
"AYA......." Teriak Macron yang baru saja masuk. Disaat angin sudah berhenti memporak porandakan tempat peristirahatan. Macron kembali ke kamarnya untuk melihat pangeran Fathur namun dirinya sangat terkejut melihat Aya yang sudah terjatuh di kaki pangeran Fathur. Macron mengangkat kepala Aya dan melihat begitu banyak darah segar keluar dari mulut dan hidung gadis cantik tersebut.
"ADA APA INI? SIAPA YANG MELAKUKANNYA?" Teriak pangeran Fathur yang baru saja sadar dengan penuh emosi.
"Pangeran, apa kamu tidak mengingat sesuatupun yang terjadi?" ucap Macron kepada pangeran Fathur.
"Maksudmu?"
"Pangeran, coba anda ingat apa yang barusan terjadi dengan diri anda?" ucap Macron mendesak pangeran Fathur. Namun pangeran Fathur sedikitpun tidak bisa mengingat kejadian yang ada.
"Kalau pangeran tidak ingat tidak apa. Kita harus membawa Aya kedalam kamarnya agar ia beristirahat," ucap Macron melihat kondisi Aya yang sudah mulai bergerak.
"Baiklah." Pangeran Fathur menatap kearah Aya yang sedang berada di pangkuan Macron dengan tatapan sedih sekalian bingung.
Macron meletakkan tubuh Aya diatas lantai lalu keluar dari kamar kemudian diikuti oleh pangeran Fathur dari belakang. Mereka berduapun keluar dari kamar. Fathur melihat sekeliling peristirahatan. Semua prajurit lagi sibuk merapikan kursi, meja dan perabotan yang lain yang berserakan dimana mana. Dirinya bertanya tanya apa yang sedang terjadi.
"Ela..." teriak Macron.
"Ya, tuan."
"Bereskan dulu kamar nona Aya. Ajak beberapa orang agar cepat selesai.
"Baik tuan."
Aya mengajak pelayan wanita lainnya dan 2 orang prajurit agar kamar Aya kembali kesedia kala.
"Aku baru tau jika pangeran sangat kuat, dia seperti mendiang ibunya." ucap pelayan wanita berbisik setelah berada di kamar Aya.
"Iya, aku juga tidak pernah melihatnya sperti itu. Dia begitu marah disaat raja Abraham ingin menghukum nona Aya."
"Sepertinya mereka pasangan kekasih."
"Yeah tidak papa. Nona Aya kan cantik sangat cocok dengan pangeran Fathur. Pasti mereka akan melahirkan malaikat malaikat yang rupawan."
"Huzzz, jangan menggosip. Nanti kalau ketahuan lidah kalian akan dipotong." Ucap Ela.
"Hm, jangan jangan kamu sudah tau ya Ela, kalau pangeran itu punya kekuatan."
"Mana mungkin aku tahu. Pangeran sendiri saja tidak menyadari kekuatannya. Jika dia tahu pasti dia selama ini akan menggunakannya."
"Benar juga ya.
"Sudahlah, ayo cepat."
"Ini sudah hampir selesaipun Ela. Kamu jangan marah gitu donc." ucap si ndut mengangkat tubuh Aya.
"Aw... turunkan Ndut!" terak Ela meronta ronta.
"Ha,ha,ha..." tawa teman temannya menggema didalam kamar. Tidak berapa lama si Ndutpun menurunkan Aya dari gendongannya.
"Ela, semenjak kapan nona Aya jadian sama pangeran Fathur?
Ela tidak menggubris pertanyaan temannya karena perkerjaan merapikan kamar sudah beres. Ia dan teman teman yang lainpun segera menuju lantai bawah memberi tahu Macron dan pangeran Fathur.
"Pangeran, kamar nona Aya sudah selesai."
"Hm, baiklah."
"Hentikan, biar aku aku saja yang membawanya keatas. Singkirkan tanganmu." Ucap Fathur menatap tajam kearah Macron.
"Baik pangeran." Macron meninggalkan mereka berdua dikamar.
"Siapa lagi yang menyakitimu Aya? Aku tidak akan melepaskan orang yang membuatmu begini." lirih pangeran yang masih belum mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
Pangeran Fathur mengangkat tubuh Aya lalu ia mengecup kening Aya. Ia membawa Aya menuju kamarnya denga cara menggendong tubuh Aya ala bridal style. Disaat ia menggendong tubuh Aya naik kelantai atas semua yang ada menoleh sekilas lalu kembali ke pekerjaan nya. Mereka tidak berani menatap terlalu lama karena masih takut dengan kejadian yang baru saja terjadi.
Sementara itu ratu Alexa dan raja Abraham yang tidak sengaja menunggu diluar kamar sedang bercerita tentang kejadian yang baru saja terjadi. Mata mereka tidak sengaja melihat ke lantai bawah. Mereka melihat pangeran Fathur sedang menggendong tubuh Aya dengan sangat penuh kasih sayang menaiki beberapa anak tangga. Mata pangeran Fathur tidak berhenti menatap wajah gadis yang ada digendongannya.
"Raja, lihat mereka. Hari ini ia sudah berani melawanmu, hampir saja ia akan membunuh kita." ucap Alexa menatap kearah gadis yang tidak sadarkan diri tersebut.
"Kenapa anda diam raja?" Alexa menatap raja yang tidak menjawab ucapannya. Raja Abraham yang masih terkejut dengan kejadian yang baru saja terjadi tidak fokus dengan ucapan ratu Alexa. Dirinya fokus melihat Fathur.
Fikiran raja Abraham melalang buana tidak tahu kemana. Dia tidak habis fikir bagaimana bisa pangeran Fathur mewarisi kekuatan mendiang ibunya. Seharusnya kekuatan itu tidak bisa dia miliki karena raja Abraham hanya manusia biasa.
"Sayang....," Ratu Alexa menyenggol tangan raja Abraham untuk menyadarkannya.
"Oh ya, ada apa?"
"Apa kamu tidak mendengar ucapanku."
"Tidak Alexa. Aku lagi tidak ingin bicara sama sekali. Aku ingin istirahat. Nanti malam kita harus pergi kepesta Ratu Wiena."
Raja Abraham pergi meninggalkan ratu Alexa dan masuk kedalam kamar untuk berbaring. Ratu Alexapun mengikuti langkah raja Abraham untuk masuk bersama kedalam kamar.
"Alexa, tinggalkan aku sendiri." Raja Abraham menghentikan langkahnya dan menatap tajam kearah Alexa.
"Prajurit, siapkan kamar untuk ratu." Raja Abrahampun pergi tanpamenunggu jawaban dari ratu Alexa. Ia langsung menuju kamarnya dan membanting pintu tersebut dengan sangat keras hingga membuat beberapa prajurit yabg tidak jauh dari tempat mereka berada melihat kearah ratu Alexa. Dengan wajah yang merah padam Alexa membentak prajurit yang ada dihadapannya.
"CEPAT BAWAKAN AKU KE KAMAR."
"Baik ratu."
Ratu Alexa menggenggam tangannya dengan penuh amarah lalu meninggalkan kamar raja Abraham.
"Dasar tua bangka. Tunggu saja pembalasanku. Sebentar lagi setelah aku menyelesaikan anakmu maka aku akan menghabisi dirimu juga. Ha...ha...ha..." Tawa Alexa menggelegar diruang kamarnya.
"Ishna..." ucap raja Abraham pelan menatap hutan yang ada di hadapannya.
Raja Abraham mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Dirinya melihat sangat jelas disaat Fathur marah. Sosok tubuh mendiang istrinya keuar dari tubuh Fathur. Wanita yang pernah dinikahinya tersebut menatap dirinya dengan sorot mata tajam dan penuh kebencian.
"Maafkan aku Ishna." lirih raja Abraham lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku tahu aku tidak bisa dimaafkan Ishna. Aku mohon maafkan." Ucapnya sekali lagi. lalu ia terduduk dilantai dan menangis.
Ia mengingat bagaimana kejamnya ia memperlakukan mendiang istrinya disaat istrinya melakukan sebuah kesalahan. Padahal itu hanyalah sebuah fitnah. Dirinya pergi meninggalkan istri dan anaknya di istana berdua. Hingga membuat istrinya dibunuh dan menghembuskan nafas terakhir.
"Aku akan mencari pembunuhmu Ishna." ucapnya pelan.
Raja Abraham melangkahkan kakinya dan pergi ke dalam bathup untuk menenangkan hatinya yang sedang gundah dan berendam dengan minyak essential.
"Ishna, aku mencintaimu hingga akhir hayatku." ucapnya pelan.