
"Prang..." Sebuah gelas kaca dilempari oleh raja Abraham.
"Cari dia sampai ketemu, bawa dia kehadapanku."
"Dia sama aja dengan mendiang ibunya, liar." ucap ratu Alexa dengan senyum penuh arti.
Hari ini merupakan agenda pertemuan pangeran Fathur dengan Putri Liana. Ratu Alexa dan Raja Abraham ingin menjodohkan mereka berdua agar wilayah kekuasaan kerajaan Andromela semakin besar dan berjaya. Ini sudah rencana yang diatur sejak setahun belakangan. Ini sudah pertemuan yang kebeberapa kalinya dibuat oleh raja dan ratu namun selalu digagalkan oleh pangeran Fathur dengan ketidak hadirannya.
Pangeran Fathur pergi meninggalkan kerajaan bersama pengawal setianya tanpa sepengetahuan Raja. Hari ini dirinya berencana ingin masuk ke sebuah hutan belantara yang menurut cerita dari mulut ke mulut merupakan hutan mati. Siapa saja yang masuk kedalamnya tidak akan ada yang keluar dengan selamat.
Pangeran Fathur sangat senang melakukan perjalanan yang penuh rintangan dan tantangan. Hari ini dirinya lebih memilih untuk menggunakan pakaian biasa aja agar tidak ada yang tau penyamarannya.
Note : Pangeran Fathur menggunakan pakaian orang biasa. ** free image from pinterst
Hampir dua jam lebih mereka melakukan perjalanan akhirnya mereka sampai didepan hutan mati. Pangeran Fathur menghentikan kudanya lalu menoleh kearah belakang menatap pengawal setianya.
"Mari kita telusuri hutan ini," ucapnya seraya menaikkan kedua alis miliknya lalu tertawa nakal dengan nada kecil. Tanpa menunggu jawaban dari mereka pangeran Fathur sudah memacu kudanya dengan sangat cepat.
"Apa pangeran Fathur yakin ingin memasuki hutan ini. Hutan ini milik seorang penyihir. Kita tidak akan keluar dengan selamat tuan." Ucap salah seorang prajurit kepada Macron.
"Jangan percaya dengan omong kosong." ucap Macron.
"Ayo cepat."
Angin yang berhembus menerpa kulit wajah sang pangeran namun sang pangeran tidak memperdulikannya. Dia begitu menikmati pemandangan sekitar. Pemandangan yang sangat aneh tidak seperti biasanya. Hutan ini seperti tidak memiliki kehidupan. Hampir semua tumbuhan memiliki warna yang sangat gelap. Udaranyapun tidak segar malah sebaliknya. Membuat makhluk hidup sulit untuk bernafas.
Binatang buas tiba tiba datang dari arah berlawanan ingin menghadang rombongan pangeran Fathur namun seakan akan tau siapa yang datang mereka pergi berlari ingin melaporkan kepada sang penguasa hutan ada seorang pangeran yang tak diundang datang ke tempat bersemayam milik mereka.
Setelah puas berkeliling akhirnya rombongan pengawal berhenti di sebuah sungai untuk membersihkan diri namun disaat mereka ingin turun datanglah rombongan serigala menghadang mereka. pangeran dan pengawalpun bersiap siap untuk melakukan pertahanan agar mereka tidak menjadi santapan binatang buas yang ada dihadapan mereka.
Serigala yang sudah tidak sabar ingin menyantap makanan dihadapan mereka, mulai melakukan penyerangan dan terjadilah pertempuran yang sangat sengit.
"Syut..... Syut...." Suara pedang berayun ayun diudara menerobos kulit kulit serigala.
"Awas, ada singa dibelakangmu."
"Argh..." teriak salah satu pengawal diserang oleh serigala. Pertempuran dengan serigalapun menjadi panas. Hampir setengah jam mereka melakukan perlawanan kini tinggal beberapa serigala lagi.
"Pangeran, apa anda baik baik saja?"
"Ya."
"Seeet... Seeeeet..." tembakan panah Macron mengenai serigala yang masih hidup.
Macron turun dengan gesit dari atas pohon dan menolong pengawal yang terluka. Dia membalut lukanya.
"Bagaimana dengan lukanya?" ucap pangeran Fathur kepada Macron.
"Terluka sangat dalam pangeran."
"Kita bermalam dulu disini agar kita bisa kembali dengan aman. Sekarang sudah larut malam."
"Baik pangeran."
Macron memapah pengawal yang terluka diatas kuda dan dibantu oleh pangeran Fathur. Mereka menelusuri tiap sudut hutan untuk mencari tempat bermalam namun tidak ada satupun rumah didalam hutan tersebut. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat dibawah pohon yang rindang.
"Kalian tunggu disini, aku akan mencari kayu dan berburu."
"Biar saya saja pangeran."
"Jangan! Kamu juga sedang terluka." Pangeran Fathur melihat tubuh Macron yang banyak terkena cakaran serigala.
"Baiklah Pangeran."
"Macron, jaga dia baik baik aku akan segera kembali." titah pangeran Fathur.
"Baik pangeran." jawab Macron sambil membungkukkan badan.
"Cahaya apa itu?" Batin pangeran Fathur.
Pangeran Fathur melangkahkan kakinya untuk segera menuju cahaya tersebut. Diikatnya kuda kesayangannya didekat pohon kemudian ia bergerak dalam diam untuk melihat cahaya tersebut dari dekat.
Pangeran Fathur mengintip dari sebalik pohon besar. Dilihatnya ada seorang gadis yang sangat cantik, gadis tersebut berbaring seperti orang yang sedang tidur namun tubuhnya melayang diatas udara. Dia menggunakan gaun bewarna merah darah. Disekeliling tubuh wanita tersebut penuh dengan lilin beraneka warna kemudian tiba tiba terdengar suara petir menggelegar dan warna bulan berubah menjadi warna merah darah seperti warna gaun yang digunakan gadis tersebut.
"Apa yang terjadi dengan gadis itu?"
Gadis tersebut adalah putri Carraya, setelah melakukan ritual dengan pak tua berhasil Selena membawa putri Carraya kembali kepondok tuanya dalam keadaan tidak sadarkan diri hingga sekarang. Sekarang mereka ada ditengah tengah hutan untuk melakukan ritual yang terakhir, putri Carraya berjanji setelah mendapatkan semuanya maka ia akan memberi jiwa dan raganya kepada Selena.
Pangeran Fathur melangkahkan kaki ingin mendekati gadis tersebut. Dirinya sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Namun tiba tiba langkahnya terhenti disaat seorang gadis yang sangat dikenalinya hadir.
"Selena, dia ada disini." gumam pangeran Fathur.
"Apa yang dilakukannya dengan gadis itu." fikir pangeran Fathur.
Selena berkomat kamit membacakan mantra, kemudian dirinya maju untuk merobek hati putri Carraya namun disaat pisaunya hampir mendekati hati gadis tersebut pangeran Fathur dengan gesit menggagalkan tindakan tersebut.
"Siapa kamu, jangan mencampuri urusanku." ucap
Selena murka lalu menggenggam tangannya dan menatap pangeran fathur.
"Hiiiiiiiiiii... Hiiiiiiii...Hiiii... " Suara tawa selena menggelegar seluruh hutan.
"Ternyata kamu tamu yang tak diundang itu. pangeran Fathur Atahariq. Sedang apa kamu disini?" kata Selena.
"Kamu sendiri sedang apa?"
"Bukan urusanmu."
"Begitu juga denganku."
Selena memang sudah tau kehadiran sang pangeran Fathur. Si Elfis yang mengabarinya namun Selena tak menyangka sang pangeran menemukan tempat pemujaannya.
"Katakan? kamu yang sedang apa? Apa kamu ingin membunuhnya? Apa masih belum cukup dengan hukumanmu hingga kamu mau mengulanginya lagi?" ucap pangeran Fathur .
"Dooooar... Doaaaarr... " Bunyi beberapa pohon meledak akibat lemparan bola api yang dikeluarkan Selena untuk menyerang pangeran Fatthur. Fathur menghindar dengan gesitnya. Kemudian pangeran Fathur menyerang selena dengan lihainya.
Beberapa menit telah berlalu namun pangeran Fathur dan Selena masih saling serang menyerang. beberapa kali pangeran Fathur terjatuh dan mengeluarkan banyak darah akibat serangan serangan yang dilancarkan oleh Selena namun dia berdiri lagi dan melakukan penyerangan begitu seterusnya.
Pertempuran Selena dengan pangeran Fathur sangat tidak seimbang karena selena merupakan penyihir yang sangat hebat sementara Fathur hanya berharap dengan pedang dan kecepatannya. Jika Selena bukan seorang penyihir sudah dipastikan ia akan mati di tangan pangeran Fathur.
"Argh.." pangeran Fathur terlempar keudara. Disaat tubuhnya medarat ditanah, darah segar keluar dari mulutnya untuk kesekian kali. Kini pangeran Fathur sudah mulai kewalahan.
"Menyerahlah dan pergi dari sini. Kamu tidak sebanding denganku." ucap Selena sinis dan ketawa cekikan.
"Tidak, aku belum menyerah."
"Apa kamu ingin mati." pangeran Fathur tidak menjawab sama sekali. Disaat ia melihat Selena lengah, dia mulai melakukan penyerangan lagi namun penyerangannya gagal Selena membanting pangeran Fathur hingga terpelanting dan tak sadarkan diri.
Selenapun melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Ia kembali mambaca mantranya dan menggores dada putri Carraya untuk mengambil hatinya namun disaat ingin mengambil hati putri carraya. Dari arah yang berlawanan datang seekor singa menyerang Selena, Selena yang tidak menyadarinya tidak bisa melakukan pertahanan. Singa tersebut datang terus menerus secara bergerombolan dan melakukan penyerangan hingga Selena kewalahan dan iapun melarikan diri.
Pangeran Fathur yang dari tadi sudah sadar, menyaksikan semuanya bergidik ngeri. Ia bergerak ingin menjauh dan menyelamatkan diri namun gerombolan singa sudah mengelilingi dirinya dan menatap tubuhnya untuk menjadi santapan malam. Ia pun pasrah dan memejamkan matanya.
"Teeeeeek... Teeekkkk... " Seekor singa jatuh ketanah akibat sasaran anak panah Macron yang baru saja datang. Hingga membuat komplotan singa langsung menyerang Macron namun tidak menyantapnya. Sementara singa yang ada dihadapan pangeran Fathur tiba tiba duduk dihadapannya sambil menatap dirinya.
"Oh ya dimana gadis itu." ucapnya sambil melihat sekitar.
"Oh itu dia."
"Tunggu... tunggu... "ucap pangeran Fathur mengejar putri Carraya.
"Kembalilah ketempatmu tuan. Disini tidak aman untuk anda."
"Whooosh..." putri Carraya bergerak secepat kilat lalu menghilang.