap pangeran Zein karena merasa kesal dengan tingkah Aya yang pura pura tidak mengerti.


"Ayo kita kembali. Raja Abraham sudah tiba. Kamu akan mendapat hukumanmu setelah ini karena merusakkan semua rencanaku. Harusnya kamu bisa lebih tenang dan tidak gegabah." Pangeran Zein menoleh sekilas ke Aya dengan tatapan dongkolnya.


"Maaf pangeran. Aku tidak akan mengulanginya."


Pangeran Zein berjalan dengan cepat dan tidak menggubris ucapan Aya. Ia ingin segera sampai diperistirahatan pangeran Fathur dan diikuti oleh Aya. Raja Abraham melihat kehadiran pangeran Zein bersama Aya dengan tatapan penuh tanya.


"Maaf semuanya telah menungguku. Ada hal yang harus segera kuselesaikan."


"Tidak apa sayang. Kita baru sampai." jawab ratu Alexa dengan sorot mata berbinar.


"Mengapa kamu bersama gadis itu?" ucap raja Abraham penuh tanda tanya.


"Oh ya ayah. Mulai sekarang Aya akan selalu menemaniku. Dia bekerja sebagai pelayanku. Apakah ayah keberatan?"


"Oh tidak. Baguslah. Ayah senang jika dia bekerja ditempatmu. Malahan ayah sangat khawatir jika gadis itu bekerja dengan Fathur."


"Apa ayah takut mereka jadi pasangan?" ucap pangeran Zein santai dan mengambil kursi untuk duduk.


"Iya. Namanya juga seorang ayah tentu khawatir mereka jadi jatuh cinta. Kalau gadis itu bekerja denganmu ayah tidak khawatir lagi."


"Ayo kita makan dulu." Raja Abraham bangun dari kursinya menuju meja makan yang cukup besar yang ada di ruang tengah dan diikuti oleh yang lain. Aya melangkahkan kakinya mengikuti langkah pangeran Zein dan menatap punggung pria tersebut.


"Siapakah pria ini sebenarnya kenapa dia bisa mengejarku dan mengetahui jika diriku dikendalikan oleh iblis? Apa dia juga mengetahui bahwa diriku menuntut ilmu sihir dan membuat perjanjian dengan Selena dan iblis terkutuk itu?" Aya menarik nafasnya dan memegang kepalanya yang terasa pusing karena lelah belum ada istirahat.


"Ayo duduk. Kenapa kamu berdiri disana."


"Aku?"


"Ya kamu, terus sapa lagi?" Ucap pangeran Zein kepada Aya. Membuat semua yang ada melotot kearah Aya seakan tidak percaya.


"Kenapa dia harus duduk disitu?" ucap ratu Alexa ketus.


"Bukankah dia adalah pelayan yang harus menemaniku dan mengurusku? Dia harus mengambil makanan dan minuman untukku ibu." ucap pangeran Zein santai.


"Sudah ayo kita makan. Aya kamu ikuti saja permintaan pangeran Zein." ucap raja Abraham. Raja Abraham malas jika harus berdebat dengan pangeran Zein. Sifatnya hampir sama dengan ratu Alexa. Raja Abraham tidak begitu peduli dengan apa yang dilakukan oleh anak ratu Alexa tersebut.


Aya menarik nafasnya dan duduk disamping pangeran Zein. Pelayanpun mulai menyendokkan makanan dan minuman yang diminta oleh raja. Ayapun ikut mengambil makanan dan minuman yang disukai oleh pangeran Zein. Aya mengetahuinya karena kepala pelayan sudah memberikan petunjuk apa yang disukai dan tidak disukai oleh pangeran Zein.


Setelah selesai Aya meletakkan makanan dihadapan pangeran Zein kemudian dengan segera pangeran Zein melahapnya. Aya mengambil minuman sekalian untuk dirinya. Aya terlihat santai dan lebih tenang daripada sejam yang lalu. Ia tidak begitu menggubris dengan situasi yang ada dimeja makan.


Pangeran Fathur sekali kali menoleh kearah Aya. Ada rasa cemburu disaat Aya memperlakukan pangeran Zein sama dengan dirinya.


"Kenapa kamu belum mencicipi makananmu pangeran Fath? ucap putri Liana lirih.


"Aku kurang selera putri."


"Apakah ingin kusuapi?"


"Oh jangan! Terimakasih." Pangeran Fathur memaksakan dirinya untuk tersenyum.


Setelah selesai acara makan malam raja Abraham mengajak mereka semua duduk ditaman sambil ingin menyampaikan seauatu.


"Apa wanita itu harus ikut juga?"


"Tentu saja ibu. Kalian semua berpasangan tidak mungkin aku sendiri. Anggap aja dia tidak ada. Kupastikan dia tidak akan membuka mulutnya." ucap pangeran Zein dihadapan semua.


"Hem, baiklah." Ratu Alexa hanya pasrah dengan ucapan pangeran Zein.


"Fathur, Liana, Selama kalian masih dalam tahap pendekatan. Kalian belajarlah saling mengenal antara satu sama lain." ucap raja Abraham sambil menyeruput minuman yang disiapkan oleh pelayan.


"Baik ayah" ucap pangeran Fathur dihadapan putri Liana." Ia tidak mau memanggil dengan sebutan raja Abraham didepan putri Liana. Sementara Putri Liana hanya tersenyum.


"Liana, kamu buatlah kerajaan ini seperti kerajaanmu sendiri. Kelak kalian menikah kamu akan menjadi ratu diistana ini dan selama disini panggil saja aku ayah."


"Baik ayah. Terimakasih karena sudah memperlakukanku dengan baik." ucap putri Liana dengan senyum yang mempesona.


"Jika terjadi sesuatu. Langsung temui aku.


"Iya ayah."


Pembicaraan merekapun berlanjut sesekali terdengar suara candaan mereka. Pangeran Zein hanya diam sambil santai menikmati pembicaraan tentang rencana pernikahan putri Liana dan pangeran Fathur. Sementara pangeran Fathur menarik nafasnya dalam dalam karena tidak begitu tertarik dengan pembicaraan tersebut. Hampir setengah jam berlalu raja Abrahampun memutuskan untuk kembali ke istananya.